
" Di depan sana ada nasi goreng enak ka, tapi kaka jangan risih sama tempatnya ya. Itu tempat favorit Mei. Walau tempat nya terlihat sederhana, tapi bersih ko dan nasi gorengnya ennak banget." ucap Mei
" It's ok.. ga masalah" jawab Edrick
Mereka pun sampai di tempat tujuan, tempatnya cukup ramai. Dan mulai heboh saat Edrick masuk, para ciwi-ciwi mulai ramai membicarakan Edrick.
" Lihat.. banyak banget fans kaka. hihi " ucap Mei
" Kamu ga cemburu? Kaka malah risih" jawab Edrick
" Kenapa harus cemburu ka? Mereka cuma ngomongin kaka, emang kaka tertarik sama mereka? Mei mah realistis aja ka, kalo emang ternyata kaka mulai tertarik sama cewe lain selain Mei. Mei bakal lepasin kaka, buat apa Mei kekeh mertahanin orang yang udah jelas-jelas ga ada perasaan. Bahagia nggak, kesiksa batin iya." jawab santai Mei
" Mana ada? Kalo misalnya emang ada cewe yang bisa buat kaka tertarik, mungkin kaka udah nikah yang. 15 tahun menutup hati untuk wanita lain, ga ada yang menarik selain kamu yang." ucap Edrick
" Cieeee.... bucin nih ye. hihi"
" Kan tadi Mei bilang misalkan, Mei ga akan maksa buat seseorang terus berada di samping Mei, bila orang tersebut udah ga nyaman sama Mei. Mei bukan tipe cewe yang akan berbuat apapun agar orang mau tetap sama Mei. Kasian ke dia dan kosong k Mei. Iya kan, karena memang pada dasarnya... akan ada perpisahan di setiap pertemuan." jawab Mei tersenyum
" Huft.... namun kaka akan selalu memaksamu selalu berada di sisi kaka, walau kamu sudah tak ada perasaan pada kaka. Akan kaka hancurkan pria yang membuatmu tertarik. Walau pada akhirnya nanti kamu akan membenciku." ucap Edrick
" Hahaha... apa itu ga egois ka?" tanya Mei
Edrick hanya mengangkat kedua bahunya.
" Tenang aja, Mei ga akan berpaling hati dari kaka. I love you kaka... " ucap Mei seraya mengangkat kedua tangan dan menunjukkan simbol hati menggunakan jari telunjuk dan jempolnya, juga tak lupa dengan senyuman yang mengembang sempurna di bibir mungil Mei.
" I love you to honey... " jawab Edrick dengan senyuman yang tak kalah cerah, sehingga membuat para ciwi-ciwi histeris.
Setelah pesanan mereka datang, mereka pun menyantap makanan tersebut dengan pembicaraan tentang pertunangannya dan canda.
Setelah selesai.. mereka pun pulang. Setelah Edrick mengantarkan Mei sampai rumah, ia pun lanjut pulang ke rumahnya. Tak terlalu jauh dengan rumah Mei. Hanya beda blok doang.
" Assalamu'alaikum.... sepi banget ni rumah." ucap Mei
" Wa'alaikumsalam" Jawab Rei dan Siena yang baru keluar dari kamar Siena.
" Ka Meeeeiiii" teriak Siena dan langsung berhambur memeluk Mei.
" Seneng banget" ucap Mei sambil membalas pelukan Siena
" Kaka mandi dulu ya, Rei jaga adikmu sebentar" ucap Mei dan di angguki mereka. Mei pun masuk kamar dan merebahkan tubuhnya sebentar, sekitar 15 menit. Ia pun bangun dan membersihkan dirinya.
" Bagaimana sekolah nya? menyenangkan? " tanya Mei yang saat ini sudah berkumpul di ruang keluarga.
" Biasa aja sih ka, cuma Rei risih dengan perempuan yang terus saja mendekati Rei." jawab Rei dan Mei hanya tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya.
" Siena suka ka, banyak teman. Mereka mau berteman dengan Siena." jawab Siena dan Mei mengusap kepala Siena
" Alhamdulillah... kalo Siena senang, kaka juga senang." ucap Mei
" Jangan pedulikan mereka Rei, tujuan utamamu sekolah. Bila sudah sukses, mudah untukmu mendapatkan wanita. Kaka titip Jesselyn dan Siena, jaga mereka." ucap Mei
" Iya ka... itu pasti." jawab Rei
" Bagaimana pelajarannya, kamu bisa menyesuaikan diri kan dengan mata pelajarannya? " tanya Mei
" Bisa ko ka... Aku malah sudah belajar lebih dari yang di jelaskan." jawab Rei
" Benarkah? Kalo kaka memintamu untuk akselerasi bagaimana? Mau tidak?" tawar Mei
" Boleh ka... bukankah bila cepat lulus, lebih baik." ucap Rei
" Kelas 3 juga sudah Rei pelajari."jawabnya
" Baiklah... besok akan kaka urus" ucap Mei
" Terimakasih ka" ucap Rei dan di balas anggukan oleh Mei
" Kalau Siena gimana nih, udah bisa apa aja?" tanya Mei
" Siena sudah bisa baca dan berhitung ka." jawabnya
" Pintarnyaaaa.... oya, mana ka Sari? " tanya Mei
" Ada di kamarnya ka, tadi kaka Sari terlihat sedih dan lelah. Bajunya juga terlihat berantakan." jawab Rei
" Apa?! Kenapa kamu baru bilang." ucap Mei langsung berdiri dan menuju kamar Sari
tok.. tok..
" Sar... ini kaka, boleh kaka masuk?"tanya Mei
ceklek
Terlihat Sari menunduk dan kembali masuk setelah membukakan pintu untuk Mei.
Mereka pun duduk di sofa yang ada di kamar Sari.
" Sar... apa yang terjadi hmm? Tadi Rei bilang kamu pukang dengan keadaan tidak baik-baik saja." ucap Mei seraya mengusap pundak Sari
" Hiks... " Sari pun mulai menangis, Mei langsung memeluk Sari dan mengusap punggungnya.
" Kenapa? Ada yang mengganggumu?" tanya Mei
Setelah Sari puas menangis, ia pun mulai bercerita. Bahwa Adhisti dan teman-temannya membawanya ke toilet selain meringsaknya di sana, Adhisti pu mengurungnya di sana. Untung ada seorang mahasiswi yang masuk ke dalam sana setelah 2 jam Sari terkurung.
" Sari hanya ingin kuliah dengan tenang ka, tapi kenapa mereka menggangguku, mereka juga bilang kalo aku ****** yang sudah di gilir banyak pria." ucap Sari kembali menangis, sedangkan Mei... jangan tanya. Wajahnya sudah memerah penuh emosi, tangannya pun mengepal.
" Maafkan kaka... ini pasti karena kemarin kamu turun dari mobil kaka. Tapi... bisakah kamu bersabar sebentar lagi, sampai rencana kaka nanti wisuda? " tanya Mei merasa bersalah
Sari pun mengangguk
" Sari akan bertahan ka, lagian apa yang mereka katakan tidak benar. Hanya saja tadi Sari merasa kaget atas perlakuan mereka." ucapnya
" Terimakasih dan maafkan kaka" ucap Mei mengusap kepala Sari.
" Kaka jangan seperti ini, mungkin kaka mendapatkan penghinaan yang lebih jahat dari mereka di banding Sari. Sungguh Sari baik-baik saja, tadinya Sari ingin banget ngelawan dengan ilmu beladiri yang sudah Sari kuasai. Tapi... kalo itu sampai terjadi, akan memperburuk keadaan." ucap Sari tersenyum
Sari pun memeluk Mei.
" Sari beruntung di pertemukan dengan kaka, selain kaka sudah memasukkan Sari ke dalam kartu keluarga kaka. Sari pun mendapatkan kasih sayang seorang kaka dari kak Mei. Terimakasih sudah baik pada Sari dan ibu. Sari sangat menyayangi kaka." ucapnya
Dan Mei pun membalas pelukan Sari.
" Ya sudah istirahatlah, kamu sudah makan?" tanya Mei
" Belum ka, nanti kalo lapar Sari turun ke bawah. Sari masih kenyang, tadi habis ngemil kue ka." jawab Sari sambil menunjuk ke arah meja yang masih ada bekasnya.
" Dasar... nangis juga, masih sempetnya ngemil." ucap Mei menyentil kening Sari
" Aww... menangis juga butuh tenaga ka." jawab asal Sari dan mereka pun tertawa