Don'T Look At Someone From The Outside

Don'T Look At Someone From The Outside
part 26



Braaakkkk..


Saat Linda akan kehabisan nafasnya, pintu pun di dobrak dan masuklah Edrick, Elliot dan pegawai tadi. Mereka tercengang melihat apa yang Mei lakukan.


" Sayang.. hentikan. Kamu bisa membunuhnya." ucap Edrick seraya menarik tubuh Mei dan memeluknya, sehingga membuat Mei melepaskan pegangannya pada Linda. Deru nafas Mei terasa oleh Edrick, ia tahu saat ini Mei sedang menahan emosinya. Dan Edrick terus mencoba menenangkan Mei.


Sedangkan Elliot dan pegawai yang tadi tersadar dan membantu Linda untuk bangun. Linda terbatuk-batuk karena terlalu banyak menghisap air dari hidung dan mulutnya. Nafas Linda pun tersengal, namun tak ada wajah menyesal atau ketakutan dari Linda. Ia semakin benci melihat Edrick dan Mei berpelukan..


Linda pun di bawa pergi oleh Elliot dan pegawai tadi.


" Maafkan aku terlalu sibuk, sebaiknya kita kembali ke ruangan ku, tenangkan dirimu." Edrick pun menuntun Mei keluar dari toilet itu dan berjalan masuk lift


Sesampainya di dalam ruangan, Edrick pun membantu Mei duduk di sofa. Mei terlihat mengontrol amarahnya, Edrick pun memberikannya minum.


tok tok


" Masuk" ucap Edrick


" Bagaimana? " tanyanya tanpa melihat siapa yang masuk.


" Saya sudah membereskannya tuan." jawab Elliot


" Bagus... pastikan aku tidak akan melihat lagi wajahnya di sekitaran perusahaan ini, beraninya ia sudah membuat kekasihku marah." ucap Edrick


" Baik tuan" Elliot pun berlalu pergi


" Kenapa kamu bisa lepas kendali yang?Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Edrick


Huftt....


" Aku juga ga tau kenapa ay, tumben aku ke pancing sama omongannya. Kayanya hari ini kita ga bisa pulang dengan tenang... menyebalkan." jawab Mei


" Kenapa memang?" tanya Edrick bingung


" Wanita tadi bilang, bahwa kakanya adalah seorang mafia. Jadi sudah di pastikan pulang dari sini kita akan di hadang. Aku sedang malas berurusan dengan kecoa." ucap Mei


Ia pun mengambil ponsel yang ada di tasnya lalu menghubungi seseorang, untuk berjaga di depan perusahaan Shreyansh. Awasi bila saat Mei dan Edrick keluar dari gedung, lalu ada yang mencurigakan. Mei minta membereskannya...


" Kamu baik-baik saja?" tanya Edrick mengusap pelan rambut Mei


" Aku lelah.. selalu berhadapan dengan wanita-wanita yang menyukaimu ka." ucap Mei seraya menyandarkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya.


" Maafkan aku.. aku sudah membuat susah" ucap Edrick lalu memeluk tubuh Mei, namun ternyata Mei tertidur..


" Semudah ini kamu tertidur, maafkan aku Mei." ucapnya pelan lalu mencium kening Mei dan membetulkan posisi tidur Mei agar lebih nyaman. Ia merebahkan tubuh Mei, lalu menyelimutinya memakai jas Edrick.


Edrick pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


20 menit kemudian, pekerjaannya selesai, melihat Mei yang tertidur pulas. Ia tidak tega membangunkan Mei. Edrick langsung mengangkat tubuh Mei dan menggendongnya keluar dari ruangan. Dan Elliot mengikuti mereka dari belakang.


Banyak karyawan nya yang melihat perlakuan Edrick, membuat banyak hati yang patah.


Elliot membukakan pintu mobil, Edrick pun merebahkan Mei di kursi penumpang. Ia lalu berputar dan masuk ke pintu pengemudi.


"Aku titip perusahaan, hari ini aku akan sibuk mempersiapkan pertunangan kami. " ucap Edrick


" Baik tuan" jawab Edrick


Dan ternyata benar apa yang di katakan Mei, ada yang mengawasi mereka. Saat Edrick melajukan mobilnya, mobil yang sedari tadi mengawasinya mengikuti mereka dari belakang. Namun sebelum orang-orang itu mendekati Edrick, orang-orang itu sudah di hadang terlebih dahulu oleh anak buah Mei.


Dan di sinilah mereka sekarang, butik milik ibunya Tia. Edrick pun membangunkan Mei


" Sayang... kita sudah sampai. Bangun hei.. " ucap Edrick lembut seraya mengusap pipi Mei


" Huwaaa... " Mei pun menggeliat kan tubuhnya.


" Ohh.. kita sudah sampai ternyata. Sebentar ka, aku harus mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. " ucap Mei seraya membenarkan posisi duduknya.


Setelah 5 menit Mei terdiam dan merapihkan baju juga rambutnya, mereka pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik.


" Assalamu'alaikum tan.. " salam Mei, ibu Tia yang saat itu sedang merapihkan baju di depan etalase yang sedang di pakaikan pada manekin pun menoleh.


" Wa'alaikumsalam sayang... sudah lama kamu tidak main ke sini. Mana Tia? " ucap ibunya Tia seraya memeluk Mei. Walau ia belum tau siapa Mei. Namun kedua orang tua Tia ataupun Rea tidak pernah menolak Mei berteman dengan anak-anak mereka.


" Iya tante.. sibuk mempersiapkan buat wisuda" jawab Mei


" Loh.. siapa ini sayang? " tanya Rena ibunya Tia


" Ah.. kenalin tan, ini Edrick calon tunangan Mei. Kita ke sini mau nyari baju buat acara tunangan sekaligus wisuda Mei tan." jawab Mei


" MasyaAllah... kamu mau tunangan Mei. Alhamdulillah kalo gitu, bisa juga kamu nyari calon. Ganteng gini.. tunggu, bukannya kamu itu pengusaha itukan?" ucap Rena


Edrick pun tersenyum dan mencium punggung tangan Rena.


" Kenalkan tante, saya Edrick Shreyansh " ucapnya


" Ya ampuuun Mei, beruntung banget kamu bisa dapetin cowokmu ini. Ya ganteng, sukses pula. Selamat sayang... semoga acaranya lancar sampai nikahan nanti." ucap Rena


" Aamiin " jawab Edrick dan Mei


" Ya udah ayo ikut tante, kamu bisa pilih gaun yang kamu mau di ruangan tante. Ada model baru." ajak Rena pada Mei, sedangkan Edrick menunggunya di ruang tunggu.


" Coba kamu pilih Mei, loh mana calonmu?" tanya tante


" Kayanya nunggu di bawah tan, coba aku hubungi dia." ucap Mei


Setelah menghubungi Edrick, tak lama ia pun muncul dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


" Kamu coba Mei, tante mau ukur badan Calon kamu dulu." ucap Rena


Selama Mei di dalam ruang ganti, Edrick pun tengah sibuk di ukur beberapa bagian tubuhnya oleh Rena.


" Bagaimana ka? " tanya Mei memperlihatkan gaun pertama. Edrick ternyata telah selesai di ukur dan sekarang sedang duduk kembali di sofa.


" Tidak.. tidak.. itu terlalu terbuka di area punggungnya, aku tak mau tubuhmu di nikmati banyak orang." jawab Edrick, Mei pun masuk kembali untuk mencoba gaun ke 2


" Kalau ini?" Edrick yang saat ini sedang memainkan ponselnya pun kembali melihat Mei


" Ganti... " ucap Edrick, terus seperti itu sampe di gaun ke 6.


" Kaka.. ini yang terakhir, kalau kaka masih tidak setuju. Lebih baik aku pake mukena." gerutu Mei kembali masuk ke dalam untuk mengganti baju terakhir. Sedangkan Rena hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua pasangan itu.


" Kaka... " Edrick pun tertegun melihat Mei menggunakan gaun itu, ia menghampiri Mei dan mengelilinginya.


" Cantik.. dan Sempurna, aku menyukainya" ucap Edrick tersenyum puas.


" Haaaahhhh.... akhirnyaa, aku tidak tau kalo memilih gaun saja harus se melelahkan ini." ucap Mei


" Tan... nanti kirim aja gaun sama jasnya titip Tia aja, biar dia yang bawa ke rumah." ucapnya lagi


" Oke... " jawab Rena


" Kalau gitu, kita pamit ya tan. Terimakasih karena tante yang langsung turun tangan menghadapi kami." ucap Edrick


Rena dan Mei pun berpelukan sebelum mereka berpamitan.


" Melelahkan... kita cari makan ya ka. Aku lapar" ucap Mei


" Baiklah.. mau makan dimana kita? " balas Edrick


" Di depan sana ada nasi goreng enak ka, tapi kaka jangan risih sama tempatnya ya. Itu tempat favorit Mei. Walau tempat nya terlihat sederhana, tapi bersih ko dan nasi gorengnya ennak banget." ucap Mei


" It's ok.. ga masalah" jawab Edrick