Horror Story

Horror Story
Sekolah Tak Berpenghuni



Sekolah Tak Berpenghuni


Suatu ketika, ada Sekolah tua yang tak berpenghuni. Rumornya, sekolah itu terkenal angker dan banyak memakan korban jiwa. Tidak ada satu orang pun yang berani mendekati Sekolah tersebut. Mia, seorang gadis yang tak kenal takut mengajak kedua temannya untuk kesana. Akan tetapi, Lika memilih mundur. Segala rayuan dan kebohongan dari lidah Mia, membuat gadis itu bersedia ikut dengan kedua temannya. Sedangkan Merry adalah sosok gadis yang tak percaya adanya hantu. Dan inilah kisah mereka...


"Gaes, dengar tidak, ada suara?" Tanya Lika.


"Ah, bilang aja loe takut, kan?" Ujar Merry.


"Eh, ada apaan tuh dibelakang lu, Ka?" Ujar Mia menakut-nakuti Lika.


"Mana? Mana?" Lika berjingkrak-jingkrak ketakutan. Ia menoleh ke belakang dengan tubuh yang gemetar.


"Hahahaha..." Mia tertawa menyaksikan sikap lucu Lika. Merry, gadis berambut kecokelatan juga ikutan tertawa.


"Kalian pada jahat sama aku." Lika kesal dan pergi begitu saja. Tanpa disadari, ia kehilangan kedua temannya. Disisi yang lain, Mia dan Merry mencari keberadaan Lika yang tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba cklek, suara pintu terbuka. Mereka kaget saat menyaksikan pintu yang berada didekat mereka terbuka.


"Hei, jangan main main dong!" Teriak Merry, ia masuk kedalam ruangan tersebut dengan pintu yang terbuka. Akan tetapi, pintu tertutup dengan sendirinya. Merry yang berada didalam ketakutan.


"Mia! Mia! Eh, gak lucu, sumpah. Masa loe ngunciin pintu gue?" Teriak Merry.


"Apaan sih? Gue aja kagak tahu lu masuk kedalam." Ujar Mia. Ia mencoba membuka pintu tersebut, tetapi gak berhasil.


"Terus kalau bukan loe yang nutup pintu, lalu siapa?" Ucap Merry. Satu detik berlalu. Dua detik terlewati. Tiga detik tak ada suara. Merry tak mendengar suara Mia lagi.


"Heh, Mia! Mia!"


"Woii, Mia! Woii!!"


"Eh, gak lucu. Masa loe ninggalin gue sendiri?" Teriak Merry. Ia melihat suasana mencekam disekelilingnya. Benda-benda disekitarnya bergoyang tanpa disentuh oleh siapapun. Ia semakin menjerit ketakutan. Tak hanya itu saja, ia mendengar suara-suara seperti isakan tangis atau bahkan keinginan untuk bunuh diri.


Disisi lain, Lika mengitari sekelilingnya untuk mencari kedua temannya, akan tetapi ia tak menemukan sosok dua orang tersebut. Pandangannya berhenti, saat ia melihat punggung seorang gadis. Lika mengira sosok itu adalah Mia. Ia mendekatinya.


"Mia, akhirnya ketemu! Mana Merry? Kok gak ada?" Tanya Lika. Akan tetapi, gadis didepannya menoleh. Lika menjerit karena gadis itu tak memiliki kedua mata.


"Mana mataku? Mana mataku?" Gadis itu terus mendekatkan diri pada Lika. Lika berlarian ketakutan. Ia mencari pertolongan. Kebetulan ia melihat seorang pria menyapu lantai. Tempat itu tampak seperti Kantin Sekolah.


"Pak, tolong aku! Disana ada hantu, Pak!" Seru Lika sambil memegang tangan Pak tua. Lika tak menyangka tangan yang ia pegang, lepas begitu saja. Tak hanya itu, ia menyaksikan seluruh anggota tubuh pria tersebut satu-persatu lepas. Lalu, sapu yang dipegang orang itu bergerak dengan sendirinya. Suara Lika semakin keras menjerit. Ia tak menyangka menyaksikan dua kejadian aneh yang tak bisa hilang dari pikirannya. Ia berlarian tak menentu. Tanpa disadari, ia melihat sebuah Gerbang Sekolah yang tepat berada didepan matanya. Ia yakin, jika ia bisa keluar dari sana lewat pintu gerbang tersebut.


Disamping itu, Mia duduk di pojokan seorang diri. Ia tak ingin melihat atau mendengar siapapun. Ia menutup kedua mata. Secara bersamaan, ia juga menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.


"Mia!" Panggil seseorang menyerupai Merry. Mia tak berkutik. Ia tetap tak peduli ada seseorang yang memanggilnya.


"Mia, tolongin gue! Mia, ayo kita pergi dari tempat ini! Gue gak mau ada disini." Kali ini terdengar seperti suara Lika. Hampir saja Mia terbujuk oleh suara itu, beruntung kesadarannya masih tersisa. Ia kembali tak beranjak dari tempatnya. Gadis angkuh dan sok berani seperti Mia, ternyata saat dihadapkan hal itu, membuatnya tak berdaya.


Perlahan, ia mengambil ponsel yang berada disaku nya. Saat ia memegang ponsel, suara dengungan bergema ditelinga nya. Ia membuang ponsel itu begitu saja. Bahkan tak peduli merk Apple yang tertera pada ponsel nya. Karena Mia yang berusaha tak terpengaruh dengan lingkungan sekitar, banyak suara terdengar dari telinganya. Mulai dari suara ketukan pintu, suara pintu terbuka/tertutup, suara benda terjatuh, suara langkah orang berjalan, suara tertawa, suara menangis, hingga suara minta tolong.


"Cukuuuup!" Teriak Mia. Dia lelah menghadapi situasi yang mengerikan. Dalam waktu yang bersamaan, ia merasakan ada seseorang yang memeluknya dibalik tembok. Mia berusaha tak peduli. Namun, pelukan itu semakin erat hingga membuatnya sesak. Ia juga merasakan sentuhan tangan yang menyentuh wajahnya. Darah segar mengalir pada ajah gadis tersebut. Wajahnya penuh dengan goresan luka. Ia merintih kesakitan. Tak sampai disitu saja, ia juga merasakan seseorang menyentuh kakinya, seolah-olah seseorang mencakar setiap bagian kaki Mia hingga darah keluar dari kulitnya. Sekujur tubuhnya penuh dengan rasa sakit. Ia pasrah seakan tahu ajal datang menjemputnya.


Malam semakin larut, ketakutan mereka tiada habisnya. Isak tangis serta teriakan mereka takkan terdengar oleh siapapun di luar sana, kecuali para penghuni Sekolah. Mereka tak bisa keluar dari tempat itu. Kejadian aneh selalu mengitari mereka. Hidup atau mati tergantung takdir mereka sendiri. Semakin banyak orang yang menabur kebaikan, maka orang itu sendiri juga mendapatkan apa yang ia tabur. Tetapi sebaliknya, semakin orang itu sombong dan tak peduli akan orang lain, di akhirat juga akan mendapatkan penyiksaan yang lebih berat.


TAMAT-SEKOLAH TAK BERPENGHUNI


Like and comment, please...


**Bagi yg mau memberikan kisah cerita horror, harap comment dibawah, ya.. Cerita yang paling menarik, akan di buat pada episode selanjutnya.


Happy Reading Guys**~~