Domination System

Domination System
06 ~ (⑉⊙ȏ⊙)



Zen saat ini sedang berada di ruang khusus yang mirip seperti kamar itu.


Berbaring di atas kasur dan hanya menatap langit-langit ruangan.


[Tuan, ada misi baru]


"Misi baru? Misi ku bahkan belum selesai"


[Ini misi sampingan, misi utama Anda tidak memiliki batas waktu, sedangkan misi sampingan memiliki batas waktu]


"Apa misinya?"


...≈≈≈★≈≈≈...


...Misi :...


...Menyelamatkan seorang Pria dari pembunuh bayaran...


...Hadiah :...


...Fitur baru sistem, +5 kecantikan, +5 kekuatan, +10 kecepatan, Rare Gift Box...


...Hukuman : Mata menjadi buram selama 2 jam...


...Batas Waktu : 30 menit...


...≈≈≈★≈≈≈...


"Fitur baru sistem?"


[Ya, sekarang masih ada beberapa fitur dari sistem yang terkunci, dan untuk membukanya dengan menjalankan misi, tapi tidak semua misi membuka fitur atau item yang masih terkunci]


"Begitu, tapi lokasinya di mana?"


[Gang yang ada di samping perusahaan]


"Gang gelap itu?" tanya Zen.


[Ya, Tuan]


"Jika 30 menit, maka sebentar lagi mereka akan ada di sana" ucap Zen langsung bangkit dari posisi tidurnya.


Mengambil jaket putih lalu memakainya, tak lupa menutup kepalanya dengan tudung jaket, dan langsung berlari keluar dari kantor.


Jaket yang di kenakan Zen memiliki kerah yang tinggi, menutupi hidung dan mulutnya seperti dia memakai masker.


Langit diluar mulai menjingga, yang menandakan sebentar lagi malam akan tiba.


Zen masuk ke dalam gang yang berada tepat di samping perusahaannya itu, dan menunggu di sana.


Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang berlari.


Zen melihat seorang pria berambut hitam dan memiliki mata berwarna emas.


'Tunggu, mata dan wajah itu'


Zen menatap tak percaya, Pria itu adalah anak angkatnya di kehidupannya dulu, dia sudah tumbuh menjadi Pria yang tampan, memiliki wajah tegas, hidung mancung, mata tajam, dan alis yang tebal, jangan lupakan tubuhnya yang tinggi dan atletis.


'Aku tak percaya putra angkat ku tumbuh menjadi sangat tampan, apalagi dia adalah tipeku!' pekik Zen dalam hati.


Xaviero Frostzy Vynes, putra angkat dari Zean Abighail Vynes.


Dulu Zean menemukan Xaviero saat usianya 5 tahun, dia tidur di kolong jembatan yang dingin, apalagi saat itu Xaviero terlihat sangat kurus.


Zean yang waktu itu melihatnya menjadi tidak tega, dan membawanya ke rumahnya.


Zean merawatnya seperti merawat anaknya sendiri, dan saat Xaviero terlihat seperti anak-anak pada umumnya, Zean bermaksud untuk membawanya ke panti asuhan.


Tapi, Xaviero menolaknya dan ingin terus mengikuti Zean, jadi Zean mengangkatnya menjadi anak.


Selama bertahun-tahun Zean mengajari Xaviero berbagai hal, bahkan mengajarinya beladiri dan cara membunuh, entah kenapa Zean mengajari semua itu padanya.


Xaviero juga hanya mengikuti kata-kata Zean, dan panggilan Zean untuk Xaviero adalah Xavi, kadang juga memanggilnya Sapi.


Zean memanggilnya seperti itu bukan tanpa alasan, karena Xaviero tumbuh dengan cepat, saat di usia 12 tahun tingginya 160 cm.


Bahkan Zean menatap tak percaya jika saat itu Xaviero masih 12 tahun, karena lebih terlihat seperti anak usia 16-17 tahun.


Dan saat itu Xaviero juga sering manja padanya dan Zean hanya bisa tertawa geli melihat putranya yang bongsor itu selalu manja padanya.


"Xavi" gumam Zen yang hanya bisa terdengar olehnya.


Saat Xaviero mendekat, Zen langsung berlari ke arah belakang Xaviero yang terdapat sekitar 12 orang yang mengejarnya.


Zen mengambil batang pipa besi, dan memukul orang-orang yang mengejar Xaviero.


BANG!


Suara pukulan keras tepat di kepala bergema di gang itu.


Xaviero menatap tak percaya kepada sosok putih kecil dihadapannya itu, sebelumnya dia mengira jika anak itu akan menyerangnya, tapi dugaannya salah ketika melihat anak itu menyerang orang-orang yang mengejarnya.


Xaviero juga tidak bisa membantu karena tubuhnya saat ini sedang terluka, apalagi luka akibat benda tajam yang memanjang dari alis sampai pipinya masih mengeluarkan darah, untung saja tidak melukai mata kanannya itu.


Xaviero hanya bisa menatap anak berpakaian serba putih itu sedang memukul para pembunuh bayaran itu dengan menggunakan pipa besi.


Bisa terdengar jika napas Zen sudah tidak beraturan karena tubuhnya yang lemah, Dan setelah ini Zen memutuskan untuk berolahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya yang lemah itu.


Pipa besi yang Zen gunakan untuk memukul para pembunuh bayaran itu sekarang sudah dipenuhi oleh darah, tapi pakaiannya tetap bersih tanpa noda apapun.


Setelah selesai membuat semua pembunuh bayaran itu tak sadarkan diri, Zen membuang pipa besi dan mendekati Xaviero.


Zen merogoh saku jaketnya, di sana terdapat sebuah saputangan dan Zen langsung memberikannya kepada Xaviero.


Xaviero mengambil saputangan itu, dan menghentikan pendarahan dari luka yang ada di area matanya.


Sebenarnya Xaviero ragu-ragu karena saputangan itu berwarna biru cerah, tapi anak itu tidak mempermasalahkannya, jadi Xaviero menggunakan saputangan itu.


Saat Zen akan pergi, penglihatannya tiba-tiba menjadi buram, setelah itu pandangannya langsung menggelap.


Xaviero terkejut ketika melihat tubuh anak itu limbung dan akan jatuh, tanpa sadar Xaviero langsung menahan tubuh anak itu dan memeluknya, membuat jaket putih yang dikenakan Zen ternoda oleh darah.


Di jaket yang dikenakan oleh anak itu, Xaviero melihat sebuah nama, tepat di bagian dada kanan bertuliskan ZEN dengan huruf kapital dan tebal.


"Zen" gumam Xaviero.


Saat pendarahan di area mata kanannya berhenti, Xaviero mengangkat tubuh Zen setelah menghubungi seseorang.


Xaviero membawa tubuh Zen keluar dari gang itu, dan di sana sudah terdapat sebuah mobil berwarna hitam yang menunggunya, tanpa pikir panjang dia langsung masuk ke dalam mobil sambil membawa tubuh Zen di pelukannya.


Saat di dalam mobil, tudung jaket milik Zen terlepas, dan memperlihatkan rambut putih dan kulit pucat miliknya.


'Wajahnya mengingatkan ku dengan seseorang' pikir Xaviero.


Xaviero mengelus wajah Zen dengan lembut, dan langsung tersadar saat melihat darah di tangannya menempel di wajah Zen.


"Tuan, apa kita pergi ke rumah sakit?" tanya supir.


"Langsung ke Mansion" ucap Xaviero datar.


Dan supir itu langsung menancap gas menuju Mansion milik Xaviero.


Mansion miliknya adalah Mansion yang dulu ditinggali oleh Zen saat masih menjadi Zean.


Setelah sampai, Xaviero membawa Zen ke kamarnya, dan menidurkan Zen perlahan di atas kasur.


Setelah itu Xaviero menyuruh bawahannya untuk menelpon dokter, untuk mengobati lukanya dan mengecek kondisi Zen.


Beberapa saat kemudian Xaviero melihat seseorang yang dia kenal membuka pintu kamarnya.


Seorang pria seusia dengan Xaviero menatap Xaviero dengan wajah mengejek.


Pria itu memiliki rambut pirang dan mata biru, kulit putih, dan tinggi.


"Yo! Kau benar-benar luka parah sekarang, aku sudah menyuruhmu untuk membawa bodyguard agar bisa melindungi mu" ucap Pria itu.


"Felix, jika kau datang untuk mengejekku, lebih baik kau kembali dan biarkan asisten mu saja yang mengobati ku" ucap Xaviero dingin.


"Oh ayolah, aku hanya bercanda, lagipula kenapa kau bisa terluka seperti ini?"


"Bukankah seharusnya kau mengobati ku dulu?" ucap Xaviero dingin, bahkan aura dingin mengguar dari tubuhnya.


Felix yang kesal karena pertanyaannya tidak dijawab hanya bisa mengobati Xaviero, tubuhnya sudah merinding merasakan hawa disekitarnya mulai dingin.


Tapi Felix penasaran ketika melihat sosok kecil yang terbaring di atas kasur Xaviero.