GIVE ME LOVE

GIVE ME LOVE
Sandaran



Misil terus memapah Naya menuju kamar kos-kosannya. Dan Naya pun berjalan sedikit pincang.


"Itu bos, lu? Dan kenapa ini lutut lu bisa kaya, gini? tanya Misil yang masih memapah Naya.


"Panjang ceritanya, dan kenapa lu gak ngangkat telepon gua?" tanya balik Naya yang sudah duduk di kasurnya.


"Sorry, tadi gua harus lembur gara-gara banyak kerjaan yang numpuk," ucapnya berbohong, karena sedari tadi dia membujuk Sisil adiknya itu untuk berhenti menangis dan akhirnya dia mengajak Sisil ke salah satu mall besar dan membelikan semua barang yang Sisil inginkan. "Itu bos lu yang kemarin lu usir, kan?" Naya mengangguk. "Tapi, kayaknya gua pernah ngelihat dia di suatu tempat," ucap Misil yang mencoba mengingat-ingat kejadian di mana dia pernah bertemu dengan bos Sisil.


Naya lalu menceritakan kejadian kenapa dia bisa bersama dengan bosnya dan diantarakan pulang oleh bosnya. Dia benar-benar sangat kesal dengan Pm yang sampai sekarang nomornya tidak aktif. Misil hanya ber oh ria. Dan merasa bersalah juga tidak mengangkat telepon dari sahabatnya ini yang membuat sahabatnya bisa terluka seperti ini.


Jam 8 malam Pm baru mengabarinya lewat chat, tetapi Naya abaikan karena dia masih merasa kesal. Dan Pm mencoba untuk menelepon Naya kembali tetapi lagi-lagi Naya mengabaikannya. Akhirnya Pm menelpon Misil dan menyuruhnya untuk menyampaikan pesan bahwa dirinya sudah berada di depan pintu gerbang kos-kosan putri. Dengan malas Naya turun ke bawah dengan berjalan sedikit pincang.


"Nay, gua minta maaf tadi gak bisa jemput lu," ucapnya sedikit lirih. Naya hanya terdiam, rasanya dia ingin sekali marah tetapi ketika melihat wajah Pm yang tidak biasanya amarah dia pun sedikit hilang.


Pm melihat lutut Naya yang hanya memakai celana pendek di atas lutut. "Ini lutut lu kenapa? Lu jatuh di mana? Sudah diobatin? Sudah di bawah kerumah sakit?" tanyanya sedikit panik sambil memegang lutut Naya yang sudah di perban itu.


"Gak apa-apa, sudah sana pulang. Gua gak marah, kok," ucap Naya sambil tersenyum. Pm hanya terdiam lalu dia menggendong Naya untuk masuk ke dalam mobilnya. Naya sedikit memberontak karena tidak biasanya Pm seperti ini.


Pm menjalankan mesin mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Naya masih bingung dengan perilaku sahabatnya ini. Pm terus melajukan mobilnya tanpa melirik Naya sedikitpun. Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah mereka di pantai yang sudah dua kali mereka datangi. Ketika sampai di pantai Naya baru mengerti bahwa sahabatnya ini sedang tidak baik-baik saja. Pm menggendong Naya kembali dan mereka duduk di pinggir pantai.


"Lu kenapa?" Naya mulai membuka suara.


"Gua gak apa-apa, selama lu masih bisa bernapas," ucapnya sambil tersenyum. "Gimana, lu jadi dipecat?" sambungnya mengalihkan pembicaraan.


"Gua gak jadi dipecat," ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Yah, gagal dong lu jadi bini gua," Pm pura-pura memasang wajah kecewa. Dan akhirnya mendapat cubitan pinggang dari Naya. Suasana pun menjadi hening kembali. Pm menatap lekat Naya dan tiba-tiba dia menundukkan kepalanya ke pundak Naya. Naya terkejut lalu dia mengelus-elus kepala Pm dengan lembut.


"Nay, lu jangan pernah hilang ya dari hidup gua," ucapnya lirih yang masih menunduk di pundak Naya.


"Gua gak akan pernah hilang, kok," jawabnya.


"Tapi, gua takut kalau gua yang hilang dari hidup lu," Pm kini mulai meneteskan air mata.


"Emangnya lu berani hilang dari hidup gua?" Pm tidak menjawab dia menangis tanpa suara di pundak Naya. Naya masih menunggu jawaban dari Pm dan masih setia mengelus lembut kepala Pm. Beberapa menit kemudian Pm memeluk Naya seerat-eratnya.


Selama setengah jam lebih Pm masih setia memeluknya. Naya mencoba melepaskan pelukan dari Pm karena sudah merasa sesak di dadanya. Namun, Pm tetap memeluknya dan menangis dalam diam di pelukkan Naya. Mau tak mau Naya pasrah, mungkin dengan cara ini Pm akan merasa lebih baik.


Flashback on


"Pm! Mau tidak mau bulan depan kamu harus bertunangan!" teriak lelaki paruh baya yang ternyata Ayah Pm.


"Ayah!!! Aku tidak mau dijodohkan! Jadi jangan mencampuri hidupku lagi!!!"


"Walaupun kau menentang, Ayah akan tetap menjodohkanmu dengannya!!


"Ayah!!! Aku sudah mempunyai orang yang sangat aku cintai dan orang itu bukan Sisil! Sampai kapanpun aku tidak ingin menikahi Sisi! Dan Sisil sudah aku anggap sebagai adik, Yah!!!" teriaknya pergi meninggalkan Ayahnya.


Brakkk


Pm merasa sangat marah pada Ayahnya yang selalu mengatur hidupnya sejak ibunya meninggal. Pm rasanya ingin sekali mencoret namanya dari kartu keluarga tetapi, dia teringat akan pesan ibunya sebelum meninggal 8 tahun lalu yang memintanya untuk menjaga ayahnya. Karena Ayahnya lah satu-satunya keluarga yang ia punya. Dan semenjak mengenal Naya di awal semester kuliah 4 tahun lalu, dia merasakan dunianya kembali hadir. Banyak sekali kemiripan Naya dengan mendiang ibunya. Sejak saat itulah Pm jatuh cinta pada Naya dan selalu menjadikan Naya sebagai prioritas utamanya.


Karena pertengkaran dia dan ayahnya, Pm pun tidak bisa menjemput Naya di tempat kerjanya. Dan handphone dia memang sengaja dia matikan karena tak ingin ayahnya menghubungi dia dulu untuk sementara waktu. Sehabis pertengkaran Pm pergi ke apartemennya dan mengacak-acak seluruh isi kamarnya bahkan membanting semua benda yang ada di sana. Dia begitu frustasi karena harus mengikuti semua kemauan ayahnya.


Flashback off


"Pm, sampai kapan lu mau meluk gua?" ucapnya. "Lutut gua udah perih nih, dari tadi kena guyuran ombak," sambungnya.


Pm dengan cepat menghapus air matanya. "Yah, sorry, sorry, coba gua lihat lutut lu," ucapannya sedikit panik, lalu melihat perban di lutut Naya yang sudah basah. Pm langsung membawa Naya ke dalam mobil untuk mengobati luka Naya. Ketika Pm sedang mengobati luka Naya, seketika Naya teringat Fares ketika mengobati lukanya tadi sore.


Aduh, gua mikirin apaan, sih. Sadar Nay, sadar. Batiinya.


"Maafin Pm ya, lutut," katanya yang sudah selesai mengobati luka Naya.


"Sejak kapan coba lu mulai lebay, geli gua dengernya juga," ucap Naya menggelidik.


Pm hanya mengacak-acak rambut Naya, lalu dia menjalankan mobilnya untuk mencari restoran seafood karena perutnya sudah terasa lapar. Mau tak mau Naya yang sudah mengantuk harus menuruti kemauan sahabatnya itu.