
Teng.... Teng...
Bel pulang sudah berbunyi menandakan berakhirnya masa belajar mengajar di sekolah.
Nana yang sudah keluar kelas,ia tengah berjalan bergegas menuju parkiran sekolah ditemani oleh Nanda yang juga menuju mobilnya.Mereka berdua tengah mengobrol sambil berjalan.
"Nai,gue semakin penasaran hubungan Lo sama Rey sebenarnya ada apaan sih?"Cetus Nanda.
Nana menghentikan langkahnya,menengok pada Nanda yang menunggu jawaban dari nya.
"Apa Nai?"
"Memang itu penting?"
"Penting... banget buat aku"
"Umm... gue gak ada apa-apa sama Dia "
Nanda mengerutkan keningnya tak percaya.
"Gue gak percaya."
"Yaudah kalau gak percaya,"Kata Naina melanjutkan berjalan.
"Ihh gue serius Nai. Gue gak lagi becanda!"teriak Nanda,lalu ia berlari menghampiri Naina.
"Iya gue juga serius gak lagi bercanda.Kalau gue itu gak ada hubungan sama cowok Idiot sok ganteng itu!"
"Cowok idiot sok ganteng? tunggu ! tunggu, maksud elo cowok idiot sok ganteng itu Rey gitu?"
Nana mengangguk.
"What?!kok Lo tega sih panggil dia cowok idiot?! apanya yang idiot dari sosok Renaldy cowok dengan perawakan paling sempurna?hah? Ah mata elo katarak kali ya,"Cerocos Nanda mendelik pada Nana.
"Karena Lo belum tahu wajah aslinya dan ralat mata gue gak katarak tuh, ada juga mata Lo yang katarak !!"ucap Naina tak terima sambil mendelik tajam pada Nanda.
Tak sadar jika mereka sudah sampai di parkiran sekolah,Nana langsung berjalan menuju mobilnya.sementara Nanda berdiri ditempat dan masih bengong tak percaya plus tak mengerti.
"What?"gumam Nanda.
Naina membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya dan menutup pintunya.Dia mulai menghidupkan mesin mobilnya, mengendarai dan saat berpapasan dengan Nanda.Ia membuka setengah kaca mobil lalu memberikan Kiss bye setelah itu melenggang pergi dari area sekolah.
Dan Nanda hanya menatap kepergian mobil Naina.
"Emangnya Rey punya muka berapa? jangan-jangan Rey itu cowok yang memiliki muka banyak? OMG masa iya? ih serem..."monolog Nanda menggidik seram.
Ia berjalan cepat menuju tempat parkir mobilnya,karena ketakutan.Masuk ke dalamnya lalu melenggang meninggalkan sekolahan.
****
Motor sport sudah memasuki pekarangan rumah mewah, memarkirkan di depan rumah megah itu.Renaldy membuka helmnya, meletakkannya.
Cuaca hari ini sangat cerah,secerah suasana hatinya saat Renaldy turun lalu berjalan masuk ke dalam rumah sambil bernyanyi sebuah lirik lagu kesukaan nya.
Ia berjalan cepat menaiki anak tangga.Pada saat kakinya baru saja melewati tiga anak tangga.
Tiba-tiba....
"Kamu baru pulang?"suara dari arah belakang berhasil menghentikan langkah Renaldy.
Renaldy menengok ke belakang mencari sumber suara,seketika wajahnya berubah sinis setelah melihat orang itu.
"Papa mau bicara sama kamu"ucap Firman menatap punggung putranya.
Renaldy tak menggubris ia memilih melanjutkan menaiki anak tangga.
Firman menggeram akan tingkah putra tunggalnya ini.
"Papa lagi bicara!kamu main nyelonong pergi begitu saja!di mana sopan santun kamu Renaldy!!"Bentak Firman terlanjur termakan emosi.
Renaldy menghentikan langkahnya terakhirnya,ia menengok ke arah papa nya sedang berdiri.
"Sopan santun?"ucap Renaldy balik bertanya di sertai senyuman sinis.
"Kamu itu setiap hari bikin masalah di sekolah!liat setiap hari kepala sekolah mengadu akan sifat kamu yang brutal,susah di omongin ke papa!mau jadi apa kamu?hah?! preman?!"Emosi Firman memarahi habis-habisan Renaldy.
Kupingnya terasa panas mendengar ocehan Papa nya, mengepalkan tangan berusaha menahan emosinya.
"Udah selesai marahin Rey?sekarang giliran Rey yang mau nanya sama papa?!.... kemana aja papa selama ini?Rey yang masih membutuhkan kasih sayang papa!dan papa selama ini selalu saja sibuk, alasannya pekerjaan.Memperbanyak uang tanpa perduli dengan keadaan Rey!dan sekarang papa nyalahin semua sama Rey?!....Rey gak butuh uang banyak pah,yang Rey butuhkan papa punya waktu untuk Rey hanya itu saja!"emosi Renaldy yang meluap-luap.
"Huh!mana mungkin seorang Firman Adi Putra pengusaha sukses memilik waktu luang untuk anak yang malang ini...."Lirihnya tersenyum hampa.
Firman diam mematung,tak kuasa untuk berbicara lagi.Kata-kata Rey membuat Firman kalah telak.
"Kenapa papa diam?! nggak salah kan semua yang Rey omongin?!"Setelah itu Rey berjalan pergi meninggalkan Papa.
"Rey... dengerin papa ini semua gak sepenuhnya benar.Papa ngelakuin itu semua demi kamu,anak papa.Papa minta maaf Rey..."ucap Firman meminta maaf.
"Sayang maafin aku udah buat anak kita nggak bahagia..."gumam Firman merasa bersalah pada Renaldy.
*****
Malam akhirnya telah datang, Renaldy tengah berdiri di balkon kamarnya menikmati semilir angin malam.Rey selalu merasa sendirian ketika mama tercinta meninggalkannya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan semakin mendekati Rey yang berdiri di balkon.
"Ngapain papa kesini!"
Firman menghela nafasnya,sudah tahu putranya masih terbawa emosi padanya.
"Papa mau bicarakan sesuatu yang penting sama kamu."
"To the point!"
"Papa ingin menjodohkan kamu dengan anak rekan kolega bisnis papa."
Rey menoleh pada papa nya,menggeram kesal.
"Maksud papa!"
"Papa ingin menjodohkan kamu dengan anak rekan kolega bisnis papa."
Rey mengepalkan tangannya,dengan rahang yang sudah mengeras menahan emosinya.
"Aku nggak mau!"
"Ini demi kebaikan kamu,Rey"
"Demi kebaikan Rey?"Kata Rey balik bertanya pada papa nya.
Firman mengangguk.
"Iya."
Rey semakin mengeram kesal, sebenarnya apa yang di inginkan papa ini?Rey sudah tidak mengerti lagi.
"Demi kebaikan Rey,apa demi keuntungan pribadi papa?!"Ujar Rey kesal.
"...."
"Jawab pa?!"
"...."
Diamnya Firman semakin membuat Rey kesal dan marah, apakah perkataannya barusan itu benar?jika papa nya hanya ingin mengambil keuntungan dari dirinya atas perjodohan ini?.
"Pokoknya Rey gak mau!!dan lupakan keinginan papa buat jodohin Rey sama anak kolega bisnis papa!"
Rey berjalan pergi meninggalkan Papa nya yang masih diam tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk meyakinkan Rey.
"Rey!Rey! dengerin papa bicara dulu!ini itu belum selesai!"Papa Firman terus berteriak akan tetapi Renaldy sudah malam untuk mendengarkan.
Renaldy merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kata-kata papanya masih terngiang-ngiang di telinganya. Lalu ia duduk di tepi kasur menatap ke arah luar jendela kaca.
"Argh !!"Renaldy mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa papa selalu begitu !, bilang itu semua demi kebaikan Rey ! nyatanya papa itu selalu egois. Mama... kenapa mama tinggalin Rey sendiri !!"Lirih Rey mengingat masa-masa saat mama nya masih berada di sampingnya dan menenangkan dirinya saat marah.
*
*
*
*
*
Naina saat ini tengah berada di kamarnya seorang diri, entah mengapa saat ini hati dan pikirannya tak tenang. Ia selalu gelisah dan selalu kepikiran sosok pria yang harus di hindari nya siapa lagi kalau bukan Sang Mantan terindah ^_^
"Kok gue kepikiran si blangsak nyebelin ya?"ucap Naina dengan menutupi wajahnya menggunakan bantal.
Klening !!
Ponsel yang tergeletak di atas nakas bergetar ada notifikasi masuk. Naina pun bangkit ia mengambil ponselnya.
"Siapa sih?"Naina membuka notifikasi pesan chat.
"Nanda mau ngapain dia ngajak gue main keluar malam-malam begini?"Gumam Naina lalu ia pun mulai mengetik.
Naina : "Main kemana??"
Nanda : "Udah elo ikut aja, gue otw ke rumah elo sekarang juga!"
Belum sempat Naina membalas chat Nanda, tetapi sudah tidak aktif lagi.
Beberapa menit kemudian. Naina menuruni anak tangga dengan berpakaian sudah rapi. Kedua orang tuanya yang sedang mengobrol di ruang keluarga pun sontak menoleh pada putrinya tunggalnya.
"Kamu mau kemana malam-malam begini??"tanya Kasya saat Naina berjalan menghampiri dia dan suaminya.
"Temen aku ngajak main ma"jawab Naina dan langsung duduk diantara dua orang tuanya.
"Main kemana?" - papa
"Mana aku tau, pa"
Tak lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Naina.
"kayanya Nanda, udah jemput tuh"Naina bangkit lalu memeriksa ke depan memastikan bahwa itu Nanda.
"Nda, sini masuk dulu"teriak Naina.
Brukk!!
Nanda pun keluar dari mobil, ia berjalan menghampiri dimana Naina berada.
"ma, pa ini Nanda teman aku"Naina memperkenalkan gadis itu kepada kedua orang tuanya.
"Hai om, Tante"kata Nanda dengan sopan dan mencium punggung tangan mereka.
"oh kamu Nanda, temannya Naina?" - Mama
"iya Tante,"balas Nanda malu-malu.
Kemudian mereka berdua pamit pada mama papa nya Naina, mereka langsung menaiki mobil mewah milik Nanda.
"Nda, kita mau kemana sih?"tanya Naina mengernyitkan keningnya.
"udah ikut aja"sahut Nanda sambil mengemudikan mobilnya.
Naina hanya menanggapinya dengan wajah cengo saja, lalu ia memainkan ponselnya agar tidak terlalu garing.
"Nai, Lo gak marah kan? gue ajak Lo buat nemenin gue ketemuan sama gebetan baru?"ucap Nanda dengan wajah yang menunggu Jawaban memuaskan.
"Oh ga kok, yang penting gue dapet makan Hhh!!"Naina membalas sambil tertawa renyah.
"Gampang soal makan mah"
"Bercanda gue Nda, jangan dianggap serius hehe!"pekik Naina kembali tertawa.
Beberapa saat kemudian mobil Nanda berhenti di depan klub malam yang terkenal di ibukota.
"Kita sampai"celetuk Nanda santai sambil tersenyum merekah.
" Di sini "pekik Naina tidak percaya.
Bagiamana tidak, seumur hidup Naina tidak pernah menginjakkan kaki di tempat seperti itu. Karena orang tuanya melarang keras Naina ke sana.
"Gak salah, Nanda ketemuan sama gebetannya di sini??? haduh takut banget gue, ntar papa mama tahu gimana?? bisa-bisa mati gue!!!"batin Naina cemas.
*Bersambung*