Horror Story

Horror Story
Kalung Berhantu (1)



"Sayang, aku tidak bersabar untuk bertemu denganmu." Ucap Sisca, seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang sedang berkomunikasi dengan tunangannya lewat telepon.


"Aku juga sangat merindukanmu." Ucap Rudy. Ia sangat merindukan calon istrinya. Ia tak sabar menanti hari untuk melamarnya.


"Aku cinta kamu, Rudy. Dan selalu sayang kamu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Sisca."


"Sayang, posisimu sekarang ada dimana? Udah dekat belum?"


"Sayang?"


"Halo, Sayang!"


"Sayang, jangan bercanda!"


"Sayaaang!" Rudy memutuskan panggilan telepon. Ia segera melacak keberadaan Sisca lewat ponselnya. Saat ditemukan posisinya, Rudy segera meluncur ketempat itu menggunakan motor buntutnya. Ia menambah kecepatan penuh dan tak peduli akan keselamatannya. Sesampainya disana, ia menemukan bus yang dinaiki Sisca oleng dan terbakar. Karena panik, Rudy mendekati bus itu tanpa peduli nyawanya. Ia mencari sosok Sisca.


"Saayaang, kau dimana?" Batin Rudy. Mata rudy membelalak lebar, saat melihat tubuh Sisca tertindih dengan orang yang duduk disebelahnya. Tubuhnya penuh dengan luka. Wajahnya penuh dengan darah. Rudy memeriksa denyut nadi Sisca, sayangnya wanita itu tak bisa diselamatkan. Rudy menangis dan memeluk Sisca.


"Sayang, ayo buka matamu! Aku sudah datang."


"Ayo sayang! Kita sudah berjanji akan menuju ke pelaminan."


"Sayang, aku akan melakukan apapun untukmu. Sekarang buka matamu!" Deraian air mata Rudy tak henti-hentinya mengalir. Ia berharap bisa melihat Sisca untuk yang terakhir kalinya. Rudy melihat kalung Sisca yang ia berikan sebelumnya, terlihat utuh. Ia melepaskan kalung tersebut. Ia memeluk nya.


"Sayang, kali ini aku tidak ingin kehilanganmu. Dan aku harap keajaiban datang. Kau akan selalu ada dihatiku." Rudy mencium kalung tersebut. Saat itulah petir menggelegar, hujan pun datang. Mereka seolah-olah menjadi saksi bisu.


Sejak saat itu, Rudy menyimpan kalung Sisca. Kalung yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri. Ia mengumpulkan uang untuk membelikan kalung manis berliontin bulan pada Sisca dua tahun yang lalu. Ia selalu membawa kalung itu kemanapun ia pergi. Entah kenapa saat membawa kalung tersebut, ia berpikir Sisca hidup kembali. Ia merasakan Sisca berada disisinya.


Saat pergi tidur, Rudy meletakkan kalung itu disisinya. Ia tak lupa mencium kalung tersebut. "Sayang. Aku mencintaimu. Selamat tidur, ya." Bisik Rudy sambil membelai kalung itu, seolah ia mengusap rambut Sisca. Ketika ia tertidur, sesosok wanita datang menghampirinya. Ia mencium kening Rudy dengan hangat. Perlahan, ia menyentuh wajah Rudy. Sesosok itu tersenyum padanya.


"Rudy... Aku datang. Dan aku akan selalu ada disisimu." Bisik sesosok makhluk tak kasat mata tersebut. Sosok itu adalah Sisca, tunangan Rudy. Ia menatap Rudy begitu dalam. Ia tersenyum lalu mengusap rambut pria tersebut. Sisca melihat Rudy bertubuh kurus dan tak terawat. Rambutnya terlihat berminyak dan sangat kotor.


"Rudy ku yang malang." Ucap Sisca. Rudy merasakan sentuhan hangat yang ia kenal selama ini. Ia membuka mata, namun ia tak melihat siapapun disana. Tetapi Rudy masih bisa merasakan kehadiran Sisca.


"Sayang, kau kah itu? Berikanku tanda jika kamu benar-benar ada disini." Ujar Rudy. Sisca tersenyum. Tak lama, angin datang melalui tirai jendela. Entah darimana asal angin itu, padahal jendela ditutup rapat. Rudy menganggap angin itu menandakan datangnya Sisca.


"Sayang, kau tahu aku sangat merindukanmu. Aku ingin sekali memelukmu. Berikanku pelukan yang hangat!" Rudy menutup mata. Ia merasakan pelukan hangat dari Sisca, walaupun ia tak bisa melihat sosok itu.


"Tak apa aku tak bisa melihatmu. Yang terpenting, aku bisa merasakan kehadiranmu disisiku." Tutur Rudy. Sisca terus tersenyum padanya.


Tak terasa malam semakin larut, sesosok pria menerobos masuk kedalam Rumah Rudy. Ia mencoba mengambil segala sesuatu yang dibutuhkan. Saat ia mencari barang yang mau dicuri, ia masuk kedalam kamar Rudy dan menemukan kalung emas berliontin bulan. Pria itu tersenyum saat menemukan target yang dicarinya. Ia mengambil benda itu, lalu pergi meninggalkan Rudy.


*******************************


Vera menatap dirinya cantik. Ia mengambil kalung yang ia beli dengan harga murah. Lalu memasangkannya, namun ia agak kesulitan saat memakai kalung tersebut.


"Sayang!" Panggil Vera pada suaminya.


"Iya, sayang ada apa?"


"Pasangin dong! Tanganku gak sampai."


"Astaga kamu beli perhiasan lagi. Sudah kubilang kan kalau kita harus menghemat, sayang." Ucap sang suami, Ferdy.


"Lagian kamu sih gajimu segitu terus. Masa gak bisa menyenangkan hati istri." Gerutu Vera.


"Sabar lah. Setidaknya, aku lagi berusaha." Ferdy memasangkan kalung cantik itu pada leher Vera.


"Wow cantiknya! Kamu tahu gak, aku beli kalung ini dengan harga murah loh cuman dua ratus ribu bisa mendapatkan kalung emas ini."


"Iya, tetapi ini terakhir kalinya ya. Lain kali, harus berhemat."


"Ya. Ya. Ya." Vera memutar kedua mata. Ia tak sabar memamerkan kalung baru tersebut pada teman-temannya.


Vera bertemu dengan tiga orang temannya. Mereka bukan dari kalangan biasa. Hanya Vera yang terlihat biasa. Tetapi kalung yang dipakai Vera menambah daya tariknya sendiri.


"Wah, kalung baru ya!" Seru Lily.


"Iya dong. Bagus, gak?"


"Apa gaji suami mu cukup untuk membeli itu." Nyinyir Bella. Ia tampak tak suka.


"Iri mulu lu. Lagian gaji suami ku udah naik. Dia juga naik jabatan." Elak Vera.


"Masa sih? Gak percaya aku." Ujar Bella. Vera memutar kedua bola matanya. Tiba-tiba, ponsel Vera berbunyi.


"Halo, sayang! Lihatlah, mereka pada ngiri sama aku! Kamu harusnya beli yang lebih besar lagi dong. Lain kali berlian ya, sayang." Ujar Vera.


"Maaf, pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan. Dan sekarang berada di Rumah Sakit." Ucap Suster yang menghubungi Vera.


"Apa?" Vera tak percaya akan hal itu. Ia menuju Rumah Sakit bersama kedua anaknya. Sesampainya disana, ia melihat Ferdy terbaring lemah.


"Duh, dasar pria lemah! Ayo bangun! Sudah, ah, jangan bercanda mulu!" Vera mengguncang Ferdy. Ia melihat sayup-sayup Ferdy membuka mata.


"Ma, jangan begitu! Kasihan Papa." Ucap Mila, puteri tertua mereka.


"Vera." Lirih nya.


"Ma, Papa bangun!" Puteri, anak perempuan paling bungsu mereka tampak senang.


"Udah, ah mama pulang saja. Bau Rumah Sakit gak enak." Ujar Vera


"Kepalaku pusing. Bisakah kamu tetap disini?"


"Gak ah. Aku gak mau melihat mu begini. Menjijikkan." Ketika Vera hendak meninggalkan Ferdy, pria itu semakin lemah. Perlahan, ia tersenyum pada Vera.


"Vera, aku mencintaimu." Lirihnya. Dan seketika itu nafasnya terhenti. Vera seakan tak peduli.


"Paa... Papa.. Pa! Ma, Papa tampak aneh." Ucap Puteri.


"Ma, Papa gak bisa bernafas. Papa sudah..." Pecah tangis memenuhi pipi Mila. Puteri juga ikutan menangis. Mereka tak menyangka menjadi anak yatim. Vera memeriksa keadaan Ferdy yang sudah kehilangan nyawanya. Wanita itu memeluk kedua puteri nya. Seketika itu, kalung yang dipakai Vera bersinar. Sesosok wanita berparas cantik keluar dari dalam kalung tersebut.


"Aku ingin nyawamu." Bisik wanita itu pada Vera. Seketika itu, Vera merinding. Ia tak bisa bernafas. Vera berusaha memberontak. Ia bahkan tak bisa melihat siapa yang melakukan ini padanya. Tetapi, kekuatan yang dimiliki hantu perempuan tersebut sangat kuat, hingga...


**Bersambung


Like and comment**..