
- Chapter 1 -
Dewa kejam yang coba menghancurkan dunia ini, keberadaan yang disebut sebagai “diktator kehidupan”, benar-benar ada di dunia ini.
500 tahun yang lalu, untuk mengalahkan sang diktator, lima puluh dua pahlawan pemberani berdiri dan melawan.
“Argonaut”—mereka disebut sebagai kelompok yang memburu dewa. Setiap dari mereka memiliki ras dan usia yang berbeda. Setiap dari mereka menyimpan kekuatan luar biasa yang tidak normal bagi dunia ini.
Salah satu dari mereka memiliki kekuatan untuk mengendalikan apapun di sekitarnya.
Salah satu dari mereka memiliki kekuatan untuk mewujudkan kehendak dan keinginannya.
Dan salah satu dari mereka memiliki kekuatan untuk menciptakan sesuatu di luar akal sehat dunia ini.
Mereka berangkat, menuju perjalanan besar untuk mengalahkan sang diktator. Bertahun-tahun, mereka bepergian bersama melewati berbagai kesulitan, melewati masa-masa senang, sedih, dan pertentangan; mereka berjuang untuk menyelamatkan dunia dari tangan sang dewa.
Di antara ke lima puluh dua orang itu, ada satu orang yang jauh lebih seperti pahlawan dibandingkan yang lainnya.
Dialah orang yang menjadi pusat dari kelima puluh dua pahlawan, yang mengumpulkan dan membimbing mereka dari awal.
Dialah orang, yang dengan gagah berani berdiri di garis paling terdepan, melindungi yang lain di belakangnya.
Dan dialah orang, yang menjadi satu-satunya yang diberkahi dan paling dicintai oleh sang dewi.
~**~
“Ikkiii~! Reen~!”
*Buk
Ikki menutup buku cerita tua di tangan kanannya. Buku tua bersampul merah gelap itu menutup dengan garis senyum di wajah pemegangnya. Yap... sampai sini dulu untuk hari ini. akan tetapi, dia, pemuda itu mendapati tatapan mata dari dua anak kecil yang berbinar-binar sampai beberapa saat yang lalu berubah menjadi murung.
“aahh...! curang! Bacakan lagi ceritanyaa~!”
“iya, iya! kak Ikki, bacakan lagi ceritanyaa~!”
Anak kecil sekitar usia 7 atau 8 tahun menggoyangkan tubuh pemuda berambut biru muda tersebut untuk menuntutnya. Akan tetapi, tidak peduli apakah mereka melakukan itu dengan sekuat tenaga mereka atau tidak, si pemuda tidak sedikitpun menunjukkan respon di atasnya. “ekhm!” ia berdeham untuk menegaskan kembali tindakannya.
“nah, dengarkan aku. Lyria ke sini dengan makanan enak untuk semuanya. Bagaimanapun juga, sebuah cerita akan jadi lebih menarik jika kita membacanya di waktu yang tepat. Dan adik perempuanku itu datang di waktu yang tepat. Percayalah padaku, Aruru, Meruru, tidak peduli hal apapun itu, rasanya akan jadi puluhan kali lebih enak di tempat yang ada makanannya.” Melihat wajah Aruru dan Meruru yang mendapatkan tanda tanya di atas kepala mereka, Ikki menarik garis lengkung di pipinya, melanjutkan. “selesai makan nanti kalian minta adik perempuanku, kak Lyria, untuk membacakan lanjutannya, oke?”
Melihat kesempatan yang Ikki sebenarnya tunggu kedatangannya sejak beberapa jam yang lalu, dia, tidak bisa untuk tidak memanfaatkan kepolosan dari dua adik kecilnya yang super imut itu-- dan kebaikhatian dari seorang gadis bernama Lyria yang datang menyapanya. dengan begitu, dia melepaskan tanggung jawab yang seharusnya dia emban, mengalihkan pekerjaan yang dia pikir merepotkan pada orang lain yang mungkin lebih baik mengerjakannya.
Hanya satu hal yang akan pihak ketiga katakan atas kata-kata yang baru saja pemuda itu ucapkan—‘penipuan’, atau mungkin, ‘pembodohan’. Tidak salah lagi hari ini adalah hari dimana laki-laki bernama Ikki mendapatkan gilirannya mengurus adik perempuan dan adik laki-laki yang dia anggap sedikit merepotkan itu—Aruru, sang kakak, dan Meruru sang adik.
Dan dengan sedikit kata-kata untuk mempengaruhi dua anak kecil di hadapannya, pemuda itu mendapatkan kesempatan dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan apa yang ingin dapat dia lakukan.
Meruru, sang kakak perempuan memberikan jawaban positif atas permintaan itu, disusul adiknya dengan “yap, sesuai perintahmu, kak Ikki!” mereka yang tidak sadar akan kejahatan sang kakak laki-laki kemudian duduk tenang di samping kanan dan kiri Ikki, di atas tikar yang mereka sudah siapkan sebelumnya.
*buk
Gadis 14 tahun dengan rambut biru sepanjang pinggang, kulit putih dan wajah yang imut, dengan pakaian berenda yang cocok untuk usianya, mengayunkan bekal berat yang dia bawa untuk dengan sengaja mengenai pundak Ikki seperti hal itu adalah sesuatu yang wajar. Dengan begitu, dengan muka yang menunjukkan sosok seorang ‘korban’ dari sebuah kejahatan tertentu, Ikki berdiri.
“hei, rasanya akan jadi sakit jika tenagamu sedikit lebih kuat, Lyria. Jangan mengayunkan benda seberat itu pada orang lain dengan sengaja! Apa kau dengar aku? Dasar adik perempuan!”
Meski begitu, si adik perempuan— tidak, bukan itu, Lyria yang Ikki sudah anggap sebagai ‘adik perempuan’, membalas.
“jangan memanggilku seolah aku ini adik perempuanmu, bodoh! Ikki bodoh! Aku lebih tua darimu! jadi akulah yang seharusnya jadi kakak perempuan! Lagipula, hari ini adalah giliranmu mengurus anak-anak, kan? Jangan seenaknya menyuruhku melakukan tugasmu saat kau sendiri ingin bermalas-malasan! Apa kau dengar aku? Dasar adik laki-laki!”
“anak-anak ingin mendengar suaramu, Lyria. Bukankah kau selalu memamerkannya di kamar mandi dan di kamarmu setiap malam? Membaca satu atau dua cerita untuk mereka bukanlah hal yang merepotkan, bukan? Dan aku lebih tua darimu, jadi kaulah yang adik perempuanku!”
“Diam, bodoh! bu-bukan berarti aku bermain musik untuk memamerkannya padamu! Dan seharusnya kau sadar untuk tidak melebih-lebihkan usiamu, dasar adik laki-laki!”
-- Meruru Asterisk
-- Aruru Asterisk
Kedua orang tua mereka meningglkan Meruru dan Aruru di panti asuhan sejak mereka berdua masih bayi. Tanpa seorangpun ketahui identitas orang tua dua anak itu yang sebenarnya. Dan bahkan setelah Ikki dan Lyria bertanya pada hampir setiap orang di desa terdekat juga, mereka tetap tidak menemukan hal yang penting bahkan untuk setidaknya disebut sebagai ‘petunjuk’. Dengan begitu, nama belakang Meruru dan Aruru—‘Asterisk’, diambil dari panti asuhan tempat dua anak itu dibesarkan.
-- Lyria Riveanderite
Kedua orang tua Lyria meninggal saat gadis ini baru menginjak sia 3 tahun. Dia tidak punya kerabat dan tidak ada yang mau merawatnya. Panti asuhan mengambil dan merawat Lyria sejak saat itu. Ikki menjadi kakak/adik laki-laki baginya, sementara Meruru dan Aruru menjadi adik perempuan dan adik laki-laki untuk mereka. ditambah kakak tertua, Claire, panti asuhan berubah menjadi tempat yang lebih ramai dibanding sebelumnya.
Dataran hijau yang luas, tiupan angin yang menyegarkan dan akan membuatmu merasa nyaman. Pohon besar yang menjadi sandaran Ikki dan dua orang di sebelahnya menjatuhkan beberapa helai daun setelah hembusan angin menerpanya. Laki-laki berambut merah yang sebelumnya duduk sampai beberapa saat yang lalu melompat turun tepat setelah menutup bukunya dan menghela napas.
*buk
Syal merah yang menjadi simbol dari laki-laki itu berkibar sementara kakinya menyentuh tanah. “haah~” dia menghela napas sekali lagi. “jika kalian masih ingin bertengkar tentang siapa yang kakak dan siapa yang adik, bisa tolong lakukan itu di tempat lain? Aku yakin akan tertidur sebentar lagi jika tidak ada orang-orang yang dengan tidak sengaja menggangguku. lagi pula, hal itu takkan ada akhirnya jika kalian hanya melihatnya dari seberapa lama kalian hidup. Maksudku, setidaknya tentukan itu dari tingkat kedewasaan atau tingkah laku kalian.”
“dengan begitu, Lyria.”
Bagi beberapa orang, hubungan untuk ‘kakak laki-laki dan adik laki-laki’ biasanya tidak berlangsung dengan baik (pengalaman pribadi). Ada beberapa hal yang mendasari terjadinya hubungan seperti ini. sebagai contoh, ambil saja, pernyataan dimana hal tersebut didukung oleh sifat manusia yang ingin terlihat ‘keren’ di mata orang-orang yang mereka temui. Akan tetapi, hal yang aneh dari itu adalah keinginan untuk terlihat keren di mata saudara laki-lakimu bukanlah sesuatu yang bisa membuatmu merasa bersyukur atau apapun, tidak sama sekali.
Dengan begitu, di sisi lain pasangan ‘kakak perempuan dan adik perempuan’ jugalah memiliki teritori-teritorinya masing-masing.
Dibandingkan dengan kedua kondisi tersebut, ‘kakak laki-laki dan adik perempuan’—atau bisa dikatakan sebaliknya, adalah pasangan yang relatif paling mendapati hubungan baik di antara keduanya.
Dan untuk mereka (sang kakak), dalam teritori-teritori kakak laki-laki dan adik perempuan untuk mengembangkan hubungan baik tersebut biasanya mengenal 3 gaya utama untuk dipilih:
Yang pertama adalah gaya menutup jarak.
Itu adalah sebuah gaya yang biasa dilakukan dengan mempererat jarak dengan adikmu dengan membelikan sesuatu untuk adikmu di saat-saat tertentu, mengobrol sambil saling berbagi rahasia dan makanan, atau menghibur sang adik ketika datang waktu yang tepat untuk menghibur.
Dengan memilih gaya ini, kamu akan ditempatkan dalam hierarki tertinggi sekaligus menjadi seorang kakak yang dapat diandalkan. Kamu akan disebut sebagai seorang ”kakak yang perhatian dengan adiknya”, seorang “kakak yang dekat dengan adiknya”, atau paling bagus seorang “kakak yang baik hati”.
Dari ketiga gaya utama yang bisa dipilih pengguna gaya ini adalah yang tertinggi dari segi kuantitas. Dan mungkin, bisa dibilang juga adalah cara termudah untuk mendapatkan kepercayaan dari adikmu. sangat direkomendasikan untuk pemula.
Yang kedua adalah gaya perang gerilya.
Itu adalah taktik dimana kamu menjadi teladan dengan memperlihatkan sisi-sisi paling baik dalam dirimu. Menunjukkan keberhasilan dunia luar dan mengerjakan tanggung jawab di dalam, mengembangkan hubungan sosial yang sehat serta memperlihatkan cara berperilaku dengan baik-- hanya ketika adikmu memperhatikanmu.
Tapi dengan begitu juga berarti bahwa kamu mengambil resiko yang luar biasa. Yaitu ketika adikmu di masa depan sadar akan semua hal baik yang kamu tunjukkan ternyata tak lebih dari sekedar kebohongan yang dibuat-buat, sesuatu yang tidak benar-benar kamu miliki.
Ditambah lagi, hal yang membuat stlye ini berubah menjadi sesuatu yang sulit adalah ketika kamu mungkin tampil sebagai contoh yang paling sempurna, pihak lain malah menginginkamu menjadi sosok manusiawi yang juga bisa berbuat salah.
Pilihan yang sulit dan beresiko. Tidak banyak yang mengambil gaya ini bagaimanapun juga.
Yang ketiga adalah gaya bertempur onii-chan (kakak laki-laki, bahasa jepang)
Kamu dengan berani menempatkan adikmu dalam situasi yang ‘dramatis’, dan dengan akurat menjawab apa yang paling diinginkan oleh sang adik. Sebagai contoh, tipe kakak seperti ini biasanya ditandai dengan kalimat “kau adalah adikku, (nama), sudah jelas jika aku akan melindungimu!” atau “sebagai seorang kakak, aku takkan pernah meninggalkanmu, (nama)!” atau “akan kukorbankan segalanya, (nama), karena aku adalah kakakmu!” atau sesuatu semacam itu.
Ikki mengambil gaya bertempur oniichan kali ini dan memandang wajah imut Lyria dengan senyuman tulus seorang kakak laki-laki. Pada tangan kanannya terletak sensasi rambut biru langit yang terasa selembut dan sehalus sutera. Dia berkata sambil meneruskan gerakan mengusapnya:
“tidak peduli hal apapun yang akan terjadi mulai dari sekarang dan seterusnya, aku akan selalu melindungi dan menyelamatkan adik perempuanku yang manis ini. ini adalah janji dari seorang kakak laki-laki pada adik perempuannya, bukan sesuatu yang bisa kau anggap remeh, tahu?”
hehem, aku sudah terlihat seperti seorang kakak laki-laki yang dewasa sekarang... pikirnya
Akan tetapi dia tidak mendapatkan respon sebagaimana keinginannya. Muka yang memerah seperti terserang panas matahari skala tinggi, mata yang seketika membesar dan nada tiba-tiba menjadi tinggi, Lyria membentaknya:
“ka-kau tidak perlu mengatakan sesuatu yang menjijikkan seperti itu, bodoh!”
Ditambah satu injakan kaki, Ikki mendapati akhir dengan memegangi satu kakinya sambil melompat-lompat dangan kaki satunya.
“kukatakan ya! a-aku tidak pernah mengakuimu sebagai kakakku, ok?! Memang aku terlihat lebih seperti anak kecil sesekali! Tapi bukan berarti kau menjadi lebih dewasa hanya karena itu!”
Tidak, kau salah, Lyria. Mencari kesempatan untuk mendapatkan waktu luang, menyerahkan semua pekerjaan pada orang lain saat kau punya kesempatan untuk melakukannya, ataupun menipu orang lain untuk kepentingan dirimu sendiri, itulah artinya menjadi orang dewasa.
“Ikki yang tidak pernah berubah dari dulu, tidak akan paham dengan apa yang aku rasakan! Aku—“
*Krrrr~
Lyria yang masih meneruskan kata-katanya dipaksa menelan kembali kata-kata itu. apa yang menghentikannya adalah bunyi perut kelaparan di bawahnya. “.... ....” Waktu berhenti beberapa detik. Semua orang, termasuk Aruru dan Meruru melepaskan tawa sesaat setelah itu.
“.... kak Lyria yang tadi lucuu~”
“.... yah, kak Lyria tidak kereen~”
“kau dengar itu, adik perempuan. Tapi yang tadi itu sedikit imut, ekspresimu—arhh, sakit sakit ...”
Tangan putih nan lembut Lyria- tidak, bukan saatnya memuji tangannya; menarik telinga Ikki sekencang yang ia bisa lakukan. Untungnya kekuatan Lyria hanya ada dalam batas seorang gadis kecil yang lemah lembut. Bahkan tarikan sekuat tenaganya masih belum cukup untuk disebut sebagai serangan fatal.
tapi, rasanya sakit juga... pikir Ikki.
Ditambah satu injakan kaki ke kaki Ikki yang satunya, pemuda yang tidak merasa berdosa itu tak punya pilihan selain memeluk bagian yang sakit sambil mengerang kesakitan.
“... orang sepertimu seharusnya menghilang saja!!”
Bentak Lyria, sebelum duduk untuk mengeluarkan makanan dan minuman dan menatanya di atas tikar.
Aaahh... apasih yang kulakukan?! Kenapa aku harus selalu jadi begini di depan Ikki? Aku bodoh bodoh bodoh... pikir si gadis berambut biru.
“yah, baiklah.” Kata si pemuda berambut biru muda sambil mendirikan tubuhnya dengan bersemangat. “nanti juga sembuh sendiri. Daripada itu... Ren!”
Kakinya tersandung batu karena panik, pikirnya sesaat, tapi bukan begitu kenyataannya; batu yang menyandungnya juga disebabkan oleh Telekinesis. Sesaat ketika Ikki menyadari hal itu, semuanya sudah terlambat. Pedang berapi Ren meninggalkan luka gores tepat di pipi kiri Ikki, menghantam pedang di tangan kanannya sehingga pedang tersebut terlempar jauh ke langit.