H I A T U S

H I A T U S
STORY 10



10.00 WIB.


Akhirnya, dokter mengizinkanku untuk pulang ke rumah. Senang rasanya, bisa terbebas dari rumah sakit yang penuh dengan misteri.


"Sekarang, kita siap-siap untuk kembali ke rumah" ibuku mengemasi barang-barangku.


Aku hanya tersenyum tipis kepada ibuku. Sebetulnya, ada satu hal yang masih ingin aku cari tentang anak kecil yang aku temui kemarin. Dia itu siapa? Dan kenapa dia baik sekali kepadaku ? Tapi, ya sudah lah. Lupakan itu semua.


Di sepanjang koridor rumah sakit itu, semua mata melihatku dengan penuh ketakutan . Karena, mereka mengira aku sudah kehilangan kesadaran.


(Tersenyum manis kepadaku) "gak usah di hiraukan." Ibuku memberikan semangat kepadaku.


Aku pun tersenyum kembali kepadanya. Sekarang, hanya ibuku lah yang bisa memberikanku ketenangan dan berkat dia, aku selalu kuat menjalani hidup ini.


Sesampai di rumah~~~


Ustt... (Rafael berbisik kepadaku)


Aku pun melihat ke arahnya.


"Ada apa?" (Berbisik)


Aku rindu padamu. Rafael tersenyum manis.


Astaga, ada apa sih dengan Rafael. Hmm... Memang sih, aku juga rindu kepadanya. Dia adalah orang ke-dua yang selalu ada di hidupku. So, wajar dong aku merindukannya.


Ibuku melirikku.


Apa .... Dia ku bawak aja ya ke psikiater. Gumam ibuku.


Prak... Aku membanting diriku di kasur.


Sudah lama aku tidak merasakan kasurku, rindu rasanya.


Fyuh... Menghela napas


Semakin hari, semakin banyak yang terlihat oleh mataku. Apa, kekuatan indigo ku sudah dibatas wajar? Bukan hanya setan yang bisa aku lihat, melainkan makhluk-makhluk yang berbentuk monster juga bisa terlihat oleh mataku.


Kenapa, ini bisa terjadi pada hidupku aku hanya ingin merasakan ketenangan seperti teman-temanku yang lainnya. Gumam ku dalam hati.


Aurel, kamu jangan sedih ya. Kata Rafael dengan sedih.


Aku hanya bisa menumpahkan segala rasa kesedihan ku kepada Rafael. Aku memeluk, walaupun aku hanya memeluk tanganku sendiri.


"Terimakasih, ya. Kamu selalu ada disaat aku sedih." Kataku kepada Rafael.


Krek... Bunyi pintu kamarku.


Ibuku melihat ku dengan rasa kaget. Sepertinya, aku memang beneran gila. Lihat saja! Aku berbicara sendiri dan memeluk tanganku sendiri. Dan keputusan ibuku sudah bulat, beliau akan bawa aku ke psikiater. Ibuku pun pergi dari kamarku, untuk meninggalkanku.


****


Kring... Bunyi bel sekolah.


Teri hanya memutar-mutar pulpen di bukunya. Dia hanya memikirkan tentang keadaanku. Dia berharap, aku bisa berkumpul lagi bersamanya.


(Menghampiri Teri) "Hai, Ter." Kataku.


(Melihat ke arahku) "Aurel, Lo. Lo udah sembuh" dengan wajah gembira.


Aku tersenyum dan mengangguk kepadanya.


(Memelukku) "Akhirnya, Lo. Datang juga ke sekolah." Kata Teri.


Di pintu kelas, Jihwan melihat kami yang begitu sangat akrab seperti satu darah yang tidak bisa terpisahkan. Jihwan hanya tersenyum dan dia pun mendatangi kami.


"Hei (menyapa) maaf nih, aku ganggu momen kalian." Tersenyum manis.


(Melepaskan pelukan teri) "it's okay, boy." Membalas senyuman Jihwan.


Astaga, ada apa ini. Apa yang Jihwan rasakan. Jantungku berdetak kencang. Dia pun memegang dadanya. Sesak sekali rasanya, ketika melihat senyuman manis dari seorang Aurel yang di kenal sebagai ratu setan. Sebetulnya, aku gak ratu dari para setan. Tetapi, aku mempunyai kelebihan yang sebagian kecil dimiliki oleh seseorang tertentu.


(Menyapu-nyapu tanganku) "Hei, kenapa diam?"


(tersontak kaget) "Eh, maaf maaf, hehehe." Menggaruk-garuk kepalanya.


Aku dan teri hanya saling pandang dan tersenyum. Ada apa dengan Jihwan ? Kenapa tingkahnya aneh sekali ? Tidak seperti biasanya sih, dia begitu.


Kring... Bunyi bel istirahat.


Di sepanjang koridor sekolah, seperti biasa semua murid sedang berbisik-bisik tentangku.


"Perlu dikasih pelajaran nih, manusia" kata Teri.


Tetapi, aku menyuruh teri harus tetap tenang dan sabar. Jangan terpancing emosi, karena tidak ada gunanya kalau melawan kejahatan dibalas lagi dengan kejahatan.


Di kantin~~~


"Mau pesan apa, Au?" Melihat-lihat menu makanan.


"Ehmm... Sama kan, saja seperti mu" kataku.


Teri melihat kearah ku, sepertinya hari ini aku tampak tidak begitu bahagia. Tidak seperti Aurel yang biasa dikenal Teri. Yang selalu ceria, bahagia, dan bersemangat dalam bersekolah.


"Lo, kenapa ?" Memegang tanganku.


(Aku menatap kearah teri) "aku, gak apa-apa." Kataku dengan lembut.


"Gak apa-apa gimana ? Dari tadi, aku lihat murung saja (menaikkan satu alisnya). Cerita sama aku, mungkin aku bisa membantumu" tersenyum manis.


Apa, aku cerita saja kepada Teri tentang kejadian kemarin yang menimpaku. Tapi, kalau nanti teri gak percaya, gimana ?


"Ehmm... Gini Ter, Lo bakalan percaya kalau aku cerita ?" Dengan ekspresi datar.


"Cerita apa sih? Gue jadi penasaran ?" Kata Teri.


"Gini, kemarin pas aku di rumah sakit. Aku bertemu anak kecil yang aku sendiri tidak tahu dia itu siapa ?" Kataku.


"Terus ?" Kata Teri.


"Ketika, aku mendekatinya dianya malah hilang ntah kemana." Kataku.


"Palingan, balik ke orang tuanya." Teri menyantap makanannya.


"Aku berharap sih, seperti itu. Tetapi, itu semua tidak seperti apa yang aku pikirkan. Ketika aku keluar dari ruangan anak itu, tiba-tiba rumah sakit itu berubah drastis." Jelasku.


(Menghentikan makannya) "maksud, Lo. Berubah gimana ? Jadi horor gitu ?" Teri mengangkat dahinya.


Aku mengangguk kepadanya.


"Pasti, Lo gak percaya kan ?" Ujar ku.


Teri hanya memasang wajah antara percaya dan tidak percaya. Tapi, Aurel yang dia kenal, tidak pernah bohong dalam berbicara tentang dunia lain.


"A... Aku percaya, kok." Sambil melanjutkan makannya.


"Semenjak kejadian itu, ibuku akan membawaku ke psikiater." Menundukkan kepalaku.


(Tersontak kaget) "What ? Ibumu itu, ngaco tahu. Lo, kan masih waras."


"Aku pun berharap, ibuku memikirkan seperti itu. Tapi, dia melihatku berpelukan dan berbicara dengan seseorang yang tidak bisa di lihat oleh mata ibuku". Jelas ku kepada Teri.


Teri memikirkan apa yang sudah di jelaskan olehku. Memang, agak sedikit gak waras sih, ketika aku bilang berbicara dan berpelukan sama setan. Pasti, kalau Teri jadi ibuku dia bakalan berpikiran sama seperti ibuku.


"Gini, deh. Nanti, aku coba bicara sama ibumu ya" teri tersenyum manis kepadaku.


"Terimakasih, Ter" aku pun membalas senyumannya.


****


Akhirnya, aku pulang. Ternyata, rumahku sudah kedatangan tamu dari psikiater. Sepertinya, ibuku beneran bakalan bawa aku ke psikiater.


(Melihat ke arahku) "sayang, kamu sudah pulang." Tersenyum manis kepadaku dan


menuntunku untuk duduk bersamanya.


Senyuman itu, hanya senyuman yang penuh dengan kebohongan. Ibuku, gak sayang samaku. Dia rela, memasukkanku ke


psikiater.


"Ini, anak saya." Kata ibuku kepada psikiater itu.


Psikiater itu hanya melihatku dengan penuh senyuman. Sedangkan aku, hanya melihatnya dengan wajah datar. Semenjak kejadian kemarin, aku sedikit memang tidak bergairah.


"Hai, nama saya pak Harto." Menjulurkan tangannya.


Aku hanya menatapnya tajam.


(Ibuku tersenyum kepada psikiater itu) "maaf ya, pak. Mungkin dia belum terbiasa." Kata ibuku.


"Iya, buk." Balas psikiater itu.


Setelah beberapa lamanya mereka berdua berbicara. Akhirnya, ibuku memutuskan supaya aku ikut bersama psikiater tersebut. Tetapi, psikiater itu sudah memberitahukan kepada ibuku bahwa aku tidak gila sama sekali. Tetapi, ibuku tetap bersikeras bahwa aku sudah gila. Yah, mau gimana lagi. Aku harus menuruti perintah dari ibuku. Kalau enggak, aku bakalan di hukum habis-habis.


Ketika ibuku berbicara seperti itu, aku merasa hati sakit sekali. Yang dulunya aku kenal sebagai wanita yang penuh dengan kasih sayang, lemah lembut, dan tidak mau menyakitiku sedikit saja. Tetapi, sekarang ibuku sudah menjadi seseorang yang jahat. Aku pun, pergi bersama psikiater tersebut.


Aurel... Maafkan aku. Kata Rafael yang sudah berdiri dari tadi di tangga kamarku.


******___________________________________


Hallo semuanya...


sedih banget ya si Aurel. padahal, dia kan masih waras. tetapi, semua orang menganggap dia gila, terutama ibunya. Tega banget ya....


_______________ _______________ ____________


RAFAEL**