GIVE ME LOVE

GIVE ME LOVE
Terkejut



"Nay, lu gak kerja hari ini?" tanya Misil yang sudah rapih dengan dandanannya.


"Gua libur, Sil," ucap Naya sambil memainkan handphone-nya.


"Bukannya lu libur besok?" Misil bertanya kembali.


"Tanyalah sama pak manager gua," jawab Naya kembali sambil menaikan kedua bahunya.


Misil menghampiri Naya yang masih berbaring di tempat tidur. "Oke, kalau gitu temenin gua belanja, yuk?" Tidak ada jawaban dari Naya karena sibuk dengan handphone-nya yang sedang bermain game. Misil lalu mengambil handphone Naya, yang punya handphone pun mengomel meminta untuk dibalikin. Misil masih tetap menahan ponsel Naya, Naya pun tidak bisa meraihnya karena tubuh Misil lebih tinggi darinya ."Males gua, Sil. Gua pengen tidur lagi," rengek Naya.


"Mau nemenin atau mau gantiin gelas?" kata Misil yang membuat Naya tersentak.


"Oke, tunggu 10 menit lagi gua rapih." Naya berlari ke kamar mandi.


Mereka pun pergi ke mall yang paling besar di kota Jakarta. Misil membeli berbagai jenis seperti pakaian, sepatu, tas dan kacamata, yang terbilang cukup mahal harganya. Wajar saja dia membeli barang-barang mahal karena dia memang orang tajir. Hanya saja dia ingin tinggal di kos-kosan dengan Naya. Karena ketika Misil mengajaknya untuk tinggal di apartemennya, Naya menolak keras. Naya lebih suka tinggal di kos-kosan jadi mau tak mau Misil menuruti kemauan temannya yang cukup aneh itu.


Naya yang mengikuti Misil hanya bisa menghela napas panjang ketika temannya itu masuk ke toko ini dan toko itu. Belum lagi, Misil ketika memilih-milih baju begitu sangat lama membuat Naya semakin bosan. Masih belum puas dengan belanjaan yang dia beli, Misil memutuskan ingin membelikan pakaian untuk Naya tetapi Naya menolaknya. Tidak perduli sekeras apa pun Naya menolak, Misil tetap ingin membelikan dia pakaian dengan memakai jurus ancamannya yaitu 'Gelas'. Mau tak mau Naya menerimanya.


"Haahhhh, gua cape, gua haus, gua lelah,gua letih, gua lemas, gua lunglai," ucap Naya yang sudah duduk di salah satu restoran seafood di dalam mall.


"Gak sekalian anemia, asam lambung, nyeri sendi dan lain-lain lu sebutin," sahut Misil yang sedang melihat-lihat belanjaannya.


"Udah gua temenin masih aja jahat itu mulut, lama-lama gua jahit juga nih, sama mesin jahit tas yang lu beli," ucap Naya yang mendapat tatapan sinis dari Misil.


Mereka pun memakan seafood kesukaan mereka yang mereka pesan. Sesekali Naya menggoda Misil dengan memakan seafood kesukaan Misil. Misil lalu memukul lengan Naya yang memakan seafoodnya itu.


"Ah, kenyang gua," ucap Naya memegangi perutnya.


"Lu ya nanti yang bawa mobil, Nay," sahut Misil yang sama-sama memegangi perutnya. Dan Naya pun mengiyakan dengan jarinya yang dibuat menjadi tanda oke.


10 menit mereka masih terdiam di tempat duduk dengan rasa kenyangnya. Naya lalu pergi ketoilet sebentar. Ketika dia sedang berjalan menuju meja makannya, dia melihat seseorang yang dia kenal.


"Pm!" panggil Naya sambil melambaikan tangannya disertai senyum manisnya itu yang memperlihatkan gigi putihnya.


"Naya," ucap Pm tersenyum menghampiri Naya.


"Lagi ngapain lu di sini? Jangan bilang lu ngikutin gua?" Naya menyempitkan kedua matanya seperti ala-ala detective Conan.


Pm hanya tertawa rasanya ingin sekali mencium gadis yang ada dihadapannya ini. "Ye, si mbak. Lu lupa ini restoran siapa?"


"Bareng Misil?" Nanya mengangguk. "Iya, sama siapa lagi kalau bukan sama emak tiri itu." Dan merekapun mengobrol cukup lama yang diiringi dengan tawa, sampai Naya lupa sedari tadi Misil mengechatnya untuk meminta pulang. Naya melihat hpnya yang sudah ada 35 chat masuk dari Misil.


"Omg, Pm gua duluan ya! Ini emak tiri udah nyariin," ucap Naya memperlihatkan chat masuknya ke arah Pm. Pm pun menyuruhnya untuk cepat pergi sebelum Misil mengeluarkan tanduk duanya.


"Dari mana aja lu, Bro?" tanya seorang lelaki tampan dengan kemeja hitamnya.


"Sorry, tadi ketemu orang yang spesial," jawab Pm.


" Cewek lu?" lelaki itu bertanya kembali.


"Maunya sih, gitu," ucap Pm malu-malu.


Naya menuju meja, yang sudah melihat Misil dengan raut kesal. Lalu Naya langsung menarik lengan Misil keluar dari mall tanpa rasa dosa. Misil yang ditarik hanya mendengus kesal.


Setelah sampai parkiran mall, langkah kaki Misil terhenti membuat Naya ikutan berhenti karena masih menggandeng tangannya.


"Ya salam, lu kenapa tiba-tiba berhenti mendadak sih, Sil?"


Misil terus memandangi ke arah lelaki itu yang sedang berjalan masuk ke dalam mall dengan sedikit terkejut. Karena lelaki yang ia lihat adalah orang yang dulu pernah ia cintai. Misil tersadar ketika Naya menjitak keningnya.


"Awww, sakit, Nay," rintih Misil sambil mengusap keningnya.


"Lagian lu tiba-tiba diem, udah gitu bengong pula. Lu kenapa? Lihat sesuatu?" Naya melirik kanan kiri yang ia lihat hanya orang-orang yang sedang berjalan keluar atau masuk mall.


"Gua gak kenapa-kenapa. Udah, ayo balik!" Misil menarik lengan Naya.


Di dalam mall lelaki yang Misil lihat itu menghampiri Pm dan temannya Pm. Mereka bertemu karena memang sudah lama tak berjumpa. Pm pun mengenalkan temannya itu kepada lelaki itu.


"Kenalin Kak, ini Fares sahabat gua," ucap Pm, "dan ini Kak Qiu teman lama gua." Mereka berdua pun saling memperkenalkan diri dan bersalaman.


Sungguh pemandangan yang begitu indah ketiga lelaki tampan, putih, dan tinggi, sedang berbincang di satu meja. Yang mendapatkan banyak lirikan dari wanita-wanita yang melihatnya. Ada juga wanita yang hanya pura-pura mampir ke restoran Pm untuk menatap ketiga lelaki tampan itu. Dan ada juga wanita yang jail memvidiokan mereka atau foto mereka diam-diam. Mereka tak perduli dengan wanita-wanita genit itu yang hampir satu jam menatap mereka. Mereka tetap fokus pada obrolan mereka yang sesekali diiringi dengan tawa. Karena sudah 4 tahun Qiu tak berjumpa dengan Pm. Dan Fares yang baru mengenal Qiu pun merasa seperti sudah lama bertemu dengan Qiu, tetapi dia tidak tahu kapan dan di mana dia bertemu dengan Qiu. Dia terus memikirkan hal itu.


Dua jam pun berlalu, tak terasa ketiga lelaki tampan itu berbincang dengan waktu yang cukup lama. Lalu Qiu meminta pamit pulang karena sudah ada janji dengan seseorang. Tidak lama kemudian Pm dan Fares pun pulang, karena merasa risih dengan tatapan-tatapan wanita genit itu yang sudah 2 jam setia menatap mereka.


"Qiu," gumam Fares yang masih mengingat-ingat kapan dia bertemu dengannya.