Domination System

Domination System
15



Identitas Henry tidak sederhana, Henry Gilbert Lenard dan Natasha Gilberta Lenard terlahir di keluarga medis.


Dari generasi ke generasi, keluarga Lenard selalu berkecimpung di dunia medis, bahkan Keluarga Lenard memiliki rumah sakit.


Keluarga Lenard dikenal dengan keahlian medis mereka yang mumpuni, banyak keturunan Lenard sukses menjadi profesor dan ilmuan.


Ketika kuliah, Henry juga masuk jurusan kedokteran, tapi karena merasa tidak cocok, Henry keluar dan memilih jurusan lain tanpa sepengetahuan keluarganya.


Henry memilih masuk jurusan ilmu komputer dan juga desain.


Keluarga Lenard baru mengetahui jika Henry pindah jurusan saat kelulusan S1, dan untungnya keluarganya itu menerima apapun yang ingin Henry lakukan karena sang Kakak sudah menjadi seorang dokter yang sukses.


...~★~...


Saat ini Zen sedang mengekor Henry dan Ellea di belakang mereka.


Setelah insiden Zen dimarahi oleh Henry karena tiba-tiba menghilang dan membuat mereka mencari 1 jam lamanya.


Zen, Henry, dan Ellea sedang menuju ke kelas yang akan Zen masuki.


Sepanjang koridor sekolah, tidak ada satu orangpun karena masih jam pelajaran.


Saat tiba di depan ruang kelas yang akan Zen tempati untuk belajar, Zen melihat pintu geser kelas.


Ellea mengetuk pintu, dan terlihat seorang guru muda yang membukakan pintu.


"Bu kepala sekolah" sapa guru itu kepada Ellea dengan membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Saya hanya mengantar murid baru, dia akan menjadi tanggung jawab Anda selama di sekolah" ucap Ellea.


Guru muda itu adalah seorang pria berumur 27 tahun, namanya adalah Arenka Abimanyu Reskal, dan dia adalah guru paling muda di sekolah itu karena rata-rata guru di sana sudah kepala 3 ke atas.


Arenka menganggukkan kepalanya mengerti, setelah itu Allea dan Henry pamit.


Arenka kemudian menutup pintu, berjalan dan berdiri di depan kelas, lalu menyuruh Zen memperkenalkan dirinya.


Semua perhatian di kelas itu tertuju pada Zen.


"Zen Abighail, mohon kerjasamanya untuk kedepannya" ucap Zen, dan mulutnya yang membentuk sedikit senyuman.


Ketika ada beberapa murid yang ingin bertanya, Arenka memotong ucapan mereka.


"Baiklah! Jika ada yang ingin ditanyakan, kalian bisa menanyakannya saat istirahat! Zen kau bisa duduk di bangku di belakang yang kosong" ucap Arenka sambil menunjuk arah bangku belakang yang kosong, di sampingnya sudah ada siswa yang duduk di sana.


Zen mengangguk dan langsung berjalan menuju bangkunya, menyimpan tasnya di samping kursi dan langsung duduk.


Zen menengok ke arah teman sebangkunya.


Entah kenapa saat Zen duduk, dia bisa merasakannya hawa dingin dari teman sebangkunya itu.


"Hei, namamu siapa?" tanya Zen kepada anak laki-laki di sampingnya.


Anak itu tidak menjawab, dan hanya memperlihatkan bukunya.


Kaizen Willian Yezhar, nama itu tertulis jelas di sampul buku.


"Oh, kalau begitu, salam kenal, Ian" ucap Zen.


Kaizen yang mendengar panggilan dari Zen hanya mengangkat sebelah alisnya, dan menatap ke arah Zen.


Zen terpana ketika melihat mata Kaizen yang berwarna merah darah, sama seperti Zen, walau Zen memiliki warna merah karena dia albino, sedangkan Kaizen adalah dari keturunan.


Mata merah Kaizen sangat serasi dengan rambut hitamnya.


"Bhi" ucap Kaizen.


"Hah?"


"Panggilanmu" ucap Kaizen.


Zen merasa aneh ketika mendengar Kaizen memanggilnya Bhi, kenapa tidak Zen atau Ze saja, kenapa harus Bhi?


Sebuah hologram berwarna merah tiba-tiba muncul di hadapan Zen, mengejutkan Zen dan juga Kaizen.


Kaizen bisa melihat sistem? Jawabannya adalah ya, karena mata merah miliknya istimewa, dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, mau itu benda hidup atau mati.


Karena itulah Kaizen dapat melihat hologram di hadapan Zen.


Hologram itu berwarna merah dengan tulisan SISTEM ERROR.


'Sistem?' panggil Zen dalam benaknya, tapi tidak ada yang menjawab.


Beberapa saat kemudian hologram itu menghilang.


Pikiran Zen dipenuhi tanda tanya.


'Apa yang terjadi pada sistem?' batin Zen.


Zen menyingkirkan pikirannya, dan fokus pada Arenka yang sedang menjelaskan materi.


Saat bel istirahat berbunyi, berbarengan dengan suara sistem muncul di pikiran Zen.


[Tuan, maaf, ada beberapa masalah yang terjadi pada sistem yang membuat sistem error]


'Kau sudah diperbaiki?'


[Ya, sistem telah diperbaiki, dan karena masalah ini, pencipta saya memberikan kompensasi untuk Anda]


Zen bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke luar kelas, menuju halaman belakang sekolah.


Mengabaikan teman-teman sekelasnya yang ingin berkenalan dengannya.


'Ya'


[Sedang memproses…]


[Memperbarui status, +20 ketampanan, +20 kesehatan, +20 kecepatan, +10 ketahanan]


[Selamat, fitur baru SHOP telah ditambahkan, memperoleh 50.000 poin]


Tubuh Zen langsung dikelilingi cahaya, setelah beberapa saat, cahaya itu menghilang, dan sistem menampilkan status Zen.


...≈STATUS≈...


...Nama : Zena Abighail Vynes...


...Umur : 10 tahun...


...Gender : Perempuan...


...Profesi : Hacker, Pengusaha Muda...


...Kecantikan : 15/100...


...Ketampanan : 45/100...


...Keimutan : 20/100...


...Kepintaran : 90/100...


...Kesehatan : 70/100...


...Kekuatan : 45/200...


...Kecepatan : 55/200...


...Ketahanan : 60/500...


...Keluarga »...


...Pet »...


...Keahlian : Memasak, Akting, Pemrograman, beladiri, Pembalap, Membunuh...


...Kemampuan : Tidak Dapat Merasakan Sakit...


...Shop »...


...Inventory : Anjing Ajaib, jaket anti maling, Rare Gift Box...


...Poin : 50.000...


...≈≈≈★≈≈≈...


"…"


"Tidak bisakah menambahkan kecantikan saja?" tanya Zen.


[Maaf Tuan, tapi ini adalah hadiah dari pencipta saya, saya tidak bisa melakukan apapun]


"Begitu ya"


Zen kemudian melihat-lihat apa saja yang ada di dalam Shop, tanpa mengetahui jika selama ini ada yang memperhatikannya.


Kaizen, dia mengikuti Zen saat melihat Zen keluar dari kelas tanpa sepengetahuan Zen.


Saat melihat tubuh Zen bercahaya, Kaizen sangat terkejut karena setelah itu fitur wajah Zen berbeda dari sebelumnya.


Setengah jam terlewati, Kaizen sudah kembali ke kelas lebih dulu.


Zen masih berada di halaman belakang.


Membeli sebuah masker hitam atau bisa dibilang diberi masker oleh sistem karena harganya 0 poin, Zen langsung memakainya dan berjalan kembali ke kelasnya.


Tidak mungkin dia memperlihatkan wajahnya yang terlihat lebih tampan dari sebelumnya, bahkan sekarang dia bisa dibilang sangat tampan.


...~★~...


Bel pulang berbunyi tepat pukul 14.00.


Semua murid membereskan alat tulisnya dan langsung keluar kelas, ada yang pergi ekskul, ada yang langsung pulang.


Zen saat ini sedang dalam perjalanan menuju supermarket, Zen sudah memberitahu Henry untuk tidak menjemputnya, tapi ada satu hal yang membuatnya tak nyaman.


Kaizen terus mengikutinya di belakang.


Jika Zen berhenti, Kaizen juga akan berhenti, jika Zen berjalan, Kaizen akan mengikutinya.


Zen yang sudah tidak tahan langsung berbalik, dan menatap tajam ke arah Kaizen.


"Kenapa kau terus mengikutiku?" tanya Zen kepada Kaizen.


Kaizen tak merespon, hanya menatap Zen tanpa bergerak sedikitpun.


"Kau malah mirip seperti patung, tidak, mungkin lebih mirip manekin jika kau diam seperti itu" ucap Zen membuat Kaizen mengerutkan keningnya.


Ketika melihat Kaizen tak menggubris, Zen hanya bisa menghela napasnya pelan, dan memilih untuk melanjutkan jalannya menuju supermarket.


Kaizen terus mengikuti Zen tanpa terlihat akan berhenti, bahkan Kaizen memperpendek jarak mereka, dan langsung berjalan di samping Zen tanpa mempedulikan Zen yang sudah risih dengan kelakuannya.