
20.00 WIB.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sebenarnya, aku gak mau berlama-lama di rumah sakit. Terlebih-lebih, pada malam hari tiba. Karena, bakalan banyak arwah yang sudah meninggal gentayangan di sekitar rumah sakit ini. Sepertinya, tadi sudah ada arwah yang berani menunjukkan dirinya ke hadapan ku.
"Ma..." Aku memanggil ibuku dengan lembut.
"Iya, sayang. Kamu mau apa?" Balas ibuku.
"Aku mau ke kamar mandi, ma" kataku.
Ibuku mengizinkan ku untuk pergi ke kamar mandi. Tetapi, aku ingin pergi sendirian tanpa ditemani ibuku.
Krek... Bunyi pintu
Untungnya, rumah sakit ini begitu ramai. Aku pun buru-buru ke kamar mandi, selagi masih banyak orang yang berlalu lalang.
Byur... Bunyi air
Aku pun bergegas pergi ke ruanganku. Tetapi, langkahku terhenti. Aku melihat anak kecil di ruangan rawat lainnya. Aku pun mendatanginya.
"Jangan kesana" perintah anak itu.
"Kenapa, gak boleh kesana ?" Balasku.
"Ustt (menyuruhku jangan keras-keras ngomong nya) ada orang disana." Kata anak kecil itu.
Orang ? Aku bergumam dalam hati dan
melihat ke arah yang di tunjuk oleh anak itu.
Aku menyipitkan mataku, tetapi tidak ada apapun disana. Tumben, aku gak melihatnya. Biasanya begitu sensitif nya mataku, kalau ada sosok makhluk halus. Apa, mungkin Indra ke enam ku udah hilang? Syukur lah, kalau hilang.
Tiba-tiba, anak kecil itu menghilang dari pandanganku.
"Eh, dia?" Celengak-celenguk mencarinya.
****
Dep... Mati lampu.
Lampu di rumah sakit itu mati. Untungnya, lampu di rumah sakit itu hanya mati sebentar, dan sekarang sudah kembali hidup. Tapi, well rumah sakit ini tampak berbeda. Yang tadinya ramai, sekarang sepi. Dan, sepertinya tidak ada pasien di ruang rawat yang aku masukin. Kecuali, sebuah boneka besar yang sudah berada di hadapanku. Darimana asal boneka itu, aku gak tahu.
Tak...tak...tak... Suara langkah kaki yang kecil berlari.
Ternyata, boneka itu punya anak kecil yang bersamaku tadi. Aku mendekatinya dan berbicara kepadanya.
"Kamu, kemana saja. Kakak cemas, loh" kataku.
Tapi, dia tidak menjawab. Dia berlari keluar ruangan itu. Aku pun mengejarnya.
"Cepat sekali dia" ngos-ngosan.
Aku pun tersontak kaget melihat keadaan rumah sakit ini. Ada apa dengan rumah sakit ini ?
Dimana-mana ada darah yang berceceran di lantai. Ditambah lagi, ada kepala yang sudah bergelantungan di awan-awan rumah sakit ini. Belum lagi, ada kaki dan tangan yang sudah menghiasi tembok rumah sakit ini.
"Mama" aku teringat kepada ibuku.
Aku pergi ke kamar ku dan menjumpai ibuku. Ternyata, ibuku tidak ada di sana. Aku terduduk dan memegang dadaku. Ada apa dengan ini semua? Aku menangis melihat semua ini.
AUREL....
Sepertinya, ada yang memanggilku. Aku menyeka air mataku dan pergi mendatangi sumber suara tersebut.
AUREL...
Suara itu mengantarkan ku ke lantai atas rumah sakit ini. Semakin lama, suara itu semakin kencang. Sepertinya, suara itu membawa aku ke arah kamar mayat.
"Apa ini?" Aku membuka plastik yang ada di hadapanku.
Jantungku berdegup kencang, dan aku berjalan mundur. Tetapi, ada yang berhasil menahan langkahku. Badanku gemetaran, napasku memburu, dan keringat bercucuran di wajahku.
Dengan rasa ketakutan, aku memberanikan diriku untuk melihat nya. Aku hanya bisa berdiam di tempat dan mataku melotot melihatnya.
Beraninya kau ke sini. Kata mahkluk itu.
Makhluk yang begitu besar dan membawa gergaji besi. Ternyata, dia yang sudah memotong kepala dan tangan serta kaki yang aku temui di sepanjang koridor rumah sakit ini.
Aku pun tersadar dan cepat-cepat untuk pergi dari tempat ini. Dia terus mengejar ku. Gimana nih, aku tidak mempunyai apa-apa untuk melawannya. Yang aku bisa hanya berlari dan berlari jauh dari hadapannya.
****
Sampai lah aku di ruangan apotek rumah sakit ini. Aku pun menyuruk ke bawah meja untuk menghindari makhluk itu. Semoga dia tidak menemukan ku di sini.
Dimana kau? Kau gak akan bisa lari dariku.
Suara gergaji besinya mengenai pintu ruangan itu.
Satu persatu, barang yang ada di ruangan ini habis di potong nya. Kalau sampai dia, ke meja tempat aku bersembunyi. Pasti aku bakalan ketahuan. Suaranya semakin mendekati ku, tinggal beberapa detik lagi dia bakalan sampai di tempatku bersembunyi.
Gimana ini ? Tiba-tiba, ada sebuah pedang yang sudah terjatuh di samping badan ku. Siapa yang sudah memberikannya ? Aku pun mencari seseorang yang sudah memberikan pedang tersebut.
Anak itu ? Apakah anak itu yang sudah memberikan pedang ini ? Aku menyipitkan mataku dan bergumam dalam hati.
Anak itu mengangguk kepadaku dan menyuruh ku untuk membunuh makhluk besar tersebut.
Dia memotong meja tempat ku bersembunyi. Untung saja, aku berhasil menghindar. Tetapi, Kabar buruknya dia berhasil menemukan ku.
Hahahaha, disini kau rupanya. Kata makhluk itu sambil mendekati ku.
Sret... Bunyi gergaji besinya di lantai.
Aku menelan Saliva ku. Oh iya, aku kan sudah mempunyai senjata untuk melawannya.
(Berdiri) "maju, kalau kamu berani." Sambil menyodorkan pedangku.
Kau nantangin (berlari) mati lah kau dari hadapanku. Kata makhluk itu.
Aku memegang erat-erat pedangku dan menutup mataku sambil menundukkan kepalaku. Dan,
****...
Aku berhasil menusuknya dengan pedang ku. Darahnya sudah memenuhi lantai dan tubuh ku kecipratan darahnya. Apakah aku berhasil membunuhnya ? Aku pun mengangkat kepalaku dan melihat ke arahnya.
Aku pun menjatuhkan pedangku, dan menutup mulutku.
"A..aku (melihat tanganku) melakukan tindakan kriminal" kataku.
Kabar baiknya, dia sudah menghilang dari hadapan ku. Atau bisa dibilang, sudah mati untuk selama-lamanya.
Dep.... Seketika rumah sakit tersebut berubah.
Semua apoteker yang berada di ruangan apotek itu, tersontak kaget melihat ku. Mereka pun membawaku ke ruanganku. Dan sepertinya, mereka mengira aku sudah kehilangan jiwa kesadaranku. Atau bisa di bilang aku sudah Gila.
Gimana mereka gak berpikiran seperti itu, tiba-tiba aku sudah berada di ruangan apotek dalam keadaan berlumuran darah. Tapi, mereka gak bakalan paham apa yang sudah aku alami. Yah, terserah deh mereka mau ngomong apa tentang diriku. Sekarang, yang aku pikirkan.
Bagaimana aku harus cepat keluar dari rumah sakit ini, sebelum ada sosok-sosok lain yang aku temui.
**hai, readers. maaf nih, aku jarang UP. hehehe...
Jangan lupa tinggalkan jejak Vote nya, like, and komentarnya serta jadikan novel favorit.
salam hangat dan manis
dari author yang super kece
Dwij**.