Fantasy and Ether Record

Fantasy and Ether Record
Episode 3



Semuanya sudah berakhir. Di saat dia sudah mempercayai pemikiran itu...


『 tidak, tidak ada yang berakhir. 』


Suara seseorang memasuki pikirannya.


Apa? Ikki spontan ingin menanyakan sumber dari suara itu, tapi dia sadar tidak ada waktu untuk melakukannya. Satu-satunya yang dia tahu hanyalah fakta bahwa suara tersebut bersumber dari seorang laki-laki tertentu.


『melompat ke kanan. 』


Tapi dia mengikuti kata-katanya.


『 bagus. Sekarang ulurkan tanganmu ke atas. 』


Sekali lagi, Ikki tanpa ragu mengikuti kata-katanya.


Eh...? ini kan.... pikirnya, seolah tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.


Pedang yang dihantam oleh pedang berapi Ren beberapa saat yang lalu, pedang yang baru saja terlempar ke langit, sekarang terjatuh di genggaman tangan Ikki.


apa? Bagaimana Ikki, dia.... kali ini giliran Ren yang dibuat terkejut oleh perbuatan itu. Hah, Ini jadi semakin menarik. pikirnya


Ikki membuat beberapa lompatan mundur. Duel yang semua orang pikir telah berakhir, hasil yang semua orang telah tentukan, kembali lagi ke titik awal.


Baiklah. Apa yang harus kulakukan sekarang? Meskipun duelnya tidak jadi berakhir, aku tetap kalah dalam berbagai hal.


『 maju, terjang musuhmu. 』


Seperti kata-kata itu, Ikki mendorong pijakannya pada tanah untuk dengan cepat melesat menuju Ren. Dia membuang semua perasaan curiga pada suara misterius di pikirannya.


Benar, aku bisa mempercayai suara ini.


『 sekarang, lemparkan pedangmu. 』


Huh?


『 cepatlah, lemparkan itu pada Ren. 』


Tanpa mempertanyakan apapun, Ikki yang masih berlari melemparkan pedangnya seperti seorang ninja yang melempar kunai. Ujung pedang Ikki ditangkis dengan tebasan diagonal dari kanan bawah, membuatnya sekali lagi terlempar ke udara. Pedang itu dengan bebas terbang melewati tubuh Ikki, sekitar 5 meter dari tanah.


Kemudian, Ren yang melihat Ikki tanpa senjata mengendalikan 5 kerikil dengan telekinesis, memperkuatnya dengan sihir api dan meluncurkan mereka secepat angin. Akan tetapi, seperti telah memprediksi tindakan Ren sebelumnya, suara itu memberikan instruksi bahkan sebelum kerikil-kerikil itu sempat meluncur.


『 letakkan kedua tanganmu di tanah, melompatlah sekuatmu. 』


Tanpa berpikir untuk kedua kalinya, Ikki tanpa ragu merealisasikan apa yang ada di pikirannya.


Maksudmu seperti ini? Dengan kedua tangan mendorong tanah tepat setelah membalikan tubuhnya dalam posisi kepala di bawah, Ikki melompat dengan badannya membentuk sudut 180 derajat.


Kerikil-kerikil api melewati tubuh Ikki begitu saja. Tidak satupun dari mereka berhasil menyentuh sedikitpun kulit Ikki.


『 sekarang, tumbuhkan rumut di kakimu dengan Plants Creator. Tumbuhkan itu dalam bentuk ikatan yang mengikat pergelangan kakimu, perkuat dengan buff kekuatan dan pertahanan. 』


Tidak, jika aku melakukan itu.... Ikki paham dengan baik resiko dari perbuatan tersebut. ‘mind down’-- kondisi dimana seseorang hampir kehabisan seluruh ethernya; tubuh dari orang tersebut akan kehilangan seluruh kemampuannya untuk bergerak dalam beberapa menit. Dan jika dia melakukan itu, Ikki takkan punya pilihan selain menerima kekalahan.


『 Lakukan dengan cepat. Kau tidak punya waktu untuk berpikir. 』lanjut suara itu untuk meyakinkan Ikki.『 Perpanjang rumput itu lalu kendalikan untuk menangkap kembali pedangmu di udara; sekitar arah jam 10 dari ujung kakimu. 』


Ikki sadar tidak ada waktu baginya untuk berpikir. Aku hanya harus mengikuti kata-kata itu; dia menekankan sebuah pemikiran pada pikirannya.


.... Aarrgh!! sudahlah! Yang akan terjadi biarlah terjadi nanti!


Ikki mengikuti instruksi dari suara misterius itu tanpa sedikitpun keraguan. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, Ikki mengaktifkan Plants Creator; menumbuhkan rumput membentuk lilitan yang melilit pergelangan kaki kanannya, menguatkan rumput yang telah tumbuh dengan buff kekuatan dan pertahanan, setelah itu memanjangkannya.


Rumput yang dia panjangkan menangkap gagang pedang kayu yang sempat terlempar beberapa detik yang lalu, sekitar 5 meter dari pergelangan kaki Ikki.


『 sekarang ayunkan kakimu untuk menghempaskan pedang itu pada Ren. 』


heh...? Ikki secara tidak sadar mempertanyakan pemikiran seperti apa yang baru saja memasuki pikirannya. Ini kan... sebuah tehnik yang tidak pernah dia bayangkan, metode penggunaan Plants Creator yang tidak pernah dia ketahui... bagaimana bisa lelaki itu menuntun Ikki untuk menggunakan tehnik seperti ini? bagaimana caranya?


“Aaaaaaarh!!!” teriak Ikki dengan semangat sambil mengayunkan kakinya mengikuti instruki suara misterius itu. Pedang yang tidak hanya diperkuat dengan seluruh tenaganya tapi juga diayunkan setelah memanfaatkan gaya sentrifugal, membelah udara di hadapan Ren.


Ren terkejut dengan “H-hah....?!” sambil dengan panik memasang kuda-kuda bertahan dengan pedang kayu yang direntangkan.


Mengikuti kata-kata itu dengan keyakinan di dalam hatinya, menendang dengan semua kekuatan yang menjadi miliknya.


*Zaaashhh!!


Pedang kayu yang digunakan sebagai penghalang antara serangan Ikki dan tubuh Ren pecah seketika. Apa yang menunggunya adalah hantaman dari sisa serangan itu. dengan bunyi yang keras, pedang Ikki menundukkan kepala Ren setelah menghantamnya dengan seluruh tenaga Ikki.


Dengan begitu, duel yang mengubah pemikiran semua orang berakhir. Tubuh Ikki terjatuh dari udara. Kehilangan kemampuannya untuk bergerak.


Yah, seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Pikir Ikki. Setidaknya, aku mempelajari sesuatu yang keren.... tapi tetap saja aku kalah... hahaha...


Mind down, yang berarti kekalahan Ikki. Beberapa detik kemudian berlalu setelah itu.


Dengan senyuman puas di wajah putihnya, dia mengamati seseorang yang berjalan kemudian berdiri di dekatnya dengan menutupi cahaya matahari. Bayangan hitam dari orang itu menutupi tubuh bagian atas Ikki. Dan dia kemudian berkata pada orang itu:


“Ini kemenanganmu, Ren.”


Tapi kata-katanya segera dibalikkan dengan sebuah syal yang dengan sengaja dijatuhkan di atas dada Ikki. Dengan mata dingin yang sedikit tersenyum sebagaimana Ren Arvelight yang biasanya, dia juga berkata pada Ikki:


“tidak, kali ini adalah kemenanganmu. Jika duel tadi memakai pedang sungguhan, aku pasti sudah mati.”


Memang benar, tidak peduli bagaimanapun caramu melihatnya, Ren mampu bergerak secara normal tanpa kesulitan yang berarti, hal ini terjadi karena duel yang mereka lakukan tidak mengijinkan penggunaan pedang sungguhan sebagaimana pertarungan hidup dan mati.


“Ikki!” Lyria meneriakkan namanya sesaat ketika dia mendekat. “apa-apaan yang kau lakukan?! Seharusnya kau tahu untuk tidak membuat orang lain terlalu khawatir! Kau bodoh bodoh bodoh!”


Gadis berambut biru itu terus memukul dada Ikki dengan tangan putih dan ramping miliknya. Rasanya tidak akan terlalu sakit jika kamu menerimanya dalam keadaan normal, tapi tubuh Ikki sudah tidak bisa disebut dalam keadaan normal lagi.


“Lyria?! itu sakit... tapi sepertinya yang kau lihat, aku baik-baik saja.... Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.” Sambil tetap tiduran di atas rumput, Ikki katakan hal itu pada Lyria.


“si-siapa yang bilang aku khawatir padamu, bodoh!” muka Lyria memerah tanpa alasan yang jelas, yang tentunya tidak diketahui alasan itu oleh Ikki. “.... ....” Setelah jeda yang agak panjang, dia melanjutkan. “aku hanya takut jika adik laki-lakiku... terluka atau semacamnya....” dan entah itu disadari oleh orangnya sendiri atau tidak, suara yang membentuk kata-kata tersebut semakin menghilang di bagian akhir.


“haah... kau tahu? dalam sejarah ratusan ribu tahun umat enfinity, itulah yang mereka sebut dengan ‘khawatir’.”


Mengabaikan apapun yang Lyria akan katakan selanjutnya, Ikki berkata dengan ekspresi puas di wajahnya: “akhirnya, aku bisa satu langkah lebih dekat dengan impianku.” .


“impianmu, kah.... Maksudmu yang itu?” tanya Ren, menanggapi kata-kata Ikki yang tidak terlalu jelas.


“haha.... yah, sejak dulu aku Cuma punya satu impian, Ren.”


-- untuk menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan dunia.


Keberadaan dengan kebaikhatian dan keadilan di hati mereka. Seseorang yang jauh lebih kuat dibanding siapapun di dunia ini. Tanpa memandang rendah pada orang lain, tanpa mengorbankan siapapun untuk mencapai tujuannya.


Keberadaan yang seperti itu.


-- untuk menjadi salah satu dari ke-13 Einherjar.


Keberadaan yang terkuat di dunia ini. Sebuah kelompok yang menuntun perang enfinity melawan aether. Yang melindungi dunia ini dari kehancuran. Yang menyelamatkan orang-orang dari bencana. Dan yang mengatur seluruh benua ini sebagai kepemimpinan tertinggi.


“.... untuk mencapai sesuatu seperti itu, aku tidak punya pilihan selain menjadi lebih kuat dibanding diriku yang sekarang.”


Ikki mengatakan itu sambil mengepalkan tangan di depan matanya, menggerakkan bagian tubuh itu sebagai tanda dari tubuhnya yang hampir pulih.


Setelah beberapa menit berlalu, dia berdiri. Lyria menarik tangan Ren dan Ikki menuju tikar.


“Aku membawa banyak makanan dan teh hangat ke sini salah satunya juga untuk kalian, jadi makanlah yang banyak setelah ini, paham?” desak gadis berambut biru itu.


“a-ah ya.” jawab Ren dengan canggung.


“... tunggu sebentar.” kata Ikki tiba-tiba untuk mengehentikan mereka berdua. “Ren, ambil ini.”


Tepat setelah itu Ren menerima apa yang Ikki berikan dengan ekspresi yang menyiratkan tanda tanya di kepalanya. Pandangannya jatuh pada sebuah topeng rubah berwarna putih.


“... kupikir lebih baik jika kita menganggapnya sebagai sama-sama menang.”


“dengan begitu Ikki mendapat syal merah dari Ren, sedangkan Ren mendapat topeng rubah dari Ikki, begitu?”


“....” setelah berpikir beberapa saat, Ren mengangguk dengan: “aku mengerti.”


- Chapter 2 -


Angin dingin yang tidak ada sampai beberapa saat yang lalu, awan hitam yang tiba-tiba menutupi langit seolah menandai tanda-tanda turun hujan, kini muncul.


“Aruru, Meruru, aku harus membantu Lyria membereskan ini, katakan pada kak Claire di panti asuhan untuk menurunkan pakaian yang kita jemur tadi pagi.”


Dengan “ya!” dan “seperti katamu, kak!” Aruru dan Meruru berlari kembali ke desa. Apa yang harus sisa tiga orang lainnya lakukan sudah jelas. Mereka harus cepat membereskan ini dan kembali sebelum hujan. meskipun mereka tidak yakin apakah sedang dalam kondisi untuk bisa melakukannya atau tidak, tapi setidaknya mereka bukan dalam keadaan untuk mengeluh.


Beberapa menit berlalu sejak mereka mulai membereskan semua peralatan dan makanan yang ada.


Syukurlah hujannya masih belum turun. Ikki berterimakasih dalam hatinya. “Lyria, Ren, kita harus kembali secepatnya.” Katanya.


“aku tahu.” Balas Lyria.


“tidak perlu kau suruh juga.” kata Ren dengan muka tanpa sedikitpun kekhawatiran.


Ikki berlari dengan membawa tikar yang menjadi alas duduk mereka sebelumnya, Lyria dengan tempat bekal yang dia bawa, dan Ren dengan 2 pedang kayu di rangkulannya. Akan tetapi, entah itu Lyria, Ren, ataupun Ikki menjatuhkan semua barang itu seketika, di hadapan pemandangan yang seolah memberikan ratusan pukulan di dada mereka.


---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ---- ----


-- di hadapan mereka, terlihat pemandangan yang tidak seharusnya mereka lihat. Rasa panas yang tidak seharusnya mereka rasakan. Dan keputusasaan yang tidak seharusnya ada dalam diri mereka, tiba-tiba keluar.


“Aa--... AAAAAAAA!!!”


Tidak ada yang benar-benar tahu apakah apa mereka lihat di depan mata mereka bukanlah sesuatu seperti mimpi atau sekedar ilusi belaka, tapi dengan jelas terdengar teriakan seseorang.


“TIDAAAAKKK!!”


Suara teriakan itu terdengar sekali lagi, muncul dari seseorang yang sama, tidak ada yang berubah.


Benar, tidak ada yang berubah. Tidak peduli sekeras apapun pemuda berambut biru muda itu memukul pipinya sendiri, matanya tetap menampilkan pemandangan yang sama. Kenyataan di hadapan matanya tidak akan berubah menjadi baik.


Tidak peduli sekeras apapun laki-laki berambut merah itu berpikir dan bertanya-tanya di dalam pikirannya, kenyataan yang kesadarannya terima tidak akan berubah sama sekali.


Gadis berambut biru yang meneriakkan sesuatu beberarapa saat yang lalu seketika bergerak. “Aruru, Meruru... Claire...!”


gadis itu—Lyria, berlari melewati Ikki dengan kepanikan dan kegelisahan yang nyata di matanya. Tidak, Lyria, jangan kesana! Harap Ikki dalam hatinya, dengan mulut yang membeku seperti es, tanpa bisa mengatakan apapun.


“Tunggu! Lyria!” bentak seseorang yang dia lewati selanjutnya.


Tapi Lyria tidak menghiraukan peringatan itu bahkan setelah Ren menarik pundaknya untuk mencegah Lyria.


Ikki dan Ren tidak punya pilihan selain mengikutinya. Tapi tubuh Ikki membeku seperti telah dihantam dengan sihir pendingin skala besar. Pikirannya tidak mampu memikirkan apapun. Mulutnya Cuma cukup punya kekuatan untuk menggumankan beberapa kata “tidak mungkin... ini tidak mungkin....” beberapa kali.


“Ikki!” panggil Ren.


“....”


Tidak ada jawaban. Pemuda itu bahkan tidak yakin benar-benar mendengarnya atau tidak.


“Ikki!” panggilnya sekali lagi. “Ikki! Ikki”


*bak


Ren memukul pipi Ikki dengan setengah kekuatannya. Dia melihat laki-laki berambut merah itu setelah membelalakan matanya beberapa kali.


Ikki menggelengkan kepalanya untuk menarik kembali kesadarannya. Dia mulai menunjukkan tatapan mata serius, kemudian menangguk.


“Lewat sini!”


Ikki berlari mengikuti Ren, mengejar bayangan Lyria yang beberapa detik di depan mereka. kalau saja ini Cuma mimpi... harap Ren dalam hatinya.


“ “Lyria!” ”


Panas—adalah apa yang mereka bertiga rasakan di tempat itu. Rasa panas yang tidak akan menghilang bahkan jika seseorang mengambil seluruh air yang ada di desa untuk mengguyur mereka bersamaan. rasa panas yang akan mengubah semua bangunan di desa menjadi abu dalam beberapa jam ke depan. meski begitu, rasa panas itu bukanlah sesuatu yang dapat menyebabkan seseorang terpanggang hanya dengan diam tanpa melakukan apapun dalam beberapa menit setelah itu.