Domination System

Domination System
01 ~ (‘◉⌓◉’)



Zean yang mendengar suara yang muncul langsung memegang kepalanya karena suara itu menggema di kepalanya.


'Siapa?' batin Zean.


Zean ingin berbicara, tapi tenggorokannya kering dan sakit saat ingin berbicara, mulutnya hanya bisa terbuka tanpa ada suara pun yang terdengar dari mulutnya.


[Saya adalah Sistem, pencipta saya menciptakan saya untuk membantu Anda]


'Kau bisa mendengarku walau aku berbicara dalam pikiran ku?'


[Ya, karena sistem terhubung dengan jiwa Anda, jadi sistem bisa mendengar Tuan walau berbicara dalam pikiran, ini seperti telepati]


'Telepati?'


[Ya, saya bisa mendengar Anda jika Anda ingin berbicara dengan saya melalui pikiran Anda, karena saya terhubung dengan jiwa Anda, saya juga tahu semua hal tentang dengan saat melihat ingatan Anda]


'Hei! Itu privasi!'


[Maaf Tuan, sistem tidak bisa melakukan apapun karena ketika sistem terikat dengan jiwa Anda, sistem akan langsung dikirim semua ingatan yang Anda miliki]


'Huft, ya sudahlah, tapi siapa yang menciptakan mu?'


Sebelum sistem menjawabnya, suara barang pecah mengagetkan Zean yang masih terbaring.


PRANG! TANG!


Zean melihat seorang wanita dengan pakaian suster rumah sakit, nampan yang dia bawa jatuh ke lantai, mangkuk yang berada di nampan itu juga ikut jatuh dan pecah.


Suster itu langsung mendekati ranjang pasien di mana Zean terbaring.


Suster itu langsung menekan tombol yang tak jauh dari ranjang itu.


"Nak, apa ada yang sakit?"


'Nak?' pikir Zean.


[Tuan, Anda terlahir kembali di tubuh seorang anak berusia 10 tahun, jiwa anak ini sudah pergi ke akhirat dan sudah tenang di sana, dan tubuh ini sudah koma selama 6 bulan]


'Begitu ya'


"Nak?"


"A…ir"


Suster itu dengan cepat mengambil gelas dan mengisinya dengan air yang ada di termos, dan langsung memberinya kepada Zean.


Zean dengan senang hati menerima gelas itu, menegak air di dalam gelas sampai habis.


Beberapa saat kemudian terlihat seorang pria dengan jas dokter memasuki kamar Zean di rawat.


Dokter itu langsung memeriksa Zean, setelah itu mengambil catatan dan menulis sesuatu di sana.


"Apa tubuhmu ada yang sakit?" tanya dokter itu.


Zean hanya menggeleng, tubuhnya tidak sakit, hanya kaku saja karena sudah lama koma.


Dokter itu kemudian memegang tangan kiri Zean, dan mengangkatnya sedikit.


"Coba jarinya di gerakkan"


Zean kemudian menggerakkan jarinya, jarinya bergerak perlahan, tapi sulit karena jari-jarinya kaku.


Dokter itu kemudian memijat tangan Zean perlahan untuk merilekskan otot dan syaraf tangan Zean.


"Coba gerakkan lagi"


Zean kembali menggerakkan jarinya, dan itu lebih mudah dari sebelumnya.


Dokter itu mengangguk, meletakkan kembali tangan Zean di ranjang rumah sakit.


Tangan dokter itu kemudian mengusap kepala Zean pelan.


"Siapa namamu?"


'Oh iya, siapa nama anak ini?'


[Zena Abighail Vynes]


'Vynes? Sama dengan nama ku?'


[Ya, sebenarnya anak ini hanya bernama Zena, tapi pencipta saya mengatakan jika namanya sekarang adalah Zena Abighael Vynes, Tapi lebih baik Tuan menyebut Zen dahulu]


'Zen? Bukankah nama anak ini Zena'


[Saya akan memberi Anda ingatan dari tubuh ini nanti]


"Zen"


"Baiklah Zen, apakah kamu ingat sesuatu lagi?"


Zean, untuk sekarang dan seterusnya akan dipanggil Zen.


"Tidak" ucap Zen sambil menggelengkan kepalanya.


Dokter yang mendengar itu tertegun.


"Aku hanya ingat namaku, aku tidak ingat yang lainnya" ucap Zen, matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.


[…]


Sistem yang melihat kelakuan tuannya itu hanya terdiam, lagipula dia sudah tahu bagaimana sifat tuannya itu ketika melihat ingatan miliknya.


Di kehidupan sebelumnya sebagai Zean, Zean dikenal sebagai wanita yang tenang, lembut, dan anggun.


Sedangkan ketika dia bersama orang-orang terdekatnya, Zean akan menampilkan sifat aslinya yang ceria, ceroboh dan bar-bar.


Karena itu teman-teman Zean tak habis pikir, Zean yang ceria, ceroboh, dan bar-bar itu bisa bersikap tenang dan anggun di hadapan orang lain.


Zean juga pandai dalam berakting, jadi selama ini dia hanya dikenal sebagai wanita yang cantik dan anggun, sedangkan teman-temannya mengenalnya sebagai wanita yang ceroboh dan bar-bar.


Bahkan Zean dengan tak malunya membuat rumah temannya yang awalnya rapih menjadi berantakan seperti kapal pecah.


Zean juga dijuluki sebagai si tangan ajaib oleh teman-teman terdekatnya karena terkadang barang yang dia sentuh akan hancur atau patah, padahal barang yang di pegang oleh Zean itu tebal dan kuat, tapi entah kenapa barang itu bisa patah, seperti pensil atau pulpen.


Kembali kepada Zen yang masih terbaring di ranjang rumah sakit sambil menatap dokter di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.


Sedangkan di dalam hatinya terkekeh melihat dokter yang panik saat melihatnya akan menangis.


"Kalau Zen tidak ingat apa-apa tidak usah dipaksain, nanti juga ingat sendiri" ucap dokter itu, mengelus rambut Zen perlahan.


"Dokter" panggil Zen.


"Ya?"


"Umur dokter berapa?"


"24 tahun"


'Masih mudah ternyata' pikir Zen.


[Tuan, jangan berpikir yang tidak-tidak, usia Anda dan dokter itu berbeda 14 tahun]


'Huh? Tubuhku saat ini memang 10 tahun, tapi usia asliku 39 tahun, lagipula aku suka berondong seperti ini'


[…]


Zen melihat name tag dokter itu.


"Dokter Kevin?"


"Hm?"


"Tidak, hanya manggil aja" ucap Zean sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi susu miliknya.


"Kalau begitu, dokter pergi dulu, jika ada apa-apa panggil aja suster"


"Um" Zen mengangguk mengerti.


Dokter Kevin keluar dari ruangan Zen dirawat.


'Sistem!'


[Ya, Tuan]


'Aku ingin melihat ingatan anak ini sekarang'


[Apa Tuan ingin melihat ingatan darinya?]


'Ya, tentu saja!'


Setelah menunggu beberapa saat, sebuah ingatan di kepalanya berputar seperti sebuah film.


Setelah Zen mendapatkan ingatan dari tubuh yang dia tempati, Zen langsung merenung dan mengganti posisinya menjadi duduk di atas ranjang rumah sakit itu.


Zen menghela napasnya, ketika mendapatkan ingatan, dia tidak pernah menyangka jika kedua orangtua anak ini menelantarkannya hanya karena fisiknya berbeda dari orang lain.


Zen terlahir sebagai albino, rambut putih, kulit pucat, dan matanya berwarna merah.


Keluarganya menganggapnya sebagai anak pembawa malapetaka.


Zen memiliki kembaran, dia adalah seorang anak perempuan yang cantik dan imut, orang-orang memujinya karena kecantikan yang dia miliki di usia yang masih anak-anak.


Sedangkan untuk Zen, dia selalu diperlakukan seperti dia adalah makhluk yang tidak pernah ada di sana.


Zen selalu dicampakkan karena orangtuanya mengatakan jika dia hanya membawa malapetaka ke keluarga mereka, karena setiap kehadiran Zen, akan selalu ada musibah yang terjadi.


Padahal saat itu, saudari kembarnya juga ada di sana, tapi Zen selalu di salahkan jika ada sesuatu yang terjadi.


'Oh, kasihan sekali anak ini'


[Tuan, jiwa dari anak ini mengatakan jika dia ingin hidup bahagia, meskipun itu tidak bersama keluarganya]


'Baiklah, aku akan mengabulkan permintaannya sebagai balasan karena aku menggunakan tubuhnya ini' batin Zen, matanya berapi-api, dia sangat bersemangat untuk membalas dendam keluarga anak ini.


[Tuan, jiwa Zena hanya ingin bahagia, bukan untuk balas dendam kepada keluarganya]


Seperti tidak mendengar apapun, Zen hanya bersenandung ria, mengacuhkan perkataan dari sistem.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Oh iya, kenapa anak ini dipanggil Zen sedangkan nama aslinya Zena?" gumam Zen