ELDORIA

ELDORIA
ELDORIA 7



Pagi yang cerah menyambut para pahlawan. Mereka telah siap siap melakukan perjalanan selanjutnya.


Kini, mata mereka tertuju pada sebuah pegunungan yang menjulang tinggi di kejauhan, dikenal sebagai Pegunungan Angin. Drako, yang selama ini menjadi pemimpin tak resmi kelompok tersebut, berdiri di depan mereka dengan peta yang terbentang di atas sebuah batu besar.


"Dengan perjalanan kita yang telah melintasi  wilayah klan wolf dan sungai Rohani.Sekarang, tantangan sesungguhnya masih menanti kita di Pegunungan Angin," kata Drako dengan suara penuh keyakinan.


Lyra, yang selalu bersemangat dalam menghadapi petualangan, mengangkat alisnya. "Pegunungan Angin? Terdengar menarik. Tapi apa yang sebenarnya kita harapkan di sana?"


Drako tersenyum pada pertanyaan Lyra. "Pegunungan ini tidaklah seperti pegunungan biasa. Angin di sana berbeda, memiliki kekuatan dan rahasia tersendiri. Konon katanya, angin di Pegunungan Angin bisa memberi petunjuk tentang masa depan."


Arin, yang selalu menjadi pemikir dalam kelompok, mendekatkan dirinya ke peta dan mengamati dengan seksama. "Tapi bagaimana kita bisa menghadapi angin seperti itu? Apa yang kita butuhkan?"


"Kita membutuhkan kekuatan, ketenangan, dan keterhubungan dengan alam," jawab Drako sambil mengamati setiap wajah temannya. "Kita telah belajar banyak tentang diri kita sendiri selama petualangan ini. Sekarang, kita perlu menggabungkan itu semua dan melangkah maju dengan keyakinan."


Elysia, yang senang mengamati keindahan alam, menatap puncak-puncak pegunungan dengan mata berbinar. "Aku merasa ada sesuatu yang istimewa di sana. Aku siap menghadapi apa pun yang menantikan kita."


Dharon akhirnya berbicara, "Saya merasa kita harus berhati-hati. Kekuatan angin yang mungkin bisa membantu kita juga bisa menjadi ancaman jika tidak dihormati."


Drako mengangguk setuju. "Benar, Dharon. Kita harus menghormati alam dan kekuatannya. Dan kita akan melakukannya dengan menjaga kebersamaan dan saling percaya."


Mereka semua bertukar pandangan, merasakan semangat persatuan yang tumbuh di antara mereka. Setelah beberapa saat, Lyra akhirnya berkata, "Jadi, bagaimana kita akan memulai perjalanan ke Pegunungan Angin ini?"


Drako tersenyum dan menunjuk ke arah pegunungan. "Mari kita mulai langkah pertama kita sekarang. Kita akan menaklukkan Pegunungan Angin bersama-sama, seperti yang selalu kita lakukan dalam setiap petualangan kita."


*****


Di puncak Gunung Angin, sebuah pertempuran epik meletus. Cahaya matahari sore yang terik menciptakan bayangan-bayangan yang memanjang di antara bebatuan yang menjulang tinggi. Angin bertiup dengan keganasan, menggoyangkan pohon-pohon dan membawa bisikan petunjuk dari masa depan.


Di barisan depan, Lyra, seorang penyihir hebat dengan jubah berwarna ungu yang berkibar-kibar, mengayunkan tongkat ajaibnya dengan keahlian. Cahaya ungu memancar dari ujung tongkatnya, menghancurkan setiap serangan musuh yang mendekat. Dengan mata berkilat, Lyra merenung dan memanggil kekuatan kuno yang tersembunyi di dalam gunung, mengungkap pesan-pesan yang mengandung petunjuk penting bagi kelompoknya.


Tidak jauh darinya, Arin, seorang ksatria berbaju zirah berkilauan, mempertahankan posisinya dengan pedang besarnya. Tiap ayunan pedangnya mengiris udara dan musuh-musuh yang berani mendekat. Kemahiran tempur Arin tak tertandingi, tetapi dia juga memiliki kebijaksanaan yang tajam. Dalam keadaan tenang, dia menyelusuri reruntuhan di sekitarnya, menemukan tanda-tanda kuno yang mengarahkan mereka pada jalan yang benar.


Di antara pepohonan, Elysia, seorang elf dengan panah emas dan busur berukir indah, bergerak dengan keanggunan alami. Panah-panahnya selalu mengenai sasaran dengan tepat, dan dia menggunakan kepekaannya terhadap alam untuk membaca tanda-tanda alam yang mengandung pesan tersembunyi. Mata Elysia yang tajam mampu melihat sejauh masa depan, membantu tim untuk mengantisipasi pergerakan musuh.


Drako, pemanah ulung yang merangkap penjaga wilayah, berada di posisi yang lebih tinggi, dengan pandangan luas atas medan perang. Panah-panahnya membentuk garis hitam di langit, menewaskan musuh-musuh dari kejauhan. Tapi bukan hanya kemahiran pemanahannya yang berarti; keberanian Drako dan dedikasinya untuk melindungi teman-temannya mengilhami semangat juang tim.


Dan di tengah gemuruh pertempuran, Dharo muncul dengan kehadiran yang mengesankan. Dia memiliki kekuatan naga yang legendaris, bersayap besar yang menghentak udara saat dia mendarat di medan perang. Nafas api yang keluar dari mulutnya mampu menghancurkan barisan musuh, mengubah keseimbangan pertempuran. Namun, kekuatan Dharo juga membawanya ke dunia spiritual, di mana dia mendapatkan pandangan tentang masa depan yang membawa petunjuk penting.


Pertempuran berkecamuk, dengan serangan dan pertahanan yang terus-menerus. Namun, semakin lama pertempuran berlangsung, semakin jelas  petunjuk dari masa depan menjadi. Lyra, Arin, Elysia, Drako, dan Dharo bekerja sama dengan harmoni yang luar biasa, menggabungkan kekuatan dan pengetahuan masing-masing untuk mengalahkan musuh yang kuat.


Pada akhirnya, ketika debu dan asap mereda, kelompok tersebut berhasil memenangkan pertempuran. Mereka berdiri di puncak Gunung Angin, melepaskan napas lega namun juga penuh penghargaan satu sama lain. Petunjuk dari masa depan,yaitu "Orang yang dekat dengan kita akan ikut dalam peperangan yang akan terjadi tidak lama lagi. Setiap perjalanan kalian ada pesan tersembunyi dan rahasia besar yang akan terungkap."


Dengan kepala tegak, mereka menghadap matahari terbenam yang memancarkan cahaya emas di cakrawala. Meskipun pertempuran berakhir, petualangan mereka belum usai. Dengan semangat yang tak tergoyahkan, Lyra, Arin, Elysia, Drako, dan Dharo siap melangkah maju, menjalani takdir yang telah diukir oleh pertempuran di Gunung Angin, sambil membawa petunjuk dari masa depan dalam setiap langkah mereka.