Energon: The Beginning of Everything

Energon: The Beginning of Everything
Bab 10, Duel



1 Bulan telah berlalu. Sky dan Hanabi terus berlatih bersama di Dojo. 1 bulan belum terdengar kabar orang lain ada disini selain mereka berdua, dan karena mereka juga tak pernah keluar dari Dojo tanpa alasan sehingga Sky pun ketinggalan informasi tentang dunia. Dia bisa dibilang lengah.


Saat ini, kemampuan Sky sudah menyamai kemampuan Hanabi. Sekarang sedang berlatih, Hanabi menyerang ke arah sky lurus ke depan tetapi ditangkis dengan mudah oleh Sky. Sky, tanpa perasaan, langsung ke arah Hanabi dengan cepat dan mengakhiri pelatihan.


"Kah—!" suara Hanabi.


Hanabi dijatuhkan oleh Sky dan pedangnya terbang ke belakang. Saat membuka matanya sebuah pedang kayu telah berapa di depan lehernya.


"Aku menang." Kata Sky.


Hanabi diam sebentar dan bilang,


"Dan aku kalah.".


Sky menyingkirkan pedang kayunya dan membantu Hanabi berdiri. Hanabi pun mengatur nafasnya dan menghelanya.


"Hah— Kuakui, kamu memang jenius berpedang.",


"Tidak, aku tidak jenius.",


"Dan sekarang kamu menjadi rendah hati? Apa kamu sedang mengejekku?",


"Entahlah." balas Sky sembari dirinya pergi mengambil pedang kayu yang dijatuhkan oleh Hanabi.


Sky diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun melihat dan berjalan ke arah Hanabi, memberikan pedang kayunya kembali.


"Hanabi... jujur saja, caramu bertarung bukan seperti samurai atau... yang lainnya.",


"Aku tak berniat menjadi samurai, tapi yang lainnya?",


"....".


Sky seperti sedang menyembunyikan sesuatu, dia pun mengalihkan pandangan matanya.


"Oi, Sky!".


Sky tak merespon seolah-olah berpura-pura tak mendengar.


"Oi!".


Belum ada jawaban.


"Cih, Lihatlah ke arahku!" kata Hanabi memegang pipi Sky mengarahkannya ke arahnya.


Setelah itu diam sejenak.


"Wah! M-maaf!".


Sky heran dengan Hanabi, tetapi dia langsung melupakannya saja.


"Akulah yang harusnya minta maaf. Gimana bilangnya ya, Cara berpedang mu... aku tak pernah melihatnya. Terlalu egois, penuh amarah, dan ketidaksabaran.",


"Wow, sejak kapan kamu jadi pengamat pedang?",


"Sejak dinosaurus tiada. Aku tidak bercanda soal cara berpedang mu. Terlalu mudah dibaca, tak teratur. Kamu mengayunkannya layaknya tidak ada temponya. Seperti seorang anak kecil yang baru memegang pisau pertama kalinya.",


"....",


".... Kau... terburu-buru, Hana.",


"... Eh?... bagaimana... kamu tahu?",


"Aku hanya menduganya, tapi tak mengira kalau kau benar-benar...",


"... Kau tahu pasti... karena rumor kan? Seorang assassin yang baru bergabung yang memiliki gaya bertarung sama sekali bukan tipe Assassin.",


".... Tak ingin menyinggung tapi ya kau benar.",


".... Hah— aku harusnya tau.",


"Kenapa?",


"Tak apa, kau bisa lupakan. Kau bisa berlatih sendiri mulai dari sekarang, aku sudah bukan tandinganmu.",


"Oi, Hanabi—!".


Hanabi pun pergi dari Dojo, membuka dan menutup pintu dengan sangat kasar, meninggalkan pedangnya di lantai. Sky tak mengejarnya, dia mengambil pedang kayu itu dan membiarkan Hanabi sendirian.


Sky pun membersihkan tempat latihan dan pergi ke arah portal, kembali ke Assassin City, kembali ke tempat tinggalnya.


Keesokan harinya, dia kembali ke Dojo tersembunyi. Menemukan suara seseorang sangat keras dari dalam, ada seseorang yang berlatih sangat keras.


"HAH! HEGH! HAH!" Suara itu memenuhi Dojo.


"... Minggir." kata Hanabi,


"Sayangnya, tidak akan.",


"Apa maksudmu?",


"Kamu tahu maksudku. Duel.",


"Duel? Kau kan sudah menang kemarin.",


"Kau belum serius, aku pun belum. Dan aku takkan menganggapnya menang.",


"... Jika aku menang, maka tinggalkan aku sendirian...",


"Dan jika kamu kalah, tetap tinggal disini. Dan jika aku kalah... takkan hanya meninggalkan mu sendirian, aku juga takkan kembali lagi.",


"..... baiklah.".


Keduanya bersiap di 2 sisi yang berlawanan. Sky dengan pedangnya di tangan kanan dan Hanabi dibuat layaknya memiliki sarung pedang.


Dan langsung tanpa basa-basi, Hanabi menyerang duluan. Tapi sayangnya serangannya mudah dibaca dan ditangkis dengan mudahnya. Sky melawan dorongan dari pedang Hanabi lalu Hanabi menangkisnya, menjadi adu kekuatan.


Seimbang! Memantulkan keduanya tetapi tak ada istirahat, keduanya berinisiatif menyerang dan menyerang. Keduanya seimbang ditengah ring, suara pedang kayu bertumbukan memenuhi ruangan. Hanabi pun mundur, mencondongkan pedangnya setinggi bahu dan menyerang dengan cepat. Sky tak sempat bereaksi dan bahu tangan kirinya pun terkena serangan. Sakit, tapi inilah yang Sky Mo tunggu.


Sky mulai serius, menyerang dari bawah! Membuat Hanabi mundur ke belakang, dengan cepat Sky memperbaiki postur badan dan dari bawah kiri tangannya dia menyerang.


Hanabi menangkisnya, membuat posturnya tidak stabil. Sky pun mengambil kesempatannya, dari arah kanan tengah dia menyerang lagi ke arah pedang Hanabi untuk menghancurkan pertahanannya. Dan saat pertahannya hancur, dari atas bahu kiri dia menyerang lurus ke depan. Hanabi melihatnya datang, tiba-tiba mengeluarkan bunga sakura dari tubuhnya seperti ilusi, dan menyerang ke pergelangan tangan kanan Sky. Membuat terbang pedangnya, mengambilnya dan mengakhiri pertandingan.


Sky tak percaya apa yang dia lihat barusan, bukan karena dia kalah tetapi beberapa kelopak bunga sakura keluar saat Hanabi menghindari. Tak hanya itu, jika Aku tidak salah lihat... Mata Hanabi... berubah menjadi warna pink sakura dengan iris mata membentuk bunga sakura dan pupil berwarna pink bercahaya melihat ke arah lantai. Apa itu?


"... Apa barusan...?".


Hanabi dengan mata aneh melihat ke arah Sky perlahan, tak menjawab pertanyaan Sky.


"....So....Ra..." bisik Hanabi.


Dan tiba-tiba Hanabi pingsan kelelahan di tempat. Sky dengan cepat menangkapnya.


"....Kumohon... jangan.... pergi... aku... tak punya... siapapun lagi... Kumohon.... selamatkan... aku..." kata Hanabi sebelum dirinya pingsan,


"...Hah...?".


Sky melupakan perkataan Hanabi dan mata aneh barusan dan segalanya, dia membawa Hanabi pergi ke tempat tinggalnya di Assassin City.


Keesokan harinya, Hanabi bangun dari pingsannya. Dia melihat sekeliling sebelum menyadari kalau ini bukan kamarnya.


"Aku... dimana..? Sora...? Sora!" kata Hanabi tetapi tubuhnya masih kelelahan.


Dia memaksakan dirinya untuk bangun dari kasur dan pergi mencari Sora sambil berteriak lemah.


"Sora...!",


"Sora...!".


Berulang kali dia berteriak sambil mencoba berdiri sekuat tenaga. Dia pun keluar dari kamar dan jatuh didepannya. Mendengar suara berisik itu, Sky pun muncul di belakangnya.


Sky mengangkat Hanabi dan membawanya kembali ke kasurnya.


"So...Ra..! Syukur...lah...",


"Kau masih lemah, jika kamu mati setidaknya jangan disini.",


"Ehe...hehe...".


Setelah diangkat ke kasur, Sky berinisiatif untuk membuatkan Hanabi makanan tetapi dihentikan olehnya. Hanabi memegang tangannya sangat lemah, tetapi Sky bisa paham jika dalam keadaan normal tangannya telah digenggam sangat erat seperti takut hilang.


"Jangan... tinggalkan... aku...".


Sky melihat ke arah Hanabi, dan memegang tangan Hanabi yang memegang tangan Sky.


"Aku takkan, aku berjanji. Beristirahatlah, aku akan membuatkan mu sesuatu yang bisa memulihkan tubuhmu.",


"... terimakasih...",


"Bayar terimakasih mu dengan semua pertanyaan yang akan kutanyakan nanti saat dirimu mulai pulih. Sebaiknya kamu bersiap.",


"Heh...Mhm." angguk Hanabi.


Hanabi melepaskan tangannya dari Sky, dan Sky pun pergi meninggalkan Hanabi sendirian dikamar dengan pintu tertutup. Hanabi tak bisa memikirkan apapun, dia langsung kembali tidur.