H I A T U S

H I A T U S
STORY 11



Krek... Bunyi pintu.


Menyangka tidak menyangka, ternyata aku masuk juga ke


psikiater. Tak pernah terbayangkan, ataupun terpikirkan. Tapi, apakah ini yang dinamakan psikiater. Kok, seperti rumah mewah yang di tinggalin?


"Ini kamar kamu" psikiater itu membuka pintu ruangan.


Aku hanya memiringkan mulutku kepadanya dan masuk ke kamar tersebut.


Mataku kembali tidak menyangka dan penuh tanda tanya. Ruang tidur yang terlihat seperti ruangan tidur aku dirumah. Hmm... Apa yang sedang di rencanakan psikiater tersebut? Ntah lah.


Bruk... Aku membantingkan diriku di kasur


Kasur yang begitu empuk dan membuatku begitu nyaman. Sehingga membuat mataku ingin tertidur.


Aurel...


Aku tersontak kaget dan menatap ke arah


sumber suara tersebut. Ternyata, seorang anak kecil sudah berdiri di dekat pintu kamarku dan melihat ke arahku. Bentar, bentar sepertinya anak kecil ini gak asing ku lihat. Aku pun menyipitkan mataku, ternyata benar dia itu adalah anak kecil yang aku temui di rumah sakit kemarin.


"Kamu?" Dengan lancarnya Aurel berbicara.


Anak kecil itu dengan cepatnya, secepat kilat sudah berada di dekatku dan duduk bareng denganku di pinggir kasur.


Aurel... Sapa nya lagi.


"Kamu, ngikutin aku." Tanya Aurel.


Ini, rumah aku Aurel.


Aku tersontak kaget kembali. Maksudnya, dia itu anak psikiater itu atau pembantu anak psikiater itu?


"Oh." Dengan juteknya.


Aku kembali merebahkan diriku dan tidak memperdulikannya. Aku hanya memandang langit-langit ruangan tidur ini.


Kamu lagi sedih, ya. Katanya.


"Iya, aku lagi sedih." Meneteskan air mata.


Oh iya, aku belum kenalan denganmu. (Senyum manis)


Aku pun melihat kearahnya dan duduk kembali bersamanya.


Namaku Cery, aku anak psikiater ini. Kata cery.


Dugaanku benar, ternyata dia anak psikiater ini. Tetapi, maksud dan tujuannya untuk membantuku pada saat itu ada apa ya? Sungguh mencurikan.


"Oh iya (berbicara serius) kamu kenapa selalu mengikutiku dan kamu meninggal karena apa?" Tanya ku.


Dulu (menundukkan kepalanya) aku punya ibu yang sangat menyayangiku. Setiap hari, aku selalu di peluk, manja, dan di sayang nya (tarik napas) tapi, itu semua sudah terganti oleh ibu tiriku. Kata cery


"Ibu tiri?" Menaikkan satu alisnya.


Iya, ibu tiri yang jahat. Dia yang sudah meracuni ibuku. Awalnya, dia hanya seorang pembantu di rumah ini. Ibuku sangat baik kepada nya. Semua yang dia mau, ibuku turuti. Tapi, kebaikan ibuku dibalasnya dengan kejahatannya. Suatu hari, ketika aku pergi ke dapur untuk mengambil minum. Aku melihat dia menaruhkan racun di minuman ibuku. Aku sempat menggagalkan rencana busuknya. Tetapi, semua itu sia-sia. Minum sudah sempat minum-minumannya duluan. Hatiku sakit dan hancur, Aurel. Jelasnya cery sambil menangis.


"Kasihan sekali, kamu." Sambil memegang tangannya.


Akhirnya, wanita jahat itu menikah dengan ayahku. Ketika itu, aku jadi anak pendiam dan tidak ceria. Semua yang aku lihat, tampak begitu menyeramkan. Setiap hari, aku disuruh minum obat. Aku gak tahu, obat apa itu. Dengan rasa terpaksa aku meminumnya.


"Obat?jadi, kok gak kamu buang saja obat itu?" Aku memotong perkataan cery.


Gak bisa Aurel. Dia mengancam, kalau aku tidak menuruti semua yang dia mau aku bakalan di kurung di gudang selama satu hari dan tidak diberikan makan. Jelasnya lagi.


Wanita jahanam... Gumam ku dalam hatiku.


"Kamu gak bilang gitu, sama ayahmu. Atau ayahmu gak dirumah ketika kejadian itu?" Tanyaku lagi.


Enggak Aurel. Dia berbuat seperti itu, ketika ayahku pergi ke luar kota. Aku sangat tersiksa batin maupun fisikku Aurel. Hingga, suatu malam di menggeret ku ke kolam berenang dan memukuli hingga banyak luka lebam. Kamu tahu kenapa mataku cuman ada satu? (Dia menunjuk ke arah matanya) dia sudah mencongkel mataku satu. Aku merasa, dia itu seorang psycopath. Setelah dia mencongkel mataku, dia pun menjahitnya dan setelah itu, aku di kubur hidup-hidup. Jelas nya lagi.


(Menutup mulutku) Sadis banget... Gumam ku dalam hati.


Aku pun membayangkan, ketika aku di posisinya. Pasti aku bakalan lebih kejam kepada ibu tirinya. Gak tahu di Untung ya, seorang pembantu yang sudah di percaya oleh ibunya dan pembantu itu membalas nya dengan kejahatan seperti itu. Ada apa, apa ada dendam diantara mereka? Untung saja, aku tidak punya pembantu yang seperti itu. Semua pembantu ku polos-polos dan tidak pernah ada maksud untuk menyakiti keluarga ku.


"Aku turut berdukacita ya, atas kematianmu yang tidak wajar." Aku kembali memegang tangannya.


Cery mengangguk kepadaku dan tersenyum sekilas. Akhirnya, aku ada teman juga di rumah ini. Yah, seenggaknya aku tidak merasakan kesepian.


****


****Prak... Suara benda terjatuh.


Di jendela kamar****~~~


"Eh, kamu seriusan ini tempatnya" tanya Jihwan sambil memegang bokongnya.


"Yakin lah, tadi Lo dengar gak apa yang dibilang mamanya rindi?" Balas Teri.


"Dengar-dengar, tapi kalau di lihat-lihat ini bukan seperti psikiater tapi, ini rumah mewah." Balas Jihwan.


"Udah lah, Lo jangan banyak omong." Kata Teri.


Aku pun menghampiri ke tempat mereka berasal.


"Kalian kok, tahu aku disini?" Kataku dengan wajah datar.


"Eh, Aurel" balas Teri dengan senyum tipis.


Aku pun menuntun mereka untuk duduk di kasurku. Dan, sepertinya cery sudah menghilang. Syukur lah kalau dia menghilang.


"Pertanyaanku belum kalian jawab!" Kataku.


"Tunggu dulu ya, Aurel. Bernapas dulu aku." Kata Teri.


Aku hanya memandang mereka berdua dengan penuh penasaran. Dan, ini lagi Jihwan kenapa dia ikut-ikutan teri sih. Bukan aku gak ngizinin, tapi gak nyangka aja gitu seorang lelaki yang penuh dengan kedinginan mau ikut-ikutan orang yang sudah error sebelah otaknya.


"Kami tahu, dari ibumu lah" kata Teri dan mengambil minumku.


"Ibuku?"aku menaikkan satu alisku.


"Eh, btw. Ini serius psikiater?" Teri memandang isi ruangan.


"Aku pun gak tahu" balasku dengan cuek.


(Teri Melihat ke arah jihwan) "Lo, kenapa senyam-senyum. Jangan-jangan" memasang wajah curiga dan mengelilingi Jihwan.


"Jangan-jangan apa?" Kata Jihwan dengan suara beratnya.


(Teri Berhenti di hadapan jihwan)"Lo suka sama Aurel ya. Cie... Cie... Cie..." Gombal Teri.


"Kalau iya kenapa, ada masalah denganmu" balas Jihwan dengan coolnya.


Mataku melotot dan menatap tajam ke arah Jihwan. Begitupun sebaliknya dengan Teri yang menutup mulutnya. Apakah ini mimpi? Aku disukai oleh pria terpopuler di sekolah ku. Pria paling tampan di sekolah ku, dan saingan yang beribu di dunia ini. Gak sampai segitu juga kali. Gak nyangka aja gitu ada pria yang menyukai ku. Tapi, jangan baper dulu deh.


****


2 jam berlalu...


Sudah lebih dari dua jam kami bercanda gurau di ruanganku. Yah, masalah Jihwan suka samaku kami lupakan begitu saja. Karena, gak mau aja suasana jadi canggung dan hening.


"See you, Aurel." Kata Teri dari jendela ku.


"Kami pergi dulu ya" kata Jihwan.


Jihwan memegang pundak ku dan memeluk ku. Ada apa ini? Aduh, jangan-jangan beneran deh dia suka samaku. Jihwan pun melepaskan pelukannya dan mencium pipiku sambil mengejar Teri. Aku hanya bisa terdiam, pipiku memerah dan aku memegang nya. Aku pun berbalik ke belakang dan melihat ke arah mereka.


Jihwan tersenyum manis kepadaku dan aku pun membalas nya.


Aku berlari ke kasurku dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Apakah ini yang dinamakan firts love. Masih gak menyangka dan tidak menduga Jihwan berani berbuat seperti itu kepadaku.


__________ ____________ __________ __________


**hai readers...


Aku kembali lagi, hehehe...


dan aku ada kejutan buat para readersku. hehehe...


udah siap ya...


____________________________________________


Aku cery, temannya Aurel yang baru. salam kenal semuanya.☺️**