Energon: The Beginning of Everything

Energon: The Beginning of Everything
Bab 8, Teman Lama



Sky memasuki sebuah tempat dibawah selokan di daerah Fisherman's Wharf, San Francisco. Disana, Sky cukup terkejut dengan tampilan yang ia lihat. Sangat megah dan mewah, rasanya seperti rumah bangsawan.


Sky tetap berjalan dipandu oleh Assassin 'Garuda' di lorong yang cukup panjang.


"Jadi, kenapa kamu bergabung dengan Hidden Ones 'Garuda'?" tanya Sky,


"Kau penasaran?" jawab Garuda,


"Jika aku tak penasaran, maka aku takkan bertanya. Lagian sepertinya jalannya juga masih jauh bukan?",


"Heh... Kau ada benarnya. Aku bergabung dengan Hidden Ones demi membersihkan kejahatan dan ketidakadilan di negeri ku...",


"Wow, sangat... sederhana.",


"Heh, kau tak tahu negara kamu telah mengalami apa. Korupsi dimana-mana, ketidakadilan yang sangat jelas, dan penyalahgunaan kekuasaan. Yah... kuakui, negeriku memang sudah lama rusak semenjak 1970 an.",


"Indonesia... bukan?",


"Ya. Kudengar ibumu orang Indonesia?",


"....",


"Hahahaha.... apakah kamu takut ada yang mendengar pembicaraan kita? Tenang saja, takkan ada yang mendengar. Dan soal ibumu... aku berduka.",


".... kau benar, ibuku orang Indonesia. Dan tenang saja, aku bukan tipe orang yang akan selalu melihat ke belakang. Aku hanya melihat kebelakang saat aku memang harus.",


"Heh, kalau begitu baguslah.",


"...".


Semuanya diam sesaat sampai 'Garuda' mulai membuka kembali.


"Aku... masih ingat saat-saat diriku yang dulu. Lemah, terlalu baik hati, mudah dimanfaatkan. Walaupun begitu, aku memiliki teman-teman yang sangat baik. Ada teman yang mengajakku bermain game, bercanda walaupun sedikit menyinggung, dan juga bersedih. Haha, aku masih ingat sekali saat aku mencoba keluar dari 'Sistem' atau apapun itu. Saat itu zaman viralnya Andrew Tate, tau dia?",


"Ya. Sangat, dia menjadi ketua asosiasi Society of World. Dia bisa dibilang Game Changer.",


"Haha benar. Karena dia juga aku paham dunia dewasa. Kau tahu dulu saat aku mau masuk SMA, sebenarnya aku mau masuk SMA militer. Dulu aku sangat ingin sekali menjadi tentara tetapi aku gagal gara-gara satu hal... aku buta warna.",


"Buta... warna?",


"Ya, parsial tapi tetap saja. Saat itu aku tau jika hidup itu keras, takkan ada yang berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Inilah realita kehidupan. Orang-orang berpikir itu menusuk tapi tak tau sesakit apa menusuk itu.",


"....",


"Baiklah kita sampai.".


Sky pun tiba di depan pintu biasa dan bahkan tua. Tetapi dia tak menanggapinya. Sky pun memegang pintu sebelum mendorongnya.


"Woi Sky.".


Sky pun menoleh ke arah Garuda.


"Aku lupa memberitahu namaku. Namaku Andi, Andi Prasetyo. Nama kuno tapi mudah diingat. Dan identitasmu, aku akan menjaganya seperti nyawaku. Sekarang kita adalah rekan, jadi jangan sungkan.",


"... Baiklah, Andi. Kuharap kita bisa di satu misi.",


"Ada satu saat, tapi bukan sekarang",


"Aku tahu, aku tidak bodoh.",


"Heh... hahaha.".


Sky melihat Andi pergi dan Aku berpaling ke arah pintu tua. Dia menarik nafas dan membuka pintunya. Disana Sky menemukan sebuah ruangan yang cukup luas, ditengahnya ada semacam cawan berukuran besar dan 5 Mentor atau petinggi Assassin era ini. Mereka dipisahkan 1 lantai dari cawan berada, saat itu suasananya seperti sedang diadili.


Sky maju perlahan ke depan, ke tempat dimana semua cahaya di ruangan berkumpul. Firasatnya bilang tak hanya ada 5 orang disini, tetapi terlalu gelap untuk melihat orang lain. Sky pun berhenti tepat di depan cawan besar itu.


"Sky Mo, Sora Motushibi, Smartest Man Alive, selamat datang di perkumpulan Hidden Ones." kata Mentor yang paling tengah,


"Smartest Man Alive? Kau terlalu berlebihan.",


".... Tak perlu basa-basi lagi, mari kita mulai ritual penyatuan.",


"Ritual... penyatuan..?".


Pertanyaan dari Sky tidak dijawab, Mentor ditengah menunjuk ke arah cawannya. Sky pun sepertinya langsung tahu maksudnya. Sky berjalan satu langkah mendekat dan melihat ke arah Cawan, terdapat air dan cerminannya di genangannya.


Sky melihat ke arah Mentor lagi, dan hanya dijawab dengan anggukan. Sky paham dan kembali melihat cawan, dan langsung memasuki kepalanya ke Cawan.


Saat itu kesadaran Sky seperti sedang tenggelam, tak bisa membuka matanya, tak bisa berkata-kata, yang dia punya hanyalah pikirannya yang jernih.


"Sora....".


Suara yang asing datang ke kepala Sora seperti telepati.


"Ini... adalah.... pilihanmu.... Apa... kau... yakin..?".


Sky tidak menjawab sama sekali.


".... Baiklah....".


Tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi, sesuatu memegang pipi Sky dengan lembut.


"Kamu.... adalah... pengubah.... dari... segalanya...".


Sora pun mengeluarkan kepalanya dari Cawan merasa seperti sesuatu mendorongnya keluar. Dan tanpa lama, kepalanya tiba-tiba sakit. Banyak gambaran yang muncul di benaknya disaat bersamaan. Terlalu banyak, merasa seperti kepalanya bisa meledak kapan saja. Diantara gambaran itu, dia melihat seorang anak laki-laki bertelinga aneh di sebuah lab, sepasang mata mengkilap biru kehijauan di sebuah goa, seorang dengan mata merah di tengah kegelapan sedang tertawa, seorang perempuan rambut panjang dengan katana, dan terakhir seorang pria dengan pupil mata berwarna emas di tengah pertempuran yang seperti baru terjadi.


Tetapi tak berakhir disitu, ada banyak gambaran asing yang tidak tahu artinya. Dan sebelum Sky bisa mengelola semua informasinya, dia pingsan duluan. Otaknya belum bisa menerima begitu banyak informasi. Sky hanya bisa bertahan hingga 10 menit dari semua itu.


"....".


Semuanya membiarkan dirinya tergeletak di lantai seperti seorang yang baru saja mabuk dan dihajar di bar.


"Harus kuakui.... Dia hebat... sepanjang orang yang masuk ke cawan itu hanya bisa bertahan hingga 1 menit dan itupun yang paling jenius yang kita punya.",


"Jika kau berbicara seperti itu, maka kamu melupakan 2 orang itu...",


"Karena kamu menyebutnya, aku menjadi mengingatnya... Wraith dan Mare, bukan?",


"....".


Setelah beberapa saat, Sky pun bangun dan mengetahui dirinya masih berada di ruangan yang sama tetapi cawannya telah menghilang. Sky mencoba menenangkan dirinya dan kembali ke tempat cahaya berkumpul.


"Ritual telah dilaksanakan dan kini kau resmi menjadi salah satu dari kami. Selamat datang, Sky Mo.",


"...".


Sky tak berbicara dan bertindak. Dia hanya merenung.


"Aku akan bersumpah pada diriku sendiri... Aku akan menggunakan kekuatan ini untuk melindungi orang lain dari kegelapan.".


"....".


Para mentor pun mengangguk dan setelah itu salah satu Assassin yang bersembunyi di bayangan maju ke depan memberikan sebuah baju kepada Sky, sebuah jubah yang dikenakan setiap Assassin Hidden Ones dan sebuah pedang. Pedang yang panjang sepanjang setengah tombak umumnya dengan 2 gagang tangan dan, tak hanya itu, berat. Sky tidak begitu menyukainya, tetapi hanya ini yang dia punya untuk sementara.


Sky menerimanya, dan saat memakainya dia merasa seperti sesuatu mengalir di pikirannya. Bukan gambaran yang sebelumnya dia rasakan, seperti inderanya di tingkatkan. Mentor ditengah pun mengangguk.


Setelah itu pun Sky pergi dari tempat itu keluar. Di depan pintu ada Andi menunggunya.


"Ah, kau disana. Selamat datang? apakah aku benar? Haha.",


"Jujur saja, rasanya agak aneh.",


"Kenapa?",


"Apa kamu, saat pertama kali datang, melihat banyak gambaran muncul di pikiranmu saat itu?",


"Gambaran apa? Ooooh aku tahu apa yang kau bicarakan. Saat kamu memasukkan kepalamu ke cawan kamu melihat banyak gambaran yang masuk ke kepala mu kan?",


"Ya... seperti itulah.",


"Haha, itu adalah kejadian biasa. Tak ada artinya, itu adalah saat indera kita ditingkatkan. Apa kamu merasa kamu lebih bisa mendengar, melihat, dan mencium?",


"Ya, benar.",


"Ha... Ya itu adalah alasannya. Lalu makan gambaran itu? Tak usah dipikirkan, mereka hanyalah sesuatu yang kita lihat secara tidak sengaja.",


"Maksudmu?",


"Saat indera kita ditingkatkan saat itu otak sedang mencoba untuk mengukur fokus kita. Semakin fokus, maka indera akan meningkat semakin jauh.",


".... Begitu ya. Karena fokus juga bergantung kepada ketenangan sehingga semakin tenang kita menghadapi sesuatu, semakin cepat otak kita juga memproses.",


"Tepat sekali! Jadi berapa lama kamu bertahan?",


"...Hah?",


"Saat kamu mengeluarkan kepalamu dari cawan itu, berapa lama kamu bertahan?",


".... aku tak tahu, mungkin hanya sekitar 1 menit. Memangnya kenapa?",


"1 menit? Sial, ternyata orang yang kubawa adalah orang yang jenius. Saat kamu mengeluarkan kepalamu, kepalamu akan sakit semakin lama. Tak ada yang bisa bertahan sampai 30 detik! Dan 1 menit adalah orang jenius seperti pendahulu kami, Arno Dorian, Basim, Bayek, dan banyak lagi. Mereka adalah game changer bisa dibilang.",


"Kurasa aku harus mengetahui banyak hal tentang organisasi tersembunyi ini.",


"... Baiklah, Talking Andi.",


"Hahaha... tunggu apa?",


"Kau sangat suka bicara jadi kurasa akan cocok denganmu.",


"Talking... Andi? Jangan-jangan kamu.",


"Ya, aku mengambilnya dari game terkenal Talking Tom. Kenapa kamu tidak suka?",


"Iyalah!",


"Hmm, Fussy-Andi?",


"Fussy(cerewet)? Itu lebih buruk Woi!",


"Tidak apa-apa kurasa itu cocok. Kecuali kalau kamu membencinya.",


".... ****.",


"Hahaha".


Mereka pun mengobrol dengan riang sambil berjalan di lorong yang panjang. Suara mereka mengisi lorong yang sepi itu, tetapi itu bukanlah hal yang buruk.


"Baik-baik berhenti, jadi kamu sudah memutuskan nama kodemu?",


".... Nama kode ya...",


"Kalau tidak bisa... aku bisa memutuskannya untukmu.",


"Tidak terimakasih...",


"Cepat kali jawabnya.",


"..... Energon.",


"Energon?",


"Ya... Kenapa?",


".... Tidak. Itu cocok dengan dirimu sih, aku takkan cekcok denganmu.",


"Tentu saja, ini kan namaku, aku bisa mengubahnya kapanpun aku mau.",


"Ye.".


Semuanya senyap untuk sementara.


"Oh iya, tentang misi pertamamu.",


"hmm?",


"Benar, setiap misi dikerjakan oleh 2 orang. Sendiri kalau memang sanggup, tetapi untuk orang baru sepertimu harus 2, ini adalah perintah dari Mentor.",


"Apakah benar-benar tak bisa sendiri?",


"Tentu tidak. Kalau kamu mau sendirian, maka kamu harus membuktikan dirimu kalau kamu memang pantas.",


"Hah— Merepotkan, tetapi setidaknya kamu yang menjadi partner ku, kan?",


"Sayangnya untuk sekarang tidak. Tapi lain kali.",


Sky berhenti di tengah jalan dan Andi juga.


"Jadi siapa partner ku?",


"Seorang perempuan yang seumuran denganmu, nama kode nya... Hana (Tl: Bunga).",


".... Dari Jepang ya?",


"Ya... seperti itulah. Tapi sesuai kesepakatan mu. Misi ini akan kamu lakukan setelah 1 tahun kamu berlatih. Saranku sih, cari orang ini dan berteman dengan dia agar kalian bisa sinkron saat mengerjakan misi.",


".... Jadi kamu tahu orangnya seperti apa?",


"Tidak.",


"Hah?",


"Orang ini orang baru disini. Tetapi menurut rumor yang beredar dia adalah perempuan berambut hitam dengan rambut yang diikat, dan katana dengan simbol bunga sakura di sarung pedang serta ring pelindung tangan atau Tsuba berbentuk bunga sakura.",


"Hmm.... Kenapa rasanya seperti dia membawa pedangnya sendiri.",


"Ya memang. Itu pedangnya sendiri yang dia bawa sendiri.",


"Hah....?",


"Kau tak tahu? Sebenarnya penyerahan jubah itu, tak perlu senjata melainkan hanya jubahnya saja. Assassin lain boleh menerima atau menolak senjatanya. Karena itu sudah menjadi miliknya atau setidaknya mereka cuma menghabiskan stok gudang.",


".... Sial!",


"...? Kenapa?",


"Jujur saja aku tak menyukai pedangku karena berat.",


"Berat... ooh. Kalau begitu tukeran saja sama punyaku.",


"...Eh?",


"Gak apa-apa kok. Aku tak masalah dengan senjata mana saja.",


"Ternyata kau baik juga.",


"Hah?!".


Sky dan Andi pun bertukar senjata. Sky merasa senjata Andi cukup ringan tapi kurang, setidaknya lebih baik dari sebelumnya.


"Ok, terimakasih.",


"Tak perlu sungkan. Oh iya tentang perempuan itu, aku juga diberitahu temperamen nya buruk. Maksudku bukan dia mudah marah atau apa gitu tetapi dia tak bisa tenang. Dia terburu-buru, kau harus memperhatikannya.",


".... Hah— Beban lainnya.",


"Woi jangan gitu dong. Dia cuma terburu-buru, buatlah dia sadar kalau dia tidak bisa tenang dengan terburu-buru.",


"Maksudmu?",


"Hehe, Ayo ikut aku.".


Sky dan Andi pun pergi ke sebuah lift di samping lorong dan pergi ke dalam tanah.


Saat sampai sana, Sky melihat sesuatu seperti pembuka portal yang biasanya ada di film-film Sci-fi. Dan benar, itu memang berguna untuk membuka portal.


"Kau akan di transfer ke tempat dimana orang-orang biasanya berlatih. Disanalah kamu akan bertemu banyak assassin, dan juga rumahmu sementara. Tentu kalau kamu punya rumah, maka kamu bisa kembali ke sana.".


"... Begitu ya.",


"Ayo bersiap.".


Mereka pun berdiri dihadapan 'portal' dan melihatnya menyala, mereka dihisap layaknya blackhole. Dan saat keluar, Sky melihat sebuah tempat dimana para assassin berada, di sebuah Kota bawah tanah.


"Selamat datang di, Assassin City. Tempat berkumpulnya assassin. Ayo jalan.".


Mereka pun berjalan menuju ke sebuah tempat besar dimana banyak orang berada disini. Sky tak tahu dia berjalan ke arah mana hingga sampai di ruangan 807.


"Ini adalah kamarmu, kamu bisa beristirahat disini karena itu adalah gunanya.",


Sky pun masuk ke dalam kamarnya, sempit tapi tak begitu sempit. Sky hanya melihatnya dengan seksama tanpa berekspresi apapun.


"Aku harus pergi, ada misi.",


"Eh? Sejak kapan?",


"Heh... kau akan tahu satu saat nanti. Oh iya, jika kamu mau berlatih, ada tempat latihan di lantai ke 3. Jika kamu tidak suka keramaian, kamu bisa pergi ke jalan Al-Akhmar 08. Biasanya aku berlatih disana, dan tempat itu adalah rahasia yang hanya diketahui segelintir orang. Cocok untuk melatih pikiran sambil berlatih otot.".


"Baiklah...".


Andi pun pergi tanpa mengucap sepatah kata. Sky pun meletakkan jubahnya dan langsung pergi ke tempat yang Andi sebutkan.


Sky berjalan di tengah kota, walaupun kota ini di dalam tanah tetapi entah kenapa tidak pengap rasanya. Sky berjalan cukup jauh hingga akhirnya tiba di sebuah tempat dimana berdiri sebuah portal yang seperti mau rusak.


Sky tak tahu apa yang harus dia lakukan, jadi dia hanya berdiri disana hingga tiba-tiba portalnya terbuka dengan sendirinya dan menghisap Sky.


Saat membuka matanya Sky melihat sebuah Dojo luar ruangan yang sangat sepi, berbeda dengan kota tadi. Rumputnya hijau terawat, dan warna langit biru yang cerah rasanya seperti sedang liburan.


Sky pun masuk ke Dojo dan tak menemukan orang sama sekali, hingga akhirnya dia benar-benar masuk ke Dojo. Saat masuk ke dalam Dojo, dia dikejutkan sosok yang sangat tidak asing, seorang perempuan sesuai dengan deskripsi Andi, tetapi bukan karena itu dia mengenali wajah perempuan yang sedang berlatih dengan katana mainan. Melainkan....


"... kau.... Ha...nabi?".


Perempuan itu dikejutkan pula oleh sosok yang tengah melihatnya.


"...Sora...?".