Energon: The Beginning of Everything

Energon: The Beginning of Everything
Bab 6, Kesempatan



Satu tempat di bandara San Francisco, Amerika.


Edward dan Sora sampai di bandara Amerika, San Francisco. Mereka pun menaiki taksi dari bandara menuju Mission District.


"... Sepertinya kau tidak begitu tertarik ke luar negeri ya." Kata Edward,


"Kenapa kau berbicara seperti itu?" jawab Sora,


"Entahlah... karena ekspresimu tak menggambarkannya?",


"Waw kita akan tiba di Amerika! Aku tak sabar!.... Begitu pasti anganmu kan?",


"Nak... lidahmu cukup tajam juga.",


"Aku hanya berbicara fakta, dan fakta terkadang menyakitkan.",


"....Aku tidak tahu apakah kamu memang seorang anak kecil atau bukan.",


"Anggap saja kamu berbicara ke seorang pemuda 28 tahun.",


"Pemuda dengan ukuran badan 106 cm?",


"Apakah kamu sedang mengejek penderita dwarfisme?",


"... Little ****.",


"Dan berbicara kata-kata didepan anak kecil.",


"You F.... Huft— Alright, you win.",


"Hahahaha.... Melihat orang tua kalah dengan anak kecil, pemandangan yang langka." kata sopir taksi menyela,


"....".


Tak ada yang menjawab respon dari sopir, Sora dan Edward hanya melihat satu sama lain lalu ke arah pak sopir. Tanda untuk mengingatkan satu sama lain untuk diam hingga tiba di Mission Disctrict.


"Sepertinya aku membuat suasananya jadi canggung ya." kata pak sopir bersuara seperti umur 40 tahun,


"... Fokus saja dengan jalannya, tua.",


"Oi!",


"Hahaha... anak jaman sekarang.... benar-benar kasar ya.",


"....".


Lampu merah di perempatan jalan.


"Karena itu, mereka harus diberi pelajaran." kata pak sopir melihat kearah cermin tengah.


Tiba-tiba ada 2 orang mencekik dan meletakkan pisau di leher Sora dan Edward.


"Ugh!",


"Ck! Who... are you...?" Tanya Sora serak,


"Hahah... We work in the dark, to serve the light.",


"Ini... Assassin..." kata Edward,


"Heheh, teman satu ini memang tahu banyak hal ya.",


"Tapi... kenapa? Bukannya... kalian membela... yang benar dari... bayangan..?",


"Urusannya cukup rumit. Mata merah itu...",


"Egh....".


Lampu rambu berubah menjadi hijau.


"Kami telah berkomunikasi dengan 'Masa Lalu' dan menerima banyak informasi tentang nya. Mata iblis... berkah dari Cursed of Knowledge.",


"Cursed...?" kata Sora,


"Oh, si kecil penasaran. Kau tak tahu seberapa besar kekuatannya... dan kau juga tak perlu tahu.",


"Jadi... kalian yang...",


"Membunuh orang tuamu? Jujur saja, itu bukan kami. Kami terlambat saat itu.",


"Hah...?",


"Take it.".


Assassin yang mencekik Sora menggerakkan pisaunya ke mata.


"Nak ku beritahu kau sesuatu, dunia lamamu telah tiada. Selamat datang di Neraka.",


"So...Ra!",


"Tunggu!" Kata Sora,


"Hmm?",


"Bagaimana kalau kita bernegosiasi?",


"Heh... hahahaha... I like you little one. Tapi sayangnya posisi mu tidak mendukungnya. Do it!",


"Alright.".


Sora memegang kedua tangan Assassin dan memukul kepala dengan kepala.


"AGH!".


Sora dengan cepat mengambil pisaunya dan menusuk tangan Assassin yang memegang pisau, membebaskan Edward.


"ARGH!".


Sepintas Sora melihat pistol dan, tanpa berpikir, langsung mengambilnya. Memberikannya kepada Edward. Edward pun dengan cepat menodong pistolnya ke arah Assassin yang mencekiknya. Tetapi saat yang sama, Assassin lainnya mengeluarkan pistol juga dan menodongkannya ke Edward. Sedangkan Sora meletakkan ujung pisau kepada Sopir Assassin.


Situasinya sangat panas, tak ada yang menduga akan hal ini.


"Dengan posisi ini aku bisa bernegosiasi bukan? Now here's the deal, Kalian akan membantu kami mencari mereka yang hilang dan kami akan membantu kalian.",


"Huh, apa yang bisa kau lakukan?",


"Aku tidak tahu, apa yang kamu mau?",


"Hmm... Entahlah",


"Begini saja. Aku akan membantu organisasi kalian dengan teka-teki yang mungkin kalian kewalahan, walaupun aku ragu akan hal itu.",


"Hahaha, tak ada yang bisa membuat kami kewalahan.",


"Bagaimana dengan Excalibur atau apapun itu. Dan kematian dari ayahku?",


"Cih....",


"Sepertinya kalian belum bertemu dalangnya ya. Bantu aku mengumpulkan data, aku akan menyelesaikannya. Good deal, right?",


"... Kau benar-benar anak nakal ya...",


"Seperti kataku tadi, anggap saja diriku pemuda berumur 28 tahun.".


Mobil pun menepi didepan sebuah rumah.


"Heh... Bagaimana aku bisa percaya dengan kata-katamu?",


"Tunggu aku saya berumur 21 tahun, aku akan kembali kepada kalian. Oiya, Kode nama ku, Sky.",


"Heh. Baiklah, Mark your Word, Sky...",


"..." Tak menjawab selain berekspresi bangga,


"Lepaskan mereka!" kata sopir berbahasa Indonesia.


Edward dan Sora pun menjatuhkan senjata mereka dan turun dari mobil itu.


"Little one, keep your word.",


"Aku akan." kata Sora berbahasa Indonesia,


"Heh.. hahaha, menarik.".


Sopir itu pun pergi tanpa meminta upah.


"Hah... yah, kita harus terbiasa dengan ini sepertinya." kata Sora,


"Jadi bagaimana rencana mu selanjutnya Sky?",


"....",


"Kenapa? Terlalu lucu?",


"Hah? Aku tidak menemukan letak komedinya dimana. Apapun itu, itu akan menjadi namaku sekarang.",


"Hanya Sky?",


"Tidak, Sky Mo.",


"Mo... Motushibi. Kau akan dikira anak dari Agnez Mo kau tahu? Setidaknya pikirkan yang lain.",


"Mo... Mokoda... Moko... Moto?",


"Mokoda? Boleh tuh. Daripada itu, mending kita masuk.",


"Oh iya.".


Mereka pun melihat ke arah rumah Edward, Sempit tapi juga tidak mencolok. Coraknya seperti menyatu dengan rumah-rumah disampingnya. Benar-benar khas rumah Duda.


"Boleh juga. Benar-benar gayamu." kata Sora yang seterusnya akan dipanggil Sky,


"Gaya...ku?".


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Mereka pun melakukan kegiatan sehari-hari (mandi, makan, dan lainnya).


"Tak biasa kau tahu bagi anak seusia dirimu masih terjaga hingga larut malam.",


".... Bukannya aku mau, tapi aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak pikiran yang menggangu. Lalu kau?",


"Membuat laporan tentang projek ayahmu.",


"Infinity Energy, ya...",


"Begitulah.".


Mereka sunyi untuk beberapa saat. Edward pun meregangkan badannya, kelelahan.


"Jadi, apa yang menggangu pikiranmu?",


"Kematian ayahku dan ibuku, orang yang memburuku, dan mata sakti ini. Dan langkahku selanjutnya",


"Hmm, overthinking ya.",


"Begitulah. Aku takkan bisa terus berada disini.",


"Hm? Kenapa?",


"Mudah, pertama aku bukan anakmu, kedua aku takkan bisa progress jika terus disini.",


"Baiklah, baiklah. Apa yang akan kamu lakukan untuk sekarang?",


"Untuk sekarang.... Aku mungkin akan masuk kuliah...",


"Kamu bahkan tidak punya sertifikat SMA dan jika kamu masuk kuliah dengan umur segini kamu hanya membuat dirimu semakin 'cerah'.",


"Hmm.... Kalau begitu aku takkan sekolah.",


"... Itu pilihanmu sih. Lagian juga 'Smartest Child Alive'.",


"Kamu mengejekku atau apa?".


Sky berhenti sejenak lalu kembali berpikir, tidak sekolah... itu adalah salah satu caranya. Tapi dia tetap harus menunggu.


"Edward... apakah ada perpustakaan disini?",


"Ada sih. Tapi kamu mau apa?",


"Tentu saja 'belajar'!",


"... kenapa tidak memakai hp atau apapun.",


"Eh..? Benar juga...",


"Tak seperti dirimu saja ya.",


"Jangan berbicara seperti kau sudah sangat mengenaliku." Kata Sky dengan nada kesal,


"Whoa, sepertinya aku membuatmu marah. Nih ambil.".


Edward menutup laptopnya dan mencabut flashdisk nya. Memberikan laptop yang baru saja dia gunakan kepada Sky.


"Ambil saja itu. Aku akan beli baru.",


"...".


Edward menaruh flashdisk nya di laci mejanya. Lalu pergi ke kamar mandi.


".... 10 tahun... Aku harus... menunggu hingga 10 tahun.".


Edward pun keluar dari kamar mandi.


"Oh iya, Sora— maksudku— Oh.".


Edward melihat Sky tertidur dengan laptop di sampingnya dan TV yang menyala. Ia pun mematikan TV dan meletakkan laptopnya di atas meja. Setelah itu, ia pergi berbaring di samping Sky dan tertidur.


Pagi pun tiba. Edward bangun dari tidurnya saat alarm berbunyi dan setelah itu dia menyadari bahkan Sky telah menghilang.


"Sky? Sky! SKY!".


Edward pergi ke lantai bawah dan menemukan seorang anak berusia 8 tahun sedang memasak.


"Eh?".


Sky menyadari suara langkah kakinya langsung menyapa,


"Sudah bangun? Makanlah, semuanya aku yang buat.",


".... Aku tidak tahu kamu bisa masak.",


"Bagaimana kamu bisa tahu aku bisa masak jika kamu baru pertama kali melihat aku masak. Dulu aku cukup tertarik dengan masak-memasak karena membaca sesuatu yang tidak aku mengerti kebanyakan dari buku resep. Aku pun mulai membantu ibuku di dapur saat itu setiap kali dia masak. Dan akhirnya aku keterusan bahkan sampai mengepel dan lainnya." kata Sky panjang lebar saat Edward sedang makan masakannya,


"... Kau tak perlu melakukan semua ini.",


"Inilah yang setidaknya aku bisa untuk 10 tahun ke depan.",


"10 tahun.... Kamu sudah menentukan apa yang kamu ingin lakukan ya.",


"Begitulah. Aku akan tetap disini hingga 10 tahun mendatang. Dengan begitu semua orang akan mengira keluarga Motushibi telah mati.",


"Apakah itu berarti kamu akan terus berada didalam rumah?",


"Tentu tidak.",


"Lalu kamu mau pergi kemana dan bagaimana?",


"Aku hanya akan pergi ke toko terdekat untuk membeli beberapa bahan dan aku juga perlu uang mu untuk lab buatanku—",


"T-tunggu dulu, lab katamu?!",


"Ya, aku akan membangunnya di bawah tanah.",


"Kau tahu soal basement ku? Nak, kau baru 1 malam disini.",


"Dengan rumah mu yang kecil, itu bukan masalah.",


"..." Edward tak bisa berkata-kata,


"Dan soal apakah aku akan aman saya berada diluar, aku akan memakai masker untuk menutupi mukaku dan oh iya aku juga butuh lensa kontak warna hitam dan mungkin juga pewarna rambut, warna apapun terserah",


".... Pewarna rambut bisa aku beli tapi lensa kontak?",


"Kau tidak melihat mataku dengan baik ya.".


Sky pun melotot ke arah Edward dan dia pun langsung tahu alasannya. Warna matanya, merah gelap dengan pola khas samar membentuk bintang.


"... Begitu kah... Memang Assassin ya, tak ada sesuatu yang bisa lepas dari mata mereka." Kata Edward,


"Begitulah, dan soal orang lain yang mungkin mengenali sebaiknya jangan khawatir. Dunia berubah, tak ada lagi yang memperhatikan prestasi yang membosankan, bahkan diriku sendiri. Semua hal bodoh adalah hal yang lebih mereka perhatikan.",


".... Baiklah kalau begitu.".


Edward pun langsung makan makanan buatan Sky dengan lahap karena memang enak.


"Hei, Edward. Assassin yang sebelumnya kita temui itu siapa?" Tanya Sky menyela waktu makan Edward,


"Mereka adalah Assassin yang berasal dari organisasi yang telah lama ada. Kurang pasti kapan didirikan, ada yang bilang telah lama ada semenjak manusia modern pertama.",


"....",


"Organisasinya dipanggil Brotherhood atau Hidden Ones, mereka adalah musuh bebuyutan dari Templar, organisasi yang didirikan demi membangun sebuah dunia yang aman dan damai dimana mereka mengontrol segalanya. Telah lama ada dan tak pernah punah. Keduanya selalu saja menyusahkan satu sama lain.",


"... Mereka pernah bilang mereka telah berbicara ke 'masa Lalu' maksudnya apa?",


"Ah itu, aku tak tahu dengan pasti tapi... Dikatakan mereka bisa kembali ke masa lalu.",


"Hah? Tapi bagaimana bisa?",


"Hybrid. Mereka mengikuti jejak dari manusia modern pertama di bumi, dan mencari jejak selanjutnya hingga menemukan titik yang paling cocok untuk hybrid. Tapi tak semua manusia cocok melakukan hal tersebut, sehingga bisa dibilang hanya manusia terpilih yang bisa.",


"... Cara kuno ya.",


"Cara nya kuno tapi setidaknya kamu bisa kembali ke masa lalu. Kemungkinan karena kejadian ayahmu baru saja terjadi sehingga mereka belum bisa kembali ke masa lalu dan mengumpulkan informasi. Setidaknya sampai 100 tahun mendatang.",


"Bagaimana kamu tahu?",


"Entahlah, hanya menebak kurasa. Semua yang mereka lakukan hanya demi sebuah artefak kuno, entah ayahmu ikut campur atau karena mereka mengincar projeknya. Banyak pertanyaan yang harus dijawab.",


"....",


"Dan oh iya, aku dengar akan hal ini dan sepertinya benar.",


Edward pun selesai memakan makanannya, pergi berdiri membawa piring dan meletakkannya di dapur berdiri bersebelahan dengan Sky. Dia pun berbisik.


"Assassin tersebar di seluruh penjuru dunia dan bahkan sejarah. Lebih baik kita hati-hati.".


Edward pun pergi ke belakang meninggalkan Sky sendirian.


"... Assassin ya...".


Pikiran sky:


Jelas mereka akan tetap mengetahui ku walaupun aku sudah menyamar. Tapi setidaknya mereka akan tenang sedikit... Entah sampai kapan.


Tiba-tiba ada sebuah surat muncul dari sisi bawah pintu. Logo aneh berbentuk seperti segitiga, sepertinya merujuk kepada ujung pisau atau pedang. Sky pun mengambilnya dan membuka isinya.


"Kau memiliki waktu 12 tahun untuk membuktikan bahwa dirimu memang mampu, kami akan terus mengawasinya dan menjagamu dari bayangan.


Lakukan apa yang harus kau lakukan, Sky.


-Hidden Ones"


Setelah membaca surat itu, Sky pun tersenyum penuh percaya diri seperti dirinya... menerima suatu tantangan.


Sky dan Edward menjalani hidupnya dengan damai dilindungi oleh Hidden Ones. Sky terus belajar dan melakukan eksperimen di basement dan dia juga belajar kepada Edward. Dan Edward tetap bekerja di lab mengumpulkan informasi yang bisa dia terima.


Sky terus menerus menghasilkan penemuan menakjubkan yang sebenarnya bisa mengubah dunia tetapi bukan itulah yang dia incar. Dia berharap suatu saat dia akan berada di atas awan melihat kejam dan indahnya dunia dari atas, dari Sora, dari Sky, dari Langit.


Hingga akhirnya 10 tahun pun telah berlalu.