GIVE ME LOVE

GIVE ME LOVE
Pecah



Di Ibu Kota yang begitu keras dan kejam akan kehidupan, tinggallah dua orang gadis yang baru menginjak usia 22 tahun yang bernama Naya dan Misil. Mereka tinggal disebuah kos-kosan putri yang cukup luas milik Ibu Astuti di lantai dua.


"Nayaaaaa!!!" teriak Misil yang melihat gelas kesayangannya pecah menjadi beberapa bagian.


"Sorry, gua gak sengaja! Nanti gua ganti!" Naya yang sudah menghilang dari balik pintu.


"Gelas limited edition gua." Misil yang membersihkan serpihan gelas dengan menahan air mata.


Naya terus berlari untuk mengejar bus kopaja. "Aduh, kenapa Misil gak bangunan gua, sih?" gerutunya yang sudah hampir dekat dengan bus yang ia kejar. "Pak supir, tolong berhenti! Saya sudah lelah mengejarmu!!!" panggil Naya dengan suara lantang. Dan akhirnya bus kopaja pun berhenti.


Perjalanan dengan naik bus dari kos-kosan ke tempat kerjanya hanya memerlukan waktu 15 menit jika jalan rayanya lancar dan tidak macet, tetapi jika macet bisa sampai 30 atau bahkan bisa sampai satu jam sampai tempat kerjanya. Naya terus berlari dari tempat pemberhentian bus sampai cafenya. Sesekali ia merapikan rambutnya yang mulai berantakan itu akibat berlari.


Dugh


"Aduh, kepala satu-satunya," rintih Naya mengelus keningnya. "Maaf, maaf, maaf, saya tidak sengaja," sambungnya. Lalu ia mendongakkan kepalanya melihat siapa yang ia tabrak.


Seseorang yang ia tabrak pun menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Sudah puas menatapnya?" ucapnya melangkah mundur, lalu pergi meninggalkan Naya yang masih bengong menatapnya dengan mulut yang sedikit menganga.


Gila, ganteng banget itu orang mirip Sasuke di flm kesayangan. Gua yakin, Tuhan pasti lagi sedang bahagia waktu nyiptain dia. Batinnya. "Ya ampun, gua udah hampir telat satu menit lagi," ucap Naya menepuk jidatnya.


Naya lalu berlari kembali menuju cafe dan dia pergi keruangan karyawan. Dia mengganti pakaian cafe yang berwarna hitam dengan rok di atas lutut, dia juga tidak lupa untuk berdandan dan merapikan rambutnya kembali yang tadi sempat berantakan akibat mengejar bus kopaja. Naya baru tiga bulan bekerja sebagai pelayan di cafe young. Walaupun masih terbilang anak baru, Naya sudah mengenal akrab semua karyawan cafe, baik karyawan wanita maupun karyawan lelaki yang memang semua karyawannya terkenal memiliki paras yang cantik dan tampan. Sifat dan sikap Naya yang bawel, aktif, lucu, dan terkadang ceroboh membuat semua karyawan di cafe young menyukainya dan sesekali mereka menggodanya dengan kata-kata gombal ala Duwilan 1995.


"Nayaaaaa!!!" teriak seorang lelaki di depan pintu dapur cafe.


Naya pun langsung berlari kecil menghampirinya. "Tuh, pasti kena semprot lagi karena tadi telat lima detik," gumamnya. "Siap, 85 Pak Andre." Tersenyum memperlihatkan gigi putihnya tanpa dosa.


"Buatkan saya kopi susu dua gelas!" perintah Managernya.


"Untuk siapa, Pak?" tanya Naya.


"Untuk saya. Memangnya untuk siapa lagi?"


"Maksud saya, yang satu gelas kopi susunya untuk siapa? Bapak Andre yang paling tampan melebihi dunia komik," ucap Naya, "karena biasanya Pak Andre hanya meminta satu gelas kopi."


"Aja pake banget deh, Pak," jawabnya yang memang sedikit kepo.


"Untuk nenek saya yang sudah ada di alam sana," jawab Pak Andre yang mengubah mimik wajahnya menjadi datar.


"Hah?" Naya menganga.


Andre menarik napas panjang. "Mau gajimu saya potong hari ini juga?! Cepat buatkan saya kopi! Saya tunggu 10 menit dan biarkan Mila yang mengantarkanya keruangan saya!" perintah Andre. Naya yang mendengar gajinya akan dipotong pun langsung berlari secepat kilat.


Setelah bekerja selama 8 jam yang cukup melelahkan, karena memang setiap hari cafe young selalu ramai pelanggan. Bukan hanya paras pelayannya yang cantik dan tampan, tetapi kopi yang mereka buat memang benar-benar nikmat dengan aroma kopi yang memiliki banyak rasa. Naya pun dijemput oleh teman lelakinya yang bernama Pm. Pm yang setiap hari selalu setia mengantarkan Naya pulang ke kos-kosannya dengan mobil sport yang berwarna kuning. Di dalam mobil Naya memasang muka kesal, cape, dan lelah.


Naya menarik napas panjang. "Hah," ucapnya menyenderkan kepalanya ke kaca jendela mobil.


Pm melirik Naya lalu mengarahkan pandangannya kembali lurus ke jalan raya. "Kenapa? Ada masalah lagi?"


"Punya manager kenapa galak banget, sih. Udah gitu tiap hari hobbynya selalu berkicau kaya burung Pipit. Lama-lama bisa pecah nih gendang telinga," kata Naya panjang lebar sambil memijit pangkal hidungnya yang mancung itu.


Pm pun tertawa dan melirik Naya. "Kalau dia burung pipit, terus lu burung beonya," ledek Pm yang mendapat pukulan lengan dari Naya.


Sesampai di depan gerbang kos-kosan, Pm langsung pamit pulang. Karena memang tidak boleh lelaki masuk ke kamar kos-kosan, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Naya merebahkan tubuhnya di atas kasur sesekali ia menguap.


"Naya!!!" panggil Misil yang baru keluar dari kamar mandi.


"Eh, Misil. Nanti gua ganti kalau gua udah gajian. Janji." jawabnya tersenyum dan memang merasa bersalah karena sudah memecahkan gelas temannya itu waktu tadi pagi. Misil bukannya marah dia mengampiri Nanya lalu memeluknya dan menangis. Walaupun Naya ingin menggantikan gelas itu, tetap saja gelas itu tidak akan dijual di toko manapun dan di negara manapun. Karena gelas itu adalah gelas satu-satunya di dunia pemberian dari Neneknya yang sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Neneknya sendiri yang khusus membuat gelas itu untuk cucu tersayangnya sebelum menghembuskan napas terakhirnya di kota Bandung.


Naya yang masih tidak mengerti kenapa temannya itu tidak marah, malah menangis dipelukannya. Naya menepuk-nepuk lembut pundak gadis berambut pirang itu, dan sesekali Naya mengusap rambutnya. Karena setelah wisuda 3 bulan yang lalu, Misil mewarnai rambut panjangnya yang lurus itu menjadi warna pirang dan itu cocok dengan mukanya yang memang mempunyai darah blasteran Indonesia-Belanda.


Selama satu jam Misil menangis, tanpa sadar dia tertidur di pundak Naya. Naya merebahkan Misil di tempat tidurnya, lalu dia tidur di tempat tidur Misil. Dia semakin merasa bersalah ketika saat Misil menceritakan tentang gelas itu sambil menangis dipelukannya. Dia bingung harus bagaimana caranya mengembalikan gelas itu menjadi utuh seperti semula.


"Gak mungkin gua lem, kan?" pikirnya menatap langit-langit kamar yang berwarna biru. Lalu dia pun tertidur lelap karena sudah merasa sangat lelah ketika di tempat kerja. Di tambah Misil yang menangis dipelukannya selama satu jam, yang membuat seluruh badan Naya semakin lelah dan pegal-pegal.