
Setelah beristirahat cukup lama, pagi pun tiba. Sora bangun dengan rasa sakit yang masih terasa di sekujur tubuhnya.
"Pagi ya.... Aku belum makan malam kemarin... Aduh—!".
Rasa sakit masih terasa, sangat terasa. Setelah pertempuran pertamanya, dia akhirnya mengerti 'dunia orang dewasa'. Kejam, tak ada pelangi.
Setelah beristirahat beberapa lama, Sora mencoba untuk berdiri.
"Egh— Ah!".
Gagal. Lalu lagi.
"Egkh— Kah hah!"
Dan coba lagi.
"Ekh— Hah!".
Dan berhasil. Butuh banyak usaha untuk berdiri tetapi dia harus pulang untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Hah—Hah—".
Selangkah demi langkah Sora maju, membawa sakit yang dia alami. Tapi itu adalah perjalanan yang cukup panjang.
1 jam telah berlalu, Sora terus maju berjalan sampai akhirnya bertemu jalan raya. Beruntungnya, di samping jalan raya tepat ada Rambu Penunjuk, Mogimachi Street.
"Ah... Aku sepertinya sangat beruntung.".
Rumah Sora sekitar 100 meter lagi dari posisinya. Dia pun langsung bergegas secepat yang ia bisa.
Tanpa banyak makan waktu, Sora pun tiba dirumahnya. Dia melihat banyak kendaraan, mulai dari mobil ambulan dan polisi. Dia pun langsung berlari, melupakan rasa sakitnya.
"Hah— Hah— Ayah! Ibu!".
Seorang polisi pun mendengar suara teriakannya.
"Ah Oi! Kamu Sora kan?!".
Orang-orang sekitar yang mendengar akan hal itu, langsung melihat Sora.
"Ah! itu benar dia!",
"Ayo kesana, ayo!".
Tiba-tiba banyak kamera mengarah ke arahnya. Tapi Sora tak mempedulikannya, setidaknya mereka membiarkannya lewat.
Dengan terengah-engah, Sora mendatangi rumahnya. Dan saat dia sampai, dia melihat sesuatu mengerikan yang bahkan pikirannya tak bisa menghadapinya. Di depannya tergeletak 2 tubuh yang tak bernyawa, dan Sora sangat familiar dengan wajahnya. Orang tuanya tergeletak disana, tak bernyawa dan lebih buruk lagi entah kenapa tanpa mata.
Sora pun mendekat perlahan demi perlahan sebelum akhirnya diberhentikan oleh polisi dan dibawa ke belakang.
"Nak! Nak! Apa kau sadar?!".
Sora tak menjawab, pikirannya tak merespon seperti tersangkut. Dia tak bisa mengolah 'informasi' yang baru dia dapatkan.
"Cih— Woi! Medis! Mana Medis!".
Bantuan medis pun datang, mengobati tangan dan kakinya yang terluka. Tapi kesadaran Sora sedang 'terjebak', hingga dia mendengar suara mobil Van sayang dan jumlahnya lebih dari satu. Saat mereka berhenti, pintu belakang mobil ditendang dengan kasar dan mengeluarkan anggota SWAT.
"Tahan Posisi!",
"Lapor! Kami telah mengepungnya! Menunggu perintah!".
Sora mendengar itu semua berpikir kalau dunia telah melupakan keberadaan keluarganya. Tapi kenapa?
Lalu ada pria bertopeng dengan rambut pirang keluar dari salah satu Van.
"Kami disini untuk Sora Motushibi. dan kami tahu kalau dia ada disini.",
"Matikan Kameranya!" Kata salah satu prajurit dengan kasar memukul kamera salah satu wartawan.
Pria bertopeng itu melihat ke arah prajurit itu sekilas dan lanjut berbicara.
"Dimana dia?".
Semuanya terdiam hingga salah satunya menjawab.
"Atas dasar apa kamu membawanya?!",
"Kalian tak diizinkan untuk mengetahui alasannya. Yang kalian tahu adalah Bawakan Sora ****Motushibi****. Ini adalah perintah dan rahasia Pemerintah.".
Sora pun keluar dari belakang ambulan kehadapan pria bertopeng itu.
"Anak baik." kata pria bertopeng itu,
"Sebelum kamu membawaku, ada satu hal yang harus aku ketahui. Kenapa?",
"... Nak, aku takut kamu bukan berada diposisi untuk bernegosiasi.".
Sora menghadap ke belakang, mengingat kalau belakang rumah ada jurang. Satu-satunya jalan yang bisa dilewati dan tak dijaga.
"Benarkah?" kata Sora,
"Nak, kau hanya perlu satu. Yaitu ikut dengan kami.",
"Jika aku tidak mau?",
"Maka kami terpaksa.",
"... Sepertinya tak bisa bernegosiasi lebih jauh ya."
Sora pun langsung berlari ke masuk ke rumah.
"Tangkap dia!".
Terus berlari hingga akhirnya masuk ke bagian pintu belakang. Dia mendobrak pintunya sekuatnya tetapi terkunci.
"Cih!".
Dia pun melihat ke sekitar, menemukan jendela. Dia memanjat dan memecahkan jendela itu. Dia tak punya waktu terbuang. Berlari hingga akhirnya bertemu dengan jurang.
"Hah— Hah—".
Dan Tim SWAT pun tiba di belakang rumah langsung mengepungnya.
"Nak, kau tak punya jalan lain. Ikutlah dengan kami atau...",
"Mati? Sayangnya bukan kalianlah yang menentukan kematianku. Dan bahkan Dewa kematian sendiri!".
Sora pun sengaja tersandung oleh pagar rumahnya yang sangat pendek dan jatuh ke jurang.
"Tunggu—!".
Tapi terlambat.
"Aku akan kembali!" Teriak Sora.
Dia jatuh sangat dalam, kemungkinan takkan selamat. Tetapi seperti katanya sendiri, bukan takdir yang menentukan kematiannya.
------++++++-----+++++----++++---+++
Saat sampai dasar jurang. Sora diselamatkan oleh beberapa dahan kayu yang cukup besar. Tapi karena itu juga dia merasa retak di daerah pinggangnya.
"Agh— Aduh— Sial.".
"Hah— Hah— Hari-hari dikejar. Sepertinya aku telah menjadi buronan dunia huh?" bicara kepada dirinya sendiri.
Dia pun berjalan perlahan ke depan dan menemukan sungai.
"Kurasa aku harus tinggal disini dulu sementara. Huft— Baiklah.".
Sebelum hari mulai malam, Sora membuat beberapa peralatan dasar bertahan hidup. Mulai dari tombak kayu, dia pun pergi ke sungai untuk menangkal ikan. Dia tak punya pengalaman bertahan hidup tetapi dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Dia berhasil menangkap 3 ikan, dan membuat api unggun menggunakan busur kecil dengan tali 'alam' berasal dari tumbuhan merambat dan kayu kuat pendek. Membutuhkan waktu lama tetapi pantas. Dia juga membuat sebuah pembentuk tubuh alami dari baju nya dan tongkat sepanjang 5cm untuk pinggangnya yang retak. Dan Sora juga beristirahat.
Tapi maksud dari hidup sementara disini bukan berarti benar-benar menetap. Saat pagi esok tiba, harus pergi pagi-pagi menutupi bukti keberadaannya dan lanjut berjalan masuk ke hutan. Dia melakukan hal yang sama terus menerus selama 5 hari 5 malam sampai akhirnya di hari ke 6. Dia menemukan sebuah Shrine, Itsukushima Shrine.
"Ah— wow. Setidaknya disini aman. Kalah begitu targetku adalah Tagami."
Dan Sora pun melanjutkan perjalanan. Totalnya menjadi 6 hari 5 malam hingga dia mencapai Perumahan Tagami. Selama perjalanan, lengannya hampir sembuh begitu juga dengan kakinya. Punggungnya juga membaik dari sebelumnya. Saat itu malam, pas sekali untuk melewati perumahan Tagami dan pergi ke satu daerah yang lebih aman. Walaupun Sora sendiri kurang yakin apakah daerah aman itu ada atau tidak untuknya.
Saat dia berjalan pelan-pelan sampai tidak bersuara, tapi sayangnya ada sebuah mobil datang ke arahnya. Untungnya mobilnya tidak cepat, dan keluarlah pengemudinya.
Sekilas mirip Jason Momoa dimata Sora, dia adalah Edward Alberic.
"Kau...!",
"****!—".
Tanpa pikir panjang, Sora pun langsung berlari tetapi sayangnya larinya tetap tak cepat sehingga bisa dikejar oleh ilmuan itu. Dengan cepat Edward menangkapnya dan mencoba menenangkannya.
"Woi! Tenanglah, aku bukan orang jahat. Aku telah mendengar apa yang dilakukan oleh orang-orang 'itu' pada keluargamu, aku turut berdukacita."
"Hah—?",
"Eh? Kau tidak tau?",
".... Aku tahu, apakah kamu benar-benar bisa aku percaya?",
"... Percaya atau tidak, itu urusanmu.".
Sora memikirkan baik-baik hal itu. Dia tak tahu harus pergi kemana, dia juga butuh bantuan. Dia tak punya pilihan lain sepertinya.
"Baiklah. Lepaskan aku.".
Edward pun melepaskannya dan membantu Sora berdiri.
"Kau tau namaku kan?" tanya Sora,
"Ya, begitulah. Aku adalah Edward Alberic, aku ilmuan dari Amerika.",
"Begitu... Kamu tahu apa yang terjadi?",
"Aku tahu, dan bukan hal yang bagus membicarakannya disini.".
Edward pun kembali ke mobilnya.
"Ayo masuk!".
Sora pun tanpa sungkan, masuk ke mobilnya. Dan Edward pun membawanya pergi.
Itu adalah perjalanan yang canggung tapi Sora tak peduli.
"Jadi... kamu tahu kenapa?",
"Akhirnya.",
"Wow kau menunggu ternyata huh, dan ngomong-ngomong bahasa Inggris mu cukup bagus untuk bocah seusia mu.",
"Terimakasih.",
"HM...".
Diam sejenak lalu,
"Alasan kenapa mereka mengincar orang tua mu karena 3 alasan.",
"...Lanjut kan.",
"Pertama karena proyek yang ayahmu buat bernama Infinity Energy.",
"Infinity... apa?",
"Infinity Energy adalah seperti namanya penghasil energi yang tak terbatas gabungan antara atom kecil membentuk satu atom besar.",
"Tapi... itu mustahil, itu melawan hukum alam.",
"Begitulah jug pikirku. Selalu ada yang harus jadi korban tapi aku tidak tahu apa.",
".... Lalu yang kedua?",
"Kedua karena ayahmu pernah menentang untuk memberikannya kepada pemerintah.",
"Lagi-lagi pemerintah?",
"Ya begitulah, Ayahmu pasti berpikir kalau mereka akan menggunakannya untuk sesuatu yang tidak manusiawi.",
"Ya dia pasti. Tapi tetap saja, menciptakan sesuatu padahal tahu resikonya... bodoh ya...",
"... Yang ketiga karena mata merah yang keluargamu miliki.",
"Mata merah? Semacam Sharingan gtu? Heh, mana mungkin itu kan cuma mitos.",
"Umm yah, pertama itu bukan mitos, kedua itu bukan seperti Sharingan dari Naruto. Tetapi... entahlah aku juga kurang informasi.",
"Aku tak pernah melihatnya.",
"Entahlah, mungkin ayahmu menyembunyikannya.",
"Bisa jadi, tapi apa kekuatan supernatural nya?",
"Mulut mu tajam. Berdasarkan informasi yang kudapat sejauh ini. Mata itu meningkatkan fokus dimana dia akan menyuruh otak untuk fokus melakukan sesuatu dengan melupakan segalanya. Dan jika tujuannya berhasil maka dia akan kembali semula.",
"Oi pelan-pelan, baik coba ku telaah. Bukan kah berarti itu adalah otaknya yang emmm apa sebutannya?",
"Mutasi genetik?",
"Ya... semacam itulah. Singkatnya mata merah itu adalah buktinya kalau dia sedang mengaktifkan 'kekuatan super' nya. Begitu maksudmu?",
"Ya begitulah, rumor mengatakan jika maaf merah aktif tetapi otak telah nonaktif atau bisa dibilang mati. Dia tetap akan melakukan tugasnya. sampai benar-benar mati.",
"Whoa whoa. Jadi misal aku kehilangan kepala saat memakai mata merah aku akan jadi semacam zombie begitu?",
"... begitulah menurut rumor.",
"Cih, aku akan memotong kepala orang yang memulai rumornya."
"...",
"Jadi, kita kemana?".
"Ke tempat ku lalu kita akan pergi ke rumahku di Amerika. Tempat ini tak aman untukmu.",
".... Aku setuju dengan ide mu.",
"...".