ELDORIA

ELDORIA
ELDORIA 21~ELYSIA



Elysia adalah seorang elf yang tinggal di hutan yang tenang dan indah. Dia memiliki rambut pirang panjang dan mata biru yang memancarkan keanggunan. Namun, kebahagiaan Elysia terkoyak oleh rahasia gelap dalam hidupnya.


Ayahnya, Elron, adalah seorang elf yang keras dan otoriter. Ia memegang kendali penuh dalam keluarga mereka,terlebih Ibu Elysia sudah meninggal. Kegelapan dalam keluarga mereka dimulai ketika Elysia masih kecil. Elron mulai memperlakukan Elysia dengan kejam. Cambuk adalah alat yang sering ia gunakan untuk menyiksa anak perempuannya sendiri.


Pada malam yang kelam, Elysia menghadapi ayahnya yang marah. "Kau adalah kelemahan dalam keluarga kita!" teriak Elron sambil mengayunkan cambuknya. Elysia menutup matanya, menangis sejadi-jadinya ketika cambuk itu menyentuh kulitnya yang halus. Rasa sakit fisik menjadi trauma emosional yang merusak hatinya.


Setiap hari, Elysia berusaha untuk bertahan. Ia menyimpan luka-luka yang dalam dan tidak pernah berbicara tentang kengerian yang ia alami. Hutan yang dulu menjadi tempat bermainnya kini menjadi tempat pelarian dari kenyataan yang mengerikan.


Suatu hari, ketika matahari terbenam dan hutan dihiasi oleh cahaya rembulan, Elysia bertemu dengan seorang penjelajah berhati baik. Dengan penuh kasih sayang, penjelajah itu membantu Elysia menyembuhkan luka-lukanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Apa ada yang menyakitimu?," tanya penjelajah itu,Aric, saat mereka sedang berjalan-jalan di dalam hutan.


Elysia menghela nafas. "Ayahku memiliki sifat yang sangat keras.Dia selalu mengayunkan cambuknya kepadaku,dia mengatakan bahwa aku hanyalah kelemahan dalam keluarga kami."


Aric memandang wajah Elysia,wajahnya sangat cantik dilihat dari samping.Hidungnya yang mancung,bibir kecil yang merah merona alami dan  mata birunya yang indah.


"Suara hentakan cambuk itu  masih menggetar di telingaku," ujar Elysia, menangis pelan.


"Aku tahu apa yang kau rasakan.Tapi kumohon untuk jangan pernah membenci ayahmu," Aric menarik Elysia kedalam pelukannya.Memberikan ketenangan yang belum pernah Elysia rasakan.


Mereka tenggelam dalam momen indah mereka sendiri, sementara matahari perlahan tenggelam di balik puncak bukit. Mereka merasa seperti tidak ada yang bisa mengganggu kebahagiaan mereka, sampai tiba-tiba, sebuah bayangan besar muncul di belakang mereka.


Itu adalah Elron, seorang pria berwajah serius dengan mata tajam yang dipenuhi kemarahan. Dengan kasar, ia menarik Elysia dari pelukan Aric dan mendorongnya menjauh. "Elysia! Apa yang kamu lakukan?!" bentaknya dengan keras.


Elysia terkejut dan ketakutan, mencoba menjelaskan, "Ayah, aku... aku dan Aric hanya berjalan-jalan saja, tidak ada hubungan apapun diantara kami."


Namun, sebelum dia bisa melanjutkan, Elron tanpa ampun menyerang Aric. Pukulan demi pukulan terjatuh ke tubuh Aric, membuatnya terluka parah. Aric berusaha membela diri, tetapi Elron terlalu kuat.


Setelah serangan brutal itu, mereka semua kembali ke rumah keluarga Elysia. Elron pergi ke kamarnya dan kembali dengan cambuk yang biasa ia gunakan untuk menghukum.


Namun, Elron  hanya tersenyum sinis dan berkata, "Maaf,maaf dan maaf! Ayah sudah muak dengan permintaan maafmu, Elysia."


Elysia menutup matanya saat cambuk itu mengenai luka yang belum sepenuhnya sembuh.Setelah puas mencambuk anaknya sendiri, Elinor mengunci pintu ruangan yang sangat gelap dengan keras. Elysia berada di dalamnya, takut dan bingung. Ruangan itu begitu sempit dan dingin, dindingnya seperti menekan dirinya. Elysia duduk di sudut, menangis pelan, merindukan sinar matahari yang pernah menghangatkan hatinya.


Elysia dengan suara bergetar, "Tolong, Ayah,tolong aku keluar dari sini. Aku sangat takut."


Namun, tidak ada jawaban dari Elinor. Hanya keheningan yang menyelimuti ruangan itu.


Hari berganti hari, dan Elysia terus merasa lapar. Ia hanya diberi makan sekali sehari, tubuhnya mulai lemah. Dia merindukan sosok ayahnya yang dulu selalu melindunginya.


"Aku harus kuat. Aku tidak boleh membenci ayah. Ayah melakukan ini karena menyayangiku," Elysia menguatkan dirinya sendiri dan menepis rasa benci didalam hatinya untuk Elinor.


Elysia yang melihat dirinya dimasa lalu memalingkan wajahnya,dengan melihat dirinya dikunci diruangan yang sangat gelap itu hanya akan membuat rasa benci Elysia terhadap ayahnya semakin bertambah.


Lalu,tubuh Elysia kemudian ditarik melihat adegan saat dirinya menangis saat  Elinor berpamitan kepada dirinya untuk pergi yang Elysia sendiri juga tidak tahu.Semenjak kepergian Elinor dihari itu,dia tidak pernah datang kembali kerumahnya.Elinor seakan-akan menelentarakan Elysia sendirian.


Elysia yang tubuhnya berbentuk hologram,penasaran kemana Elinor pergi.Dia mengikuti Elinor yang masuk jauh kedalam hutan.Saat sampai,Elinor duduk menangis didepan tumpukan tanah yang berbentuk seperti makam itu.Elysia hanya melihat dan menunggu apa yang akan Elinor lakukan.


"Maafkan aku,Elaria.Aku sudah berusaha untuk menyayangi dan mencintai anak dari perselingkuhanmu dengan Galadriel,tapi...hal itu sulit buatku.Saat aku melihat wajahnya,hatiku akan kembali  sakit mengingat bagaimana kalian bermain dibelakangku hingga kau hamil dengan laki-laki lain."


Elysia terkejut dengan apa yang ia dengar.Jadi..selama ini dia anak dari hasil perselingkuhan?.Elysia memandang wajah Eloria yang penuh dengan air mata,pasti sangat sakit jika menjadi Elinor.Mengurus anak dari hasil perselingkuhan wanita yang ia cintai dengan laki-laki lain.


"Saat aku melihat dia menahan sakit dari pukulan cambukku,aku merasa kasihan.Aku ingin memeluk tubuh kecilnya,Elaria.Tapi,rasa sakit dan benciku menahanku melakukan itu."


"Aku berharap dia menjadi wanita yang pemberani dan tidak takut apapun.Kau tahu Elaria?, Dia sangat cantik sama sepertimu," Elinor tersenyum tipis dan menghapus air matanya.


Tubuh Elysia menghilang bersamaan dengan Elinor yang pergi dari makam itu.