
Misil terbangun dan tersadar bahwa dirinya berada di kasur Naya. Dia pun menyadari tentang kejadian kemarin yang menangis di pelukan Naya sampai akhirnya dia tertidur. "Aduh, bodoh banget sih. Kenapa pake acara segala nangis di depan Naya," gerutunya sambil menepuk jidatnya. Dia menoleh ke arah jam dinding. "What jam 8??? Naya bangun!!!" teriak Misil menghampiri Naya yang masih tertidur pulas sambil memeluk bantal guling.
"Apaan sih, Sil? Gua masih ngantuk banget. Mending lu tidur lagi aja deh," ucap Naya yang masih setengah tidur.
"Bangun, Nay. Ini udah jam 8 pagi," ucap Misil sambil mendorong-dorong badan temannya itu.
"Bentar, tadi lu bilang jam 8?" Misil pun mengangguk. Naya langsung membuka matanya dan berlari ke kamar mandi, yang membuat Misil terdorong lalu jatuh ke lantai. "Awww," rintih Misil.
"Sil, gua berangkat!" seru Naya yang berlari ke arah halte. Untungnya hari ini ia tidak tertinggal bus dan jalan raya pun ramai lancar. Tetapi bus yang biasa ia tumpangi begitu padat, tidak longgar seperti hari biasanya. Mau tak mau Naya berdiri di depan pintu bus, karena ini hanya satu-satunya bus setiap pagi yang menuju ke arah cafenya.
Naya terus berlari dari tempat pemberhentian bus sampai cafenya tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Dugh
Lagi-lagi nabrak orang. Batinnya.
"Maaf, maaf, maaf, saya tidak sengaja," ucap Naya mendongakkan kepalanya.
Pria yang di tabrak pun menatap dingin sambil merapikan jasnya yang sedikit berantakan karena ditabrak Naya.
Ini kan si ganteng yang kemarin gua tabrak. Batinnya. "Minggir, kamu menghalangi jalan saya!" seru lelaki itu pergi meninggalkan Naya yang untuk kedua kalinya menganga melihat ketampanan pria itu. Beberapa detik ia melamun sambil memandangi punggung pria itu, ia pun tersadar akan suara teriakan Mila salah satu teman karyawannya di cafe young. Naya pun langsung berlari ke arah cafe yang jaraknya sudah dekat.
Seperti biasa, suasana cafe yang begitu ramai pengunjung maupun pelanggan tetap di cafe young. Naya yang masih di bilang junior harus kerja keras untuk melayani mereka. Karena pelanggan setia mereka ingin di layani oleh Naya yang terbilang paling muda di antara karyawan cafe young. Tidak luput juga pelanggan setia cafe young pun sering menggoda Naya dengan gombalan-gombalan receh mereka, yang membuat Naya menggombal balik dengan jurus gombalnya yang dia dengar dari karyawan lelaki yang sering menggodanya ketika jam kerja maupun jam istirahat.
"Nayaaaaa!!!" panggil Pak Andre dengan suara lantang.
"Siap Pak, saya di sini," ujar Naya yang tidak kalah lantangnya.
"Dragon ball, kamu ngapain di sini?" terkejut pak Andre.
"Si Bapak, tadi kan Bapak manggil saya."
"Maksud saya, kamu ngapain di belakang saya?"
"Saya dari tadi memang sudah ada di sini Pak. Bapak aja yang tidak lihat saya." Naya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
Andre alias managernya pun menyuruh Naya untuk melayani salah satu pelanggan penting di cafe young dan tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Setelah dengan ramah, lembut Naya melayani pelanggan penting itu, tiba-tiba ada suara keributan yang tidak jauh dari meja Naya berdiri.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja," ucap Nara salah satu karyawan cafe young sambil megambil tisu di atas meja cafe.
"Permisi Tuan," Naya menghampiri. "Di sini ada cctv, silahkan boleh di cek," ucap Naya dengan sopan.
"Kamu! Untuk kali ini saya maafkan, dan untuk kamu! saya tidak akan lupa dengan wajahmu!" kata pria itu menunjuk Naya dengan jari telunjuknya, lalu meninggalkan cafe young dengan muka kesal.
"Dasar gila!" gumam Naya. Semua mata yang berada di cafe young tertuju oleh mereka, termasuk tamu penting itu melihat ke arah mereka. Pak Andre yang telat melihat kejadian itu, langsung datang untuk meminta maaf agar tidak ada lagi keributan seperti ini kepada pengunjung atau pelanggan di cafe young.
Pak Andre meminta Naya untuk masuk ke ruangannya. Dengan santainya Naya menceritakan kejadian itu dan meminta Pak Andre untuk melihat cctv agar apa yang ia katakan adalah benar.
"Naya!" panggil Nara yang sedang istirahat di dapur cafe.
"Iya apa, Ra?"
"Gua masih bingung aja sama kejadian tadi. Kenapa lu bisa tau kalau orang itu yang nabrak gua duluan?" tanya Nara.
"Gua tau pas tadi dia bilang bahwa jasnya sangat mahal," ucap Naya menyeduh mie, "padahal jas yang dia pake itu, jas murahan yang ada di pasar loak. Ngerti kan maksud gua?" Nara hanya mengangguk-ngangguk mendengar jawaban dari Naya yang baginya cukup pintar bisa melihat kebenaran hanya dari jas loakan. Berkat Naya dia tidak diomelin oleh managernya.
Setelah selesai bekerja, seperti biasa Naya dijemput oleh Pm dengan mobil sport warna kuningnya. Pm membuka kan pintu mobil lalu Naya masuk mobil sambil menghela napas panjang.
"Lu gak apa-apa?" tanya Pm yang baru masuk mobil.
Naya menatap Pm. "Lu gak bosan tiap hari jemput gua mulu?" ucap Naya to the point. Pm hanya menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Naya kembali.
Pm menatap Naya balik. "Denger ya, Nay. Gua gak bosan dan gak akan pernah bosan, selama gua masih bisa bernafas," jawabnya dengan tatapan yang serius.
"Gembel aja terus," ledek Naya.
"Gombal Mbaknya, bukan gembel."
Pm pun menyalakan mesin mobilnya dan menuju kos-kosan Naya. Tetapi sebelum pulang, di tengah perjalanan Pm memutar arah mobilnya dan meminta Naya untuk menemaninya terlebih dahulu ke sebuah tempat yang baginya sangat indah. Tempat itu sebuah pantai yang sangat indah dengan aing yang sepoi-sepoi dan hanya beberapa orang yang berada di sana. Naya pun merasa bahagia karena Pm membawanya ke pantai indah ini. Sesekali Naya bermain air pantai dan Pm hanya mengikutinya sambil tersenyum.
"Gua kan yang minta buat nemenin lu kesini, tapi kenapa lu yang jadi excited banget," kata Pm yang sudah duduk di pinggir pantai.
"Hehehe, abisnya udah lama banget gua gak ke pantai. Jadi, lu maklumin aja kalau gua semangat ngeliat air dan ke indahan pantai ini," jawab Naya yang duduk di sebelah Pm.
"Syukurlah, lu bahagia gua juga ikutan bahagia," gumam Pm sambil tersenyum.
"Apa barusan lu bilang?" tanya Naya yang samar-samar mendengar Pm bergumam. Pm bukannya menjawab malah mengacak-acak rambut Naya. Naya pun mengacak-acak balik rambut pm. Tak terasa jam pun menunjukkan jam 10 malam. Dan akhirnya mereka pulang, sebelum pulang Pm mengajak Naya makan terlebih dahulu ke salah satu rumah makan seafood.