Don'T Look At Someone From The Outside

Don'T Look At Someone From The Outside
part 24



" Yang... "belum selesai Mei berbicara, sudah di potong oleh Adhisti. Ia datang sambil menggandeng Rega.


" Wahh.. wahh... apa yang sudah kamu lakukan sampai tuan Edrick mau datang mendampingi kamu. Jangan-jangan kamu membayar tuan Edrick dengan naik di ranjangnya ya." ucap Adhisti


Mei yang mendengar itu pun langsung membalikkan badan menghadap Adhisti, sedangkan Edrick... jangan tanya ia sudah menahan emosi dan mengepalkan tangannya. Namun Mei segera memegang tangannya guna menenangkan tunangannya itu.


" Wahh... kamu lebih tau ternyata menyangkut hal-hal seperti ini, Jangan-jangan kamu sudah berpengalaman ya. Atau.... itu yang kamu lakukan pada Rega?" ucap Mei yang membuat Adhisti terdiam.


" Kenapa diam? Hahh? Jadi benar? " ucap Mei pura-pura tidak tau, padahal ia sudah tau bagaimana hubungan mereka dan sejauh apa. Karena selama ini ia meminta anak buahnya memata-matai guna mendapatkan bukti untuk menjatuhkan mereka.


" Astaghfirullah... aku ga nyangka loh. Dan asal kamu tau, aku tidak perlu melemparkan tubuhku di atas ranjang ka Edrick. Karena ia yang selama ini mengejar-ngejarku." ucapnya lagi


" Cih.. mana mungkin tuan Edrick mau mengejar wanita miskin macam kamu, jangan bermimpi." ucap Adhisti angkuh


" Namun.. itu bukan mimpi, memang benar yang di katakan Mei. Aku yang mengejar-ngejarnya, walaupun itu benar... apa hakmu mengurusi hubungan kami?" jawab Edrick dingin dan Adhisti pun kalah telak. Ia benar-benar marah dan kesal. Tambah lagi ia melihat Rega yang sejak tadi memandangi Mei.


" Sayang... " panggil Edrick


" Hmm? " jawabnya seraya menengadahkan kepalanya dan tersenyum.


" Apa ini wanita yang selalu menganggumu? Apa aku perlu turun tangan? "tanya Edrick pura-pura tidak tahu. Sehingga membuat Adhisti dan Edrick menegang dan wajahnya berubah pucat.


Sungguh pemandangan yang sangat Mei sukai.


" Hihi... tidak usah sayang. Nanti juga mereka akan hancur dengan sendirinya, maksudku aku tidak perlu bantuan darimu." ucap Mei santai dan menyeringai. Sehingga membuat Adhisti dan Rega bergidik.


Acara tukar cincin pun di mulai, acaranya berlangsung dengan baik. Mei tidak ingin mengganggu suasana bahagia mereka.


Tapi... tunggu saja tanggal mainnya.


" Mei.... apa yang di katakan Adhisti tadi? " tanya Tia


" Penasaran bu?? mau tau aja apa mau tau banget?" canda Mei


" Isshhh... kamu mah" rajuk Tia


" Biasalah Ti... ngehina aku, apalagi? tapi karena ka Yash mengatakan sesuatu, wajah mereka langsng pucat dan berhenti bicara🤣" ucap Mei


" Mang apa yang ka Edrick katakan? " tanya Rea yang sejak tadi menyimak.


" Ehhemm... ' Sayang...Apa ini wanita yang selalu menganggumu? Apa aku perlu turun tangan?' " jawab Mei menirukan Edrick dan membuat Rea dan Tia tertawa. Sehingga membuat beberapa tamu melihat ke arahnya.


" Bagus ka... " puji Tia dan mengacungkan kedua jempolnya. Sedangkan Edrick hanya menanggapinya dengan senyuman.


Banyak tamu yang merasa iri melihat kedekatan mereka dengan Edrick. Terutama para gadis yang memang menyukai Edrick.


" Lihat... mata para ciwi-ciwi, kaya kucing liat ikan. Pengen nyambere aja." ucap Rea


" Apalagi si Adhisti, noh liat mukanya. Udah pengen gue lempar sendal aja" balas Tia, yang Seketika membuat Mei tertawa.


" Permisi nona... " Sapa Alden, ternyata ia pun hadir di acara ini. Dan membuat Edrick sedikit cemburu


" Hai Ka... ternyata kaka hadir di acara ini." jawab Mei


" Iya... aku mewakili perusahaanmu." ucap Alden


" Selamat malam tuan " sapa Alden pada Edrick


Edrick hanya balas dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum sedikit. Lalu Alden melihat ke arah Rea.


" Hai... " sapanya


" Oh.. Hai Ka" jawab Rea


" Bagaimana undangan untuk acara nanti, apa sudah selesai?" Tanya Alden.. karena akhir-akhir ini mereka sering bertemu untuk urusan acara Mei. Dengan berjalannya waktu Alden pun mulai tertarik dengan Rea. Pembawaannya yang ceria, serasa menghidupkan warna dalam dirinya. Namun nampaknya Rea belum menyadari itu.


" Sudah ka... Kita tinggal tunggu pencetakan terkahir, rencananya 2 minggu sebelum acara akan di bagikan." jawab Rea dengan tersenyum


degg...


ckckckck...


"Re... apa kamu ga menyadari sesuatu?" tanya Tia berbisik.


" Ada apa? Apa ada hal yang genting? " Balas Rea ikut berbisik dengan pertanyaan.


" Ishh.... kamu mah ga peka anak teh. Kamu ga liat dari tadi ka Alden liatin kamu. Filling aku, dia suka sama kamu." bisiik Tia


" Hahh" ucap Rea sedikit teriak.


" Kenapa Re? " tanya Mei dan Alden, sedangkan Edrick hanya menyimak.


" Ka Alden... apa bener kata Tia, kalo kaka suka sama Rea? " tanya Rea yang membuat mereka terkejut, terutama Alden.


Tia tidak menyangka kalo Rea akan to the point bertanya Pada Alden.


" Sinting" gumam Tia


Karena sudah kepalang malu dan di sadari semua orang, akhirnya Alden pun menarik tangan Rea dan membawanya ke tempat lain.


" Ka.. ka Alden mau bawa Rea kemana? Ko main tarik-tarik aja." tanya Rea


Mereka pun berhenti di belakang gedung acara tersebut. Saat ini mereka berada di pinggir kolam renang dan Alden menuntun Rea agar duduk di salah satu kursi.


" Huft... " Alden menghembuskan nafas pelan.


" Aku bingung harus mulai dariman? " ucap Alden


" Ya ga darimana-mana ka, kita kan di sini ga kemana-mana " jawab Rea dengan wajah polosnya.


" Hahaha... inilah salah satu alasan yang membuat aku menyukaimu. " ucap Alden


Rea pun terkejut... " Ma maksud kaka apa? " tanyanya


" Rea... kamu sudah bukan anak kecil lagi, sebentar lagi kamu wisuda. Masa kamu ga peka dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini? kaya ga pernah pacaran aja? " tanya Alden balik


" Ishhh... emang aku belum pernah pacaran" gumam Rea pelan .


Namun terdengar oleh Alden dan membuat Alden melotot tak percaya. Seorang gadis cantik dewasa, belum pernah berpacaran?


" Kamu serius? " tanya Alden


" Serius apa ka? " Tanya Rea balik


" Yang kamu katakan tadi. Kalo kamu belum pernah pacaran


blushh..


" Emang kalo belum pernah pacaran sampai usiaku saat ini, merupakan aib ya ka?" tanya Rea


" Ga.. bukan begitu, tentu saja itu bagus untukku." Jawab Alden


" Bagus? bagus kenapa? " tanyanya lagi


" Rea... aku mencintaimu. Entah sejak kapan perasaan ini ada, namun sejak kehadiranmu. Warna hidupku berubah, yang tadinya monoton dengan warna kelam, namun saat ini menjadi warna warni karenamu. Aku memang bukan termasuk pria romantis, tapi perasaan ini benar adanya. Rea.... maukah kamu menjadi kekasih ku? " ucap Alden


" Hahhh... kaka serius? Kita baru bertemu loh ka, baru beberapa minggu.. Apa kaka yakin itu perasaan mencintai? Ka... mungkin perasaan yang kaka rasakan itu, perasaan karena terbiasa bertemu dengan Rea." jawab Rea yang membuat Alden agak kecewa


" Rea... ini bukan rasa penasaran. Perasaan cinta bisa kapan saja datang dan pada siapa ia akan berlabuh. Dan.. perasaan kaka berlabuh padamu." ucap Alden dengan wajah kecewa.


" Jujur... selama kita menjalankan project ini dan sering bertemu, memang ada perasaan lain yang hinggap sama Rea. Tapi Rea ga tau perasaan apa ini, karena Rea ga pernah merasakan hal seperti ini ini sebelumnya. Bila kaka serius, kita bisa mulai dengan pendekatan. Bagaimana? Sekalian meyakinkan perasaan apa yang sedang Rea rasakan." ucap Rea yang membuat Alden kembali tersenyum.


" Baiklah... kaka Terima keputusanmu. Terimakasih karena sudah memberi kaka kesempatan. I love you Rea." ucap Alden mengusap lembut pipi Rea dan Rea pun tersenyum.


" Ya udah.. ayo kita balik ke dalam. Mei dan Tia pasti udah nungguin." ucap Rea dan di angguki Alden