H I A T U S

H I A T U S
STORY 12



Bosan sekali disini... Aku bergumam dalam hati sambil melihat langit-langit ruangan ku.


Seketika, aku rindu dengan Rafael. Dia sedang apa ya? Rindu banget dengan Rafael. Biasanya, hanya dialah yang bisa membuatku tertawa lepas dan hanya dia yang tahu isi hatiku.


Ustt... Suara bisikan.


Aku pun mencari-cari suara bisikan tersebut. Aneh, kok gak ada ya. Hmm... Suara bisikan itu terdengar di telingaku selama tiga kali dan membawaku ke lemari pakaian yang ada di ruanganku.


Krek... Aku membuka lemari pakaian itu.


Aurel, kemarilah...


Akhirnya, dia memanggil namaku. Tapi, apakah benar sumber suaranya berada di lemari pakaian ini. Aku pun masuk ke lemari pakaian yang ukurannya begitu besar.


Dep...


Tiba-tiba, aku sudah berada di tempat yang berbeda. Tempat apa ini?


Aurel, kemarilah...


Aku pun mendatangi sumber suara tersebut. Dan suara itu membawa aku ke suatu rumah kecil yang berada di atas bukit. Rumah siapa itu? Aku pun mendatangi rumah tersebut dan masuk ke dalamnya.


"Permisi, apa ada orang disini."


Tidak ada jawaban sama sekali. Siapa yang tinggal di rumah kecil yang berada di atas bukit ini. Aku pun melihat seisi rumah tersebut.


Tiba-tiba, suara hentakan kaki terdengar di telingaku. Suara itu semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat hingga sebuah tangan sudah memegang pundak ku. Aku pun berbalik menghadapnya dan terjadilah sesuatu.


Aku sudah tergeletak dibawah lantai. Apa yang sudah terjadi kepadaku?


Ah, sakit sekali kepala ku. Gumam ku dalam hati sambil memegang kepala ku.


Aku pun tersontak kaget ketika melihat seorang wanita paruh baya, yang sedang memotong-motong sayuran. Siapa dia? Dan aku berada di dapurnya? Aku pun berdiri dan mencoba untuk mendekati nya. Namun, wanita itu begitu tampak menyeramkan.


"Malam hari ini, kau akan menjadi santapan ku." Kata wanita itu kepadaku.


Aku menelan Saliva ku, dan tidak bisa bergerak sama sekali. Sebenarnya dia itu siapa? Kepalaku terasa begitu menyakitkan. Sepertinya, tadi ada yang memukul kepalaku dengan sebuah balok kayu. Terlihat dari, ngalirnya darah di kepalaku. Aku pun mengoyak kan sedikit bajuku untuk menutupi luka yang ada di kepalaku.


****


Aku harus bergegas untuk pergi dari rumah ini dan kembali ke psikiater itu. Tapi, gimana caranya? Wanita itu sudah mengikat ku dengan tanganku dengan tali. Aku gak mau, aku gak mau mati disini. Aku belum siap. Masih banyak petualang-petualang yang lain harus ku tuntaskan.


Akhirnya, wanita paruh baya itu pergi untuk mengambil kayu bakar. Dia mendekatiku dan berkata,


"Gadis cantik, kau jangan kemana-mana. Tunggu aku sampai balik kesini." Katanya sambil menyanyat pipiku dengan pisau yang di pegang nya dan pisau itu dia letakkan di dekat tanganku.


Untung saja, sayatan nya tidak begitu parah. Akhirnya, wanita itu pergi dari hadapanku dan inilah saatnya untuk aku pergi dari rumah ini. Aku pun mengambil pisau itu, dan menggunakannya untuk memotong tali yang mengikat tanganku.


Krek... Bunyi suara pintu.


Wanita itu kembali lagi, aku harus cepat-cepat membuka tali ini. Suara hentakan kakinya semakin dekat denganku.


"Ayo, ayo..." Kataku.


Keringat mulai berceceran di wajah ku, jantung ku berdegup kencang, dan napas ku memburu cepat. Ketika wanita itu sudah semakin dekat.


"Kemana kau..." Teriak wanita itu


Untung saja aku sempat pergi dari rumah itu. Aku pun berlari dan pergi untuk selama-lamanya dari bukit ini.


****


"Permisi, pak." Sapa ku kepada seorang pria yang sedang bersih-bersih di halaman rumahnya.


"Iya, neng. Ada apa?" Kata pria itu dengan sopan.


"Bapak tahu, gimana caranya keluar dari desa ini." Kataku kepada pria tersebut.


"Susah, neng kalau keluar dari desa ini. Kami aja, udah bertahun-tahun tersesat di desa ini." Ujar pria itu.


Tersesat? Pantas saja, desa ini begitu tampak menyeramkan.


"Tersesat?" Sontak ku kaget.


"Iya, neng. Kami sebenarnya, bukan asli orang ini. Kami juga bingung, neng mau pulang gimana caranya." Kata pria itu.


Pria itu tertawa kepadaku. Ketika dia tertawa, aku sedikit takut melihat nya. Apakah benar, yang di bilang pria itu? Kalau pun benar, kenapa mereka kok bisa berada di desa ini? Apakah ada suatu jalan rahasia ke desa ini? Ini sungguh di luar dari penalaranku.


20.00 WIB.


Malam pun sudah tiba. Sampai sekarang, aku belum bisa pulang sama sekali. Aku duduk di pos ronda desa ini dan melihat seisi desa ini. Sebuah kabut, sudah menutupi desa ini. Kalau menurut yang aku baca kalau di sebuah desa ada kabut yang tebal. Desa itu, ada yang gak beres. Bisa jadi, desa itu berpenghuni setan semuanya dan bisa jadi, desa itu di bawah kuasa setan. Apakah desa ini termasuk salah satu dari itu?


"Astaga, apa yang sudah aku pikirkan." Aku pun membuang pikiran kotor itu dan membuka hp ku.


Krak... Krak... Krak... Bunyi suara.


Aku pun mendatangi sumber suara tersebut. Dengan langkah perlahan, sambil melihat kiri dan kanan. Dan tiba-tiba, jantungku kembali berdegup kencang. Aku membatu dalam tempat ku berada.


Aku melihat, seseorang penduduk di desa ini yang sedang memotong-motong daging. Sepertinya, itu bukan daging hewan. Itu adalah daging manusia. Aku pun tersadar, dan segera pergi dari tempat tersebut. Tetapi,


krek...


Aku sudah menyenggol ranting kayu dan membuat dia melihat kerl arahku. Mata yang merah, dengan jalan agak sempoyongan dia pun mendekati ku. Aku tidak bisa apa-apa, aku hanya bisa menunggu dia berada tepat di hadapan ku. Dan, tiba-tiba


"Arghh..." Aku teriak dan pingsan.


_________'__________'________'_________'_______


**Gimana-gimana readers?


penasaran ya?


Maaf ya, baru bisa UP sekarang. Aduh, cerita nya semakin seru aja nih. hehehe...


oh iya, aku punya kejutan buat kalian.


udah siap ya?


Ayo, tuangkan segala keluh kesah kalian di kolom komentar.


salam manis dan hangat dari author super kece


Dwij**.


|| Ready... ||


WANITA YANG TINGGAL DI ATAS BUKIT.