H I A T U S

H I A T U S
STORY 13



2 menit kemudian~~~


Aku tersadar, dan melihat ke sekeliling. Aku sudah berada di sebuah rumah. Yang aku gak tahu, itu rumah siapa.


"Kamu sudah sadar, nak." Kata pria paruh baya yang mendatangi ku.


Dia memberiku sebuah air untuk aku minum. Pusing rasanya kepalaku. Sebenarnya, ada apa sih? Sudah dua kali aku pingsan.


"Makasih ya, kek," kataku dan tersenyum manis.


Kakek itu membalas senyumanku dan pergi meninggalkanku.


Aku melihat sekeliling rumah kakek itu. Rumah kecil, yang terbuat dari bambu dan hanya tinggal sendirian. Oh iya, nama kakek itu siapa? Aku belum kenal dia siapa.


Aku berdiri untuk keluar dari rumah ini.


"Nak, kamu istirahat aja dulu. Luka kamu terlalu parah," ujar kakek itu yang tiba-tiba datang.


Memang sih, luka di punggungku cukup parah.


"Oh iya, kek. Nama kakek siapa ya?" Kataku kepada kakek itu.


"Panggil saja, nama kakek Mijan," balas kakek itu yang sibuk membuat ramuan.


"Tujuan kamu ke desa ini, mau ngapain nak," kakek itu mendekatiku dan mengobati luka di punggungku.


"Saya tersesat, kek. Saya gak tahu, kenapa saya bisa di sini," balasku.


"Desa ini berbahaya, nak. Desa ini bukan desa yang aman. Semua penduduk disini sebetulnya, sudah tiada," jelas kakek itu.


Aku tersontak kaget. Jadi, yang aku temui kemarin itu adalah setan. Pantas saja, ketika dia tertawa tampak menyeramkan.


"Kamu jangan takut, nak. Kakek gak akan jahat kepadamu," kata kakek itu.


Akhirnya, kakek itu selesai mengobati ku. Aku pun melihatnya sampai dia menghilang dari hadapanku. Sepertinya, aku pernah dengar soal desa yang sudah lama menghilang dari muka bumi. Yah, aku ingat banget. Apakah ini desanya?


Aurel... Suara bisikan kecil memanggil ku.


Aku pun celengak-celenguk mencari sumber suara itu.


"Rafael," kataku ketika aku melihat Rafael sudah berada di bawah jendela.


(Mendekatiku) kamu, baik-baik saja kan? Kata Rafael.


"Aku baik-baik saja, kok. (Kebingungan) kamu, kok tahu aku disini?" Kataku.


Oh itu, aku kesini karena aku tahu kamu sedang mengalami masalah yang berat. Jelas Rafael.


Aku tahu dari gelangmu. Rafael menunjuk gelangku.


"Gelangku?" Aku menaikkan satu alisku.


Iya, gelang itu adalah gelang pemberian nenek kamu dulu bukan?" Kata Rafael.


Aku mengangguk kepadanya. Dari mana dia tahu, apakah dia selama ini mengikutiku?


Gelang itu adalah gelang suci, ketika kamu mengalami masalah gelang itu akan terus memancarkan cahayanya, dan cahayanya itu yang membuatku bahwa kamu sedang dalam masalah besar. Jelas Rafael.


Aku masih menatap Rafael. Dia kok tahu tentang gelang ku. Sedangkan aku, selama ini tidak mengetahui apa gunanya gelang ku ini. Ternyata, gelang yang ku pakai adalah untuk menjagaku dari mara bahaya.


Kita pulang yuk, disini hawanya mengerikan. Kata Rafael sambil menarik tanganku.


Aku pun menuruti apa yang di bilang oleh Rafael. Sebenarnya, aku dari kemarin memang mau pergi dari desa ini. Karena, hawa disini sangat berbeda sekali ketika aku berada di rumah sakit.


****


Hush...


Krek... Aku membuka pintu lemari.


"Kamu dari mana saja sayang," ibuku memeluk ku.


Udah sadar, ibuku sudah sadar tentang kesalahan nya? Aku pun melepaskan pelukannya dan beranjak pergi ke kasurku.


Disana sudah ada Jihwan, Teri, dan psikiater serta ibuku yang sedang menungguku. Mereka semua terkejut, terutama teri ketika melihat ku begitu sangat benci terhadap ibuku.


(Teri mendekati ibuku) "Yang sabar ya Tante, mungkin Aurel lagi gak mau di ganggu untuk sementara waktu," sambil mengelus-elus pundak ibuku.


Ibuku hanya membalasnya dengan senyuman. Dan mereka semua pun pergi untuk meninggalkanku sendirian.


__________________________________________


Maaf ya, readers.


Di Chapter ini, cerita nya sangat singkat.


Hmm... Soalnya, lagi buntu nih. hehehe...


salam manis dan hangat


dari author super kece


Dwij.