
06.30 WIB.
Kejadian kemarin malam, membuat badanku bersakitan. Dan sepertinya, aku demam.
Krek....
(Ibuku masuk ke kamarku) "bangun sayang, sudah pagi."
Ibuku melihat badanku menggigil.
"Kamu kenapa? (Memegang dahiku) Ya ampun, badan kamu panas banget, kita kerumah sakit ya?"
Rumah sakit ? Pasti banyak sekali arwah-arwah yang bergentayangan disana. Tapi, aku tidak bisa menolak permintaan ibuku. Ibuku membawaku ke rumah sakit untuk memeriksa keadaanku.
Sesampai di rumah sakit ~~
Dokter pun memeriksa ku. Aku hanya bisa melihat dokter itu dengan mata terbuka sedikit.
Dep..... Seketika lampu di rumah sakit itu mati.
Ada apa ini? Semuanya panik, dokter dan pera perawatnya ke luar ruangan untuk mengecek apakah benar rumah sakit ini mati lampu, atau hanya ruangan tempat aku di periksa aja yang mati?
AUREL.....
Seketika ada yang memanggil namaku. Siapa lagi dia itu ? Please, jangan ganggu aku di dalam kondisiku seperti ini. Aku pun membalingkan wajahku ke sumber suara tersebut. Mataku melotot, jantung berdegup kencang, dan napas ku memburu ketika aku melihat sosok makhluk wanita berambut panjang dan berbaju merah yang sudah duduk dari tadi di ruangan itu.
Sosok wanita itu mendekatiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa meneteskan air mata.
Prak....
Sosok wanita itu menjatuhkan semua barang-barang yang ada disana. Kenapa tidak ada yang mendengar suara ini, padahal suara nya begitu kencang.
Sret.... Wanita itu mengambil gunting.
Aku hanya geleng-geleng kepala, menandakan jangan dekati aku. Tapi, dia berjalan terus ke tempat ku. Semakin dekat, semakin dekat, dan akhirnya dia sudah tepat di sampingku.
Aku hanya bisa membanting- banting diriku di kasur. Wanita itu mulai menaikkan gunting yang di pegang, dan
Sret....
"Tenangkan dia suster."
Untung saja, dokter datangnya tepat waktu dan dia menyuruh suster untuk menyuntikan bius penenang. Akhirnya, aku pun tenang dan lama-kelamaan aku tertidur pulas.
Krek....
"Gimana dokter, keadaan anak saya ?" Kata ibuku.
"Dia terkena tipes. Tapi, sekarang keadaannya sudah membaik. Ibu boleh melihatnya sekarang." Kata dokter itu sambil meninggalkan ibuku.
Ibuku pun masuk untuk menemui ku. Dia memegang tanganku dan menungguku sampai sadar.
*****
Sementara itu di sekolah~~~~
"Kemana Aurel ini, jangan bilang dia telat." Kata Teri sambil menungguku di depan pintu kelas.
Karena, melihat Teri begitu cemas. Jihwan mendatangi teri dan menanyakan kepadanya, kenapa aku belum datang sampai sekarang.
"Ter..." Memegang pundak teri.
"Eh, elo (melihat kearah Jihwan)"
"Dari tadi aku lihat, kamu mondar-mandir di depan pintu kelas ini. Ada apa, terus temanmu kemana?"
"Gak, gak papa." Dengan wajah cemas.
"Gak papa! tapi wajahmu terlihat cemas. Ada apa ?" Kata Jihwan.
(Teri pun menceritakan nya kepada Jihwan)
"iya nih, aku cemas banget. Soalnya, Aurel belum datang juga. Kan hari ini kita ada ulangan, kalau dia gak datang, nanti dia gak dapat nilai dong." Jelas Teri.
"Coba kamu telpon aja" kata Jihwan.
"Oh iya ya, kenapa gak kepikiran. Yaudah, aku telpon dulu ya" Teri pun menelpon ku.
Tut....Tut....Tut....
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.
"Yah, gak aktif lagi hp nya." Kata Teri.
"Woy, cepat-cepat duduk yang rapi. Bapak itu udah mendekat ke kelas kita."
Teri dan Jihwan pun bergegas untuk duduk ke bangku mereka masing-masing.
Prak... Bunyi pukulan rotan di papan tulis.
"Semua tas, buku, dan hp antar ke depan sini. Kalau sampai ada yang tidak mengantarkan nya satu saja. Lihat aja! Bakalan saya koyak-koyak kertas ulangan kalian. Paham!!" Kata guru yang masuk ke kelas kami.
"Paham, pak!!" Sontak semua murid.
"Untuk sekarang, Aurel berhalangan hadir. Dikarenakan, dia masuk rumah sakit." Kata guru itu.
(Teri tersontak kaget) "sakit ? Pantas aja, gak ada kabar darinya."
"Udah, udah jangan berisik." Kata guru itu.
**2 jam berjalan....
Kring..... Bunyi bel pulang**.
"Waktu kalian sudah selesai, waktu nya kumpul." Guru itu mengambil satu persatu kertas ulangannya.
"Sekarang, kalian boleh pulang" kata guru itu.
Teri pun bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Tapi, langkahnya terhenti ketika ada siswi yang membicarakan tentang Aurel.
"Bagus banget dia gak sekolah ya. Aman dunia ini." Mereka tertawa.
Prak.... Teri memukul meja.
"Apa yah kalian bilang ? Jalan ngajakin berkelahi?" Kata Teri.
Mereka pun pergi meninggalkan Teri. Sementara itu, Jihwan datang untuk menenangkan emosi teri.
"Oh iya, kamu mau ke rumah sakit ?" Tanyanya.
Teri hanya mengangguk, dia kelihatan begitu emosi ketika siswi itu membicarakanku.
*****
Sesampai di rumah sakit~~~
"Tante, gimana keadaan Aurel" kata Teri.
"Keadaannya, sudah it's okay. Dan sekarang panas nya sudah turun. Ya sudah, ibuku keluar dulu ya? " Jelas ibuku dan pergi meninggalkan mereka.
(Memegang tanganku) "Aurel, Lo kenapa sih. Resek banget deh, tahu gak tadi kita itu ulangan. Terus, tadi ada yang mencibir mu loo. Untung aja ada Jihwan, kalau enggak habis tuh betina." Teri tertawa kecil.
"Aurel. Lo, sadar ya" teri mencium tanganku.
Satu persatu, jariku bergerak. Teri pun tersontak bahagia ketika aku membuka mataku satu persatu.
"Lo, udah sadar." (Memelukku)
Aku pun melihat ke arah Jihwan. Ternyata, di belakang Jihwan sudah ada Rafael yang sejak dari tadi menunggu ku sadar. Aku hanya tersenyum kepadanya untuk mengucapkan terimakasih. Karena, dia telah menemaniku selama aku tidak sadar. Rafael pun membalas senyuman ku.
(Melepaskan pelukannya) "Aurel, Lo tahu gak. Gue itu Rindu....... Banget. Rindu dengar curhatan, Lo tentang (melihat ke arah Jihwan) Setan" berbisik kepadaku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman manis.
"Eh, apa apa. Kok bisik-bisik, ngomong nya." Kata Jihwan.
"Ini urusan wanita, Lo gak boleh tahu" kata Teri.
"Oke, oke..." Jihwan membalingkan matanya malas.
18.00 WIB.
"Ya sudah, buk. Kami pulang dulu ya " kata Teri.
"Iya" kata ibuku.
Hai, readers kalau ada yang typo tolong di beritahu ya...
Terimakasih,
salam manis
Dwij.