
Risa adalah gadis berusia 10 tahun, ia merupakan anak tunggal dari pasangan Robert dan Lucy. Mereka berasal dari keluarga yang mampu. Tak hanya itu, Risa beberapa kali memperoleh prestasi yang menggiurkan. Kebanggaan Sekolah terhadap Risa, membuat segelintir teman-teman Risa iri padanya. Oleh karena itu, ia sering dibully di Sekolahnya.
"Cepetan kerjain pr gue!" Seru Vika, salah seorang yang paling sering bully Risa.
"Nih pr gue!" Rina melempar buku pada Risa begitu saja.
"Gue duluan! Buruan! Gak pake lama." Seru Rina, saat melihat Risa belum menyentuh pr nya.
"Gue lah. Awas aja kalau loe gak ngerjain pr gue!" Seru Vika. Risa hanya diam diperlakukan begitu. Sebenarnya, ia sudah lelah. Rasa lelah yang menghantuinya, menimbulkan rasa benci pada mereka.
Sepulang Sekolah, seperti biasa ia dibully oleh teman-temannya. Tasnya ditarik dari belakang, lalu dilempar kearah yang lain. Tiap sorotan mata Risa terpancar kebencian yang mendalam pada mereka. Ia ingin sekali membunuh mereka.
"Ngapain loe? Gak suka? Marah?" Ujar Sarah.
"Eh, loe gak usah berlagak deh!" Seru Widya, ia mendorong Risa hingga terjatuh. Suara tawa mereka menggelegar di gendang telinga Risa. Ia sudah tidak kuat lagi.
"Ya, udah yuk, cabut gaes!" Seru Sarah. Sarah, Widya, dan Angel pergi darisana. Namun, Risa mengambil tasnya yang kotor. Lalu, memakai tasnya kembali. Ia tak peduli dengan tatapan teman-temannya yang lain melihat betapa kacau nya Risa. Langkahnya dipersempit, ketika ia berdesakan dengan murid lainnya saat pulang. Dan ketika itu, ia tak sengaja melihat boneka yang lucu dinjak-injak oleh murid-murid lainnya. Ia berpikir nasib boneka itu tak beda jauh darinya. Ia pun memungut boneka tersebut sambil membersihkan bagian yang kotor terkena injakan, lalu membawanya pulang.
Sepanjang jalan, Risa diam tak bersuara didalam mobilnya. Tampilannya kacau. Wajahnya kusut seperti hatinya. Jiwanya merana. Setiba di Rumahnya, ia datang dalam keadaan Rumahnya yang sepi, hanya pembantu yang terlihat. Tak tahu harus berbuat apa, ia pergi ke kamarnya, lalu ia melihat boneka Kesha yang tampak usang.
Risa menatapnya sambil berlinang air mata. Ia berpikir kalau ia ingin merawat boneka tersebut dengan baik. Risa melepaskan pakaian yang melekat pada boneka Kesha. Kemudian, ia membersihkan boneka itu dengan sangat hati-hati. Ia mencarikan pakaian boneka yang sesuai dengan ukuran boneka Kesha. Kebetulan, ia menemukannya. Lalu, Ia memakaikan pakaian pada boneka tersebut.
"Andai saja kamu bisa bicara." Gumam Risa. Boneka Kesha tersenyum. Kemudian, ia memegang tangan Risa.
"Hai!" Panggil boneka Kesha.
"Eh, kamu bisa bicara?" Risa kaget saat mendengar suara tersebut.
"Itu karena aku adalah boneka ajaib." Ujar boneka Kesha.
"Namaku adalah Risa. Kamu siapa?"
"Aku adalah Kesha."
"Nama yang cantik." Puji Risa.
"Risa, ayo kita main!" Seru boneka Kesha.
"Ayo!" Risa menerima ajakan boneka tersebut. Ia berpikir tak masalah berteman dengannya. Lambat laun, keduanya tampak akrab. Boneka Kesha menggelitik Risa hingga tak bisa berkutik. Risa pun melakukan hal yang sama. Tak terasa, mereka menjadi teman yang akrab.
Risa seolah-olah memperlakukan boneka Kesha seperti adiknya sendiri. Seakan, ia menemukan adiknya yang telah lama hilang, padahal dia adalah anak tunggal. Ia merasa nyaman saat bersamanya. Akan tetapi, raut wajah Risa mendadak berubah.
"Risa, kau tampak sedih. Ada apa?" Boneka itu menatapnya sedih.
"Andai saja aku memiliki teman sepertimu saat di Sekolah. Tetapi sayangnya, mereka tak menyukaiku."
"Benarkah? Kau akan melakukannya untukku?" Tiba-tiba ada keinginan kuat dari dalam hati Risa untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada mereka.
"Tentu saja, asalkan kamu mau bermain denganku." Ujar boneka Kesha.
"Kita pasti bermain bersama."
"Asyikk!" Boneka Kesha melompat-lompat, lalu memeluk Risa.
"Besok, aku akan membawamu ke Sekolahku."
"Oke, Risa. Kamu tinggal bilang siapa yang menyakitimu.
"Kalau begitu, apa kamu bisa membunuh orang?" Tanya Risa.
"Itu adalah hobiku. Hihihihi..."
"Wah, adikku yang nakal." Risa menggelitik boneka Kesha hingga keduanya tertawa terpingkal-pingkal.
Keesokan harinya...
Risa membawa boneka Kesha ke Sekolah. Ia memasukkannya kedalam tas. Risa tersenyum, saat ia memasuki gerbang Sekolah. Vika, Rina, Sarah, Widya, dan Angel sedang menunggu Risa. Kelima orang itu melihat Risa dengan tatapan mengejek. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyeret Risa ke Halaman Belakang Sekolah, padahal kelas baru saja akan dimulai. Widya mendorong Risa hingga terjatuh. Risa tak menangis. Ia malah tertawa. Kelima siswi itu bingung dengan Risa.
"Heh, ngapain loe tertawa segala?" Ujar Rina. Risa terus tertawa.
"Loe gila, ya?" Ujar Sarah.
"Sikat aja, dah!" Seru Angel.
"Kalian semua akan mati." Ujar Risa. Karena kesal dengan tingkah Risa, Sarah mendekati Risa. Akan tetapi, saat Sarah menyentuh Risa, tubuh Sarah seakan terdorong begitu saja. Padahal, bukan Risa yang mendorongnya. Merasa tak terima temannya didorong, Rina mendekati Risa. Saat kulitnya bersentuhan dengan Risa, kaki Rina seolah ditarik oleh seseorang. Ia bahkan tak melihat siapa orang yang menariknya.
Tak sampai disitu, Widya diam ditempat. Tubuhnya gemetaran. Wajah dan bibirnya pucat. Sementara itu, Vika melarikan diri dengan kencang. Ia bahkan tak peduli dengan teman-temannya. Sekarang tinggal giliran Widya dan Angel yang mati kutu berdiri. Tak lama, Angel bersujud memohon ampun pada Risa. Risa menatap Angel dan mendapatkan sebuah ide yang menarik.
"Tampar Widya!" Seru Risa. Ia menyuruh Angel menampar Widya. Tak butuh waktu lama bagi Angel untu melakukan apa yang dikatakan oleh Risa. Widya merintih kesakitan.
"Eh, loe, Angel! Anak bau ingusan, beraninya nampar gue!" Seru Widya marah. Widya mengacak-acak rambut Angel. Risa dan boneka Kesha tertawa melihat pertemanan mereka hanya sesempit daun kelor.
"Risa! Risa! Kamu ingin membiarkan mereka hidup? Mereka kan sudah menyakitimu." Ujar boneka Kesha.
"Tenang saja, Kesha. Ini masih baru permulaan." Risa tersenyum. Ia menatap sinis pada mereka.
Bersambung
Like and Comment di bawah, ya...