
Hey, kenapa aku dengan mudah mengatakan itu?
“Sungguh kebetulan. Aku juga tidak membenci bagian diriku yang seperti itu.”
“Aku juga. Aku juga tidak membenci kemampuan kejammu untuk membeberkan apa yang kau inginkan.”
Zen tersenyum dengan mata serigala mengantuknya, setelah itu menghilang dalam tenda kecil di sisi kiri Fylia dan Ikki.
Sudahlah, lupakan dulu untuk sekarang. Pikir Ikki. Lagipula ini sudah malam.
“kau tidak pergi tidur juga? kalau kau mau aku bisa membuatkan pembatas atau semacamnya.”
“.... .... aku....”
Benar juga. setelah semua yang terjadi Fylia mungkin merasa tidak nyaman dengan Zen.
“aku....” Fylia memulai kembali kata-katanya.
“Hn...?” Ikki memiringkan kepalanya.
Perlahan, Fylia memiringkan tubuhnya lebih dalam. Bahunya menyentuh bahu Ikki, setelah itu, dia menyandarkan kepalanya di pundak Ikki.
“anu... Fylia?”
Fylia yang berwujud manusia menutup matanya dan tersenyum puas.
“biarkan aku tidur seperti ini.”
Langit yang menunjukkan tanda-tanda malam hari menyebarkan cahaya putih keperakan dari bulan. Cahaya merah api unggun menyelimuti tubuh Ikki dan Fylia sekaligus memberikan mereka sebuah perasaan hangat. Hawa dingin dan angin dingin yang beberapa kali bertiup menggurai rambut mereka dengan nyaman. Beberapa kali Ikki mencoba mengisi otaknya dengan pikiran seperti itu untuk menjauhkan bayangan yang tidak seharusnya ada dalam pikirannya.
Ada wangi tertentu yang tercium dari rambut panjang Fylia. Kulit putihnya terlihat sangat lembut sementara buah dadanya sedikit terlihat dari sudut pandang Ikki. Benar, dia coba menghilangkan pikiran seperti itu.
“.... ....”
Beberapa menit berlalu tanpa suara. Ikki tidak tahu apakah itu 10 menit atau sudah 20 menit, tapi keheningan ini sedikit terasa nyaman baginya.
Sampai, saat itu terjadi.
~**~
Cahaya putih kehijauan muncul sekitar 5 meter dan 90 derajat di kanan Ikki. Menyilaukan, dan mungkin dapat membutakan mata jika kau terus menatapnya untuk lebih dari 1 jam tanpa berkedip.
Spontan Ikki menutup kedua matanya dengan tangan sebelum cahaya itu benar-benar membutakan matanya. Dan dalam dua, tiga detik, sinar itu melemah.
Apa yang mengisi penglihatan Ikki setelah cahaya itu adalah seorang gadis berambut hijau sekitaran umur 12 tahun, tubuhnya pendek, rambutnya sebahu. Bibirnya bergerak naik turun, dia sepertinya memulai untuk mengatakan sesuatu.
”Tolong...! Selamatkan dunia kami!”
Fylia yang mendengar sesuatu sekeras itu perlahan mengusap dan membuka kedua matanya. Pandangannya jatuh pada seorang gadis yang masih bercahaya meskipun lemah. kemudian, dia membuka mulutnya lebar.
“Hueee!!”
Beberapa saat kemudian, Zen yang mendengar teriakan Fylia segera keluar dengan marah.
“sekarang apa lagi? Aku masih ngantuk, kalian pikir ini jam berapa, hah?”
Zen melihat sekeliling dengan curiga. Matanya berhenti pada sosok gadis 12 tahun yang diselimuti cahaya putih kehijauan sekitar 10 meter di depannya.
“Selamatkanlah dunia kami!”
Dia mengatakannya sekali lagi, kali ini dengan membungkuk.
Dunia? apa makudnya dengan dunia? apa itu bukan Verdernia? Tanya Ikki dalam hatinya.
“Kami akan menjelaskan detailnya di dunia itu. Kumohon ikutlah denganku.”
“tunggu sebentar.”
Zen sepertinya punya kesimpulan lain, atau belum mencapai kesimpulan apapun. Itu wajar untuk tidak ingin melakukan sesuatu tanpa mengetahui apapun.
“Kau mungkin tahu siapa kami, tapi kami tidak tahu siapa dirimu. Akan berbahaya mengikuti seseorang yang tidak kami kenal. Jelaskan di sini atau kami akan benar-benar mengabaikanmu.”
“ “Zen....” ”
Seperti yang diduga dari Zen, mata mengantuknya benar-benar berguna. Pikir Ikki. Itu seperti dia tidak takut terhadap apapun.
“ta-tapi... aku sendiri tidak punya hak untuk....”
Untuk suatu alasan yang tidak begitu jelas, gadis rambut hijau itu kebingungan. Sepertinya ini bukanlah sesuatu yang bisa dia putuskan, dengan kata lain, ada orang/pihak lain yang memberi perintah.
“namaku Edea. Dunia yang akan kalian datangi disebut Tenebris, aku dikenal sebagai roh tumbuhan, dryad, di dunia itu.”
“Tenebris... roh tumbuhan, dryad...”
Zen berguman membuat gerak tubuh mengingat-ingat. Mungkin, dia tahu sesuatu tentang itu. sebuah dunia lain.... Ikki yang juga penasaran bertanya:
“Zen, kau tahu sesuatu tentang dunia itu?”
Normalnya, itu tidak mungkin. Setiap enfinity harusnya tahu bahwa hanya terdapat satu dunia, mustahil untuk ada yang lain. Tempat para aether dan enfinity hidup, Verdernia. Itu adalah pengetahuan dasar yang setiap orang ketahui. Tapi apa yang gadis itu katakan... bagaimana mungkin....
-- roh tumbuhan, Edea.
siapa gadis ini yang sebenarnya?
Setelah akhirnya memikirkan hal-hal itu, Zen teringat akan sesuatu di masa lalu. Dia menunjuk Edea dengan tidak sopan.
“hei, kau... apa tadi kau bilang Tenebris? Tenebris yang itu?”
“.... yang itu?” Ikki memiringkan kepalanya.
“Tenebris... aku pernah membacanya di masa lalu. Sebuah dunia dimana tidak terdapat satupun aether dan enfinity di dalamnya, tanah para seraphim, Tenebris.”
“benar.” Edea mengangguk. “Dunia kami, Tenebris, saat ini sedang dalam masalah besar yang tidak dapat kami, para seraphim selesaikan dengan kemampuan kami sendiri. Karena itulah... aku, sebagai perwakilan dari ratu dryad, dikirim ke dunia ini.”
“masalah besar, ya? mengesampingkan apakah kami bisa menolong kalian atau tidak, pertama-tama, apa keuntungan yang kami dapatkan dari menolong kalian?”
“Zen!” teriak ikki. “mereka membutuhkan kita untuk menolong mereka, apa salahnya meminjamkan tanganmu untuk itu?”
“haah...” Zen menghela napas. “jadi maksdumu, terlepas dari apakah kita bisa melakukannya atau tidak, kita memiliki keuntungan atau tidak, bahkan jika itu adalah sesuatu yang sia-sia atau merugikan bagi diri kita sendiri, mereka yang dimintai pertolongan dari awal sudah tidak memiliki hak untuk menolak?”
“I-itu...” tidak mampu menemukan kata-kata untuk membalas pertanyaan Zen, Ikki menggertakkan giginya dengan keras.
Tapi, sebuah suara yang tidak seorangpun duga sebelumnya, terdengar di udara.
Sumber yang semua orang lihat dari suara itu adalah seorang gadis yang naif dan kurang percaya diri, Fylia.
“Seperti katamu, Zen, kita tidak bisa menerima permintaan mereka begitu saja. Tapi mungkin saja di dunia itu, jawaban dari pertanyaan yang selama ini kucari ada di sana.”
“tetap saja itu bukan urusanku.” Kata Zen. “Lagipula masih banyak orang kuat dan naif di luar sana. Dibandingkan mereka aku adalah tipe yang hanya bergerak saat melihat adanya keuntungan. Jawab pertanyaanku, roh pohon, apa yang bisa kau berikan untuk membuatku membantumu?”
“haah...” Edea menghela napas. “seperti yang kuduga, tak ada gunanya meminta baik-baik. Lagipula kami juga takkan mau sampai enfinity seperti kalian membantu kami, hanya saja tidak ada pilihan lain. Dan juga, kami tidak bisa memberi apapun pada kalian—ah, bukannya tidak bisa, tapi tidak mau.”
“ “heh....” ”
“hah?”
Ikki, Fylia, dan Zen Cruzer, terkejut akan kata-kata itu.
Apa seperti itu cara yang baik untuk meminta? Ada dimana sikap lemah lembutnya yang barusan? Pikir Zen.
Sikapnya berubah 180 derajat. Edea menghilangkan semua rasa cemas palsu dan senyuman palsu yang ada sampai beberapa saat lalu. Dia, Edea, mulai menunjukkan sifat aslinya.
“hnh~” Zen mendengus. “dengan berkata begitu, kau tahu sendiri, kan...? Kami jadi punya alasan lebih untuk menolak. Lagipula—“
“kalian tidak punya hak untuk menolak.”
Jelas sekali kata-kata Edea memotong kata-kata Zen sebelum ia selesai berbicara tadi. Apa yang dia katakan? Tidak punya hak untuk menolak?
“hee~” nada santai yang Zen keluarkan sepertinya adalah kata lain untuk berkata ‘kau ini bodoh ya?’ dia melanjutkan. “bahkan jika duniamu hancur karena itu, kami bisa saja pergi dan meninggalkanmu, kemudian menggaggap ini semua tidak pernah terjadi. tidak punya hak untuk menolak, huh? Jangan manja.”
“maksudku.” Edea membalas. “hutan ini, Elfteria, adalah satu-satunya tempat di Verdernia yang terhubung dengan Tenebris.”
“.....”
Setelah hening satu, dua detik, Zen melebarkan kelopak matanya setelah menyadari sesuatu.
Dari awal Elfteria bukanlah hutan biasa. Tidak hanya karena kemampuan pemulihan life dan ether, tapi juga alasan kenapa aether tidak menyerang enfinity di sini. Ada kemungkinan sebuah pihak bertanggungjawab atas hal ini. itu tidak mungkin.... kan.....? seraphim, mereka...
“kalian... tidak bisa keluar dari sini.”
Edea benar-benar mengatakannya.
“hhaahh!”
Zen melangkah dengan keras setelah amarahnya dibuat meluap-luap.
Ini pemaksaan. Pikir Ikki.
Sepertinya... ini akan merepotkan. Fylia tersenyum kecut.
Zen menggenggam dengan keras kain yang menggantung di antara leher dan dada Edea seperti sedang ingin memukulnya.
“kau bilang kami tidak bisa keluar?! Jangan bercanda! Dikatakan dalam buku kalian tidak punya kekuatan seperti enfinity. Aku akan menghabisimu dan keluar dari sini, bocah!”
Di saat Zen sudah membuat kuda-kuda untuk memukul, Ikki menghentikannya.
“H-hei, tunggu dulu, Zen...! masih ada orang lain, kan? Serahkan saja ini pada orang lain. Apa kau tidak bisa melakukannya, Edea?”
“haah... sama seperti kalian yang terjebak tanpa tahu apa-apa, kami juga tidak bisa keluar dari hutan ini.”
“kalau begitu suruh orang lain yang ada di hutan.” Desak Zen.
“orang lain yang kau maksud itu... tidak ada sama sekali. kalian satu-satunya yang bisa menolong kami.”
“siapkan dirimu, kupukul juga, bocah....!”
“h-hei!” Ikki menarik-narik dan menahan tubuh Zen yang sudah membuat kuda-kuda untuk memukul.
Sepertinya akan merepotkan, huh.... Fylia tersenyum kecut.
- Chapter 7 -
Dan begitulah, seorang manusia, seorang werebeast, dan seorang elemental itu dipaksa pergi ke dunia lain.
“ini pertama kalinya aku melihat sesuatu seperti ini selain di buku.”
Ikki melihat-lihat sekeliling dan mengagumi interior di kanan kirinya. Sesuatu yang mewah seperti lukisan atau lantai emas atau patung 1:1 itu pasti sesuatu yang mahal. Sungguh pemandangan yang tidak biasa, hal yang tidak bisa kau lihat setiap hari— sebuah bangunan besar yang disebut kastil kerajaan.
Roh pohon, dryad.... mungkin karena alasan itulah banyak tanaman dan pepohonan tumbuh di sekitar dan di dalam kastil, yang hampir semuanya adalah tanaman asing yang tidak diketahui oleh Ikki.
Ada banyak seraphim berkumpul di luar. itu seperti pemandangan saat orang-orang berkumpul untuk konser band terkenal atau saat para prajurit berbaris sebelum perang. Ketiga enfinity yang sedang di bawa paksa saat ini dipandu untuk berjalan dalam sebuah lorong menuju ke aula kerajaan. Dalam lorong itu—tidak, bahkan sebelum mereka berada di lorong itu, Ikki, Zen, dan Fylia merasakan satu hal yang sama-- tatapan mata itu.
Tatapan mata yang diisi dengan kebencian dan rasa jijik, yang hanya akan kau keluarkan ketika melihat sesuatu yang tidak kau sukai, sesuatu yang memuakkan, dan sesuatu yang kau benci. Pada saat itu, semua orang menyadari satu hal yang sama, satu hal yang telah Edea tunjukkan—sebuah kenyataan bahwa seraphim sangat membenci enfinity.
Tidak satupun dari ketiga enfinity itu yang mengetahui alasan di balik tatapan mata dan rasa benci tersebut, bahkan Zen Cruzer yang telah membacanya dari buku juga hampir tidak tahu apapun tentang mereka.
Sebenarnya, apa salah enfinity sampai mereka melihat kami seperti itu? apa yang telah kami lakukan pada mereka? Apa yang telah terjadi di masa lalu? Dari awal, aku tidak tahu apapun tentang seraphim. Kenapa pengetahuan tetang mereka dan tentang dunia ini hampir hilang dari Verdernia? Ikki berpikir keras tentang hal itu. Tapi sangat jelas memang ada sesuatu yang terjadi di masa lalu. Semua orang di sini memahami apa itu enfinity meskipun kami tidak tahu apapun tentang mereka. Zen Cruzer merupakan kondisi khusus; enfinity biasa bahkan tidak tahu apapun tentang keberadaan mereka.
“Fylia yakin ini bukan saatnya untuk merasa kagum.” Fylia yang duduk di pundakku dalam wujud elementalnya segaja membisikkan hal itu sambil menjaga perhatian prajurit yang sedang berbaris di sisi lorong.
Itu wajar untuk tidak ingin mata busuk itu melihatmu, Fylia, tapi mata busuk lain malah saat ini memandangi mereka. pikir Ikki saat melihat Zen yang membuat tangannya seperti sandaran kepala sambil terus berjalan.
“kenapa kau ketakutan begitu, Fylia? Bahkan jika seisi kerajaan ini menjadi musuh kita, mereka tetap tak akan menang bahkan setelah bersusah payah.”
“a-apa yang kau katakan, Zen....” Ikki mengatakan sesuatu dengan suara yang lemah, tapi masih dalam tingkat yang dapat Zen dan Fylia dengarkan.
“Itu, itu sudah keterlaluan bagaimanapun juga.” Fylia juga melakukan hal yang sama.
Tidak salah jika menganggap apa yang baru saja Zen katakan tidak berbeda dengan ‘majulah saat kalian mau’ atau ‘seperti kalian bisa menang saja’ atau semacamnya. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup untuk para prajurit bergerak karena kata-kata itu. meski begitu Zen tetap tidak terlihat cemas sama sekali, dia hanya melanjutkan sikap santai dan tidak sopannya.
Berkat itu, semua prajurit bahkan Edea sendiri yang memimpin di depan para enfinity hanya bisa menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya sekuat mungkin sampai-sampai hampir terdengar sebuah suara dari tindakan itu; mereka tidak melakukan apapun bahkan untuk sekedar protes.
Hanya ada satu alasan untuk terjadinya situasi seperti ini, alasan yang membuat Zen sampai berani melakukan hal seperti ini.
Buku itu benar. Zen membuat garis lengkung di pipinya. Seperti yang kuduga, mereka lemah.
Enfinity unggul dalam satu poin.
Beberapa langkah, beberapa detik berlalu, pintu besar yang menghubungkan lorong dan aula kerajaan terbuka.
~**~
Terompet ditiup. Tiga enfinity yang secara paksa mengikuti Edea berjalan memasuki ruangan. Mereka menginjak karpet merah yang kualitasnya sama sekali berbeda dengan yang ada di lorong tadi, mencium wangi misterius dari sumber yang tidak pernah mereka ketahui, dan perasaan aneh yang tidak pernah mereka rasakan.