
Pukul 10.45, Zen terbangun dari tidurnya, dan melihat siluet seseorang yang sedang duduk di sofa yang ada di seberang.
"Um, siapa?" tanya Zen dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Tuan Muda, Anda membuat kekacauan lagi, dan saya sudah mengatakan untuk tidak menggunakan akun Little White lagi karena akun itu sudah dikenal oleh dunia" ucap Pria yang duduk di seberang Zen.
"Eh? Apa aku menggunakan akun itu? aku tidak melihatnya" ucap Zen membuat pria itu hanya bisa menghela napasnya.
"Oh ya, kenapa Anda datang ke perusahaan?"
"Hm? Aku melarikan diri dari rumah, aku sudah bosan di sana"
"Hah?! Lalu Anda akan tinggal di mana?"
"Di sini saja, lagipula ada ruangan khusus di ruangan ini" ucap Zen.
"Ah, aku melupakan itu"
Hening beberapa saat, dan pria itu bangkit berdiri untuk keluar.
Nama pria itu adalah Henry Gilbert Lenard.
"Henry" panggil Zen kepada pria itu.
"Ya?" Henry yang dipanggil langsung menengok ke arah Zen.
Zen sedikit terpana dengan wajah Henry, wajah yang tegas, mata yang tajam, hidung mancung, apalagi kulit sawo matang, di mata Zen dia terlihat sexy.
Yang paling Zen sukai adalah warna rambutnya yang hitam kecoklatan dan pupil mata berwarna biru cerah, jarang untuk orang Asia memiliki mata berwarna biru., dan jangan lupakan tingginya yang 178 cm.
"Lapar" ucap Zen kepada Henry.
"Kalau begitu, saya akan membeli makanan untuk Anda… tunggu, bukankah seharusnya Anda masih dirawat di Rumah Sakit?" tanya Henry baru sadar jika kulit Zen lebih pucat dari biasanya.
"Bukankah aku sudah bilang jika aku kabur? Dokter di sana memang tampan, tapi aku tidak suka bau obat yang ada di rumah sakit, apalagi makanannya tidak ada rasanya sama sekali" ucap Zen.
"Saya akan memanggil dokter untuk mengecek keadaan Anda" ucap Henry.
"Hm"
Setelah itu Henry pergi dari ruangan Zen.
"Ha~, aku ingin mandi" gumam Zen.
Setelah itu dia bangkit dan menuju dinding di mana dinding itu di cat berwarna biru dan ada cat merah berbentuk lingkaran tak jauh dari sofa tempat Zen tidur.
Mengetuk lingkaran merah itu, dan lingkaran itu bergerak ke atas.
Ya, itu adalah pintu ruangan rahasia.
Ada alat scan sidik jari di sana, dan Zen menempelkan ibu jari miliknya di sana, dan dinding itu perlahan bergeser ke samping.
Zen memasukkan laptop yang sebelumnya ada di atas meja, memasukkannya ke dalam tas dan menarik tas itu.
Saat sudah masuk ke ruangan rahasia itu, Zen melempar tasnya ke atas kasur.
Ruangan itu di desain mirip kamar, ada kasur dan lemari, ada juga sofa dan meja di sisi ruangan, lalu dibalik lemari ada tempat khusus di mana berbagai layar monitor terpasang.
Itu adalah ruangan yang digunakan Zen untuk meretas, bahkan Zen dulu pernah meretas data keamanan negara hanya untuk mencari tahu tentang identitasnya.
Yang membuat Zen tidak percaya adalah golongan darah yang dia miliki, kedua orangtuanya jelas-jelas memiliki golongan darah B, bahkan saudara kembarnya? juga bergolongan darah B, tapi kenapa dia bergolongan darah A?
Dan setelah mengetahui tentang kebenaran itu, sehari setelahnya Zen mengalami kecelakaan, yang menyebabkannya koma, dan sekarang tubuhnya ditempati oleh Zean Abighail Vynes.
Melempar tas ke atas kasur, Zen langsung menyambar jubah mandi, dan berlari ke kamar mandi.
20 menit kemudian, Zen telah selesai mandi dan memakai pakaiannya, hanya kemeja putih polos dan celana hitam panjang.
Setelah selesai, Zen memilih untuk keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruang kantor miliknya, tak lupa membawa laptop yang sebelumnya dia simpan di dalam tas.
Duduk di sofa, menyimpan laptop di atas meja, Zen hanya diam dan melihat langit-langit kantor itu.
"Bosan" gumam Zen.
"Aku kembali" ucap Henry sambil membuka pintu.
"Oh! Mana makananku!" ucap Zen, saat melihat kresek hitam di tangan Henry, Zen langsung mengambilnya.
Kembali duduk di sofa, dan langsung membuka kresek itu, dan ada 2 bungkus nasi.
"Kau beli apa aja?" tanya Zen.
"Nasi goreng dan mie goreng" ucap Henry, dan duduk di samping Zen.
"Mau?" tawar Zen kepada Henry.
"Tak apa, aku bisa makan nanti" ucap Henry.
Zen yang mendengarnya hanya mengangguk, memakan nasi goreng dan mie goreng sampai habis.
Henry yang melihat Zen makan hanya senyum.
Setelah selesai makan, Zen bangkit berjalan ke ujung ruangan untuk mengambil minum.
Untung saja di ruangannya sudah ada tempat minum.
"Tuan Muda, apa Anda benar-benar akan tinggal di sini? Saya bisa mencarikan tempat untuk Anda tinggal" ucap Henry.
Zen kembali duduk di tempat dia duduk sebelumnya, dan menatap Henry.
"Aku tinggal di sini saja, sekalian mengawasi perusahaan" ucap Zen.
"Baiklah, saya tidak akan bertanya lagi"
"Bisakah tidak berbicara formal padaku?" tanya Zen
"Tidak mungkin, Anda adalah orang yang saya hormati, bagaimana bisa saya tidak bersikap formal pada Anda" ucap Henry.
"Oh ya Henry, berapa umurmu sekarang?" tanya Zen.
"22 tahun"
"Tidak berencana untuk menikah?" tanya Zen.
"Sepertinya… tidak" ucap Henry.
"Kenapa tidak?"
Henry tidak menjawab dan melihat ke arah lain.
"Ck!… Oh ya, aku ingin pindah sekolah, kalo bisa langsung naik kelas ke SMP saja" ucap Zen membuat Henry langsung menatapnya.
Ya, lagipula umurnya masih 10 tahun, dan dia baru kelas 4 SD.
"Kalau begitu saya akan menyiapkan dokumen anda untuk pindah sekolah" ucap Henry bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar ruangan, tapi sebelum pintu ruangan dibuka Henry berbalik.
"Dokter yang biasa memeriksa Anda akan datang sebentar lagi" ucap Henry kemudian langsung keluar dari ruangan itu.
Zen hanya mengedikkan bahunya dan membereskan bekas makanan yang tadi dia makan, dan membuangnya ke tempat sampah.
Setelah itu kembali duduk di sofa, saat Zen hendak merebahkan dirinya di sofa, seorang wanita cantik masuk ke ruangannya tanpa mengetuk dulu.
wanita itu memiliki kulit yang putih, rambut hitam kecoklatan yang panjang, mata biru, jangan lupakan wajah yang cantik dan tubuhnya yang tinggi dan ideal, memiliki tinggi 172 cm.
"Hm~ Zen cantik~, kenapa sudah keluar dari rumah sakit?" ucap wanita itu membuat punggung Zen entah kenapa menjadi dingin.
Natasha dan Henry tahu jika Zen adalah seorang perempuan, tapi Zen menyuruh mereka untuk memanggilnya Tuan Muda, walau kadang Natasha selalu menambah kata cantik jika memanggilnya.
"Aku tidak suka di sana" ucap Zen tenang walaupun dalam hatinya dia sudah ketakutan dengan aura yang dikeluarkan oleh wanita itu.
"He~, benarkah?" tanya wanita itu.
'Ugh, auranya benar-benar mengancam' batin Zen.
"Hm"
Wanita itu kemudian mendekat ke arah Zen, dan duduk di samping Zen.
Natasha Gilberta Lenard, adalah Kakak dari Henry, lulus dari jurusan kedokteran di usia muda, dan sekarang usianya 26 tahun, berbeda 4 tahun dengan Henry.
Sebelumnya Natasha bekerja di Rumah Sakit yang cukup besar, tapi karena terlalu lelah dan harus menjada anak, Natasha berhenti dan menjadi dokter pribadi Zen.
Natasha sudah menikah dan memiliki anak kembar laki-laki, usianya baru 3 tahun.
"Oh ya, mana si kembar Reyan?" tanya Zen.
Dia memanggil mereka si kembar Reyan karena nama mereka adalah Reyandra Alexan Kendio dan Reyandara Alexan Kendio, dan Zen memanggil mereka Andra dan Andara, dan mereka berdua ikut marga Ayah mereka.
Natasha sering membawa mereka ke Perusahaan milik Zen, dan ada satu alasan lagi kenapa Zen sangat menyayangi si kembar Reyan itu.
Karena hari lahir mereka bertepatan dengan berdirinya Perusahaan milik Zen dan juga ulang tahun Zen, yaitu pada tanggal 24 Januari.
Jadi, Perusahaan milik Zen, si kembar Reyan, dan Zen lahir di tanggal dan bulan yang sama, yaitu tanggal 24 Januari walau beda tahun.