
Sekarang! Ikki berpikir seperti itu.
Ia berdiri menghadap sang naga perak, mengeluarkan telapak tangan kanannya dan membentuk Aragorn dalam tangan itu. Pohon setinggi 30 centimeter aktif, cahaya hijau kecil berputar di sekeliling Ikki dan ketiga orang lain.
Kemampuan kedua dari Aragorn, yang telah Ikki dan Aria ketahui.
-- konversi –
Ikki menukar sejumlah life poinnya sebagai ether, menggunakan ether itu untuk menumbuhkan sebanyak mungkin akar berduri yang dengan cepat, melilit tubuh naga perak.
“lari! Kembali sekarang!”
Dengan instruksi seperti itu, semua orang menggunakan seluruh sisa tenaga mereka untuk kembali ke kastil kerajaan.
- Chapter 13 -
21.00, malam hari.
Beberapa jam berlalu sejak pertempuran itu berakhir. Zen dan Ikki tetap terlihat khawatir bahkan setelah mereka berhasil kembali dengan selamat. Tentu saja ada alasan untuk itu, ada alasan kenapa mereka memacu otaknya untuk berpikir dengan keras atau menggigit kukunya dengan kesal atau terus berdiri, berjalan ke sana sini dan kembali duduk hanya untuk berdiri lagi untuk kesekian kalinya.
*duk
*duk
Pintu persegi panjang yang memisahkan kamar mereka dan lorong diketuk, seseorang berdiri di balik pintu sampai Ikki membuka pintunya setelah itu.
“kalian tidak datang saat makan malam, jadi aku repot-repot membawakan ini.”
Sambil berkata seperti itu, Edea meletakkan nampan besi di atas meja.
“bagaimana bisa kami datang untuk makan.” Zen berkata dengan nada kesal.
“kau tidak mengerti juga? bagaimana bisa kami makan saat teman kami tidak sadarkan diri seperti yang sedang kau lihat dengan kedua matamu sekarang!”
“Dia pantas menerimanya. Kau melihat sendiri saat elemental itu menyebabkan kita semua berada dalam bahaya. Bagaimanapun juga aku tidak akan menyalahkan orang lain selain enfinity yang sedang tidur itu.”
“hei, biarkan aku memukulmu sekali! minggir dari sana Ikki.”
“tenanglah, Zen! Ini bukan saatnya untuk bertengkar. Fylia juga... Fylia juga tidak ingin kita bertengkar seperti ini.” Ikki memandang ke bawah selagi giginya menggertak dan menggigit bibirnya hingga berdarah.
Melihat Ikki yang sampai seperti itu, Zen menahan semua amarah dalam dirinya dan menyisakan semua itu dalam pandangan mata yang begitu kejamnya dipenuhi kebencian saat dia memandang ke arah Edea.
“kau benar... maafkan aku.”
Zen meminta maaf karena tindakannya. Seraphim adalah makhluk yang lemah, memukul mereka sama saja dengan penindasan satu sisi.
“lebih baik kau belajar memperbaiki kelakukanmu, serigala. Apa yang kaulakukan di aula itu seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membunuhmu, berterimakasihlah pada kebaikhatian yang mulia karena membiarkanmu tetap hidup.”
“Edea, aku tidak ingin mengatakan ini; tapi caramu memanggil temanku seperti itu sudah sangat menggangguku. Bisakah kau hentikan itu mulai dari sekarang?” Ikki bertanya dengan nada datar dan tatapan mata yang dingin. Tidak hanya karena dia memperlakukan Fylia dengan buruk tapi juga dengan tidak bersalah memanggil Zen seakan dia adalah binatang tak beradab. Ikki bersusah payah menahan perasaan ingin meledak terbakar amarah itu hanya agar keadaan tidak menjadi lebih buruk saat Fylia sudah kembali siuman.
Akan tetapi, Edea bahkan tidak sedikitpun merasa terganggu atas permintaan Ikki, dia bahkan tidak mempedulikan itu sama sekali.
“aku tidak berkewajiban menuruti permintaanmu. Tak ada satupun alasan bagiku untuk melakukan itu..... aku sudah menunjukkan jalannya hari ini. kalian tidak sebodoh itu sampai harus melupakan jalan yang semudah itu. Cukup kalahkan naga perak itu dan pergilah dari dunia ini. Aku bahkan tidak ingin melihat wajah kalian.”
!!!! Hampir saja Zen dan Ikki akan tertelan kembali kemarahannya. Namun nama Fylia yang tiba-tiba muncul di pikiran mereka meredakan seluruh perasaan itu dalam sekejap.
Teman—mungkin.
Pertemuan singkat mereka menyebabkan semua perasaan ‘pertemanan’ tercipta dalam diri dan hati mereka. Makan malam bersama dan tidur bersama di Elfteria, pergi ke dunia lain dan menjadi satu-satu enfinity yang hidup di dunia lain itu; apa yang telah mereka lalui dalam waktu yang singkat ini adalah kenangan yang berharga bagi masing-masing diri mereka, bahkan lebih berharga dari senjata pembunuh dewa bernama ‘seraphim’ itu sendiri. Karena itulah tidak mungkin mereka tidak marah saat teman yang berharga bagi mereka diperlakukan dengan buruk tepat di hadapan mereka. Tapi karena itu jugalah mereka berhasil menahan semua perasaan amarah untuk seorang teman yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
“Tanpa kau suruhpun aku juga akan segera pergi dari sini, itu satu-satunya alasanku menyelamatkan dunia kalian. Aku tidak melakukannya untuk seraphim melainkan untuk diriku sendiri.”
“aku juga, ada sebuah janji yang harus kutepati di dunia itu. Tidak ada pilihan lagi, kami harus melakukannya meskipun kalian tidak akan membantu ataupun berterimakasih.”
Saat ini, Ikki membohongi dirinya sendiri. Bahkan setelah dia meletakkan janjinya dengan Lyria di atas segalanya, keinginan untuk menyelamatkan Tenebris dan para seraphim tidak akan begitu saja menghilang.
“kuharap kalian bisa secepatnya melakukan itu. Lagipula ini adalah salah enfinity dunia kami jadi seperti ini.”
Sekali lagi, hanya karena kami adalah enfinity.... Hanya karena kami adalah enfinity, tak ada tempat bagi kami di dunia ini. Hanya karena kami adalah enfinity, semua orang di sini memusuhi kami. Hanya karena kami adalah enfinity, kalian tidak bersimpati saat Fylia berada dalam kesulitan.... dunia busuk seperti ini.... Ikki merasakan kekesalan lain dalam pikirannya. Meski begitu... aku tetap ingin menyelamatkannya.
“Edea, jadi kamu ada di sini. Tuan Ikki dan Zen juga, aku punya berita buruk yang harus kuberitahu pada kalian.”
Seseorang yang baru saja datang dengan pakaian bangsawan kelas atas— tidak, bahkan jauh dari itu, adalah Ethena.
“ya, yang mulia. Saya siap mendengarkan.”
“apapun itu, suasana hatiku sedang buruk. Tolong jangan membuatnya jadi lebih buruk.”
Ethena menatap tajam Zen yang mengatakan sesuatu secara tidak sopan. Meski begitu Zen tidak terpengaruh oleh tatapan gadis yang kelihatan berada di bawah umurnya, mata mengantuknya tetap saja mengantuk.
“Zen benar. Tapi apapun itu, katakan saja tanpa ada yang ditutupi.”
“saya mengerti. Saya akan langsung ke intinya karena ini adalah keadaan darurat. Kota di dekat Aragorn diserang 2 jam yang lalu, semua orang berada di tempat pengungsian sekarang.”
“ “...!!” ”
Ikki dan Edea tercengang setelah mendengar itu. Zen juga terkejut dengan kabar yang tidak ia duga, tapi berhasil menutupi rasa terkejutnya dengan mata yang mengantuk.
Berita buruk, kabar yang tidak mereka duga. Nah, apa yang harus mereka lakukan setelah ini?
21.30, malam hari.
Naga perak yang Ikki, Zen, Fylia dan Edea lihat pagi tadi kemungkinan besar adalah aether rank S. Mereka tidak memiliki kepastian untuk menang, tapi kemungkinan untuk bertahan hidup setidaknya masih tinggi.
Tapi semua itu berubah dengan satu fakta yang ditemukan ini. Aragorn tidak kehilangan kekuatannya tanpa alasan, tapi karena aether itu, naga perak, menyerap kekuatannya. Naga perak yang sebelumnya hanyalah aether rank S bertembah kuat, kekuatannya yang sekarang telah mendekati aether rank SS bahkan ketika luka tebasan di punggungnya masih dipertimbankan.
Naga perak yang tidak pernah sekalipun pergi sejak 20 tahun yang lalu, keberadaan yang normalnya hanya akan diam tanpa melakukan apapun saat tidak ada yang mengganggu, naga perak yang 13 jam yang lalu hanya berdiam diri di bawah Aragorn, saat ini terbang di langit kota.
Rapat besar diadakan sejak 20 menit yang lalu, namun tidak berjalan dengan baik. Saat ini Ikki, Zen, Edea, Ethena dan 7 pemimpin lain sedang berada dalam satu ruangan rapat yang sama. Meja bundar raksasa memisahkan setiap orang yang ikut serta dengan jarak 5 meter setiap satu orang dengan orang lainnya. Apa yang mereka bahas dalam rapat itu adalah sesuatu yang begitu busuknya bodoh.
“semua ini salah enfinity itu! kalau saja dia tidak menyerang naga, semua ini tidak akan terjadi!” raja salamander dengan pakaian merah yang biasanya menyatakan sesuatu yang provokatif.
*bruk!
Ikki menggebrak meja dengan tangannya.
“kubilang berhentilah menyalahkan Fylia! Dia tidak ada hubungannya dengan kemarahan naga perak!”
“Ikki benar! Kemarahan naga perak disebabkan oleh hal lain! Dari awal memang sudah aneh jika naga itu tidak menyerang kalian sejak dulu. Seperti yang ratu dryad katakan sebelumnya, kemampuan Aragorn telah perlahan-lahan menghilang, mungkin ini memang saatnya untuk naga itu pergi menyerang.”
“Saya setuju dengan raja salamander. Berhentilah membuat alasan yang tidak masuk akal.” raja Gnome mengangkat tangannya.
“Undine juga setuju. Tidak ada keraguan apapun untuk itu.”
“Begitu juga dengan Sylph. Naga perak tidak akan marah tanpa alasan yang jelas.”
Ratu Undine dan ratu slyph juga juga turut mengangkat tangannya.
“hei, hei, mari kita tenangkan diri dulu, ok....? ok?”
Ratu puca menggerakkan tangannya ke atas bawah untuk menenangkan semua orang. Dia sudah melakukan itu sejak 20 menit yang lalu tapi tidak peduli berapa kali dia melakukannya, suasana rapat ini tidak sekalipun mengalami perubahan.
“mereka takkan mendengarkanmu, Siluca. Sementara kita berada di sini, naga itu sedang mengamuk di luar, karena itulah orang-orang tidak bisa tenang. Kau sendiri, bagaimana menurutmu Zadius?”
Pada pertanyaan raja spriggan, Raja Zephyr Zadius mengambil satu helaan napas panjang, kemudian berkata:
“sudah kubilang jangan tanyakan apapun padaku. Dimana raja Loic di saat seperti ini? Loki-- orang itu bisa menangani situasi seperti ini dengan baik.”
Rapat yang dipimpim oleh seorang seraphim, partisipan yang sebagian besar para seraphim, dan dengan media yang juga milik seraphim; hal ini menjelaskan kenapa enfinity tertekan tanpa memiliki kesempatan untuk melawan balik. Bahkan jika pendapat mereka adalah hal yang benar sekalipun, apa yang seenaknya para seraphim itu putuskan takkan dapat seorangoun patahkan dengan mudah.
Pertama jumlah, dua kekuasaan; 2 faktor besar itu selalu menentukan mana yang dianggap benar dan mana yang salah. Tidak peduli di dunia atau di jaman manapun kamu hidup, pendapat mayoritas akan selalu secara bodohnya diagung-agungkan bahkan jika itu adalah sebuah kesalahan besar. Untuk keuntungan mereka, orang-orang takkan segan melakukan hal buruk sekalipun tergantung dari sebesar atau sekecil apa resiko yang mereka hadapi. Tapi dalam beberapa kasus, mereka mampu menghilangkan semua resiko yang memuakkan dan menyakitkan mata itu, yang perlu mereka lakukan adalah mendapatkan dukungan mayoritas, dan, “orang-orang juga melakukannya” akan menyelesaikan segalanya, super nyaman. Hanya karena mayotitas juga melakukannya orang-orang senantiasa berpikir kalau hal itu bukanlah suatu kesalahan. Tapi pemikiran seperti itu benar-benar kebohongan besar, mereka hanya mencari-cari alasan halus untuk menipu diri mereka sendiri.
Sama seperti rapat ini, orang-orang kehilangan tempatnya untuk dapat berpikir secara rasional. Orang-orang saling menyalahkan satu sama lain tanpa sekalipun melihat apa yang seharusnya mereka selesaikan. Naga perak sedang mengamuk di luar, dan apa yang mereka selama ini cari di tempat ini adalah pertanyaan: siapa yang harus disalahkan? Benar-benar tolol.
Tepat saat rapat akan terus berjalan seperti itu, seorang pelayan memasuki ruangan. Kemudian berbisik pada ratu dryad.
“.... apa itu benar?”
Ratu dryad berdiri dan meninggikan suaranya untuk menyita perhatian semua orang. Bibirnya bergerak naik turun.
“Enfinity yang tidak sadarkan diri setelah pertarungan tadi pagi sudah siuman. Kita akan menunda rapat ini untuk beberapa jam ke depan.” katanya.
“Ikki.”
“Zen.”
Mereka mengagguk satu sama lain.
Tepat setelah rapat dibubarkan, Zen dan Ikki bergegas kembali ke kamar mereka. Pemandangan yang menunggu Ikki dan Zen di kamar itu adalah gadis manusia berambut emas yang mereka kenal, membalikkan badannya ke arah mereka.
“Fylia, kau baik-baik saja?” tanya Ikki.
“ya ampun, jangan menyusahkan kami, bodoh.” Tambah Zen.
Ini adalah pertama kalinya Fylia menggunakan wujud manusia sejak datang ke dunia ini. Ada sebuah perasaan lega yang menyelimuti dalam sebuah reuni itu.
Setelah beberapa menit berbasa-basi, Fylia akhirnya mengangkat topik serius.
“Fylia minta maaf untuk waktu itu. Fylia sangat meminta maaf karena menyebabkan kalian dalam masalah. Naga itu...”
“.... Naga itu?” tanya Ikki.
Fylia memandang ke arah Ikki dan Zen kemudian mempersiapkan mentalnya dengan beberapa kali mengehela napas. Apa yang dia kemukakan kemudian adalah sebuah topik yang sensitif—pembicaraan tentang masa lalunya.
“.... naga itu adalah naga yang sama yang menyerang desa Fylia. Ada ingatan seperti itu yang tiba-tiba muncul saat Fylia melihatnya, bahkan Fylia juga ingat kalau bekas luka di punggung naga perak juga berasal dari Fylia. Dan saat Fylia akhirnya bisa berpikir dengan jernih, semuanya sudah terlambat.”
“.... begitu, kah... jadi sekarang kau ingin balas dendam padanya? Jangan memasukkan emosi seperti itu dalam pertempuran, nyawa orang lain bisa berada dalam bahaya. Saat kita melakukannya lagi, berpikirlah dengan dingin. Tapi jika masa lalu itu ternyata terlalu berat untuk kau hadapi, maka jangan memaksakan dirimu. Pulanglah ke kastil dan tunggulah kami kembali.”
“benar.” Ikki mengangguk. “istirahatlah malam ini. Ada rapat yang harus kami hadiri setelah ini.”
“..... Fylia mengerti.”
Akhirnya, mereka behasil meyakinkan Fylia, atau setidaknya itulah yang mereka kira.
Rapat berlangsung kembali dengan suasana yang sama. Akhirnya, hampir tidak ada apapun yang diselesaikan. Ratu dryad memikirkan semuanya kembali dan berhasil membuat keputusan untuk para pengungsi; sebagian dari mereka berada di kastil sementara sebagian lainnya menumpang di rumah seraphim lain.