
Sudah beberapa hari belakangan ini di Eldoria matahari tidak pernah terbit. Langit yang biasanya cerah dan biru kini dipenuhi awan hitam yang mencekam. Para peri yang menjaga bunga-bunga indah melihat dengan cemas bagaimana bunga-bunga itu perlahan-lahan layu dan mati saat cahaya matahari yang hilang tak kunjung kembali.
"Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya," kata Aeliana, seorang peri dengan sayap berkilauan, kepada sahabatnya, Lirael. "Sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi."
Lirael, seorang elf yang bijaksana, merenung sejenak. "Kita perlu memberi tahu Dewan Eldoria tentang ini. Sesuatu yang jahat pasti sedang mendekat."
Sementara itu, di kedalaman hutan terlarang, Drakar, seorang naga yang berwibawa, merasa getaran ganjil di dalam tanah. Naga-naga lain yang bersamanya juga merasakan gejala yang sama.
"Batuan di dalam goa kita mulai gemetar," kata Drakar kepada rekan-rekannya. "Kita harus berhati-hati. "
Kegelapan semakin kuat, mereka merasakan energi negatif yang kuat mengitari mereka. Pepohonan yang dulu begitu hijau kini terlihat layu, dan air sungai yang jernih sekarang berwarna hitam seperti malam.
Para makhluk magis mulai merasakan rasa sakit yang tak terlukiskan. Tubuh mereka terbakar oleh kegelapan yang tak terlihat. Para elf kehilangan kekuatan panah-peluru mereka, para peri kehilangan kemampuan mereka untuk menghidupkan kembali bunga-bunga, dan naga-naga mulai melemah.
"Sesuatu yang sangat jahat ada di sini," kata Aeliana sambil mencoba untuk tetap berdiri.
Lirael merasakan getaran di tanah. "Sumber kegelapan ini ada di dalam hutan terlarang. Kita harus mencari tahu apa yang sedang terjadi."
Para makhluk magis bergerak maju dengan berhati-hati, menuju jantung hutan terlarang. Mereka tiba di sebuah goa besar yang dipenuhi oleh aura kegelapan. Di tengah goa itu, mereka melihat sesuatu yang mengejutkan: sosok gelap yang mengambang di atas Batu Purnama.
"Sombra," gumam Drakar. "Ini adalah kegelapan murni yang telah disegel selama ribuan tahun.Bagaimana dia bisa terlepas?!."
Sombra, kekuatan jahat yang tak terbayangkan, mulai berbicara dengan suara mendalam yang penuh kebencian. "Kalian semua telah berusaha menghalangiku selama terlalu lama. Sekarang saatnya aku menguasai Eldoria."
Lirael, Aeliana, dan Drakar berdiri tegak di hadapan Sombra.
"Kami tidak akan pernah membiarkanmu menguasai Eldoria," kata Lirael dengan tegas.
Sombra meluncur menuju mereka dengan kekuatan yang mengerikan. Pertempuran yang dahsyat pun dimulai. Cahaya dari peri, kekuatan alam dari naga, dan kebijaksanaan dari elf bersatu melawan kegelapan Sombra.
Namun, Sombra terlalu kuat. Dia melukai mereka dengan kekuatan yang mematikan, dan para makhluk magis semakin terluka. Tapi mereka tidak pernah menyerah.
Mereka terus bertarung dengan gigih, mengeluarkan kekuatan terakhir mereka.
*****
Raja Aldric memandang keluar dari jendela istananya, wajahnya penuh kekhawatiran. Hutan terlarang, yang telah dijaga oleh elf, peri, dan para naga selama berabad-abad, terluka karena serangan dari kegelapan. Dalam hatinya, raja merasa panggilan untuk bertindak demi keselamatan kerajaannya dan makhluk-makhluk magis yang telah menjadi bagian dari sejarah kerajaannya.
"Kael," Raja Aldric memanggil perdana menterinya. "Kau harus mengumpulkan seluruh penasehat kerajaan dan Elara, penyihir dari Gunung Salju. Kita perlu segera mengatasi masalah ini."
Kael mengangguk dengan hormat. "Tentu, Kehormatan Raja. Aku akan melakukan persiapan segera."
Setelah Kael pergi untuk mengumpulkan penasehat dan Elara, Raja Aldric mengambil tempat duduknya di ruang takhta. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, mengingat hari-hari ketika hubungan kerajaannya dengan makhluk-makhluk magis begitu harmonis. Elf membantu menjaga hutan-hutan dan memelihara kelestarian alam. Peri menyembuhkan penyakit dan membantu dalam ritual-ritual penting. Para naga, dengan kebijaksanaan mereka, memberikan nasihat berharga kepada para penguasa manusia.
Namun, beberapa bulan terakhir, suasana telah berubah. Kegelapan yang disegel telah muncul di hutan terlarang, mengancam makhluk-makhluk magis tersebut. Raja Aldric merasa bahwa sesuatu yang sangat jahat terjadi dan bahwa mereka harus bertindak segera.
Sementara itu, Kael telah mengumpulkan penasehat kerajaan di aula istana. Mereka duduk di sekitar meja bundar dengan wajah yang penuh kebingungan dan ketidakpastian.
"Kenapa kita dipanggil di sini, Kael?" tanya seorang penasehat yang berambut putih.
Kael menjelaskan situasi dengan cermat, menjelaskan serangan misterius terhadap hutan terlarang dan kerusakan yang ditimbulkan. "Raja ingin kita mencari solusi untuk menghentikan ancaman ini dan melindungi makhluk-makhluk magis yang telah menjadi bagian dari kerajaan kita selama berabad-abad."
Penasehat- penasehat itu memandang satu sama lain dengan ekspresi yang serius. Mereka tahu bahwa tugas ini tidak akan mudah, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka harus bertindak demi keselamatan kerajaan.
Sementara itu, Elara, penyihir yang dihormati di seluruh negeri, tinggal di kediamannya yang terletak di puncak Gunung Salju. Dia tengah mengamati kristal ajaib yang memancarkan cahaya lembut di kamarnya. Namun, perasaannya terganggu oleh sesuatu yang ganjil. Dia merasakan getaran yang aneh di alam magis yang mengelilinginya.
"Ada sesuatu yang salah," gumam Elara. Dia segera mengambil tongkat ajaibnya dan berbicara dengan lembut kepada angin. "Katakan padaku apa yang terjadi di luar sana."
Angin memberinya gambaran tentang serangan misterius di hutan terlarang dan kerusakan yang ditimbulkan pada makhluk-makhluk magis. Elara tahu hal ini pasti akan terjadi tapi dia tidak menyangka bahwa aliansi kegelapan begitu cepat melakukan penyerangan pada makhluk yang menjaga hutan terlarang.
Saat Elara merenung, seekor burung hantu putih terbang ke dalam ruang meditasinya dan mendarat dengan lembut di bahunya. Burung hantu itu membawa surat yang diikat dengan tali ungu berkilauan, yang jelas merupakan pesan yang sangat penting. Elara meraih surat tersebut dengan lembut dan membukanya, membaca dengan cepat isinya.
Surat itu berasal dari Raja Aldric dari kerajaan Eldoria.
"Elara yang terhormat," bunyi surat itu. "Kerajaan kita berada dalam bahaya serius. Hutan terlarang yang dijaga oleh makhluk-makhluk magis telah diserang oleh kegelapan yang telah kau beritahukan kepadaku tempo hari lalu. Makhluk-makhluk itu terluka dan sumber kegelapan ini semakin kuat. Kami membutuhkan bantuanmu . Mohon datang ke istana secepatnya untuk bergabung dalam rapat darurat dengan penasehat kerajaan kami."
Elara memandang surat itu dengan serius. Tanpa ragu, dia segera mulai merencanakan perjalanannya ke kerajaan Eldoria.
Elara telah bersiap-siap untuk perjalanan menuju ke Eldoria. Dia telah mempersiapkan persediaan dan memberi instruksi kepada makhluk-makhluk magis yang menjaga Gunung Salju selama ketidakhadirannya. Mereka semua merasa khawatir untuknya, tetapi juga tahu bahwa dia adalah penyihir yang kuat dan bijaksana.
Ketika matahari terbenam , Elara tiba di pintu gerbang kerajaan Eldoria dengan mantelnya yang panjang berwarna biru es. Sebagai seorang penyihir yang terkenal karena kekuatannya dalam mengendalikan es dan salju, dia memiliki kehadiran yang memukau.
Dua pengawal berdiri tegap di depan gerbang, mengenakan baju besi yang menjaga mereka dari dinginnya angin.Mereka mengenali Elara segera begitu dia mendekati. Dengan hormat, salah satu pengawal itu berkata, "Selamat datang, Putri Elara. Raja Aldric telah menunggu kedatangan Anda."
Elara tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, saudara-saudara. Saya segera ingin bertemu dengan Raja."
Pengawal lainnya segera membuka gerbang megah itu dengan gemerlap dan anggun. Dengan langkah hati-hati, Elara memasuki halaman istana. Dia disambut oleh sejajaran pohon-pohon besar yang bersinar, menciptakan pemandangan yang magis.
Elara diiringi oleh kedua pengawal itu, yang membimbingnya melewati koridor bercat putih menuju ruang rapat istana yang luas dan bercahaya. Begitu mereka memasuki ruangan itu, mata Elara tertuju pada Raja Aldric yang duduk di kursi takhta dengan mahkota emasnya yang berkilauan. Di sebelahnya, Kael, perdana menteri dan sahabat setia Elara, duduk dengan tatapan yang penuh antusiasme. Di seberang meja, para penasehat istana Raja Aldric duduk dengan penuh perhatian.
Raja Aldric tersenyum lebar saat Elara memasuki ruangan. "Selamat datang, Putri Elara. Anda datang dalam waktu yang tepat."
Elara turun dari langkahnya dengan anggun dan berjalan menuju Raja. "Terima kasih atas undangan Anda, Raja Aldric. Saya siap mendengarkan apa yang Anda ingin bicarakan."
Raja Aldric mengangguk dan memberikan isyarat kepada penasehatnya untuk memulai rapat. Penasehat pertama, seorang pria berambut perak dengan ekspresi bijak, membuka pembicaraan. "Putri Elara, kami telah mendengar tentang kemampuan Anda dalam mengendalikan elemen es dan salju. Kekuatan ini akan sangat berharga bagi kita dalam misi yang akan kami bahas hari ini."
Elara mengangguk dengan penuh perhatian. "Saya siap membantu dengan kemampuan saya."
Penasehat kedua, seorang wanita dengan buku-buku yang berjejer di depannya, melanjutkan. "Kekuatan Anda akan diperlukan di Hutan Terlarang, di mana kami mendengar adanya makhluk-makhluk magis yang terluka."
Raja Aldric menjelaskan situasi dengan lebih rinci. Mereka telah menerima laporan tentang makhluk-makhluk magis yang menjaga hutan terlarang telah terluka akibat dari serangan kegelapan.Raja ingin mengirim Elara dan Kael untuk menyelidiki dan mungkin membantu merawat makhluk-makhluk tersebut.
Elara merenung sejenak. "Ini adalah tugas berat, tetapi saya siap melakukannya. Kita harus memahami makhluk magis dan menjalin hubungan dengan mereka."
Kael tersenyum dan mengangguk. "Kami akan bekerja sama dengan sempurna, Elara."
Selama berjam-jam, mereka merancang rencana mereka untuk ekspedisi ke Hutan Terlarang. Mereka memutuskan peralatan yang akan mereka bawa, strategi yang akan mereka terapkan, dan bagaimana mereka akan menjaga diri mereka sendiri selama perjalanan.
Raja Aldric akhirnya mengakhiri rapat dengan penuh harapan. "Saya percaya kepada Anda, Putri Elara dan Kael. Semoga pelindung kami selalu bersama Anda."
Pagi hari tiba, dan Elara dan Kael bersiap-siap untuk perjalanan mereka ke Hutan Terlarang. Mereka telah mengumpulkan peralatan, makanan, dan perlindungan yang diperlukan.
Ketika matahari terbit, mereka berdua meninggalkan istana Raja Aldric dengan hati yang penuh tekad dan semangat yang membara. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temui di Hutan Terlarang, tetapi mereka siap untuk menghadapinya bersama-sama. Dengan kekuatan es Elara dan kebijaksanaan Kael, mereka pasti bisa menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di sana.