
Suara alarm hp berbunyi. "Mmm, masih ngantuk," ucap Naya. "Ini badan lebih pegel nemenin Misil belanja dari pada kerja." Naya meregangkan seluruh otot tubuhnya.
***
Itukan mobil Pm. Batinnya. "Ah, mana mungkin dia kan selalu sibuk tiap pagi," gumamnya sambil menunggu bus kopaja di depan halte.
Tin
Tin
Tin
Pm mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil. "Ngapain bengong? Ayo, naik! Nanti keburu telat," ajak Pm.
"Tumben lu jemput gua pagi-pagi," ucap Naya sambil memasang sabuk pengaman.
"Ya, karena nanti sore gua gak bisa nganter lu pulang. Soalnya gua ada urusan sama temen gua," kata Pm sambil menyetir mobil sportnya. Naya pun hanya mengangguk-angguk.
Karena masih merasa ngantuk dan tubuhnya masih terasa pegal, Naya pun tertidur kepalanya ia senderkan ke jendela kaca mobil selama perjalanan ke arah cafenya. Sesekali Pm meliriknya dan mengelus pipi mulusnya itu.
Mobil sport kuning itu pun sudah berada di depan cafe young, setelah 20 menit perjalanan akibat jalan raya yang sedikit macet. Rasanya Pm tak ingin membangunkan gadis yang tertidur pulas di sampingnya itu. Pm menatap lekat wajah manisnya Naya. Beberapa menit berlalu, Naya pun terbangun dari tidur lelapnya.
Naya meregangkan otot tubuhnya. "Ya salam, lu ngapain ngagetin gua," ucap Naya terkejut. Pm hanya tersenyum gemas melihat gadis di hadapannya itu yang baru bangun tidur. Naya lalu melihat jam tangannya yang ternyata masih jam setengah 9.
"Lu kenapa gak bangunin, sih." Naya merapikan rambutnya.
"Ga tega kalau dibangunin, soal tidurnya mirip kebo, kan," ledek Pm yang mendapatkan cubitan kecil dari Naya. Pm pun mencubit balik pipi Naya yang sedikit cabi itu. Naya mencubit balik pipi Pm.
"Gak, mau lagi gua diantar pagi-pagi sama lu!" omel Naya yang rambutnya kembali berantakan karena Pm. Pm pun hanya tertawa dan merapikan rambut Naya.
"Thanks untuk pagi ini. Berkat lu, hari ini gua gak akan kena omelan Pak Andre lagi," ucap Naya yang keluar dari mobil Pm. Pm hanya mengangguk lalu melambaikan tangan.
Naya berjalan ke arah cafe young sambil menyanyikan lagu favoritnya, karena hari ini dia tidak telat seperti hari-hari biasanya. Selama bekerja, Naya terus menyanyi di dapur cafe young yang membuat seluruh karyawan cafe menikmati suaranya yang lembut itu, dan ada pula yang ikutan bernyanyi dengannya. Suasana di dapur cafe pun cukup berisik.
"Naya!!!" teriak sang Manager di depan pintu dapur cafe.
Naya tersentak dan menghentikan nyanyiannya. "Iya, siap Pak!" sahut Naya menghampiri Pak Andre.
"Cepat ikut keruangan saya!" perintah Pak Andre. Naya mengekori managernya dari belakang.
Hening
Hening
Hening
Apa karena gua nyanyi di dapur dan bikin suasana jadi berisik? Batinnya. Lalu Naya membuka suara, "Pak, ada apa, ya?"
"Naya, tolong ambilkan uban yang ada di kepala saya," pinta Pak Andre menunjukan uban yang cukup panjang di atas kepalanya.
"Hah?" Naya melongo mendengar ucapan dari Managernya itu.
"Cepetan ambil! Saya mau kencan buta," ucap Pak Andre yang tidak suka dengan ubannya itu. Naya langsung menghampiri dan mengambil ubannya dengan perasaan yang masih tidak percaya akan sikap Managernya ini, yang sudah teriak-teriak seperti macan yang ingin memburu mangsanya, tau-taunya hanya meminta dirinya untuk mengambil satu uban saja. Dan lebih tidak percaya lagi, dia akan pergi kencan buta.
"Terimakasih, kamu boleh keluar," ucap Pak Andre merapikan rambutnya.
"Bwhahahahahahaha," tawa Naya yang sudah berada di depan pintu dapur cafe yang sedari tadi menahan ketawa. Mila yang melihatnya pun bingung akan sikap juniornya itu yang habis keluar dari ruangan Pak Manager bukannya suram malah tertawa.
"Nay?"
"Kamu kenapa? Kok, ketawa sampai nangis, gitu?" tanya Mila penasaran.
"Enggak apa-apa Kak, hanya lucu saja," Naya pergi meninggalkan Mila yang masih penasaran akan sikapnya itu.
***
"Misil!" teriak Naya dari depan pintu gerbang kos-kosan.
"Tumben balik sendiri?" Misil yang sehabis membuang sampah.
"Kan, raga gua cuman satu."
Misil memutar bola mata malas. "Pm, kang ojeg lu kemana?"
"Oh, dia lagi ada urusan. Jadi, gak bisa anterin gua balik," jawab Naya berjalan sejajar dengan Misil.
***
Suara alunan musik begitu keras di sebuah club milik sahabatnya Pm dan Fares. Club itu benar-benar selalu ramai pengunjung maupun pelanggan. Entah wanita ataupun lelaki berdatangan ke club itu hanya sekedar bersenang-senang maupun menghilangkan stres yang ada di kepala.
"Res?"
"Mmm," jawab malas Fares.
"Sampai kapan lu bakalan ngeberontak?" Fares tidak menjawab. "Lu gak kasian sama bokap lu?" lanjut Pm.
"Gua gak tertarik sama dunia bisnis," jawab Fares lalu meneguk satu gelas kecil alkohol.
"Mau sampai kapan? Inget Res, cuman lu satu-satunya penerus group Ex." Pm yang sudah tidak tahu harus dengan cara apa lagi dia membujuk sahabat kecilnya itu agar mau meneruskan perusahaan milik ayahnya.
"Kalau masih bahas ini, lebih baik lu balik!" bentaknya.
"Kalau gua balik, siapa yang mau nyeret lu balik kerumah sehabis mabuk?" ucap Pm yang mendapat senyuman kecut dari Fares.
Mereka berdua pun minum dengan beberapa botol, yang masih belum cukup untuk membuat mereka mabuk.
"Kak Pm!" teriak seorang gadis cantik.
"Dragon ball, ngapain nih anak di bawah umur ada di sini," gumamnya yang baru keluar dari toilet. "Lu ngapain di sini? Jangan bilang lu lagi minum?" tanyanya. Dan gadis itu hanya tertawa canggung.
"Gua telepon kaka lu! Biar lu diseret pulang sama dia!" ancamnya dengan nada sedikit tinggi.
"Oke ... sekarang Sisil pulang. Sisil juga belum minum kok, sumpah deh," ucapnya yang sedikit takut sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v lalu berlari pergi meninggalkan Pm. Pm memantaunya dari jauh dan benar saja gadis itu menarik temannya lalu pergi meninggalkan club.
***
Di kos-kosan putri yang sedang mengadakan acara liwetan bersama, karena anak ibu Astuti pemilik kos-kosan hari ini pulang dari luar negeri. Semua penghuni kos-kosan putri yang sekitar 30 orang wajib mengikuti acara makan bersama itu. Jika, tidak ingin mengikuti maka mereka tidak boleh ngekos di kos-kosan miliknya lagi.
"Sil?" tanya Naya.
"Eh, iya, Nay?"
"Lu kenapa? Gua perhatiin dari kemarin lu sering ngelamun? Kenapa? Lu punya masalah? Coba ceritain sama gua," kata Naya yang perkataanya cukup dewasa.
"Enggak apa-apa, gua cuman lagi pengen ngelamun aja," jawab Misil. "Cepetan habisin liwetannya, gua udah pengen banget rebahan," lanjutnya. Naya pun dengan cepat menghabiskan nasi liwet itu sampai tersedak.