GIVE ME LOVE

GIVE ME LOVE
Menangis



Jam 5 Naya di jemput oleh Pm. Pm merasa bingung dengan gadis di sampingnya ini yang sedari tadi keluar dari cafe memasang wajah cemberut dan seperti menahan air mata. Pm terus melajukan mobil sportnya tanpa bersuara. Dia sesekali melirik Naya yang masih terdiam itu. Selama di perjalanan Naya tiba-tiba menangis cukup kencang. Pm pun langsung membelokkan setir mobilnya menuju suatu tempat agar Naya tidak menangis lagi.


Sebelum sampai tempat tujuan, Naya masih terus menangis dan tangisannya semakin kencang. Pm pun mencoba menenangkan Naya dengan mengelus-ngelus lembut rambut hitamnya yang panjang itu. Dan dia pun menyetir hanya dengan satu tangan. Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sampai di suatu tempat yang tidak lain adalah pantai di mana dulu Pm pernah membawanya ke sini. Pm menggandeng lengan Naya yang masih menangis itu. Rasanya Pm ingin sekali berkata kasar pada gadis yang ia gandeng itu, karena dari tadi dia tidak berhenti menangis dan membuat matanya yang agak sipit itu sudah terlihat bengkak.


"Sudah dong nangisnya, nanti air matanya habis loh," ucap Pm menatap gadis di sampingnya itu.


"Kalau ... gua ... dipecat gimana?" kata Naya sambil terisak-isak.


"Dipecat? Kok, bisa? Lu ngelakuin kesalahan apa?" tanya Pm sedikit penasaran dan merubah posisi duduknya yang kini menghadap ke arah Naya, yang membuat mereka duduk saling berhadapan.


Naya menatap wajah Pm yang memintanya untuk menceritakan apa yang terjadi sampai dirinya menangis seperti ini. Masih dengan menangis lalu Naya menceritakan kejadian dirinya ketika waktu siang tadi mengusir bosnya secara paksa di tempat khusus karyawan cafe young. Dia juga bercerita bahwa dia benar-benar belum mengetahui bentuk rupa wajah dari bosnya itu yang ternyata memiliki wajah tampan mirip idol-idol yang biasa dia lihat di sosmed.


"Bwhahahahahahaha," gelak tawa ke luar dari mulut Pm sambil memegang perutnya.


Naya terkejut tiba-tiba Pm mengeluarkan tawanya yang cukup keras. "Kenapa ketawa? Temen lagi menderita juga. Dasar jahat!" ucap Naya mencubit pinggang Pm.


"Aw, sakit! Ampun, ampun, ampun, Nay." Naya terus mencubit pinggang Pm sampai dia merasa puas mencubit lelaki yang menertawakan dirinya itu.


"Habisnya lu lucu banget, sih. Masa selama 3 bulan kerja belum tahu wajah bos lu sendiri." Pm mengentikan tangan Naya.


"Lagian gak ada yang ngasih tau dan itu juga pertama kali gua lihat ada orang asing yang masuk ke ruangan khusus karyawan," jawabnya panjang lebar dengan sedikit frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.


Pm hanya tertawa melihat ke bodohan gadis di sampingnya itu. "Terus gua harus gimana? Gua gak mau dipecat," ucap Naya menangis kembali.


Pm mengelus lembut rambut Naya. "Kalau lu dipecat, lu tinggal jadi istri gua aja, kan gampang." Naya semakin menangis dan Pm pun memeluknya. "Jangan nangis lagi gadis bodoh. Tenang lu gak akan dipecat, kok," sambungnya.


Tak terasa satu jam lebih mereka duduk di pinggir pantai ditemani oleh angin yang sepoi-sepoi dan suara ombak pantai. Pm masih setia memeluk Naya sambil mengelus-elus rambut panjangnya dan merelakan kaos polos berwarna army yang baru tadi siang dia beli dengan harga yang cukup mahal itu menjadi tempat pembuangan ingus Naya. Tangisan Naya pun berhenti setelah Pm menggelitiki pinggangnya. Setelah berhenti menangis, Naya merasa perutnya lapar lalu dia mengajak Pm untuk pergi ke rumah makan seafood dan meminta Pm untuk membayarnya. Dengan senang hati Pm menuruti gadis yang disebut bodoh olehnya. Dia mau melakukan apa pun agar gadis di sampingnya itu selalu merasa bahagia ketika sedang bersamanya.


***


Di parkiran mall xxx, Misil yang sehabis ke salon sedang berjalan menuju mobilnya.


"Misil!" panggil seorang lelaki dari arah belakang.


Misil menengok. "Kak Qiu?" ucapnya terkejut dan membulatkan kedua bola matanya, lalu dia berlari cepat ke arah mobilnya yang sudah dekat.


"Kenapa harus bertemu lagi, sih," gumam Misil yang sudah keluar dari pintu parkiran mall.


"Kita harus meluruskan semuanya, Sil," gumam frustasi Qiu yang tidak bisa mengejar mobil Misil.


Misil melaju kan kencang mobil sportnya yang berwarna merah itu. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipi mulusnya itu, lalu dia pun menangis tersedu-sedu. Begitu sakit perasaan yang ia rasakan ketika dia mengingat masa lalunya dulu dengan Qiu sewaktu masih sekolah.


***


Di sebuah rumah yang cukup megah dan mewah, Sisil menangis di dalam kamarnya setelah mendapatkan chat masuk dari teman dekatnya yang berada di pantai mengirimkan satu buah foto yang memperlihatkan Pm atau pujaan hatinya sedang memeluk erat seorang wanita berambut panjang. Begitu sakit hatinya seperti ditusuk-tusuk seribu pedang. Lelaki yang selama ini ia idamkan, ia impikan, dan terkadang ia banggakan di depan teman-teman satu kelasnya, kini lelaki itu sudah bersama dengan wanita lain yang tidak terlihat wajahnya.


"Kak, aku harap ini adalah sebuah mimpi,' lirih Sisil memeluk erat boneka panda kesayangannya yang sudah basah akibat air matanya yang hampir satu jam menangis.


***


Jam 9 malam pun Naya sampai di kos-kosannya dengan mata yang sudah bengkak, tetapi ia tutupi dengan masker yang ia beli di supermarket agar Misil tidak melihatnya bahwa dirinya habis menangis karena kebodohan yang ia buat.


"Dorrrrr," Naya mengagetkan Misil.


"Dragon ball. Naya!!! Lu ngapain sih, pake acara ngagetin segala?!" bentak Misil yang menutupi wajahnya dengan menggunakan bantal karena ia tidak ingin Naya melihat bahwa dirinya habis menangis.


"Hehe, maaf, maaf, habisnya dari tadi gua panggil gak nengok-nengok," jawabnya duduk di kasur Misil. "Lu kenapa, sih? Ayolah cerita! Jangan ngelamun terus. Apa gunanya ada sahabat kalau lu sendiri gak mau cerita," rengek Naya sambil menarik bantal yang menutupi wajah Misil, tetapi Misil menahan tarikkanya.


"Enggak apa-apa. Udah sana mandi! Bau asem, nih," ledek Misil yang mendapat cubitan pinggang dari Naya.


Tring


Naya langsung membuka chat yang baru masuk di hpnya. "Hah, kayaknya gua harus ganti kartu lagi," gumamnya berjalan ke kamar mandi.


Naya merebahkan dirinya di atas kasur empuknya karena matanya sudah sangat mengantuk dan lelah akibat menangis terlalu lama. Ketika dia ingin menutup matanya dia teringat kembali kejadian tadi siang dengan bosnya. Dia memikirkan bagaimana jika besok bosnya langsung memecatnya sambil mengusir dirinya seperti yang dia lakukan pada bosnya yang dia usir secara paksa.


"Ahh, gimana ini," gumamnya, "tetapi, salah dia sendiri kenapa bikin gua emosi dengan ucapannya yang menganggap kalau gua ini cewek yang suka godain laki-laki. Ah, terima ajalah nasib besok." Naya mengacak-acak rambutnya dan memaksa matanya untuk tidur.


Berbeda dengan Misil yang tidak bisa tidur karena terus memikirkan Qiu, di dalam pikirannya hanya ada Qiu, Qiu, dan Qiu. Dia pun menangis kembali di dalam selimutnya dan berharap tidak akan bertemu dengan Qiu kembali.