ELDORIA

ELDORIA
ELDORIA 14



Ketika para pahlawan melanjutkan perjalanan mereka setelah menerima pesan dari Tetuah Desa Abadi, suasana dalam kelompok itu menjadi tegang. Mereka berjalan melintasi hutan yang lebat, dengan Elysia memimpin di depan, diikuti oleh Lyra, Arin, Dharon, dan Drako.


Elysia merasa sesuatu yang tidak beres. Dia melirik Arin yang berjalan di sampingnya. Arin yang biasanya penuh semangat dan berenergi, terlihat gelisah dan khawatir.


"Elysia," bisik Arin pelan, "Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak kita meninggalkan desa. Pesan dari Tetuah Desa Abadi. Dia mengatakan bahwa aku akan kehilangan orang-orang yang aku sayangi."


Elysia memahami kegelisahan temannya. Dia merasa dilema yang sama. "Arin, aku juga merasa terbagi. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa Cahaya Kehidupan adalah kunci untuk menyelamatkan Eldoria dan kita telah diberi misi oleh Raja Aldric. "


Arin mengangguk, tetapi kekhawatirannya tetap tergambar di wajahnya. "Tapi bagaimana jika kita tidak bisa melewati jebakan di Labirin Bayangan itu? Apakah kita akan mati? Dan Eldoria akan dikuasai oleh kegelapan?."


Lyra mendekati mereka. "Arin, Elysia benar. Kita harus memprioritaskan mencari Artefak Cahaya Kehidupan. Itu adalah satu-satunya cara kita bisa  menyelamatkan orang banyak."


Arin mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi kekhawatiran. Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan hati yang berat, menjaga agar  mereka selalu dalam doa dan harapan.


Saat matahari terbenam dan bulan mengambil alih penerangan, Dharon, pahlawan berbakat dalam berburu, menyatakan sesuatu yang membuat semua orang terdiam. "Kalian ingat saat kita berada di Lembah Harapan, bukan? Saat itu kita mengalami ilusi masa lalu. Tapi, mungkin saja itu bukan hanya ilusi. Mungkin itu adalah pesan dari masa depan."


Mereka semua menghentikan langkah mereka dan menatap Dharon dengan bingung. "Apa yang kau maksud, Dharon?" tanya Lyra.


Dharon melangkah maju dan menjelaskan, "Ketika kita berada di Lembah Harapan, kita melihat berbagai adegan dari masa lalu. Tetapi, mungkin itu adalah pesan  dari masa depan.Tetuah Desa Abadi mengatakan bahwa kita adalah harapan terakhir. Mungkin saja pesan itu adalah untuk menjaga kita tetap fokus pada misi kita, meskipun ada godaan untuk kembali dan berhenti melakukan perjalanan ini."


Elysia mencoba memproses ide yang diajukan Dharon. "Jadi, kamu mengatakan bahwa pesan di Lembah Harapan adalah peringatan tentang apa yang akan terjadi jika kita tidak menyelesaikan misi kita?"


Dharon mengangguk serius. "Ya tapi bisa jadi juga tidak, itulah yang saya pikirkan. Kita harus ingat bahwa misi ini tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi untuk semua yang kita cintai. Kita tidak boleh terjebak dalam masa lalu atau masa kini. Masa depan bergantung pada tindakan kita sekarang."


Arin, meskipun masih merasa cemas, mulai merasa semangat kembali. "Kalian benar. Kita harus tetap fokus pada misi ini. Eldoria bergantung pada kita dan juga banyak nyawa lain di luar sana yang perlu diselamatkan."


Dengan tekad yang baru, mereka melanjutkan perjalanan mereka melintasi hutan yang gelap. Mereka tahu bahwa mereka akan menghadapi banyak rintangan dan bahaya di depan, tetapi dengan satu tujuan yang kuat dan tekad yang bulat, mereka siap untuk menghadapinya.


******


Dalam kegelapan malam yang mendalam, Aliansi Kegelapan berkumpul di markas mereka yang tersembunyi di dalam gua yang dalam dan misterius. Mereka adalah sekumpulan makhluk yang penuh dengan kekuatan gelap dan ambisi untuk menguasai dunia. Pemimpin mereka, seorang makhluk bertopeng yang dikenal sebagai Lord Umbra, duduk di atas takhta batu yang menghadap ke layar kristal hitam yang besar. Layar itu adalah jendela ke dunia luar, tempat mereka bisa mengawasi pergerakan musuh-musuh mereka.


Tiba-tiba, angin hitam yang ganas melintas di dalam gua, membawa kabut tebal yang memenuhi seluruh ruangan. Aliansi Kegelapan merasa kehadiran yang jahat sedang mendekat, dan mereka segera berkumpul di sekitar layar kristal hitam. Angin hitam itu berputar-putar di depan layar, membentuk gambar-gambar yang muncul dari dalam kabut.


Para pahlawan, Elysia, Lyra, Arin, Dharon, dan Drako, tampak dalam gambar yang melayang di udara. Mereka sedang melanjutkan perjalanan mereka melintasi hutan yang gelap, dengan hati yang penuh tekad. Mereka membawa senjata-senjata mereka yang berkilau dan api keberanian dalam hati mereka.


Lord Umbra melihat dengan hati yang gelap, menyadari bahwa pahlawan-pahlawan ini adalah ancaman bagi rencananya. Dia memerintahkan salah satu makhluk bertopengnya yang berdiri di dekatnya.


Makhluk bertopeng, yang selama ini setia melayani Aliansi Kegelapan, menundukkan kepala dan bersiap untuk beraksi. Dia berbicara dengan suara yang bergema dan misterius, "Saya akan melakukan apa yang diminta, Tuan."


Makhluk bertopeng itu menghilang dalam kabut hitam yang menyelimuti gua mereka. Dengan cepat, dia bergerak melalui angin gelap, menyusup di belakang para pahlawan yang terus berjalan melintasi hutan. Dia tersembunyi di balik pepohonan yang gelap, menunggu kesempatan yang tepat.


Sementara itu, para pahlawan terus maju dalam perjalanan mereka yang penuh tantangan. Mereka saling memberi dukungan dan semangat satu sama lain, tahu bahwa tugas mereka sangat penting. Elysia, yang mengambil peran sebagai pemimpin kelompok, memberikan arahan yang bijaksana.


Dharon, yang selalu waspada, memeriksa sekitar mereka dan berkata, "Tetap berhati-hati. Kita tahu bahwa ada bahaya besar di depan."


Drako  mengangguk. "Kita tidak boleh meremehkan kekuatan Aliansi Kegelapan. Mereka pasti mengawasi kita."


Saat para pahlawan berbicara, makhluk bertopeng yang telah disuruh oleh Lord Umbra mendekati mereka. Dia bersembunyi di balik semak-semak yang gelap, siap untuk bertindak. Ketika dia melihat kesempatan yang tepat, dia melaporkan kepada tuannya melalui komunikasi mental.


"Tugas sudah selesai, Tuan," kata makhluk bertopeng itu dalam pikiran Lord Umbra.


Lord Umbra tersenyum licik di balik topengnya. "Baik sekali. Mereka tidak akan pernah tahu apa yang kita rencanakan untuk mereka."


Kembali ke dalam gua Aliansi Kegelapan, para anggotanya menunggu dengan antisipasi. Mereka tahu bahwa rencana jahat mereka semakin mendekati kesuksesan. Dalam ketegangan yang mendalam, mereka bersiap untuk melanjutkan pergerakan mereka dan melibatkan pahlawan-pahlawan dalam pertempuran yang gelap dan berbahaya.


Sementara itu, para pahlawan terus maju tanpa sadar bahwa mereka telah menjadi target rencana jahat Aliansi Kegelapan. Mereka harus tetap waspada, karena bahaya sedang mengintai di balik bayang-bayang, siap untuk menyerang kapan saja. Perjalanan mereka menuju Cahaya Kehidupan akan menjadi ujian sejati keberanian, ketahanan, dan tekad mereka.


Arin yang penuh keingintahuan segera mengangkat pertanyaannya, "Elysia, Lyra, bisakah kalian ceritakan bagaimana bentuk sebenarnya dari artefak cahaya kehidupan? Aku mendengar begitu banyak cerita berbeda."


Elysia tersenyum lembut dan menjawab dengan suara tenang, "Arin, sebenarnya tidak ada yang tahu pasti seperti apa bentuknya. Artefak ini begitu misterius sehingga menggoda imajinasi setiap orang. Namun, yang bisa kami katakan adalah bahwa bentuknya dapat berubah sesuai dengan orang yang melihatnya."


Lyra menambahkan, "Benar, Arin. Jadi, jika kau bertanya kepada lima orang yang berbeda, mungkin kau akan mendapatkan lima jawaban yang berbeda pula. Ini adalah bagian dari daya tarik artefak ini."


Arin terkagum dengan jawaban mereka, "Itu sangat menarik! Aku tidak sabar ingin tahu lebih banyak."


Elysia berkata,"Kau hanya perlu banyak membaca buku sejarah,Arin.Itu akan menambah wawasan pengetahuanmu."


Arin mengangguk, "Terima kasih, kalian berdua. Aku benar-benar merasa beruntung memiliki teman seperti kalian."


Mereka bertiga tertawa, Drako dan Dharon hanya tersenyum melihat teman-temannya tertawa.