
“anggap saja ini sebagai sama-sama untung. Maksudku, aku yang menyediakan sayuran dan yang memasak, kau yang memberi daging.”
Yah, benar juga. tidak, tunggu dulu, memang benar biasanya itu adalah suatu kondisi dimana kedua belah pihak sama-sama untung, tapi di hutan Elfteria nilai daging dianggap beberapa kali lebih tinggi dibanding tempat lain. Apa jangan-jangan aku sedang dibodohi?
“ekhm! Nah, Zen, kau tahu ini dimana, kan? Di hutan ini tidak ada aether yang bisa diburu, jadi nilai sayuran tentu tidak sama dengan daging, apalagi ini adalah daging Full-Fed Rabbit yang dikenal sebagai bahan berkualitas tinggi, bahkan meskipun kau yang memasaknya ini masih bukanlah suatu kondisi sama-sama untung!”
“tch”
Apa itu tadi? Apakah aku barusan mendengar Zen mendecakkan lidah?
“baiklah, seperti katamu, aku paham. Kau boleh mengambil porsinya lebih banyak. Yah, meskipun aku bilang begitu, aku membuat terlalu banyak sup hanya untuk dua orang, jadi makanlah sepuasmu.”
“bukan begitu maksudku. Ah, sudahlah, jadi karena kau membuat banyak, berbagilah dengan Fylia. terlepas dari dia itu mencuri dagingmu atau bukan, aku sudah berkata ‘mari kita makan sambil membicarakan banyak hal!’ beberapa saat yang lalu.”
Mengabaikan Fylia yang terkejut dengan “eeeh~” Zen menyerahkan semangkuk penuh sup pada elemental itu.
“Te-terima kasih banyak! Fylia sangat berterimakasih!”
Fylia mengambil mangkuk yang Zen berikan setelah membungkuk seperti kebiasaan orang jepang tertentu yang berkata “maafkan aku maafkan aku”. Dia meraih mangkuk itu dengan mata emas yang berkaca-kaca.
Setelah mencoba sesendok tanpa ragu, Fylia membuat ekspresi ‘aku bersyukur masih hidup sampai sekarang!’ dengan mata emas yang lebih berkaca-kaca dari sebelumnya.
“apa memang seenak itu?” Ikki yang merasa ekspresi Fylia adalah sesuatu yang berlebihan bertanya.
“Tekstur yang sangat lembut dengan cita rasa yang dapat kukatakan dengan kata yang paling sesuai adalah sesuatu yang 'sempurna'! Ketika digigit, daging itu terbelah seolah teksturnya berubah menjadi selembut kentang, rasanya tidak terlalu asam, manis, ataupun asin. Akan ada sedikit rasa asam entah dimana yang berpadu dengan jernihnya kuah sup yang seharusnya mustahil, yang rasa keseluruhannya didominasi dengan rasa asin yang akan membuatmu ingin menyendoknya terus-menerus! Ah, bahkan sayurannya sediri membentuk harmoni yang ideal untuk lidah, tomat ini berpadu dengan rasa asam dan manis yang untuk suatu alasan tidak bisa kurasakan terlalu lama karena itu tiba-tiba itu meluncur ke tenggorokanku! Benar-benar masakan terbaik yang pernah kurasakan seumur hidupku! Aku bersyukur masakan pertama yang kumakan setelah tiga hari adalah sesuatu yang luar biasa seperti ini! Tambah lagi!”
“o-oh...” Ikki memandangi Fylia dengan senyuman kecut, kemudian memalingkan matanya untuk mengamati sup terbaik yang pernah dirasakan versi Fylia.
Ikki mendengarkan dengan seksama kemudian membuang pikiran ‘jika itu makanan pertamanya setelah tiga hari, lalu dimana daging Overall rabbit yang dia curi?’ daripada itu...
Aku ingin tahu dimana perut kecil Fylia menyimpan semua makanan itu. yah, dunia ini memang dipenuhi dengan banyak misteri, huh.
Terlepas dari Fylia mengatakan apa di bagian terakhir itu, sup ini memang mengeluarkan aroma yang menggoda, tapi tidak terlalu kuat. Kuahnya sejernih air putih biasa, yah...
Zen tersenyum dengan sombong, Ikki melihat senyuman itu sebelum memasukkan sup yang ada di sendoknya.
“tambah lagi.” Beberapa detik kemudian, dia mengatakan sesuatu seperti itu.
Tiga puluh menit telah berlalu tanpa mereka sadari. Ikki menanyakan sesuatu setelah menghabiskan porsi kelimanya.
“jadi, bagaimana dengan tenda kalian?”
“....uuu~ rencananya aku akan pergi tidur di pohon, jadi aku tidak memerlukan tenda sama sekali.” Fylia membuat ekspresi kesusahan seakan matanya berkata ‘aku memang tidak punya apa-apa, jadi tak ada pilihan lain....’
“yah, tendamu sepertinya muat untuk dua orang, jadi aku tidak mengeluarkan tendaku. Si kecil ini bisa berjaga saat kita berdua pergi tidur.” Katanya dengan mata mengantuk dan senyuman sarkastik.
“Nah, Fylia, karena ini sudah malam dan aku juga sudah mengenalmu, setidaknya kau bisa meminta sesuatu seperti tidur di tendaku karena tubuhmu hampir tidak memakan ruang sama sekali, dan aku mungkin hanya akan mengatakan sesuatu seperti ‘kita baru saja saling mengenal beberapa menit yang lalu dan kau sudah meminta sesuatu yang akan membuatmu bisa dengan mudah membunuhku saat sedang tidur?’ seperti yang saat ini ingin kukatakan pada Zen.”
Sekali lagi, Fylia berseru dengan “heeeh~!” sementara Zen tertawa senang di bawah mata serigala mengantuknya.
masalah tenda selesai dengan formasi Zen berjaga sementara Ikki dan Fylia tidur duluan, bergantian setiap 2 jam dan bangun saat fajar, yang berarti setiap orang punya waktu 4 jam untuk tidur.
Tengah malam semakin dekat. Cahaya bulan keperakan bersinar sepanjang langit. Dengan begitu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi tidur.
“kalau begitu aku duluan, Zen. Bagunkan aku setelah 2 jam.”
“a-aku juga!”
Fylia mengikuti Ikki yang sedang memasuki tenda dengan menguap.
Ikki meraih selimut dan bantal murah di sekelilingnya sebelum menidurkan dirinya di lantai.
“selamat tidur, Fylia.”
“se-selamat tidur untukmu juga, Ikki.”
Pandangan mereka berubah menjadi gelap, kesadaran mereka menghilang dari dunia ini, kemudian, Ikki dan Fylia tertidur bersama di bawah satu tenda yang sama.
~**~
Kegelapan, yah. Dalam kurun waktu itu, penglihatan Ikki hanya dipenuhi dengan kegelapan. Perlahan, perlahan, ia membuka kelopak matanya. Sesuatu memasuki pandangan Ikki yang masih kabur karena cahaya baru saja mendatangi mata pemuda itu setelah hampir dua jam berlalu.
“huaah~”
Beberapa detik setelah ia menguap dan mengusap matanya, sesuatu yang jelas di depan matanya terlihat.
-- seorang gadis.
Sekitar umur 14 tahun dengan rambut emas dan kulit seputih salju. Tertidur di depan Ikki dengan nafas yang keluar dari bibir berwarna merah muda. Di atas semua itu, yang paling membuat Ikki membuka lebar matanya karena terkejut adalah kenyataan bahwa sebagian atas buah dada gadis itu terlihat dengan sangat jelas karena kain tipis yang dia kenakan tidak menjangkau tempat itu sama sekali.
“mwmmwmm~”
Mulut gadis itu bergerak-gerak membentuk suara yang aneh. Seperti yang bisa dilihat dari wajah tidur seorang gadis, dia tertidur dengan imut dan tanpa penjagaan sama sekali. Tidak, bukan berarti Ikki berpikir kotor atau semacamnya. Yah, bisa dibilang dia memang sedikit berpikir ke arah itu, tapi bahkan seseorang seperti Ikki masih terlalu polos untuk bisa berpikir dingin akan situasi seperti itu. Tiba-tiba si pemuda berambut biru dengan panik mengambil beberapa langkah mundur dari si gadis berambut emas. Ia berteriak karena pikirannya terkejut sebelum dapat memikirkan apapun.
“Hyaaaaa!!”
Punggung Ikki menabrak sesuatu sampai sesuatu yang keras menjatuhi kepalanya.
“ada musuh?”
seorang werebeast serigala hitam yang baru saja memasuki tenda dengan sebuah tombak di punggungnya, melihat sekeliling.
Serigala itu—Zen melihat Ikki satu, dua detik, sebelum mengalihakan padangan ke sisi lain. Apa yang terlihat dalam mata serigala hitam itu adalah seorang gadis berambut emas.
“hwm...?”
Gadis itu—yang menjadi penyebab dari pandangan yang ada antara rasa takut dan kebingungan Ikki dan Zen mendirikan bagian atas tubuhnya sambil mengusap mata yang masih mengantuk.
“met... pagwii~”
~**~
“jadi, makhluk kecil yang kelihatan bodoh ini seorang putri?”
Zen yang menyilangkan tangannya sambil terus memacu otaknya untuk berpikir melakukan introgasi pada seorang ras elemental tertentu yang disebut Fylia.
Seorang putri, kah... Ikki yang juga sedang dalam proses berpikir bertanya-tanya dalam pikirannya. Seorang putri. Elemental. Lupa ingatan. Dan atavisme.
Ratu elemental terlahir dengan kemampuan merubah dirinya menjadi wujud lain mirip ras manusia— hal ini berlaku juga pada garis keturunan, sang tuan putri, atau yang bisa dilihat dari situasi saat ini tidak lain adalah Fylia.
Namun, Fylia terlahir sebagai atavisme—sebuah gen khusus yang hanya terlahir tiap beberapa generasi. Karena kondisinya tersebut, Fylia memiliki suatu konstitusi dimana jika dalam suatu keadaan, dia menggunakan sihir yang terlalu kuat di luar kemampuannya sendiri, beberapa ingatan Fylia menghilang sebagai bayaran dari kekuatan itu.
Karena sifat atavismenya ini, Fylia dikucilkan oleh orang lain, ras elemental, bahkan teman dan keluarganya sendiri.
Meskipun begitu, konstitusi tersebut tidak bisa dianggap sebagai sebuah kerugian belaka, namun karena godaan untuk menggunakan sihir yang lebih kuat terlalu besar, tidak sembarang orang akan mampu mengabaikannya. Apa yang harus mereka bayar dari tindakan tersebut adalah bagian ingatan mereka sendiri, yang mungkin merupakan ingatan terpenting dalam hidupnya.
Fylia menyadari dengan baik hal ini, tidak salah lagi, dia tahu apa resiko dari kekuatan itu. meski begitu, untuk sebuah alasan yang bahkan tidak Fylia ingat sampai sekarang, konstitusi tersebut terpenuhi.
Apa yang tersisa dari ingatannya adalah beberapa fakta yang samar; desanya hancur, teman-teman dan keluarganya menghilang, dan fakta bahwa dirinya merupakan putri elemental.
“.... sepertinya itu sungguhan.”
Zen yang melihat nada dan tingkah laku Fylia membuat sebuah kesimpulan sementara matanya memandang dengan serius. Kemudian, dia membuka mulutnya pada seorang gadis elemental seukuran manusia, Fylia.
“.... jadi, kau yang sekarang berharap bisa menemukan petunjuk tentang masa lalumu di tempat lain... itukah, tujuanmu berpetualang, apa aku salah?”
“itu tidak salah.” Fylia menggeleng. “tapi daripada itu, apa yang paling kuinginkan adalah menemukan keluarga dan teman-temanku; perasaan seperti itulah yang membawaku untuk menjelajahi dunia.”
“tapi bukannya, mereka adalah orang-orang yang mengucilkanmu?” tanya Ikki.
Itu benar. Ras elemental di desa Fylia, teman-teman dan keluarganya, mereka telah melakukan hal buruk dengan memperlakukan Fylia seperti itu. Akan tetapi, Fylia memandang ke langit berbintang tanpa awan, tanpa memandang siapapun di atas sana, berkata:
“Meskipun begitu, mereka tetaplah teman-teman dan keluargaku, fakta ini takkan berubah sampai kapanpun aku hidup. Mereka adalah orang-orang yang bersamaku sejak aku lahir.”
Fylia mungkin mengerti dengan baik apa yang harus dia lakukan, dia telah membulatkan tekadnya untuk hal ini; di saat Ikki berpikir seperti itu, Zen mengatakan sesuatu yang terdengar lebih nyata dan kejam.
“Keluarga dan teman yang mengucilkanmu, semua orang yang melakukan hal-hal buruk padamu, dan yang telah menyakitimu, menurutku mereka semua tak lebih dari sekedar sampah. Bahkan jika orang-orang seperti itu selamat dan masih hidup di suatu tempat, kau punya hak untuk membuang mereka sekaligus. Setiap orang juga memiliki hak untuk membenci sesuatu, tidak peduli terhadap sesuatu, dan menginginkan sebuah kepuasan dalam hatinya. Bahkan jika itu adalah seorang elemental kecil yang mencuri daging, kau masih punya hak untuk menginginkan sebuah kebahagiaan.”
Dia tentu mengatakan sesuatu yang benar-benar kejam tadi. Memang, Zen mungkin saja menjengkelkan dan memuakkan, tapi dia memiliki sisi baik dalam dirinya juga. Seperti kepedulian dia terhadap orang lain atau semacamnya.
Akan tetapi, semua orang merasakan hal yang sama pada kata-kata Zen; Zen yang sekarang mengatakan semua itu bukan karena perasaan ingin peduli terhadap Fylia, namun karena mungkin, sesuatu yang kejam telah terjadi di masa lalunya. Zen melanjutkan.
“dan yang lebih kejamnya lagi adalah, kau dengan baik hati mencari para sampah itu hanya karena mereka pernah punya hubungan denganmu. Aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi.... kau seharusnya melupakan mereka dan hiduplah dengan bahagia.... Yah, kesimpulan yang begitu mengecewakan, huh... kenyataan memang kejam dan tak berperasaan.”
Fylia mempertahankan senyuman terbaik miliknya, senyuman tulus yang diisi dengan kesedihan, rasa murung, dan rasa tak berdaya. Ia mempertahankan itu hingga meraih hati Ikki dan membuatnya ingin setidaknya sedikit meringankan beban yang gadis itu rasakan. Memulai dengan gelisah mencari kata-kata, Ikki menggerakkan tangannya ke sana kemari.
“ta-tapi, itu, kau tahu? Kebaikhatian biasanya berujung dengan sesuatu yang baik juga. Mungkin itu akan ada artinya saat kau menemukannya.”
“Di dalam drama dan buku cerita, selalu ada akhir yang bahagia bagi mereka yang melewati batas itu. Tapi kenyataan tidaklah begitu baik hati. Kenyataan jauh lebih kejam dan apatis.”
Zen membalas dengan dingin. Ikki seakan tidak percaya dengan kemauan Zen yang seolah ingin terus menekan Fylia. Orang ini...!
“kau...!” Ikki menggertakkan giginya setelah tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk dia katakan.
“sudahlah, Ikki.” Fylia menggeleng. “tidak apa-apa, aku baik-baik saja dengan itu.”
『 Dia benar, Ikki. 』
Aria? kenapa baru sekarang dia muncul?
『 Elemental bernama Fylia itu tahu tentang perasaan bersalah para elemental lain. Kebaikan yang Fylia miliki bukanlah kebaikan seorang ibu yang mengasihi. Dia bersikap seperti itu karena dia sadar dengan jelas bahwa di dalam hatinya dia adalah seorang elemental yang menjijikan, kejam dan pengecut. Meski begitu, dia mengulurkan bantuan dengan teguh atas dasar kebaikan hatinya tanpa memalingkan matanya. Tapi kebaikan kadang bisa begitu kejam, tidak peduli dimanapun kau berada. Orang-orang itu mungkin tidak ingin diselamatkan oleh seseorang yang telah mereka perlakukan dengan begitu tidak berpesaan. Bisa jadi, hal itu malah menambah rasa bersalah dalam diri mereka pada Fylia. Apa yang gadis itu coba lakukan mungkin adalah sesuatu yang kejam bagi mereka. 』
Berdiri, Zen mengakhiri percakapan dengan “ini sudah dua jam. Aku ingin segera pergi ke tempat tidurku.”
『 katakan padanya kalau aku tidak membenci orang-orang seperti dia yang BISA tidak peduli akannya dan jujur akannya. 』
“Aku tidak membenci orang-orang sepertimu yang bisa tidak peduli akannya dan jujur akannya.”