Fantasy and Ether Record

Fantasy and Ether Record
Episode 15



- Chapter 15 -


07.00.


Pagi hari. Burung-burung berkicau dan matahari bersinar dengan cerah—mungkin hanya ratu dryad yang mengagumi pemandangan seperti itu.


“hei, jelaskan padaku, dryad! Apa maksudmu dengan gadis itu akan dikirim?!”


Tiga orang berjalan dengan cepat dipimpim seorang werebeast berambut hitam yang memasuki aula kerajaan dengan tidak sopan, matanya terisi dengan pandangan mengantuk sebagaimana orang itu yang biasanya.


“.... darimana kamu mendengarnya?” tanya Ethena.


“darimana? Orang tua berkumis aneh itu berkata kalau Edea akan dikirim, dan tidak ada pilihan lain; apa maksudnya? Pada siapa? Untuk apa dia dikirim? Kenapa orang itu mengatakannya seolah itu adalah pilihan terakhir?”


“begitu, yah... tidak ada yang harus disembunyikan juga. Lagipula tugas kalian sudah selesai.


Ethena menceritakan semuanya pada mereka tentang kenyataan bahwa Edea akan dikirm pada enfinity itu. Dengan mengirim Edea, para raja dan ratu seraphim berharap enfinity itu akan berhenti menyerang Tenebris.


“kenapa harus Edea?” tanya Fylia. “nah, kenapa harus Edea yang dikirim ke orang jahat itu? Apakah Edea melakukan kesalahan sehingga Edea harus dihukum? Kumohon maafkan dia, ratu dryad. Fylia pikir seseorang tidak seharusnya dikorbankan seperti itu.”


“sudahlah, Fylia. Lupakan saja orang tidak tahu diri itu. Dia pantas mendapatkannya.” Zen mengatakannya dengan acuh tak acuh, seolah Edea hanyalah keberadaan yang setingkat dengan serangga.


Sebenci apa Edea terhadap enfinity, kenyataan kalau gadis itu mengatakan hal kejam pada Fylia yang masih tak sadarkan diri, dia, Fylia tidak mengetahui apapun tentang itu. Tapi bagaimana jika misalkan Fylia mengetahuinya? Apakah gadis itu tetap akan memperlakukan Edea dengan baik? Tentu saja, jawabannya adalah ‘ya’. Fylia bukanlah tipe orang yang bisa membenci orang lain bahkan jika dia berusaha untuk membencinya.


“Edea... “ Ethena memulai kata-katanya. “... nasib seraphim berada di pundaknya. Saya merasa sangat bersalah mengembankan beban seberat itu di pundak kecil Edea. Tapi.... seperti yang raja Salamander telah katakan, tidak ada pilihan lain. Jika ternyata anak itu gagal, satu-satunya pilihan adalah menuruti permintaan sebelumnya.”


“....--- ta-tapi... itu sama saja dengan...” suara Ikki patah di bagian awal. Tentu saja apa yang baru saja ratu dryad katakan mengejutkannya.


“tentu saja, artinya kami harus menyerahkan raja dan ratu seraphim tanpa terkecuali. Karena itulah kukatakan pada kalian, tugas kalian sudah berakhir. Dari awal seraphim memang tidak seharusnya berutang pada enfinity.”


“jadi dimana gadis itu, Edea, ada dimana dia sekarang?” tanya Ikki.


“kami akan menyerahkannya besok pagi, Edea mengurung diri di kamarnya sejak keputusan itu dibuat. Dia pasti sangat membenciku sekarang.—hei, tolong tunggu, mau kemana kalian?”


~**~


Setelah berkeliling ke berbagai tempat dan akhirnya menemukan seorang pelayan untuk ditanyai, mereka bergegas ke kamar Edea.


“Edea, buka pintunya!” Ikki berteriak. “bukankah kau sangat menyukai dunia ini? kenapa kau tidak menolaknya? Yah, jika kau menolaknya pemimpin ras akan dikirim menggantikanmu, karena itulah kau tidak menolaknya. Tapi bagaimana dengan semalam? Kau bilang ‘cukup kalahkan naga perak itu dan pergilah dari dunia ini’ bagaimana mungkin ini jadi kau sendiri yang akan pergi? Gadis muram sepertimu, berhentilah mempermainkanku!”


“kenapa kau sangat mempedulikannya? Orang seperti dia tidak layak mendapat belas kasihanmu.”


“Zen jangan bicara seperti itu! Edea juga... Edea juga sudah Fylia anggap sebagai teman.”---


“jadi kalian ada di sini.” Ratu dryad menghampiri mereka. “tidak ada gunanya meminta Edea keluar, saya sudah melakukannya berulang kali.”


『 Biarkan aku yang menyuruhnya keluar. Katakan apa yang akan kukatakan. 』


Suara Aria muncul secara tiba-tiba. Ikki menghilangkan semua keraguan dalam dirinya dan mengangguk.


“siapa sangka, kau masih sama keras kepalanya seperti dulu, Edea.” Ikki mengatakan hal yang tidak akan semua orang menyangkanya. Zen, Fylia dan Ethena melihatnya dengan tidak percaya.


“kau tidak berubah sejak 500 tahun yang lalu.” Ikki melihat di bawah karpet merah, mengambil sebuah item di bawahnya kemudian memasukkan item itu untuk membuka kunci kamar Edea.


“.... jangan-jangan kamu....”


Menghiraukan dugaan Ethena, Ikki masuk ke dalam rauangan diikuti ketiga orang lain setelah beberapa detik berpikir.


“maaf aku masuk seenaknya. Ethena, ambilkan aku item mecha-ba S’realization device yang Akira berikan 500 tahun yang lalu.” Ikki semakin bicara dengan tidak jelas.


Edea membentak. “kenapa kau seenaknya masuk—tidak, sebelum itu kenapa kau seenaknya menyuruh ratu untuk--”


“tidak apa, Edea. Aku akan pergi mengambil item itu sebentar.”


Mecha-ba S’realization device adalah singkatan dari mechatronic-based soul realization device, yang telah dibuat sejak 500 tahun yang lalu.


Setelah beberapa menit, Ethena kembali dengan Mecha-ba S’realization device yang Ikki minta.


“sekarang pasang handsfree—bukan, pasang item kecil itu di telinga kalian.”


Item kecil mengacu pada perangkat mirip earphone tanpa kabel yang jumlahnya mencapai dua digit satuan. Masing-masing dari mereka mengambil 2 buah yang seperti itu dan menempelkannya mengikuti instruksi Ikki.


『 baiklah, apa kalian sudah bisa mendengarku? 』


“whoa!” Zen tersentak. Semua orang juga terkejut meskipun tidak seperti Zen.


“suara ini....” tanpa siapapun duga, tiba-tiba, Ethena meneteskan air mata. Tak seorangpun tahu alasan di balik air mata itu. “jadi... ini benar-benar kamu.... aku bersyukur kamu masih hidup.... A.... Aria!” dia juga tersenyum dengan lembut, senyuman terindah dan paling natural yang telah hilang dari diri Ethena sejak lama.


“jadi... maksud yang mulia, ini... ini adalah, suaranya....? Argonaut itu, Aria Horizon...?”


“Aria Horizon?” Fylia mencari-cari dalam ingatannya, sampai akhirnya dia menemukan ssuatu dalam ingatan itu. “ah! Yah, Fylia tahu!”


“maksudmu, maksudmu Aria Horizon yang itu?!” Zen juga telah mencari-cari dalam ingatanya, dia mendapatkan sebuah jawaban dan memastikan apakah ingatan itu memang benar-benar sebuah jawaban atau bukan.


『 kesampingkan semua hal tentangku, langsung saja ke masalah utamanya. 』


Meskipun dapat terlihat dengan jelas pada ekspresi itu kalau ada sangat banyak pertanyaan yang ingin Ethena tanyakan pada Aria, dia menjawabnya dengan “aku mengerti” sebelum semua orang melakukan hal yang serupa.


『 Pertama kau Ethena. Kenapa kau seenaknya menyuruh Edea melakukan itu? 』


“aku...!” pada pertanyaan yang seharusnya ditujukan pada Ethena, Edea menjawab. “Aku harus melakukannya...! Aku hanya punya pilihan untuk melakukannya, atau dunia ini akan hancur. Aku tidak ingin enfinity merebut hal yang berharga bagiku sekali lagi. Aku--”


『 Berhenti di situ. Aku bertanya pada Ethena, kenapa kau melakukannya? Edea, dia itu putrimu sendiri, kan? 』


“apa?” semua enfinity di tempat itu terkejut dengan caranya masing-masing.


Edea.... adalah putri ratu dryad? tapi seraphim tidak bisa melahirkan, apa maksudnya itu? Zen berpikir keras.


“Maafkan aku, aku meminta maaf padamu, Aria. Tapi aku tidak punya lagi pilihan lain, semua itu untuk rakyatku.”


『 Tidak, berhentilah menggunakan alasan itu. semua itu untuk rakyatmu? Jika itu aku, aku tidak akan melayani seorang ratu yang telah mengorbankan anaknya sendiri. Keputusanmu sekarang sama sekali tidak pantas untuk dihormati. 』


“jadi bagaimana lagi?! Bagaimana aku harus melakukannya? Beritahu aku, Aria... apa kami hanya harus menerima takdir untuk mati tak berdaya....?”


『 Tentu saja kau tidak perlu sampai melakukannya. 』Aria memberikan jawaban langsung.


Ethena berhenti menyapu air mata yang menggenangi matanya. Kata-kata Aria itu pasti memberikan harapan yang besar bagi Ethena.


『 Tidak peduli ada dimanakah orang-orang seperti itu, akan selalu ada mereka yang mampu menyelesaikan masalah tanpa mengorbankan apapun. Bahkan jika kau tidak bisa menemukannya di dunia ini, dunia lain yang kalian benci barangkali memilikinya. Dan kau—tidak, semua seraphim juga sama. Kalian beruntung ada orang-orang seperti itu di sisi kalian. Ikki, Zen, dan Fylia... mereka adalah satu-satunya harapan untuk kalian—satu-satunya harapan untuk Tenebris, dan satu-satunya harapan untuk Seraphim. Kau sendiri mengetahui itu dengan baik, Ethena, tapi kenapa semua raja dan ratu masih menyembunyikan ‘itu’ dari mereka? kenyataan bahwa Edea adalah satu-satunya seraphim selain raja dan ratu yang mampu membuat kontrak saat ini. 』


“jadi,” “dengan kata lain,” Ikki dan Zen memulai kata-kata mereka bersamaan.


“ “Alasan Edea dikirim juga karena kemampuan itu.” ”


Tepat sekali. raja dan ratu seraphim berharap enfinity jahat itu akan puas hanya dengan satu seraphim. Lagipula, membuat kontrak dengan lebih dari satu seraphim sama saja dengan bunuh diri, tidak peduli sekuat apapun orang itu.


『 kalian hanya perlu bekerja sama. 』


“Seraphim dibatasi dengan peraturan untuk hanya membuat kontrak dengan satu enfinity. Bahkan jika aku membuat kontrak dengan salah satu dari mereka sekalipun, kemungkinan untuk mengalahkan naga perak masih belum terlalu besar. Aria... apa tujuanmu sebenarnya?” Edea bertanya dengan mata yang menginterogasi.


『 Lyria. Aku harus menyelamatkan anak itu. 』


Edea membelalakan matanya pada kata-kata Aria.


“tunggu sebentar, Aria, aku tidak tahu kalau Argonaut sepertimu punya hubungan dengan Lyria. Tidak, bagaimanapun caramu memikirkannya itu masih mustahil. Argh, semua hal ini membuatku bingung.” Ikki mengacak-acak rambut birunya.


Aria berasal dari era 500 tahun di masa lalu, sedangkan Lyria hanyalah seorang gadis berusia 14 tahun di waktu sekarang, adalah hal yang wajar untuk meresa bingung dalam situasi seperti ini.


“... tidak, itu tidak mungkin. Lyria adalah putrimu yang hidup 500 tahun di masa lalu. bagaimana bisa dia, gadis itu masih....” Ethena juga terkejut dalam tingkatan yang sama dengan Edea. Semua hal yang Aria katakan membuatnya semakin bingung.


『 Dia masih hidup. Tidak, lebih tepatnya Lyria memang hidup di era ini. Sama seperti jiwaku yang beresonansi dalam tubuh Ikki sejak Ikki lahir, jiwa Lyria beresonansi dengan homunculus di masa lalu. Hanya saja jiwaku tidak beresonansi dengan sempurna. Aku baru bisa berbicara dengan Ikki sejak beberapa hari yang lalu, bahkan terkadang aku tidak bisa bicara sama sekali. Dibandingkan denganku, Lyria melakukannya dengan sempurna, bahkan wujudnya sendiri menyerupai Lyria Riveranderite yang asli. Aku tidak akan menutupi apapun tentang ini, aku juga memohon kerjasama kalian dalam hal ini, kunci untuk membunuh dewa penghianat berada dalam diri gadis itu. 』


“kenapa kau tidak memberitahuku dari kalau kau tahu sesuatu tentang Lyria?!” Ikki membentak “Katakan padaku, Aria, apa yang akan terjadi pada Lyria? Apa yang akan mereka—orang-orang Einherjar itu lakukan pada Lyria? Nah, beritahu aku, Aria.... aku juga ingin tahu semuanya, aku ingin mengetahui semua hal tentang gadis itu dan menjadi lega. Aku tidak tahu apapun tentangnya, tidak tahu apapun... tolong beritahu aku...” Ikki memohon dengan nada yang terdengar putus asa.


『 4 tahun. 』Aria menjawab『 Batas waktumu adalah 4 tahun, kau harus menyelamatkan Lyria sebelum 4 tahun itu. 』


“Lyria, Lyria, Lyria....” Edea menggertakkan giginya tanpa alasan yang jelas. “sejak dulu, Aria selalu saja lebih mementingkan orang lain! Sisi itulah yang kubenci darimu!”


“Edea?” Ikki melihatnya berdiri, Edea pergi meninggalkan ruangan.


“aku tidak akan ikut serta dalam rencanamu. Kau dan enfinity itu boleh lakukan apapun sesuka kalian. Meski begitu aku tetap akan ikut campur, aku akan menyerahkan diriku pada orang itu. Tolong jangan mencariku, yang mulia, kupastikan kalau aku kembali sebelum besok pagi.”


~**~


“kau pikir apa yang kau katakan, Ikki? Sudah kubilang untuk jangan mempedulikan mereka. Mereka bisa mengurusnya dengan cara mereka sendiri, bukankah itu yang terbaik?”


“kupikir tidak begitu, Zen. Jadi, ratu dryad, katakan padaku dimana tempat kalian menyimpan senjata. Pedangku baru saja hancur kemarin, jadi aku tidak punya senjata lagi untuk dipakai.”


“i-itu... tanyakan pada pelayan dan kamu akan menemukannya di ujung lorong. Tunggu, apa yang ingin kamu lakukan? Apa kamu berniat melawan naga itu lagi?”


“bukan itu masalahnya. Apa yang akan kamu lakukan dengan pedang-pedang itu?! kudengar pedangmu hancur karena tidak bisa menembus sisik naga perak. Dari awal seraphim memang tidak pandai dalam menempa senjata, bahkan tanpa kemampuan seorang blacksmith sekalipun aku paham kalau pedang di sini tidak berkualitas terlalu baik. Dengan kemampuanmu sekalipun, tetap saja mustahil untuk mengalahkan naga itu.”


“Zen, tolong jaga Fylia untukku. Aku akan kembali beberapa jam lagi.”


Karena jika aku tidak mengalahkan naga itu, Edea—tidak, semua raja dan ratu seraphim tidak punya pilihan selain menyerahkan diri.


“apa yang akan kau lakuakan? Nah, Ikki, apa-apaan yang baru saja kau katakan?! Dengarkan aku, Ikki!”


Zen melihat punggung dari anak laki-laki itu, dia meletakkan tangannya pada pundak pemuda berambut biru yang tengah menghilangkan semua keraguan dan menetapkan kembali tekadnya.


“ ‘tidak ada pilihan lain’ akan menyelesaikan semuanya. Aku sudah muak dengan kata-kata itu.


Aku akan membuat pilihanku sendiri, sebuah pilihan lain.”


- Chapter 16 -



12.00, siang hari.


Naga adalah makhluk yang nokturnal, menyerang saat tidur merupakan pilihan terbaik yang bisa diambil. Ikki menatap gerbang kayu besar yang perlahan terbuka menunjukkan dunia luar yang tersembunyi di baliknya. Cahaya terlihat dari celah yang sedikit demi sedikit terbuka, apa yang Ikki pertama kali lihat di balik celah itu adalah sebuah jalanan di ibu kota, dimana itu berada tepat di depan kastil kerajaan. Itu bukanlah tempat yang akan ramai dikunjungi, bahkan tak ada satu orangpun di hari biasanya. Tapi kenapa ada dua enfinity yang berdiri dengan perlengkapan bertarung lengkap? Ikki menghela napas yang sangat panjang.


“Tidak perlu kata-kata perpisahan. Aku akan kembali setelah membunuh naga perak itu sendirian.”


Zen dan Fylia menunggu bukan untuk pertemuan terakhir. Mereka tidak datang karena menginginkan sebuah perpisahan, tapi dengan jelas ada hal lain yang mereka inginkan. Ikki tidak mau memikirkan kenyataan di depan matanya bahkan saat dia sendiri sudah mulai menyadarinya sejak awal.


“berhentilah bercanda. Aku juga akan membantumu. akulah yang tertua di sini. Aku juga yang terkuat di dunia ini. Tapi, aku tidak bertarung untuk mereka, aku bertarung untuk alasanku sendiri.”


“Fylia juga... Fylia juga punya alasan sendiri untuk bertarung! Bahkan jika Ikki melarang Fylia, Fylia tetap akan berangkat ke tempat berbahaya itu!” Hembusan angin meniup rambut emas Fylia saat dia memakai wujud manusianya. Dia memiliki alasan yang kuat untuk bertarung, bahkan tanpa orang lain ketahui.


Naga perak dikonfirmasi bukan lagi aether rank S biasa. Setelah menyerap daya hidup Aragorn, naga perak memperolah kekuatan tempur yang hampir setara dengan aether rank SS.


Pada pernyataan Fylia, Ikki berkata dengan dingin:


“....Zen sudah memperingatkanmu tentang itu. balas dendam karena naga perak menghancurkan desamu? Lebih baik hentikan itu.”


Ikki tidak ingin melibatkan Fylia dalam bahaya. Bahkan jika dia harus berkata kasar ataupun menyakiti hatinya sekalipun.


“tidak begitu, Ikki salah... Ikki salah tentangku! Aku sudah berusaha melupakan masa laluku. Yang kuinginkan adalah... apa yang Fylia inginkan adalah....!” Fylia menahan banyak perasaan dalam kata-kata itu, dia tidak ingin semua keinginan dalam dirinya tumpah dan berantakan. Dia ingin menyusun setiap serpihan kecil yang ada dan menumpukkan itu dengan lembut. Tapi kata-kata yang ingin dia katakan tidak keluar seakan ada sesuatu yang lain yang mengganggunya.


『 Dengarkan aku dengan serius, kalian bertiga harusnya menghentikan kebodohan ini. Aku punya tanggung jawab untuk membunuh dewa di Verdernia. Tapi jika Ikki mati jiwaku yang ada dalam tubuhnnya juga akan mati. Lyria-- Nasib Verdernia ada di pundak Ikki. Karena itulah dia tidak tidak diijinkan sampai mati. Bahkan dengan bantuan Zen dan Fylia sekalipun, kemungkinannya masih terlalu kecil. 』


Mereka memiki alur dan cara berpikir yang berbeda. Ikki tidak ingin seraphim lebih tersakiti lagi karena kebaikan hati Ikki yang begitu bodohnya kejam terhadap dirinya sendiri. Zen pergi bukan karena rasa pedulinya terhadap seraphim melainkan untuk menyelamatkan temannya yang akan pergi dengan bodohnya. Fylia juga tidak pergi untuk membalaskan dendamnya, tapi dia pergi untuk menyelamatkan Edea yang ingin mengorbankan dirinya sendiri untuk orang lain, namun, di atas itu dia berangkat untuk ‘seseorang’ yang dia cintai.


Aria yang mengharapkan kerjasama dari seraphim, mendapat penolakan atas permintaannya. Dengan tidak adanya kerjasama dari seraphim, kemungkinan menang mereka menurun. Itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk menghindari resiko terbunuhnya Ikki.


Akan tetapi bahkan setelah mendengarkan apa yang Aria telah katakan, Fylia semakin menetapkan tekad dalam hatinya dan membuang semua perasaan khawatir yang tidak diinginkannya menjauh.


“meski begitu.... Fylia....” Fylia mengulangi kembali kata-katanya.


Dia mencari kata-kata yang dia inginkan untuk meneruskannya, pandangannya beralih ke sana-sini.


Namun, pandangannya tidak melihat kata-kata itu. Satu-satunya hal yang terpantul dalam matanya adalah mata biru yang menjadi simbol dari laki-laki itu, dan langit kebiruan dengan sedikit awan di belakangnya.


Dan pandangan itu tiba-tiba kabur.


“Aku…”


Meskipun Fylia memulainya kembali, dia masih tidak menemukan kata-kata itu.


Apa yang harus Fylia katakan? Fylia sudah mengatakan apa yang ingin Fylia katakan. Kata-kata yang telah Fylia rasakan dan telah Fylia pikirkan itu telah Fylia ucapkan beberapa saat lalu. Fylia bertanya lagi dan menumpukkan semua itu dari awal. Dia seharusnya sudah memikirkan kata-kata untuk hal tersebut-- sebelum semuanya menghilang, hingga tidak ada lagi yang tersisa.


Meski begitu, Fylia masih mencari kata-kata yang perlu untuk dikatakan, yang ingin dia katakan meskipun dia tidak sepenuhnya memahaminya setelah memikirkannya. Namun itu tidak seperti ‘dia’ akan mengerti meskipun Fylia mengatakan itu. Itu juga tidak akan berguna hanya dengan mengatakannya saja.


Fylia tidak ingin kata-kata. Tapi tentu ada hal lain yang dia inginkan.


Fylia tahu bahwa untuk bisa melakukannya itu hampir saja tidak mungkin. Fylia tahu itu adalah sesuatu yang tidak akan bisa diraih tangannya.


hubungan yang tidak dapat digapai tangannya itu tanpa diragukan lagi asam.


Tapi dia tidak perlu sesuatu seperti perasaan-perasaan yang begitu palsunya manis. Dia tidak perlu sesuatu seperti pemahaman palsu atau suatu hubungan yang palsu.


Apa yang dia inginkan adalah hubungan yang asam itu.


Meskipun itu asam, meskipun itu pahit, meskipun itu menjijikan, meskipun itu penuh dengan racun, meskipun itu tidak ada, meskipun dia tidak bisa meletakkan tangan kecilnya padanya, meskipun dia tidak diizinkan untuk menginginkannya.


“Meski begitu…”


Fylia paham bahwa suara yang keluar entah kapan itu bergetar.


“Meski begitu, aku… .... jika, kamu tetap ingin pergi juga...”


Fylia mati-matian menahan perasaan ingin menangis tersedu-sedu itu. Meskipun dia sudah menelan suara dan kata-katanya, perasaan itu terus keluar dalam pecahan-pecahan kecil. Giginya akan menggertak dengan ribut selagi kata-katanya dipaksa keluar dengan sendirinya.


“Jadikan aku... ...”


Kata-katanya berhenti pada kalimat pendek itu. Dia sadar bahwa dia harus terus meneruskannya.


Fylia menelan semua perasaan yang membuatnya ragu di dalam hatinya. Mulutnya merasakan sensasi aneh yang membuat kata-kata itu menjadi sulit untuk diucapkan. Namun dia harus tetap mengeluarkannya.


Meskipun Fylia tahu harapan dan makna apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu, dan meski dia tidak pernah sebelumnya merasakan sesuatu seperti itu.


“Meski begitu, jadikan Fylia sebagai pasanganmu!! FYLIA MENYUKAIMU, IKKII!!”


Fylia mengatakannya dengan keras, perasaan hangat yang telah Fylia rasakan begitu dia menyadarinya.


Dalam lubuk hati pemuda itu, dia berterimakasih karena sudah menyukai seseorang sepertinya. Tapi di atas semua hubungan yang ada, Ikki memiliki janji yang harus dia tepati. Seluruh hubungan yang tidak dibutuhkan akan melalaikannya dari tugas itu. karena itulah, ada sesuatu yang harus Ikki akan atas perasaan Fylia.


“.... aku--”


Namun sebelum dia sempat mengucapkan kata lain, Fylia menghentikannya, dia menutup mulut Ikki dengan kedua tangannya yang kecil. Mukanya berubah menjadi merah padam.


“Jangan katakan apapun! Fylia mohon jangan katakan apapun lebih dari itu. Fylia... sudah puas dengan hubungan kita sekarang. Fylia hanya tidak ingin perasaan ini mengganggu Fylia, karena itulah Fylia mengungkapkannya. Tapi, sebenarnya Fylia tidak butuh jawaban apapun. Karena setelah ini....”


“setelah ini....?” Ikki menanyakan hal itu meski tidak ada seorangpun yang benar-benar mendengarkannya karena suara itu keluar dengan tidak jelas.


“setelah ini, aku ingin terus bersamamu.”


Chapter 17


12.30


『 berhenti di sini. Kita akan mengatur strategi mulai dari titik ini. 』


Fylia, Zen, dan Ikki, di bawah persetujuan Aria, akhirnya memutuskan untuk pergi bersama melawan naga.


“aku mengerti.” Zen membalas. “Tapi kita harus segera memulainya sebelum malam tiba. Karena naga akan menjadi agresif saat malam.”


『 itu tergantung keadaannya, malam hari juga bisa saja lebih baik, kita bisa saja memanfaatkan kegresifannya untuk menyerang balik atau semacamnya. Tapi kuharap kita tidak perlu sampai melakukan sesuatu seperti itu. Pertama, Zen, apa tombakmu cukup kuat? 』


Zen mengeluarkan tombak hitam dari punggungnya. Tombak panjang yang didominasi dengan warna hitam dan beberapa corak putih di bagian bilah dan gagangnya. Tombak itu tampil dengan gigi-gigi putih berbentuk lidah api yang muncul menghubungkan bilah dan gagang tombak. Penampilannya cukup menakutkan untuk sekedar disebut sebagai “tombak biasa”, senjata Zen pasti cukup kuat dan bernilai tinggi.


“【Eternalizer】-- aku tidak terlalu ahli dalam pembuatan senjata, tapi seperti namanya, Eternalizer memiliki daya tahan yang tinggi. Kukira takkan ada masalah untuk sekedar menembus sisik perak naga itu selama tidak berlebihan.”


Jadi Zen bisa membuat senjata.... apa dia mau membuatkan satu untukku ya, kira-kira?


『 Fylia menggunakan sihir, jadi takkan ada masalah selama ethernya tidak habis. Satu-satunya yang jadi masalah adalah Ikki. Tentu saja kau tidak berharap akan entah bagaimana bisa melakukan sesuatu dengan pedang-pedang itu, kan? 』


Eeeeeh! Ikki terkejut dalam hatinya. Semua orang kecuali Fylia bisa menebak lewat ekspresi itu dengan jelas kalau Ikki sebenarnya berharap seperti itu. Tentu saja Ikki tidak membawa semua pedang itu keluar, melainkan membawa satu pedang di punggungnya sementara menyimpan 19 lainnya di【Storage Bag】-- tas sihir yang biasa seorang petualang pakai untuk membawa item tanpa merasakan beratnya, tapi dengan jumlah yang terbatas.


『 haah.... dengarkan aku, Ikki. Tidak peduli apakah kau memiliki lusinan atau ratusan senjata seperti itu, semuanya akan percuma jika senjatamu hancur dalam satu serangan tanpa meninggalkan dampak yang berat pada musuh. Dengan kata lain, pedangmu tidak bernilai apapun dalam pertempuran kali ini. Itu takkan ada gunanya menyerang dengan pedangmu yang sekarang. 』


“ta-tapi....”


『 Akan tetapi.... yah, katakan saja, ini saat yang tepat untuk meningkatkan potensi scared abilitymu di pertempuran nanti. 』


“ja-jadi...”


『 meski begitu, kau baru bisa menggunakan scared ablitymu dengan baik sejak 2 hari yang lalu—tidak, bukan, sehari yang lalu jika menghitungnya dari waktu saat kau menggunakan Plants Creator dalam pertempuran kemarin. Dengan kata lain, kau hampir tidak punya pengalaman sama sekali. Bahkan meskipun kita mengesampingkan fakta tentang itu, kau masih harus menkonversi life poinmu menjadi ether dengan bantuan Aragorn untuk menggunakannya. Yang harus kau ingat adalah; meskipun life poinmu terbilang cukup besar, itu akan sangat berbahaya jika kau menggunakannya secara berlebihan. Karena itulah kau akan diberi sebuah tugas khusus. 』


“tugas khusus?”


Ikki memiringkan kepalanya dengan bingung. Tapi setelah mendengar beberapa kata berikutnya yang akan Aria katakan, mata biru Ikki berbinar-binar seperti anak kecil yang melihat sesuatu yang mereka sukai.


~**~