
Jam 8 Naya baru bangun dari tidurnya. Entah alasan apa yang membuat dirinya selalu bangun siang yang membuat dirinya harus maraton setiap hari menuju tempat kerjanya. Dia berlari mengejar bus yang sudah meninggalkannya dengan sepatu kets yang dia pakai. Dia terus berlari sampai bus itu pun berhenti karena suara teriakkannya yang lantang itu. Dia memasuki bus yang sedikit longgar itu. Semua mata tertuju kepadanya, Naya merasa heran. Lalu Naya melihat kaca dan ternyata roll rambutnya masih menempel di atas kepalanya. Naya pun dengan cepat mengambil dan berpura-pura berbicara bahwa sangat bagus untuk menempelkan roll rambut terlalu lama agar mendapatkan hasil yang maksimal. Lalu di dalam hati ia mengutuk dirinya betapa bodohnya ia.
Setelah sampai cafe young seperti biasa dia berdandan rapi dan cantik. Karena jika berdandan atau bermake-up di kos-kosannya pasti akan berantakan lagi. Dia bekerja seperti biasa melayani banyak pelanggan maupun pengunjung dengan suara yang lembut, sikap sopan, dan senyum yang ceria itu. Terkadang banyak pelanggan yang meminta nomor handphone-nya tetapi tidak dia hiraukan, dia beralasan bahwa handphonenya rusak. Dia malas sekali berhubungan dengan laki-laki manapun yang ujung-ujungnya meminta dirinya untuk menjadi pacar bahkan menjadikan dirinya sebagai calon istri. Berbeda dengan Pm dia sudah menganggap lelaki itu sebagai sahabatnya bahkan sebagai kaka yang suka menasehati, menegur, dan menenangkannya ketika dirinya sedang salah, marah, ataupun merasa sedih. Menurutnya Pm benar-benar lelaki yang sangat baik, pengertian, bahkan terkadang dia melakukan hal yang romantis untuk membuatnya bahagia. Naya selalu berdoa semoga suatu saat nanti atau secepatnya Pm menemukan wanita yang benar-benar baik dan cocok untuk dijadikan istri Pm.
"Naya!!!" teriak Pak Andre di depan pintu dapur cafe.
"Siap Pak!" Naya berlari kecil menghampiri Pak Andre.
"Ikut ke ruangan saya sekarang juga!" perintahnya yang sudah berjalan dan Naya mengekorinya dari belakang.
Setelah berada di dalam ruangan, Pak Andre hanya terdiam dan memasang wajah yang begitu suram. Naya menatap wajah yang baru pertama ia lihat selama mengenal Pak Andre.
"Pak? Bapak, sehat?" Naya memulai pembicaraan.
"Naya, ternyata pasangan kencan buta saya kemarin adalah dia, dia adalah mantan pacar saya sewaktu SMK," ungkap Pak Andre masih dengan wajah suramnya.
"Bagus dong Pak. Ibarat kata mah cinta lama bersemi kembali, Pak. Dan mungkin dia memang jodoh, Bapak," ucap Naya sambil menaikan kedua alisnya.
Pak Andre bukannya membalas ucapan dari Naya, dia malah menangis. Naya pun dibuat bingung dengan sikap Managernya ini karena tidak ada angin tidak ada hujan, dia tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Naya mencoba menenangkan Pak Andre dengan berbagai cara tetapi bukannya berhenti, Pak Andre malah menangis semakin kencang. Naya mencari cara kembali dan akhirnya dia mencoba menutup mulut sang Manager dengan kedua tangannya. Bukannya berhenti Pak Andre malah menggigit telapak tangannya, ia merasa kesakitan dan langsung melepaskanya. Akhirnya, Naya pun menyerah dan melihat telapak tangannya yang kini memiliki bekas gigitan dari Pak Andre.
"Pak, sudah dong jangan nangis lagi. Nanti, kalau Bapak nangis terus air matanya habis loh," ucap Naya frustasi yang kupingnya mulai pengang akibat Pak Andre yang sudah menangis selama satu jam.
Pak Andre menatap Naya. "Kamu kira saya anak kecil yang lagi dibohongin sama ibunya."
"Saya harus kerja Pak, sudah satu jam Bapak menangis dan sebentar lagi juga waktunya saya istirahat," ucapnya sedikit lirih sambil memegang perutnya yang sudah lapar itu.
"Yasudah, kamu boleh pergi. Tetapi ...."
"Pak, please. Kasihan perut saya sudah demo," ucapnya memasang muka melas.
"Yasudah, sana pergi!"
"Oke, terimakasih," ucap Naya ,"tetapi Pak, jangan lupa itu ingusnya dilap dulu." Naya pun berlari sebelum mendapat teriakan dari Managernya.
Dugh
"Awww," rintih Naya sambil mengelus jidatnya.
"Lagi-lagi kamu," ucap seorang lelaki, "atau memang hobby menabrak lelaki tampan." Matanya menatap Naya.
"Maafkan saya Tuan, saya benar-benar tidak sengaja," ucapnya sambil menunduk, "tetapi, saya juga bukan wanita yang seperti Anda pikirkan! Dan juga, selain karyawan, bos, ataupun manager dilarang masuk ke ruangan ini!" Naya kini menatap lelaki tampan itu lalu mendorong lelaki itu keluar dari tempat khusus untuk karyawan. Lelaki itu hanya terdiam tidak merespon perkataan atau sikap Naya yang memaksanya untuk keluar.
Setelah mengusir lelaki itu Naya masuk ke dapur dan semua karyawan di sana menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Naya!" ucap Mila berjalan mendekatinya.
"Iya? Kenapa, Kak?"
Mila masih tidak percaya akan sikap Naya. "Gak tahu tadi siapa?" Naya menggelengkan kepalanya. "Pelanggan di sini, kan?" tanya dengan polosnya.
Mila menghela napas panjang. "Tadi itu bos kita. Dia pemilik cafe ini, Nay."
"Hah?! Serius? Mati!" Naya menepuk jidatnya. "Terus Naya harus gimana dong, Kak?" Mila hanya menggelengkan kepala. Naya menatap karwayan yang berada di dapur dan mereka pun memberikan jawaban yang sama dengan menggelengkan kepalanya.
Selama bekerja Naya tidak fokus dengan pekerjaanya, sampai harus menumpahkan kopi panas yang dia bawa dan untungnya tidak melukai pelanggan maupun dirinya. Dia sudah berpikir bahwa dirinya akan dipecat atau dimarahi habis-habisan oleh bosnya itu. Bagaimana jika dirinya dipecat dan harus mencari kerjaan lagi. Naya teringat dulu begitu sangat sulit untuk menjadi karyawan cafe young karena harus melakukan berbagai tes, salah satunya harus fasih berbicara bahasa Inggris. Wajar saja harus melakukan berbagai tes karena cafe young ini adalah cafe yang memberikan gaji cukup besar kepada karyawannya ketimbang cafe-cafe yang lainnya dan cafe yang sering dikunjungi oleh turis-turis mancanegara.
***
"Kak!" panggil Sisil masuk ke dalam ruangan kantor.
"Mmm," jawab singkat Misil.
"Kak Pm sudah punya pacar, ya?" tanyanya penasaran.
"Belum, kalau cuman mau nanya hal yang enggak penting sana keluar! Jangan gangguin Kakak lagi kerja!" ucap Misil sedikit kesal. Sisil pun keluar dari ruangan kerja Misil dengan wajah yang cemberut. Dia sangat penasaran sekali tentang kehidupan asmara sang pujaan hatinya itu. Karena selama ini Pm tidak pernah melirik dia sama sekali bahkan terkesan cuek pada dirinya. Dan ketika di club kemarin malam Sisil memang sengaja mengikutinya ke sana bersama temannya, karena dia ingin melihat apakah Pm membawa seorang wanita ke club atau hanya sekedar menggoda wanita-wanita sexy yang ada di club. Dan ternyata yang Sisil lihat Pm hanya minum berdua dengan seorang teman lelakinya yang memiliki wajah tampan.