Energon: The Beginning of Everything

Energon: The Beginning of Everything
Bab 4, Tragedi



Beberapa saat sebelum itu, di suatu SMA Nagasaki, Jepang.


"Sehingga kita substitusi kan hasil tersebut ke sini...." Suara seorang guru menerangkan di kelas,


"Hah—" Hela nafas panjang dari seorang anak berusia 8 tahun, Sora Motushibi.


"Membosankan... semuanya telah aku pelajari dan yang bisa kulakukan sekarang hanyalah.... Oh— aku tahu—." gumam Sora,


"Sensei! Aku minta ijin ke toilet!" kata Sora,


"Oh— Baiklah.".


Sora pun tersenyum tipis lalu turun dari bangkunya dan keluar dari kelas. Dia pun mengarah ke arah toilet dan disamping toilet ada sebuah tangga untuk turun. Sora pun melewati toilet dan turun. Keluar dari bangunan dan disampingnya ada sebuah mesin penjual minuman, dia pun membeli sebuah jus jeruk dingin. *Cleck, *gluk, *gluk..


"Ah—" suara puas yang keluar dari mulutnya dengan spontan,


"Akhirnya keluar dari pelajaran yang membosankan itu. Tapi... apa yang mau aku lakukan setelah itu?" kata Sora kepada diri sendiri.


Dia pun duduk berselonjor disamping kanan mesin itu, meletakkan minumannya di samping kirinya dan bersandar ke tembok.


"Eugh— Ah—" suara dia merenggang tubuhnya.


Dia diam sejenak, menjernihkan pikiran. Banyak suara serangga di sekeliling sekolahnya, saat itu adalah musim panas. Itu artinya sekolah di Jepang sebentar lagi akan libur musim panas. Tapi bagi Sora, itu hanyalah masalah kecil.


Saat ini, anak berusia 8 tahun itu telah menginjak kelas 2 SMA. Tahun depan dia akan lulus dengan umur 9 tahun. Ada sebuah berita anak Indonesia lulus SMA berusia 8 tahun. Sora sebenarnya bisa lulus dalam umur yang sama atau bahkan lebih muda jika dia ingin. Tapi dia tak mau melakukannya karena menurutnya itu bukanlah penghargaan melainkan lelucon.


Saat ini anak "jenius" itu hanya sedang duduk dengan gelisah. Bukan karena dia akan lulus dan menghadapi dunia dewasa di umur muda, tetapi gelisah karena ada sesuatu yang hilang tapi dia tak tahu apa itu.


Sora dibesarkan berbeda dengan anak seusianya. Bukan karena dipaksa belajar tapi karena dia tak punya namanya "kesenangan masa muda". Saat dia masih berumur 4 bulan, dia sudah bicara bukan kata melainkan kalimat walaupun tak begitu jelas. Dia disebut jenius yang dijuluki sebagai "Smartest Child Alive". Tapi dia tidak begitu bangga pada penghargaan itu. Yang dia mau adalah bermain seperti anak seusianya.


"Huft— bosan... apakah begini kehidupan mereka? apa karena aku masih muda? Apapun itu... mereka benar-benar dewasa ya...".


Yang tidak diketahui oleh Sora adalah sebenarnya dia sudah dewasa dan siap menghadapi dunia dewasa. Tapi membuat dirinya yakin kalau dia tidak siap, karena dia tak memiliki tujuan pasti kenapa dia harus masuk kesana, dunia yang gelap, dunia penuh tipu daya, dunia dimana kita harus mematuhi "mereka" yang memiliki kekuasaan. Jika semua orang tahu kalau itulah kehidupan... apakah memang ada orang yang mau masuk ke sana?


"Berapa lama kira-kira... aku disini ya... di SD.... 3 tahun... SMP... 1 tahun... SMA... hampir 1 tahun.... totalnya... 4 tahun... Heh, ternyata baru sekejap." gumam Sora


Dia pun mengangkat tubuhnya yang bersandar ke tembok. Lalu, Menatap ke arah lapangan di samping bangunan sekolah dan melihat beberapa anak SMA yang terlihat sedang berolahraga.


"Bosan... apakah tidak ada sesuatu yang menarik akan terjadi?"


Sora pun berdiri dan meregangkan otot-otot tubuh nya. Lalu menghabiskan minumannya sambil berjalan masuk ke bangunan sekolah. Minumannya habis, dia pun membuangnya ke tempat sampah yang ada di dalam toilet sekalian buang air kecil setelah itu kembali ke kelasnya. 15 menit tepat sebelum kelas berakhir. Saat itu masih jam 2 siang, masih ada 1 jam 30 menit agar dia bisa pulang.


------+++++----++++---+++--++-+


1 jam 30 menit berlalu, 15:30 waktu Jepang.


"Akhirnya.... Kira-kira ibu masak apa ya—" gumam Sora.


Dia pun melihat ke sekitar dan ada satu hal yang menarik perhatiannya. Sekelompok orang mencurigakan dengan mobil Van hitam didepan sekolahnya seperti sedang menunggu sesuatu.


"Hmm...." Sora pun berjalan ke depan gerbang sekolah dan salah satu dari mereka mendatangi nya,


"Sora bukan?" kata orang itu,


"... Ya, dan kamu siapa?",


"Aku adalah orang yang disuruh oleh ayahmu untuk menjemput ku.",


"..." Sora melihatnya dengan mata bodoh.


"Kuberi tahu kau sesuatu Om, jika kau mau menangkal orang, kau perlu lebih banyak informasi tak peduli siapa dia.",


"Hah? Agh—".


Sora memukul selangkangannya dengan sekeras yang dia bisa dan lari masuk ke sekolah.


"ANAK BAJINGAN! TANGKAP DIA!".


Sora melihat ke belakang sekilas,


"Heh, langsung melepas topeng ya.".


Sekelompok orang mencurigakan itu pun langsung memanjat pagar dan mengejar Sora tanpa mempedulikan orang-orang yang melihat. Keputusan yang bodoh dipicu dengan keegoisan.


Sora melarikan diri dan masuk ke bangunan sekolahnya sambil memikirkan cara agar bisa menghambat mereka. Dia pun awalnya bersembunyi di kelasnya sendiri dibawah meja tempat gurunya duduk.


Dia melihat tak ada tempat lain selain itu karena di Jepang pintu masuk kelas ada 2 bagian.


"Cih, aku benci sekolah Jepang!" gumamnya.


*Bam!


Suara kedua pintu kelas yang dibuka dengan kasar.


"Nak... kami tak ingin bermain kasar, ikutlah dengan kami dan kamu akan baik-baik saja."


"..."


Sora memperhatikan bagaimana dia bernapas dan postur tubuhnya yang kecil, sempurna untuk bersembunyi. Setidaknya untuk sekarang.


Dia pun dengan cepat dan suara kecil memeriksa tasnya menemukan sesuatu yang berguna yaitu pulpen. Dia melihat ke arah pulpen dan langsung memegang erat pulpennya.


Dia memegangnya ke arah bawah dan bersiap menyerang kapan saja.


"Dimana kau?! Aku tahu kau ada disini... Aku bisa menciummu.... hehe",


".... Pedo...." gumam Sora sangat pelan hampir tak bersuara sama sekali,


Satu orang yang selalu berbicara itu mendatangi tempat persembunyian Sora.


"Heheh, I see you...",


Semakin mendekat, selangkah demi selangkah..... Dan....


"WOY! NGAPAIN KALIAN DISINI?!" kata seseorang berpakaian seperti guru olahraga,


"Hah?! Jangan ganggu kami pak tua!" kata orang yang hampir mendatangi Sora.


Sedangkan Sora dibawah meja tersenyum bangga.


"PAK TUA KATAMU?! DENGARKAN AKU BAIK-BAIK! AKU ADALAH PEGULAT JEPANG YANG TELAH MEMENANGKAN 2 KALI PERTARUNGAN GULAT TINGKAT NASIONAL! JANGAN MACAM-MACAM DENGANKU ANAK MUDA!"


"KAMI NGGAK PEDULI, KALAU KAU MEMANG PETARUNG HEBAT, AYO BERTARUNG!"


Sora yang mendengar semua hal itu seperti melihat 2 ayam sedang bertengkar. Dia tak tahu harus senang karena diberikan waktu untuk bertindak atau kesal karena 2 orang bodoh tersebut.


Dan mereka pun bertarung berdua, dan orang mencurigakan lainnya mengingatkan boss nya yang pedo itu untuk fokus pada misi. Tapi sayangnya boss nya yang pedo dan tolol itu tak mendengarkan sama sekali.


Karena boss nya sedang disibukkan oleh guru olahraga SMA sana, Sora dengan cepat menunduk dan mengarah ke bagian belakang kelas. dan anak buah dari orang tolol itu pun melihatnya sekilas.


"Ah— Woi! Sini kau anak nakal!",


"Cih! Ayo tangkap dia anggota baru!",


Perlu dijelaskan lagi sebenarnya ada 3 orang yang masuk ke kelas tempat bersembunyi Sora dan sisanya menyebar ke seluruh bagian sekolah.


"..." orang yang disebut "anggota baru" itu tak menjawab apapun.


Wajahnya hampir tak terlihat apapun, dia memakai Hoodie hitam dan celana training ketat. Dari lekukan dan tinggi tubuhnya, dia sepertinya perempuan berusia 8 tahun. Apa yang dilakukan perempuan 8 tahun disini?


Sora yang menunduk semakin dekat dengan cewek Hoodie tersebut, siap menyerang.


"No mercy.".


Sora pun dengan cepat mencoba menikam perempuan itu tetapi gagal. Perempuan itu atletis, dia menghindari serangan kejutan Sora dengan meloncat keatas. Tapi Sora langsung berubah target dan tak kehilangan momentum sama sekali seperti target awalnya bukan perempuan itu. Dia mengincar tekan perempuan itu, dan dengan pulpen itu dia menyerang kakinya agar tidak bisa mengejar lagi dan satu pun "tumbang".


"AAAAGH!—" Kata rekannya.


Dan karena rekan perempuan itu paling dekat dengan pintu, Sora meninggalkan pulpen itu di kelas yang sudah berlumur darah dan keluar dari kelas menuju tangga samping toilet sebelumnya.


Tapi sebelum dia keluar dari kelas, perempuan itu mengeluarkan sebuah pistol dengan cepat mengenai tangan kiri Sora


"AGH!" Spontan Sora,


"...." perempuan itu diam sejenak, apakah dia harus terkesan atau kesal, dia tak tahu.


"Hah... hah... hah...." Sora lari dengan merintih.


Sedewasa apapun pikirannya, tubuhnya tetaplah tubuh anak berusia 8 tahun.


Saat dia berlari menuju tangga turun, dia melihat ada orang mencurigakan lainnya ke arahnya. Dia menyadarinya dan berlari mencoba menangkap Sora tetapi berhasil Sora kecoh dengan meluncur melewati bawahnya.


"Hah?!" kata orang itu,


Sora pun lanjut berlari tanpa mengucapkan sepatah kata. menuju ke hutan di belakang sekolahnya.


Saat dia hampir mencapai pagar tinggi dan lebar sekolah, kali ini betis kanannya tertembak oleh orang yang sama. Tapi itu tak membuat Sora mundur, Sora tetap mencoba melewati pagar yang lebar dengan tubuhnya yang kecil, beruntungnya sih pagar nya tak tinggi dan lagi lebar sehingga membuat kesempatan Sora kabur menjadi lebih banyak. Tapi sayangnya dengan kali Sora yang sekarang, itu hampir mustahil, tetapi dia tetap memaksa sehingga membuat perempuan itu menembak lagi hampir terkena pergelangan tangan kanan Sora.


"Wah!—"


*Buk. Suara Sora terjatuh. Perempuan itu pun mendekatinya dengan pistolnya disembunyikan di saku hoodienya. Sora pun menyerah dengan usahanya dan siap menghadapi apapun yang akan datang.


"Jadi, kamu mau apa dariku sebenarnya?" Tanya Sora dengan santai,


"....",


"Tak mau bicara? Ya sudahlah."


Sora pun dengan cepat melempar tasnya ke arah perempuan. Spontan perempuan itu meloncat mundur dan mengeluarkan pistol siap menembak tetapi penglihatannya dibutakan oleh debu yang dihasilkan dari tas Sora dan saat debu itu hilang, Sora pun sudah memasuki hutan.


"...",


Perempuan itu pun langsung mengejarnya lagi. Sora dengan terintih-rintih berlari sekuat tenaga hingga akhirnya berakhir di sebuah goa misterius tempat biasanya siswa SMA sekolahnya bolos. Dan sekali lagi perempuan itu menembakinya lagi dan kena ditangan kirinya lagi.


"AAGHH!—"


Kali ini tenaga Sora untuk berlari telah habis. Dia menghadap ke arah perempuan yang berjalan pelan ke arahnya dengan pistol dicondongkan ke arahnya. Sora 'sudah tak berusaha lagi', dia mendorong tubuhnya ke samping mulut goa dan bersandar disana.


"Hah... hah.... kau... kau benar-benar membenci tangan kiri hah?" kata Sora bercanda, menyembunyikan rasa sakit,


".... Kenapa?" tanya perempuan itu,


"... Ha?",


"Kenapa...? kenapa kamu berusaha sangat keras melawan kematian? Padahal kamu tahu itu akan sangat sakit."


"... Jawabannya mudah, karena aku tak mau berakhir menyedihkan seperti ini. Mungkin dunia ini membosankan tetapi aku akan membuatnya... menarik untukku sendiri!"


Sora pun melempar debu ke mata perempuan yang lengah itu, mengambil paksa senjatanya dengan penuh rasa sakit tetapi berhasil. Sora pun mencondongkan pistolnya langsung ke kepalanya tanpa mundur sama sekali.


"Hah... Kamu memang... keras kepala...".


Perempuan itu mengangkat tangannya keatas setinggi kepalanya, dan langsung... dengan cepat merebut pistolnya kembali dan berhasil bahkan langsung menembak ke arah Sora, tetapi Sora sudah siap akan hal itu dia pun dengan cepat menunduk mengambil debu dan melemparkannya lagi ke matanya. Tetapi perempuan itu takkan tertipu lagi dengan hal itu. Yang perempuan itu tak ketahui adalah Sora memegang sebuah batu di tangan kanannya dan disaat yang tepat melukai tangan kiri perempuan itu dan membuatnya melempar pistol itu.


"Cih!—",


Dan yang tidak diketahui oleh Sora adalah kalau di belakang tubuh perempuan itu terdapat sebuah katana yang berukuran kecil menyatu dengan pakaian gelapnya. Perempuan itu menariknya keluar dan beruntungnya terkena batu yang dipegang Sora. Sora dibuat mundur oleh pedang kejutan itu.


"Wow... Full of surprise huh?" kata Sora,


"....",


Dan inilah pertarungan antara keduanya, antara Sora dan perempuan yang sampai saat ini tak diketahui namanya. Batu dan Pedang. Pertarungan ini seperti.... pertarungan antara manusia purba dengan manusia jaman pertengahan.


Dan lari lah mereka ke arah satu sama lain. Perempuan itu mencoba menebas lewat samping kanan tetapi serangannya ditangkis oleh batu Sora dan Sora pun mencoba melawan balik dengan mengarahkannya dengan gesit kearah perempuan itu tetapi dihadang. Tapi kali ini perempuan yang menghadang batu itu terpental kebelakang satu langkah memberikan kesempatan pada Sora, dan Sora pun tak melewatkannya. Sora dengan sengaja menyerang satu titik tempat perempuan itu menghadang selalu, dimana pedangnya tak bergerak sedikit pun. Terus menerus tanpa henti, hanya dengan tangan kanan, menutupi rasa sakit yang dialaminya. Hingga akhirnya satu serangan fatal dan keras dari Sora dilontarkan.


"HA!—",


"Ah—Ha—".


Pedangnya lepas dari genggamannya. Perempuan itu mencoba mengambilnya lagi, tetapi melupakan Sora. Sora pun memukulnya dengan batu dengan keras hingga terpental jauh kali ini. Mengambil pedangnya. Perempuan itu sepertinya tak ada lagi trik yang bisa dia pakai.


Sora berjalan pelan-pelan ke arah perempuan tak berdaya itu. Dengan hati-hati dia membuka Hoodie itu. Dan benar dia adalah perempuan berumur 8 tahun, tapi Sora tidak kaget dan tidak mau kehilangan kewaspadaannya. Laki atau perempuan, musuh tetaplah musuh.


Dibalik Hoodie itu, ada muka perempuan yang takut kematian, rambut berwarna hitam mengkilap memantulkan cahaya rembulan saat itu diikat dengan rapih seperti seorang perfeksionis yang mengikatnya.


"Hah... hah...".


Tapi walaupun begitu, Sora tetaplah manusia. dia membuang pedang itu jauh-jauh, sejauh pistolnya. Dia mengulurkan tangannya kepada perempuan itu.


"Ayo",


"....".


Perempuan itu akhirnya tau dia sebenarnya terkesan, dengan keberanian Sora. Perempuan itu pun meraih tangan Sora yang kasar dan berdiri, keduanya tersenyum sebentar sebelum akhirnya Sora kembali merintih.


"Eh! tunggu!—".


Perempuan itu meraih Sora dengan hati-hati dan membawanya masuk ke goa. Lalu menurunkannya perlahan membiarkan Sora bersandar.


"Tunggu sebentar!— Bertahanlah oke?",


Perempuan itu keluar dari goa dan kembali dengan cepat membawa pedangnya.


Dengan hati-hati dia memasukkan pedangnya ke lubang peluru yang dia buat sebelumnya, mencoba mengeluarkan peluru dari tangan Sora.


"Egh— Akh!—"


Perempuan itu tak berbicara sepatah kata sama sekali, dan fokus bekerja pada 3 lubang tembakan.


5 menit kemudian, semua peluru nya telah dikeluarkan.


"Bagaimana? Sakit?",


"Tentu saja sakit bodoh! Masih ditanya.",


"Pfft.. hahahah, maaf, maaf.",


"...",


Perempuan itu tersenyum sebentar sebelum akhirnya melontarkan kata-kata lagi,


"Aku harus pergi, aku akan bilang kalau kau telah dibunuh oleh ku sat mencoba menyebrangi sungai dan hanyut disana, oke?",


"... Lalu apa yang akan terjadi padamu?",


".... Kau tak perlu memikirkannya, aku hanya akan... menerima hukuman kecil saja. Tak perlu khawatir."


".... Namamu?"


".. Eh?"


"Na-ma-mu-?",


"Eh, ah— Hanabi, Namaku Hanabi...",


"Sora, kau tahu jelas namaku kan."


"Hahah...",


"Kita akan berpisah disini. Tetaplah hidup sampai saat kita bertemu lagi... oke?",


"Khawatirkan lah dirimu! Oh iya, ambil pistol nya dan pedangnya jangan lupa."


"Ah— benar juga— hampir lupa pistolnya! Terimakasih, Siro!",


"Semoga kita bisa bertemu lagi... kalau... aku bisa..." Kata Hanabi semakin pelan,


Sora saat itu tak bisa mendengarnya dengan jelas. Tetapi dia tak mempedulikannya.


"...".


Dia melihat ke arah balutan yang dibuat perempuan bernama Hanabi itu.


"Sempurna... seperti... terlatih... Lupakan lah, aku tak boleh banyak berpikir dulu.. lebih baik istirahat. Sial, aku kangen masakan ibu...".