
Ren Arvelight
Laki-laki 14 tahun, seorang petualang rank D sekaligus rekan satu party Ikki. Mereka menjadi petualang sejak 4 tahun yang lalu.
di dunia ini, di Verdernia, rank petualang dibagi menjadi 9; SSS, SS, S, A, B, C, D, E, dan paling rendah adalah F.
Rank SSS hanya ada dalam legenda. Mengikutinya adalah SS dan S-- rank tingkat lanjut dengan tingkat kesulitan yang nyata untuk mencapainya.
Karena tidak seperti peningkatan untuk rank C ke B atau B ke A, peningkatan untuk rank A -> S tidak cukup untuk sekedar disebut ‘sulit’ belaka, begitu juga dengan S -> SS, apalagi SS -> SSS yang dikatakan butuh perjuangan ratusan tahun untuk mencapainya.
Itulah sebuah sistem yang secara khusus mewakili kemampuan para petualang. Akan tetapi, meskipun Ren Arvelight tercatat sebagai petualang rank D pada kartu, kekuatan pemuda ini yang sebenarnya bahkan telah melampaui petualang rank C pada umumnya. Bisa dibilang, Ren setara dengan para petualang rank B.
Kurangnya aether (sebutan untuk monster di Verdernia) yang bisa diburu di sekitar desa adalah salah satu dari beberapa alasan ketidakcocokan peringkat Ren.
“.... Ikki, berapa skor kita terakhir kali?” tanya Ren dengan mata yang sedikit mengingat-ingat.
“.... hmm... 499 kali kalah, 0 kali menang. Ada apa dengan itu?”
“tidak.” Ren menggeleng. “aku penasaran pada giliran keberapa angka 0 itu akan berubah. Kupikir kau bisa menang setidaknya satu kali sebelum duel kita yang ke-501, tapi tidak begitu kelihatannya. Itu karena aku dalam kondisi terbaikku sekarang.”
“yah, siapa yang tahu tentang itu? bisa saja aku benar-benar beruntung kali ini... Aruru, ambilkan aku satu sandwichnya.” Sementara mengambil pedang kayu yang bersandar pada pohon dengan satu tangannya, Ikki menyuruh Aruru mengambil sandwich untuk setidaknya menutupi rasa lapar sementaranya. Tepat setelah itu Ren memberikan perintah yang hampir serupa.
“Aruru, ambilkan aku yang banyak tomatnya.”
“ya.” jawab Aruru. Dia mengambil dua buah sandwitch dengan satu yang terdapat banyak tomat di dalamnya. “ini untuk kak Ikki, dan ini untuk kak Ren.” Ikki dan Ren mengambil masing-masing satu sandwich yang dia serahkan, kemudian memakannya dengan satu tangan sementara tangan satunya membawa pedang, berjalan membuat jarak sekitar 5 meter di antara mereka.
Bisa dibilang ini seperti rutinitas bagi dua petualang bernama Ikki dan Ren. Benar, tapi bukan berarti mereka melakukannya setiap satu hari satu kali. Terkadang mereka melakukannya setiap 2 hari sekali, kadang juga 3 atau 4 hari sekali; mereka akan melakukan duel untuk mengisi kekosongan hari libur saat Ikki dan Ren tidak pergi mengambil misi.
Di dunia ini, di Verdernia (nama dunia ini) status dasar dibagi menjadi 8, meliputi Life, Ether, Strength, Vitality, Defense, Agility, Accuracy dan Intelligence.
Sementara itu skill dibagi menjadi 4; meskipun hampir tidak ada orang yang benar-benar mengisi semua slot tersebut dengan setidaknya 1 skill; meliputi Art, Ablity, Scared Ability dan Equipment Ability.
Ren Arvelight adalah seorang berbakat dengan tingkat Strength, Agility, dan Intelligence yang tinggi—tidak cuma itu. jika kamu melihat keseluruhan bakat dalam statusnya, maka Ren memiliki angka maksimal ether yang juga tinggi-- tapi bukan semua itu yang paling membuatnya menjadi seseorang yang berbakat.
-- scared ability. Disebut juga skill langka yang hanya 1:10.000 orang di dunia ini memilikinya, dan Ren Arvelight termasuk dalam 1:10.000 orang yang mendapatkan keberuntungan tersebut. Dia dianugerahi dengan scared ability yang mampu mengendalikan benda-benda di sekitarnya, dengan persyaratan tertentu untuk menggunakannya—‘Telekinesis’.
Tidak hanya Ren. Sama sepertinya Ikki juga termasuk dalam 1:10.000 orang yang beruntung mendapatkan skill itu. tapi dibandingkan dengan mereka, keberuntungan Ikki bukanlah sesuatu yang bernilai apapun, tidak bernilai sama sekali. Dia memiliki scared ability yang kuat, yang mampu membantunya untuk meraih apa yang menjadi keinginkan terdalam Ikki. Akan tetapi bukan seperti itulah kenyataan yang Ikki harus hadapi.
Karena keinginannya itu dia berlatih sejak kecil. Waktu luang hanyalah apa yang disebut ‘istirahat’ baginya. Bagi Ikki, yang mengejar keinginan yang begitu besar, tak ada pilihan selain memaksakan tubuhnya melalui pelatihan yang keras dan begitu menyakitkan.
Ketika tidak ada pekerjaan dia akan pergi mengayunkan pedang kayu ratusan, bahkan ribuan kali. Di pagi buta Ikki memulai lari pagi untuk setidaknya 5 km; meningkat ke 20 – 25 km akhir-akhir ini. Dan latihan-latihan lain seperti itu.
Dengan mengasah kemampuan fisiknya, Ikki berharap akan ada perubahan yang signifikan dalam statusnya.
Hasilnya Life Ikki meningkat pada tingkatan yang sulit dibayangkan untuk seorang anak 14 tahun pada umumnya. Strength, Defense, dan Agilitynya juga meningkat dalam tingkatan yang luar biasa.
Meski begitu....
-- Ether: 5/5
Jumlah Ether maksimal Ikki hampir tidak meningkat sama sekali semenjak dia memulai semua latihan kerasnya, tidak, bahkan sejak dimulainya kehidupan Ikki. Orang biasa seperti Lyria bahkan memiliki 300 maksimal ether dalam statusnya, yang berarti 60 kali lipat dari milik Ikki.
Dengan begitu, scared ability yang Ikki dapatkan dengan beruntung—‘Plants Creator’ menjadi keberadaan yang sia-sia, sama sekali tidak bernilai dan tidak ada gunanya.
“.... karena ini adalah duel kita yang ke-500, bagaimana kalau mempertaruhkan sesuatu?”
Ren tiba-tiba mengangkat topik yang tidak biasa. Biasanya mereka hanya akan mulai dengan mempersempit jarak, bertukar beberapa hantaman pedang dan menentukan pemenangnya, tapi Ren memulai pembicaraan sebelum itu.
“heeh... menarik...”
Mempertaruhkan sesuatu, kah... kalau kuingat-ingat lagi, aku tidak punya apapun yang bisa kupertaruhkan.
“kalau begitu...” Ren menujuk sebuah item di sekitar pinggang Ikki. “bagaimana dengan itu? itu kelihatannya bagus. Sejak kapan kau membelinya?”
Ikki mengikuti arah yang dia lihat dengan melihat suatu item yang sama, pandangannya jatuh pada sebuah topeng rubah berwarna putih. “maksudmu topeng ini...?”
Benar juga, cukup jarang melihat seseorang menjual topeng rubah seperti itu di desa, apalagi jika terbuat dari kayu. Kalaupun ada, harganya mungkin sekitar 3-5 perak.
-- Sebagai perbandingan, mata uang di Verdernia dibagi menjadi 3.
Jika disusun dari nilai terbesar maka adalah emas, perak, dan perunggu. Satu emas berarti 100 perak dan 1 perak berarti 100 perunggu. Bisa dibilang pembagian desimal yang sederhana, orang-orang yang tidak pernah belajar menghitung sekalipun takkan terlalu kerepotan dalam hal ini.
Untuk topeng rubah seharga 3 koin perak (setara dengan 15 hari penginapan murah lengkap dengan sarapan dan makam malam) harus ada pertukaran yang setara. Yah, contohnya...
“.... kalau begitu, Ren, berikan itu padaku jika kau kalah.” Sambil menunjuk sebuah syal merah di leher Ren, Ikki memasang senyuman provokatif. “aku ingat kau tidak punya lagi yang seperti itu.”
“aku juga ingat pernah bilang padamu kalau aku membuat ini sendiri. Tapi jika kau sebegitu menginginkannya, tak ada pilihan lain.”
“hehem...” Ikki sedikit tertawa karena ketidaktahuan Ren akan hal itu. sekali lagi, kau terlalu cepat mengambil kesimpulan, Ren. “.... dan kau tahu? Aku juga membuat topeng rubah ini sendiri. Lebih tepatnya sejak tiga hari yang lalu.”
Tanpa menunggu reaksi dari pihak lain, mereka membuat kuda-kuda masing-masing. Ikki melebarkan kakinya ke depan, mengangkat pedangnya melalui dua tangan rampingnya dengan ujung pedang yang condong ke arah lawannya. Ren mengibaskan pedangnya dengan satu tangan ke samping bawah, membuat kuda-kuda dengan tubuh 45 derajat ke samping kanan. Satu, dua detik berlalu. Mereka saling memandang dengan tatapan mata yang serius.
3, 4 detik berlalu.
Bunyi kaki yang mendorong permukaan tanah terdengar. Masing-masing dari mereka melesat pada detik kelima.
*Klang!
Kedua pedang yang saling menghantam berbunyi di saat yang sama. Dengan tenaga yang lebih kuat, Ikki mendorong pedangnya ke depan. tetapi dia segera menyadari sesuatu yang tidak seharusnya-- Pedang yang dia dorong bergerak terlalu mudah.
Ren dari awal tidak punya niat untuk beradu pedang secara langsung dengan musuhnya. Melainkan dia sengaja mengurangi tenaga yang dia berikan, melangkah dengan kaki kiri sambil membelokkan pedangnya ke samping. Mata pedang dari pedang Ren menggesek mata pedang Ikki dengan pedang itu sendiri menghadap ke belakang.
Bahaya....! pikir Ikki.
Jika dia tidak melakukan apapun, dan jika itu adalah pedang sungguhan bukannya pedang kayu, leher Ikki akan terpotong di detik berikutnya.
Akan tetapi, seluruh latihan dan duelnya telah membentuk kecepatan reaksi Ikki untuk setidaknya mampu memberikan balasan.
Ikki memiringkan pedang kayu bermata duanya, menghadapkan tubuhnya pada Ren sambil menggeser pedang kayu miliknya di saat yang sama. mata pedang yang seharusnya menggesek mata pedang Ikki kini meluncur di punggung pedang.
Ikki membuat usaha untuk menendang kaki kanan Ren yang saat ini bukanlah pilar utama dalam menopang tubuhnya dengan kaki kiri.
Memutar kaki kanannya 180 derajat dengan kaki kiri sebagai poros, memanfaatkan tanah sebagai pijakan sebelum mengayunkan kaki kanannya sekali lagi 180 derajat di udara, Ren memanfaatkan gaya sentrifugal untuk menendang wajah Ikki dengan kaki kanannya.
Ikki menghindar dengan menurunkan badannya secepat yang bisa. Kemudian, dengan pedang di tangan kanannya menebas dari kanan bawah secara diagonal untuk menghempaskan Ren bahkan jika ia berhasil menangkisnya di udara.
Tapi Ren tidak benar-benar menangkisnya. Dia menekan mata pedang Ikki dengan mata pedangnya, membuat gaya dorong dari pedang Ikki untuk memutar tubuhnya 360 derajat di udara. Dalam gerakan itu Ren menebaskan pedangnya secara vertikal dengan sebuah pedang pada genggaman kedua tangannya, mengeluarkan tebasan sekuat tenaga untuk langsung mengenai bagian atas tubuh Ikki.
Namun Ikki menarik kembali pedannya, membentuk posisi bertahan dengan punggung pedang yang direntangkan. Pertukaran kekuatan yang terjadi mendorong Ikki untuk memperkuat kembali pijakan kakinya. Kemudian, Ikki menghempaskan pedangnya untuk mendorong Ren menjauh. --- ---
Jarak tercipta 2 meter dari tempat Ren mendarat dengan kedua kakinya memijak tanah. Bersamaan dengan itu Ren mendorong tanah dan melesat seolah tidak ada jeda dalam pergerakannya, menebas secara horizontal.
Ikki menancapkan pedangnya pada tanah. Memperkuatnya dengan buff (efek tambahan yang bersifat positif pada suatu objek) sebelum tebasan Ren menghantam pedang Ikki dengan kuat.
Ikki mengayunkan tubuhnya dengan gagang pedang sebagai poros dan tumpuan untuk berat badannya. Menggunakan gaya yang terjadi untuk mendorong lebih kuat kaki kanannya dengan kepala Ren sebagai tujuannya. Akan tetapi, Ren berhasil menahan serangan tersebut dengan tangan kirinya.
Ikki memutar tubuhnya menghadap atas, meraih leher Ren dengan kaki kiri, menguncinya sekaligus tangan Ren yang menghalangi kaki kanan Ikki sebelum menarik tubuh Ren dari tanah, berniat melemparkan Ren kembali untuk menghantam tanah di sisi lainnya.
Namun, sebelum niat Ikki sempat terealisasikan, Ren mengaktifkan buff kekuatan pada tangannya, membuka kuncian yang mengapit tubuh Ren sejak beberapa detik yang lalu. tubuh Ren kemudian terlempar sekitar 3 meter dari Ikki.
waktunya mulai serius dari titik ini. pikir Ren.
Sekali lagi, Ren melesat seolah tanpa jeda di pergerakannya, namun dengan strategi yang jauh berbeda.
Dia menebas dari kanan atas, diikuti tebasan Ikki untuk mengimbanginya. Akan tetapi,
“.... argh!!”
Seolah menyiratkan bahwa usaha Ikki adalah sesuatu yang sia-sia, tiga kerikil berapi menghantam dada dan perut Ikki.
Begitu. Kau benar-benar melakukannya kali ini. Ini jadi makin menarik. Pikir Ikki.
-- telekinesis dan sihir api.
Ren mulai menggunakan apa yang Ikki tidak bisa gunakan seolah hal itu menandai dimulainya ronde kedua.
Bahkan tanpa berlatih keras sekalipun, jika hanya melihatnya dari kemampuan fisik dan tehnik bertarung murni Ren Arvelight kurang lebih setara dengan Ikki. Tapi semua kesetaraan itu berubah ketika sihir dan scared ability dimasukkan ke dalamnya, dimana Ikki tidak punya cukup ether untuk menggunakan mereka.
Normalnya, Ikki yang kalah dalam beberapa poin takkan memiliki kesempatan untuk meraih kemenangan melawan Ren. Dan memang seperti itulah kenyataannya, setidaknya sampai duel mereka yang ke-499.
Tapi tidak kali ini, Ren, aku tidak akan kalah darimu.
Ikki selalu berpikir seperti itu di setiap pertandingan-pertandingan sebelumnya. Dan dia mendapat 499 kali kekalahan sebagai hasilnya, tanpa sekalipun mewujudkan pernyataan tak beralasan tersebut sama sekali.
Akan tetapi, meskipun begitu...
Kenapa... kamu masih bisa membuat senyuman seperti itu? seolah kamu tahu kalau kamu akan menang kali ini, Ikki.
Sekali lagi, Ren mengayunkan pedangnya pada pertahanan Ikki yang terbuka, serangan diagonal dari kanan bawah. Mata Ikki bergerak dengan panik. Dia menebaskan pedangnya untuk menahan serangan Ren dengan reflek, bahkan tanpa kesadarannya sendiri sempat menyadarinya.
“...!”
Meski begitu serangan Ren bukanlah sesuatu seperti ayunan pedang biasa seperti sebelumnya. Ikki menyadari dengan panik fakta itu-- bilah pedang Ren secara keseluruhan diselimuti dengan api kemerahan. Tidak ada tempat baginya untuk bertahan.
Jika dia bersilangan pedang dalam beberapa detik saja, pedang kayu yang dia bawa akan dengan cepat terbakar. Menyadari hal ini, Ikki segera menarik kembali pedangnya.