Energon: The Beginning of Everything

Energon: The Beginning of Everything
Bab 12, Masa Lalu



Aku... Aku tak tahu apa-apa.... Aku tiba-tiba didorong oleh ayahku sendiri... ke sebuah lubang... hitam...? Saat aku sadar aku sudah ada di dunia ini.... asing... Aku takut... seseorang... seseorang tolong aku!


Tiba-tiba Hanabi terbangun dengan terengah-engah.


"Mimpi buruk?" Kata Sky yang ada disampingnya.


Sora


Hanabi langsung melihatnya dengan cepat lalu menunduk.


"... Begitulah...".


Sky mengambil makanan yang sudah dia siapkan diatas meja disamping kasur lalu memberikannya kepada Hanabi.


"Bisa makan sendiri?",


"K-kurasa...".


Hanabi mengambil piringnya dan tanpa sadar hampir menjatuhkannya.


"Ah—!".


Sky Mo reflek mengambilnya dan untungnya sempat.


"... Hufft.... Hampir saja... Kau tahu? kau tak perlu memaksakan diri seperti itu.",


"Maaf...",


"... Yah sudah sifatmu sih. Aku akan menyuapi mu kali ini sampai bisa makan sendiri.",


"M-menyuapi?!",


"Kenapa?",


"T-tidak... Hanya saja...",


"Malu? Maaf aku tidak malu.",


"Aku! Akunya yang malu!",


"Kenapa?",


".... Duh! Sky nggak peka!",


"....Hah?".


Setelah itu semuanya hening sesaat. Sky menghela nafas lalu berbicara.


"Sesuai janji setelah kamu bangun kamu akan menceritakan segalanya, termasuk mata 'sakura' mu itu.",


"... Iya...".


Sky menatap Hanabi dengan hening lalu memejamkan mata.


"Lupakan saja.",


"...Eh?",


"Kau belum pulih sepenuhnya. Mengeluarkan mata aneh itu pasti memakan banyak tenaga sampai-sampai tak bisa memegang sebuah piring kan?",


"Tapi...",


"Tenang saja. Kau bahkan belum siap menceritakannya kan? Kau tak sepenuhnya percaya denganku.",


"Bukan! Aku—!",


"Tak perlu memaksakan diri, semuanya terlihat jelas di wajahmu.",


"....",


"Jujur aku memang penasaran setengah mati, tapi... aku bisa sabar jika memang harus.",


"....".


Hening seketika. Tiba-tiba Hanabi menghancurkan keheningan itu.


"Aku... Bukan berasal dari dunia ini..",


"....".


Sky Mo menatapnya dalam diam seakan dia sudah mengetahuinya.


"Aku... tak tahu darimana aku berasal... yang aku tahu... aku memiliki nama... Hanya itu.",


"Hanabi...?",


"... Bukan... Itu hanya nama samaran ku...",


"... Heh... bodoh bukan..? Membongkar samaran tersendiri ke orang yang baru saja dikenal... Tapi biarlah... Tak ada lagi yang penting...",


"....",


"... Hei, Sora... Apa yang harus kulakukan..?",


".... Apa maksudmu?",


"Apa yang harus kulakukan...? Aku tak tahu lagi... Aku... takut... Aku tak ingin sendiri...",


"... Kalau begitu ikutlah denganku.",


"Kemana...?",


"Kemana pun aku pergi, selalu berada di sisiku.",


".... Lalu?",


"Lalu? Kamu meminta lebih?... Hmm, aku akan membuat dirimu bisa diterima. Mungkin bukan di dunia ini tetapi kau tahu maksudku kan? Dan perlahan kita juga akan mencari tahu masa lalu mu, tentang matamu, asalmu, orang tuamu.. semuanya.",


"Kau mau melakukan itu... untukku?".


Sky Mo memiringkan kepalanya dan menatap dengan heran ke arah 'Hanabi',


"Tentu saja. Untuk apa lagi?... Yah bisa sih buat pengetahuan tambahan. Itu sudah cukup jadi plus untukku.",


"...".


Hanabi membuka bibirnya tanpa sadar dan melihat Sky layaknya sebuah cahaya yang dia selalu cari dalam kehidupannya.


"Tak ada yang rugi disini, kau dapat yang ingin kau dapat dan aku dapat yang ingin aku dapat. Semua untung, semua senang. Bagaimana?",


"... Apa tidak apa..?",


"Apanya?",


"Kau kan punya tujuanmu sendiri....",


"Ah, kau benar. Aku akan fokus ke situ dulu baru ke masa lalumu. Waktu ku masih banyak tetapi aku akan segera menyelesaikannya.",


".... Terimakasih...".


Sky Melihat Hanabi dengan heran.


"Buat apa?",


"Karena bersedia menolongku...",


"Aku melakukannya demi dirimu sendiri, dan lagi kau juga telah melatihku dengan ini aku siap masuk lapangan.",


"Tapi tetap saja...".


Hanabi tersenyum indah ke arah Sky Mo, tak ada beban dalam senyumannya. Benar-benar senyuman tulus, murni dari hatinya.


"Terimakasih... Sora...".


Sky melihat senyuman itu, dan tiba-tiba teringat dengan ibunya dulu yang telah lama tiada.


(Kuakui itu... senyuman paling indah yang pernah kulihat dalam hidupku dan mungkin... tidak bisa kutemukan lagi.)


Sky langsung tersadar dari ingatan masa lalu nya. Dan langsung tersenyum.


"Kalau begitu langsung saja, untuk yang akan kita lakukan sekarang... Hanabi—",


"Takao.",


"... Ha?",


"Takao, nama asliku.",


"Takao... diambil dari pegunungan Takao ya?",


"Eh? Ah— Kurasa...",


"Kau tak tahu?".


Takao menggelengkan kepalanya.


"... Tanpa sadar kau baru saja memberikan clue darimana kamu berasal.",


".... Takao...",


"Untuk sekarang kita fokus dengan masalahku terlebih dahulu. 6 bulan lagi, kita seharusnya diberikan izin untuk turun langsung ke lapangan, dan targetnya adalah lab ayahku yang lama, Lab Shinto, Nagasaki Jepang.".