
Pagi hari Naya terbangun, dia begitu malas untuk pergi bekerja karena dia tahu pasti dirinya akan dipecat hari ini atas tindakan bodohnya itu terhadap bosnya kemarin.
"Gua gak boleh jadi seorang pecundang. Semangat, Nay! Lu harus minta maaf dengan sopan sama si bos tampan itu walau nanti harus dipecat!" ucapnya menyemangati diri sendiri.
Sesampainya di cafe young, seperti biasa Naya menjadi orang yang ceria, bawel, dan humoris. Dan selama bekerja pun dia bekerja dengan baik, lembut dan sopan terhadap pengunjung maupun pelanggan cafe young. Dia tidak ingin terus kepikiran masalah kemarin yang membuat otaknya menjadi pusing tak karuan. Dan jika, memang dia harus dipecat dia bisa mencari pekerjaan lain. Dia percaya bahwa rezeki itu tidak akan tertukar.
Dugh
"Maafkan saya, Tuan," ucap Naya sambil menunduk.
"Kamu, ikut keruangan saya!" perintah seorang lelaki. Naya lalu melihat siapa yang ia tabrak dan ternyata adalah bosnya sendiri. "Game over," gumam Naya sambil menghela napas panjang dan mengekori bosnya itu.
Sesampai di dalam ruangan, bosnya menyuruhnya untuk duduk di sofa. Lalu dia pun memberikan cokelat panas untuk Naya. Naya dibuat bingung kenapa bosnya tidak memarahinya, malah bersikap lembut padanya.
"Apa ini cara dia bersikap lembut terlebih dahulu sebelum memecat karyawannya?" gumamnya.
"Di minum. Nanti keburu dingin. "Dengan cepat Naya meminumnya.
15 menit pun berlalu tanpa ada obrolan kembali membuat suasana hening dan canggung. Naya masih terduduk di sofa dan bosnya duduk di kursinya. Naya tidak tahu harus berbicara apa, dia sudah siap lahir dan batin untuk dipecat.
"Sudah habis cokelatnya?" Menatap Naya. Dan Naya pun mengangguk.
"Yasudah, silahkan pergi." Naya bengong mendengar ucapan dari bosnya itu.
"Maksud Bapak, pergi dari cafe young?" tanya Naya ragu-ragu.
"Pergi bekerja," jawab santainya.
"Terimakasih, Pak!" ucap Naya menunduk lalu keluar dari ruangan bosnya itu.
Betapa senangnya hati Naya bahwa dirinya tidak dipecat, bahkan bosnya bersikap baik padanya. Entah lah dia juga bingung dengan bosnya itu, yang terpenting dirinya tidak dipecat dan masih bisa bekerja di cafe young.
"Naya Naraya," gumam Fares sambil tersenyum lebar menatap pintu.
***
"Sudah dong de lu cengeng banget, sih. Lagian cowok bukan Pm doang!" Misil menenangkan Sisil yang menangis di kantornya.
"Kak Pm meluk cewek itu, Kak. Sakit hati Sisil," ungkap Sisil sambil menangis. Misil tidak tahu harus dengan cara apalagi menenangkan adiknya itu. Misil tahu bahwa cewek yang dipeluk oleh Pm itu adalah Naya, karena Pm sangat mencintai Naya. Tetapi Misil juga tidak bisa memaksa Pm untuk mencintai adiknya dan memaksanya untuk berhenti mencintai Naya. Dia tahu bahwa hati seseorang tidak bisa dipaksakan begitu saja, terlebih lagi dia sangat menyayangi kedua wanita itu dan Pm sahabatnya sejak kecil.
"Kalau kamu nangis terus, Kakak gak bisa ngerjain semua pekerjaan, Sil!" Dan Sisil pun semakin menangis yang kini sudah memeluk kakak tersayangnya itu.
***
"Nay, pulang bareng, yuk!" ajak Rey teman karyawannya atau seniornya di cafe young.
"Dia itu cowok lu ya, Nay ?" Naya menggelengkan kepalanya. "Tunangan?"
Naya menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang dia suami, lu?"
Naya mencubit lengan Rey. "Apaan sih, Kak. Lagian kepo banget, deh. Dia itu sahabat gua dan satu lagi gua tuh masih jomblo, Kak," jelasnya. "Berarti ada kesempatan dong buat Kak Rey dapatin hati lu." Bukannya menjawab, Naya malah menginjak kaki Rey yang membuat si empu kesakitan dan Naya pun pergi meninggalkan Rey.
Sudah 30 menit berlalu Naya mondar-mandir di depan cafe young menunggu Pm dan yang ditunggu tak kunjung datang. Dia mencoba menelepon Pm tetapi hpnya tidak aktif. Tidak biasanya Pm seperti ini. Dia pasti selalu tepat waktu menjemput Naya. Akhirnya Naya memutuskan untuk pergi ke halte menunggu bus yang datang jam 6 sore. Tetapi bus yang ia tunggu juga tidak kunjung datang, ia merasa sangat kesal. Dia pun mencoba menelepon Pm kembali tetapi hpnya masih tidak aktif. Lalu Naya mencoba menelepon Misil tetapi, Misil tidak menjawab teleponnya. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kaki.
Tin
Tin
Tin
Naya menoleh dan dia terus berjalan karena mobil itu bukan mobil Pm. Naya berjalan cepat karena mobil itu terus mengikutinya. Dan tiba-tiba Naya pun terjatuh.
"Awww," rintih Naya memegang lututnya yang berdarah itu.
"Kamu gak apa-apa?" ucap seorang lelaki menghampirinya.
"Iya, tidak apa-ap ...." Naya terkejut melihat bos nya yang ada di depan matanya. Dan yang sedari tadi mobil yang mengikutinya adalah bosnya sendiri. Fares melihat lutut Naya yang berdarah, dengan cepat dia menggendong Naya ke dalam mobilnya. Naya tidak bisa memberontak karena benar- benar sakit. Di dalam mobil Fares mengobati luka Naya dengan begitu lembut dan Naya masih tetap diam karena tidak percaya bos nya itu begitu baik padanya, padahal Naya pernah mengusirnya secara paksa dari cafenya sendiri.
Suasana menjadi hening setelah Fares mengobati luka Naya. Naya benar-benar sangat canggung harus berbicara apa.
Oh, iya gua harus meminta maaf. Batinnya. "Pak, terimakasih sudah menolong saya," ucapnya. "Dan saya juga minta maaf atas kejadian tempo hari, Pak. Saya benar-benar minta maaf, karena saya benar-benar tidak tahu wajah bos saya sendiri," jelas Naya panjang lebar. Fares hanya tersenyum melihat gadis di sampingnya ini benar-benar begitu lucu.
"Iya, saya sudah memaafkan kamu. Andre juga sudah menjelaskannya. Dan perkenalkan nama saya Fares jadi, kalau di luar cafe jangan panggil saya bos, tetapi panggil saya Fares saja," kata Fares sambil tersenyum.
"Tetapi, itu tidak sopan, Pak."
"Kita seusia kok, jadi jangan panggil saya bos saya merasa kurang nyaman."
"Eh? Mm ... iya ... bos eh Fares," ucapnya ragu-ragu. Fares hanya tersenyum tipis.
"Di mana alamat rumahmu?" tanya Fares yang baru menyalakan mesin mobil.
"Eh? Tidak usah Pak, saya bisa pulang sendiri Fares," ucap Naya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Kamu karyawan saya, jadi wajar saja jika saya harus mengantarmu pulang, dan kamu lihat luka dilututmu itu. Apa kau ingin berjalan kaki dengan luka seperti itu?" tanyanya dengan lembut. Dan Naya juga hanya bisa pasrah karena lukanya benar-benar sakit untuk berjalan.
Sesampainya di depan gerbang kos-kosan, Naya turun dari mobil dibantu oleh Fares dan bertemu dengan Misil yang baru pulang dari kerjannya. Misil memapah Naya karena cowok memang tidak boleh masuk ke kos-kosan mereka.
"Terimakasih, Fares. Hati-hati di jalan," ucap Naya dan Fares hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.