
Selama perjalanan, Zen dan Henry menjadi sorotan dari para pejalan kaki atau pengendara lainnya.
Deru dari mobil itu membuat banyak pasang mata mengarah pada mobil yang dikendarai Henry dan Zen.
Henry fokus dengan jalanan, dan Zen dengan santainya memainkan ponselnya tanpa peduli hal lainnya.
Saat mobil tiba di gerbang sekolah, dan masuk ke halaman parkir, semua murid, guru, dan orangtua murid yang mengantar anaknya langsung melihat ke arah hypercar Bugatti La Voiture Noire yang sudah terparkir indah di halaman parkir sekolah.
Henry keluar dari mobil, menuju ke arah pintu yang lain, Henry membukakan pintu mobil untuk Zen.
"Tuan Muda, kita sudah sampai" ucap Henry.
Zen yang awalnya sedang bermain ponsel, langsung melihat ke arah Henry.
Menyimpan ponselnya ke saku celana, Zen melangkah keluar mobil.
Suasana di sana yang awalnya ribut dengan bisikan para murid, seketika terdiam ketika melihat sosok yang keluar dari mobil.
Aura dominan keluar dari tubuh Zen, wajah yang tegas, alis yang cukup tebal, bulu mata panjang, sorot mata yang tajam, dan mata merahnya membuat semua orang di sana merinding.
Jangan lupakan rambut putih dan kulit putih pucatnya yang terlihat berkilau ketika cahaya sang surya menyorot tubuh Zen.
Bisikan-bisikan syaiton.g. maksudnya bisikan-bisikan para siswi terdengar berisik di telinga tajam Zen.
Mereka membicarakan tentang Zen yang tampan, ganteng, manly, cool, padahal aslinya cewek.
'Percuma tampan kalo gak punya batang' batin Zen saat ini yang meratapi nasibnya yang menjadi cegan (cewek ganteng) bukan cecan (cewek cantik).
Tapi Zen juga bersyukur karena tubuhnya yang mirip laki-laki membuatnya dapat bergerak leluasa, dulu ketika dia masih menjadi Zean, geraknya selalu terbatas karena terhalang oleh dadanya yang cukup besar.
Apalagi ketika ingin mengikat tali sepatu atau memotong kukunya, selalu terhalang.
Zen berdiri tegak di samping Henry, tanpa peduli sekitar yang sedang membicarakannya.
"Tuan Muda, semoga Anda suka dengan sekolah ini karena Anda akan belajar di sini selama 3 tahun ke depan" ucap Henry.
"Tidak bisa dipercepat? Seperti langsung dapat ijazah SMP?" tanya Zen.
"Tuan Muda, Anda bahkan belum mendapat Ijazah SD, kenapa Anda memikirkan tentang ijazah SMP?" ucap Henry kepada Zen dengan wajah datarnya.
"Aku hanya bertanya, lagipula aku juga tidak akan sering pergi kemari karena urusan perusahaan menumpuk" ucap Zen.
Henry tiba-tiba mengingat tumpukan dokumen dan berkas yang menumpuk di meja kerja Zen.
"Apa aku harus memiliki seorang asisten?" gumam Zen sambil menghela napasnya ketika mengingat tumpukan kertas di atas meja kerjanya.
Zen sudah bosan melihat kertas-kertas yang ada di meja kerjanya itu.
Menghilangkan semua pikirannya, Zen melangkah duluan menuju ruang kepala sekolah, diikuti Henry di belakangnya.
Tok! Tok! Tok!
Setelah sampai di depan ruang kepala sekolah, Zen membiarkan Henry yang mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap seseorang di balik ruangan.
Henry membuka pintu, terlihat seorang wanita berusia 24 tahun duduk di sebuah kursi, dengan beberapa dokumen di atas mejanya.
"Oh, Henry, kau sudah datang" ucap wanita itu.
"Tuan Muda, dia adalah senior saya saat kuliah" ucap Henry, Zen hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh, apa ini anak yang ingin kau daftarkan? Hei nak, namaku Ellea Nora Azalona" tanya wanita itu.
"Zen" ucap Zen dengan wajah datarnya.
Zen menatap inchi demi inchi tubuh wanita di hadapannya itu.
Tubuhnya tinggi dan proporsional, bahkan tubuhnya seperti gitar spanyol dengan lengkungan tubuh yang indah, jangan lupakan ukuran dadanya yang cukup besar, nilai dari Zen adalah 97 dari 100 poin.
Henry berjalan ke arah kepala sekolah, dan menyerahkan dokumen di tangannya.
wanita itu megambil dokumen dari tangan Henry, dan membacanya sebentar.
"Apa tidak salah dengan jenis kelaminnya?" tanya Ellea bingung.
"Aku perempuan" ucap Zen dengan aura hitam mengelilinginya.
"O-oh, oke, a-aku hanya terkejut saja ketika melihat fisik dan wajahmu" ucap Ellea gugup ketika punggungnya terasa dingin.
"Bukankah seharusnya kau memakan rok?" tanya Ellea.
"Tidak, jika aku memakainya malah akan terlihat seperti banci dipinggir jalan" ucap Zen dingin + datar.
Ellea yang mendengarnya hanya bisa tersenyum canggung.
"Baiklah Zen, kau berada di kelas 7-A, aku yang akan langsung mengantar mu nanti" ucap Ellea.
Zen mengangguk, pandangan melirik sofa di sisi ruangan, dan tanpa izin, Zen langsung duduk di sana.
"Sepertinya dia harus diajari sopan santun" ucap Ellea.
"Tuan Muda memang seperti itu, jadi saya harap senior memakluminya" ucap Henry.
"Kenapa kau terus-terusan memanggilnya Tuan Muda, padahal dia perempuan?"
"Karena fisiknya, dan lagi, Tuan Muda tidak mempermasalahkannya ketika aku memanggilnya Tuan Muda, saya juga bekerja di perusahaan yang dimiliki Tuan Muda, tidak mungkin jika saya memanggil dengan namanya" ucap Henry.
Henry memang jarang memanggil Zen dengan namanya, kecuali ketika marah, Henry akan benar-benar memanggil Zen dengan namanya.
Bahkan Henry juga tak segan-segan untuk membentak dan menasehati Zen jika melakukan kesalahan.
"Dari dulu aku selalu mendengar mu berbicara bahasa formal, tidak bisa berbicara dengan santai?"
"Maaf senior, saya sudah terbiasa berbicara seperti ini" ucap Henry.
Di sisi lain, Zen yang melihat interaksi mereka merasa gemas sendiri.
Terlihat jika Ellea menyukai Henry dan mencoba menggodanya, tapi Henry dingin dan tidak peka, apakah dia harus menjadi makcomblang untuk mereka berdua?
Ketika memikirkan itu, Zen tiba-tiba teringat, jika dia memiliki suami nanti, sudah pasti dia harus lebih tinggi darinya, dan ketika dia memikirkan kembali, jika memiliki anak nanti, akan seberapa tinggi anaknya ketika orangtuanya saja sangat tinggi?
Zen menggelengkan kepalanya pelan, ketika melihat jika Henry dan Ellea masih berbincang dengan Henry yang duduk di kursi di depan Ellea.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Zen keluar dari ruangan kepala sekolah, dan memilih menghirup udara segar dibanding menjadi nyamuk, sekalian berkeliling sekolah.
Tanpa Zen sadari jika dia sudah berkeliling sekolah selama 3 jam, bahkan mengabaikan bel masuk sekolah.
Saat kembali ke ruang kepala sekolah, tidak ada siapapun di sana, saat akan berbalik dan keluar lagi dari ruangan itu, Zen melihat Henry di hadapannya dan suara dingin Henry memasuki indera pendengarannya.
Zen melihat Henry di depannya dengan aura gelap mengelilingi Zen, Ellea hanya diam dan mundur beberapa langkah di belakang Henry.
"Zen Abighail" ucap Henry, Zen yang mendengar suara deep Henry langsung terdiam dan menunduk.
'Auranya mengerikan' batin Zen saat merasakan udara di sekitarnya menjadi dingin.
1 jam yang lalu Henry dan Ellea masih di ruangan kepala sekolah, tapi Zen belum saja kembali.
Jadi Henry dan Ellea mencari Zen ke seluruh sekolah, bahkan selama 1 jam mereka terus mencari Zen.
Dan mereka melihat Zen baru saja membuka ruang kepala sekolah dengan watadosnya.
Tentu saja ketika melihat Zen yang tidak merasa bersalah, aura gelap mengelilingi Henry, bahkan Ellea sampai menjaga jarak dari Henry.