Don'T Look At Someone From The Outside

Don'T Look At Someone From The Outside
part 21



10 menit kemudian, saat Mei keluar. Semua pun tertegun melihat penampilan Mei.


" Ya ampuuun kaka ipar, kamu cantik sekali. Ya kan Siena?? " ucap Jesselyn


" Iya.. ka Jess benar, ka Mei... kaka cantik sekali." jawab Siena


Sedangkan Edrick terdiam, ia terkesima melihat penampilan Mei.


" Ka Edrick... ka... kaka" panggil Mei dan membuyarkan lamunannya.


" I iya... kamu sangat cantik Mei" ucap Edrick yang membuat Mei tersenyum cerah.


Setelah berlama-lama berjalan kesana dan ke sini, akhirnya mereka saat ini sudah berada di rumah. Rei dan keluarganya ikut pulang ke rumah Edrick,karena besok mereka akan berangkat.


Eng ing eng....


Saat ini Mei dan Edrick berada di markas the dragon dree. Mereka hampir melupakan urusan mereka dengan Felicia dan ayahnya.


" Dimana mereka? " tanya Mei


" Di ruang bawah tanah nona" jawab Ryan, orang kepercayaan Mei di Jerman.


" Ka Ryan... sudah ku katakan jangan panggil aku nona." titah Mei


" Maafkan aku Mei" jawabnya


Sedangkan Edrick sudah mulai cemburu ,namun ia harus percaya pada Mei.


Sekali mereka sudah ada di ruang bawah tanah, saat ini mereka melihat Felicia dan Alex terikat rantai di dinding. Sungguh miris keadaannya saat ini.


" Wahh... wah... aku tak menyangka kalian berani mempunyai pikiran ingin membunuhku. ckckck" ucap Mei dengan aura yang berbeda, saat ini auranya benar-benar membuat ruangan itu sesak.


" Siapa kamu sebenarnya, berani memerintah anak buah the Dragon dree. Apa kamu tidak takut akan di habisi oleh ketuanya?" ucap Alex lemah, selama ini mereka hanya di beri minum tanpa makan oleh anak buah Mei.


" Kenapa aku harus takut, kalau ternyata aku sendiri adalah ketua mafia itu sendiri." jawab Mei dengan penuh tekanan dan wajah yang menakutkan.


" Ba bagaimana mungkin? " tanya Alex tergagap


Felicia yang mendengarnya pun kaget, ia tidak tau bahwa selama ini wanita yang sangat ia singkirkan ternyata ketua mafia dunia.


Habislah nyawanya saat ini, ia salah mencari lawan. Ia pun menangis karena takut.


" Kenapa tidak mungkin? Apa karena aku seorang wanita dan terlihat lebih muda?? ckckckc... dangkal sekali pikiranmu bila benar itu yang ada di otakmu. Seseorang bisa memiliki jabatan tertinggi itu bukan di lihat dari gender dan usianya. Namun di lihat dari kemampuan orang tersebut. Menyedihkan sekali pikiranmu."


" Dan kamu... kenapa kamu menangis hah?! " bentak Mei


Edrick hanya bisa melenan ludahnya melihat sisi lain dari Mei. Ia harus siap menerima semuanya dan siap belajar agar dapat melebihi Mei, agar ia bisa melindungi Mei.


" Aku tidak ingin mengotori tanganku, ka Ryan habisi mereka. Karena orang jahat, akan selalu menjadi jahat. Bahaya bila di lepaskan, ia pasti akan terus membalasnya." ucap Mei seraya pergi dan di ikuti Edrick


" Baik Mei " jawab Ryan yang langsung mengeksekusi Alex dan Felicia


Teriakan mereka terdengar sampai keluar, karena pintunya tidak di tutup rapat. Edrick yang mendengarnya merasa linu. Ngeri.. ngeri sedep gimana gitu. wkwkwkwk


Selama si perjalanan, Mei tidak banyak bicara. Emosinya benar-benar terkuras hari ini, ia pun tertidur di mobil. Edrick yang melihatnya merasa bersalah karena telah membuat Mei menjadi seperti ini, walaupun itu bukan maunya.


" Kamu pasti lelah menjalani hidup seperti ini. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu sayang" Ucapnya seraya mengusap kepala Mei dari samping menggunakan salah satu tangannya, karena tangan yang satunya sedang fokus menyetir.


Kayanya udah jadi kebiasaan Mei selalu tidur di jalan. Kalo anak-anak yang kaya gitu duka di panggil "delan" alias gede di jalan🤣.


Mereka pun sampai di rumah, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Setelah Edrick merebahkan Mei di kamarnya, ia pun masuk ke kamarnya, lalu membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya.


Keesokannya harinya...


Mereka semua sudah bersiap untuk ke bandara. Mereka akan menaiki pesawat pribadi Mei.


Siena terlihat bersemangat


" Kita akan naik pesawat ka? " tanyanya pada Rei, saat ini Siena berada dalam gendongan Rei. Rei pun mengangguk dan tersenyum, sifatnya 11 12 dengan Edrick. Terkesan dingin, cuek tak tersentuh, namun hangat pada keluarganya.


Karena ternyata Rei pun memiliki ijazah SMP, jadi ia tidak perlu mengikuti paket C. Rei bisa langsung daftar masuk menengah atas kelas 1. Karena keadaan ia tidak dapat meneruskan sekolahnya saat di Jerman. Sebenarnya 1 minggu sebelum bertemu dengan Mei, Rei dan keluarganya di usir dari rumah kontrakannya. Jadi ia memilih berhenti sekolah.


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00,mereka baru tiba di bandara. Dan ternyata ketiga sahabatnya sudah menunggu di sana yang memang bertujuan menjemput Mei dan rombongan.


Mereka menggunakan 2 mobil.


Mobil pertama berisi supir, Arnold, Sarah, Selly, Rei dan Seina.


Mobil kedua berisi supir, Edrick, Mei, Rea, Tia, Sari dan Jesselyn.


Mereka membutuhkan waktu 35 menit. Akhirnya mereka sampai di kediaman Mei, saat ini semua tidur di rumah Mei. karena sebentar lagi juga menjelang pagi.


Jangan lupakan white ya... kasian dia. Masa di tinggal di Jerman. wkwkwk


Mei terbangun pukul 5,ia membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai ia pun masuk ke ruang gym, tak terasa sudah 1 jam ia di sana. Sekarang sudah pukul 06.45,ia pun keluar untuk membersihkan dirinya dari keringat.


Saat akan ke kamar, ia berpapasan dengan Rei.


" Kamu sudah bangun Rei? " tanya Mei dan Rei mengangguk.


" Kaka darimana?" tanyanya


" Habis nge gym, kalo gitu tunggu di ruang makan kita akan sarapan bersama." ucap Mei, saat Mei akan beranjak Rei pun kembali bertanya.


" Ka... apa aku juga boleh menggunakan ruang gym?" tanya Rei raguu


Mei pun tersenyum, lalu memegang pundaknya.


" Kamu sudah menjadi adikku, fasilitas apapun di rumah ini, kamu boleh menggunakannya. Tapi ingat... kamu harus bisa menjaga kepercayaan kaka." ucap Mei


Rei pun mengangguk dan matanya mulai berkaca-kaca. Ya Tuhan... begitu baiknya Engkau pada kami.


" Baik ka.. aku akan selalu menjaga sikap dimanapun aku berada dan selalu menjaga kepercayaan yang sudah kaka berikan padaku." ucap Rei.


" Ya sudah.. kaka mau membersihkan badan dulu" ucap Mei seraya berlalu dan Rei pun menuju ruang makan.


Di sana sudah berkumpul semua kecuali Mei dan ramai oleh ocehan Jesselyn dan Siena.


" Dimana Mei? " tanya Sarah pada bi Sum


" Nak Mei masih di kamarnya nyonya, baru selesai berolahraga. Sebentar lagi nak Mei turun." jawab bi Sum


" Jangan panggil nyonya bi, panggil nama saya saja Sarah." ucap Sarah


" Rasanya tidak sopan nyonya, saya panggil ibu saja kalau begitu." balas bik Sum


" Baiklah bila itu membuat bibik nyaman." ucap Sarah seraya tersenyum.


Saat semua sedang bercengkrama, datanglah Mei.


" Pagi semua... kenapa belum mulai makannya? " tanya Mei


" Pagi Mei... tuan rumah nya baru keluar." jawab Rea


" Ya ampuuun... kenapa nunggu Mei. Maaf.. maaf kalo begitu. Maafkan Mei bu, yah, bibi membuat kalian menunggu." ucap Mei


" Tidak apa-apa sayang." jawab ayah


" Ayo kita mulai makan, bik... bik Sum" panggil Mei


" Iya nak? " tanya bi Sum yang baru keluar dari dapur.


" Apa bibi dan yang lain sudah sarapan? Sari mana?" tanya Mei


" Kami sudah sarapan semua nak, nak Mei sarapan lah dengan yang lain, Sari sedang di kamarnya mempersiapkan kuliah hari ini. Dia bilang ada jam kuliah pagi jam 9." jawab bi Sum


" Baiklah bi... lain kali kita sarapan bersama." ucap Mei. Bik Sum pun tersenyum dan pamit kembali ke dapur.