Domination System

Domination System
07 ~ (~‾▿‾)~



Pagi harinya, Zen bangun dan membuka matanya perlahan, melihat sekitarnya, merasa familiar dengan kamar yang sekarang dia tempati.


'Ini, bukankah ini kamarku di kehidupan ku yang sebelumnya?' batin Zen.


Zen kemudian mengubah posisinya menjadi duduk, dan bersandar di sandaran kasur.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka, terlihat Xaviero masuk dengan Felix.


"Oh, Hai! Anak tampan ini sudah bangun" sapa Felix kepada Zen, dan Zen menatap datar ke arahnya ketika dikatai tampan.


Felix kemudian mendekati Zen, dan duduk di tepi kasur, sedangkan Xaviero berjalan ke arah sofa dan duduk di sofa itu.


'Gue cewek! Anj-, sabar-sabar…' batin Zen.


Setelah itu Zen menatap tajam ke arah Felix.


"E-eh, ada apa?" tanya Felix gugup ketika dia ditatap tajam oleh anak kecil di hadapannya.


"Aku perempuan! Jangan memanggilku tampan!" ucap Zen datar dan penuh penekanan.


"A-ahahaha, maaf, aku tidak tau" ucap Felix sambil mengusap tengkuknya refleks.


Zen yang mendengarnya hanya mendengus kesal.


"Oh ya anak manis, berapa umurmu?" tanya Felix.


"10 tahun"


"Eh"


Felix menatap tak percaya, anak di hadapannya ini tinggi, dan terlihat seperti umur 13 atau 14 tahun.


Memang benar, tinggi Zen itu 154 cm, untuk anak 10 tahun itu sudah sangat tinggi, tapi tubuh Zen kurus karena dia sudah koma berbulan-bulan dan tidak makan apapun, hanya diberikan vitamin agar tubuhnya bisa bertahan.


"Apa ada yang sakit?" tanya Felix lagi.


"Tidak ada, tubuhku hanya kelelahan saja" ucap Zen.


"Yakin?"


"Entahlah" ucap Zen sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


'Sistem, apa kemampuan tidak dapat merasakan sakit bisa di nonaktifkan?'


[Maaf Tuan, tapi kemampuan itu adalah kemampuan pasif, jadi tidak bisa di nonaktifkan]


'Lah, ini seperti aku memiliki penyakit Congenital insensitivity to pain (CIPA)' batin Zen meratapi nasibnya sekarang.


"Kau yakin tidak merasa ada yang sakit?" tanya Felix.


"Aku tidak bisa merasakan sakit apapun" ucap Zen.


"Tidak bisa merasakan sakit? Apa itu dari lahir?" tanya Felix.


Zen menggelengkan kepalanya.


"Tidak, itu setelah aku bangun dari koma" ucap Zen.


"Koma?"


"Ya, aku baru keluar rumah sakit kemarin" ucap Zen.


"Apa? Bukankah seharusnya saat ini kau ada di rumah dan beristirahat untuk pemulihan?"


"Aku tidak tinggal di rumah, lagipula aku lari dari rumah sakit tanpa ada yang tau" ucap Zen


"Apa?!"


Felix kemudian mengangkat tubuh Zen dan membaringkannya kembali di atas kasur.


"Anak bodoh! Jika terjadi apa-apa denganmu orangtuamu pasti khawatir" ucap Felix.


"Benarkah? Ku kira tidak seperti itu" ucap Zen yang membuat Felix bingung.


"Mereka tidak mungkin khawatir, lagipula selama ini mereka selalu memukuliku dan selalu mengabaikan ku, bagaimana mungkin mereka khawatir? Bahkan ketika aku sadar tidak ada seorang pun di sana kecuali suster dan dokter yang merawat ku" ucap Zen.


Entah kenapa dadanya terasa sakit dan sesak.


'Apa ini perasaanmu Zen? Kau benar-benar anak yang kuat karena selama ini kau berjuang sendirian, apa ini juga perasaanmu ketika tau jika kau bukan anak kandung mereka?' batin Zen.


Xaviero yang sedang duduk di sofa terlihat memandangi Zen dengan lekat.


"Felix" ucap Xaviero, dan Felix langsung menolehkan kepalanya ke arah Xaviero.


"Kemari"


"Hah?!"


"Felix! Kemari, ada yang ingin ku bicarakan" ucap Xaviero dingin dan datar.


Felix langsung berlari mendekati Xaviero ketika merasakan suhu ruangan itu menjadi dingin.


"Felix, bisa kau lakukan sesuatu?" tanya Xaviero pelan agar tidak didengar oleh Zen.


"Lakukan apa?" tanya Felix.


"Bisa kau lakukan tes DNA antara anak itu dan juga Felixia?" tanya Xaviero.


Felixia adalah kembaran Felix, dan juga istri Xaviero, mereka menikah diusia muda, Xaviero saat umur 20 tahun, dan Felixia di umur 19 tahun.


Setahun kemudian mereka dikaruniai anak kembar, laki-laki dan perempuan, anak laki-lakinya sangat mirip dengan Xaviero, sedangkan anak perempuan mereka terlahir albino.


Karena itu Xaviero ingin memastikan jika anak itu adalah anaknya dan Felixia.


Felix yang mendengarnya hanya terdiam, lalu mendekati Zen.


Mengelus rambut putih milik Zen, setelah itu mencabut beberapa helai rambut putih itu.


'Eh? Kenapa aku seperti merasa jika ada yang hilang di kepalaku?' batin Zen.


[Tuan, sistem akan diperbarui karena fitur baru yang akan ditambahkan, dan sistem akan nonaktifkan selama 24 jam, tenang saja, Anda masih bisa melihat status dan menggunakan Inventory]


'Inventory? Apa itu?'


[Itu adalah penyimpanan tanpa batas yang disediakan oleh sistem, Anjing Ajaib milik Anda juga tersimpan di sana, ada dia sisi yang berbeda di dalam sana, yang satu untuk makhluk hidup, dan yang satunya lagi untuk menyimpan barang-barang, dan tempat untuk menyimpan barang, waktu di sana akan dihentikan jadi tidak akan rusak, makanan juga bisa diletakkan di sana, jadi makanan akan tetap panas atau dingin]


'Wow! Kalau begitu nanti aku akan memborong semua makanan dan camilan kesukaanku di supermarket' batin Zen.


[…]


Saat Zen sedang melamun, seseorang tiba-tiba mendobrak pintu kamar yang ditempati Zen.


Di pintu itu terlihat seorang anak kecil seusia dengannya, memiliki rambut hitam, mata berwarna biru laut, wajah tegas, tubuhnya yang tinggi, jangan lupakan tatapan mata tajamnya itu.


'Oh! Apa dia cucuku! Sangat mirip dengan Xavi' batin Zen saat melihat anak itu sangat mirip dengan Xaviero.


[Tuan, jangan lupakan jika Anda saat ini hanyalah seorang anak berusia 10 tahun]


'Huh! Diamlah! Walaupun begini, dulunya itu aku wanita yang dihormati semua orang, dan lagi Xavi itu anakku, anak dari Zean Abighail Vynes!'


[Anak angkat]


'Hush! Diem! Eh, sistem kau belum diperbarui?'


[Saya khawatir meninggalkan Tuan sendirian]


'Udah, jangan khawatir, aku penasaran dengan fitur barumu nanti'


[Baiklah, saya akan perbarui sekarang, tolong jangan berbuat hal yang mencurigakan]


'Ya, ya, aku tau itu'


Setelah itu tidak ada lagi suara sistem yang terdengar.


"Ayah" panggil anak laki-laki itu kepada Xaviero.


"Ada apa, Zein?" tanya Xaviero.


"Ayah, kau lupa membayar SPP sekolah bulan ini" ucap Zein.


Felix dan Zen yang mendengarnya hanya sweetdrop.


'Dia masih ceroboh dan pelupa, bagaimana dia bisa mempertahankan perusahaan dengan sifat ceroboh dan pelupanya itu?' batin Zen.


Xaviero mengeluarkan beberapa uang lembar berwarna merah, dan langsung memberikannya kepada Zein.


"Itu, langsung bayar untuk satu tahun" ucap Xaviero, dan Zein hanya mengangguk.


Setelah itu perhatian Zein terpaku kepada sosok putih di atas tempat tidur.


"Dia siapa?" tanya Zein.


Zein sudah sering melihat ayahnya terluka, dan tubuh dipenuhi perban, jadi dia menatap Xaviero dengan biasa, tapi entah kenapa anak serba putih yang sedang tertidur di atas kasur Ayahnya itu seperti memiliki ikatan dengannya.


'Perasaan apa ini?' batin Zein ketika melihat ke arah Zen.