
"Jangan gila, Kondisi mu saja seperti ini, Mau bagaimana kamu mengahadapi mereka"Tolak arin dengan keras, Semakin ku fikir kan yang dikatakan arin memang masuk akal, Kondisi ku yang seperti ini hanya akan mempersulit ruang gerak ku .
"Tidak ada pilihan lain " semakin tajam mata ku menatap nya , Semakin bersikeras ia menolak . Arin masih belum melakukan tindakan apapun , ia berdiri mematung tak bersuara .
entah apa yang sedang ia kalut kan dalam pikirkan nya, yang jelas setelah itu ia segera mengemasi barang-barang nya bersiap pergi.
"Ayok" Ucap arin Singkat, Dio menggenggam tangan arin meminta penjelasan, namun arin tak menghiraukan nya. ia masih terus melanjutkan kesibukannya tersebut, Sedangkan aku yang sedari tadi menatap nya tak ia lirik sedikit pun , mungkin amarah nya itu di tujukan untuk ku.
"Kamu tidak dengar? Dia mau mati , Biarkan saja, Jangan buang buang waktu untuk orang yang keras kepala" Arin menepis tangan dio yang sedari tadi berusaha menahannya,Sekali lagi nada bicara nya meninggi , umpatan kesal keluar begitu saja tanpa di minta, Bahkan Dio yang adik kandungnya sendiri tak mampu menenangkan kakak nya tersebut.
aku pernah sekali melihat nya marah, namun tidak pernah aku melihat nya semarah ini, mengapa? aku hanya berusaha menyelamatkannya , setidaknya aku ingin membalas Budi atas kebaikan mereka selama ini.
Arin pergi terlebih dahulu mencari jalan ,ia menuju pintu halaman belakang tanpa menunggu izin orang lain.
"Semoga beruntung" bisik Dio Sembari memeluk tubuh ini, beberapa kali ia menepuk bahu ku berusaha menguatkan, setelah nya ia berlalu dengan membawa zein ikut serta dengan mereka . dio memapah zein yang langkah nya tertatih-tatih, meskipun sulit Zein tetap berusaha mengimbangi langkah dio.
Hentakan langkah mereka kian menjauh, dan pada akhirnya hanya tersisa lorong gelap yang semakin menyiut kan nyali ku . aku masih berusaha mempertahankan posisi , beberapa barang yang mungkin membantu ku susun asal hingga menutupi tempat tempat yang para monster itu hancur kan .
Satu satunya yang tersisa disini hanya lah tubuh lemah tanpa jiwa dengan pedang perak berkilau Yang sudah bernoda. Pasrah, tidak ada yang bisa dilakukan, Hanya bisa menunggu malaikat maut datang menjemput.
perlahan ku langkah kan kaki ini mendekati jendela lagi, monster monster itu semakin beringas saja, kuperkuat pergelangan tangan . Srattt . . satu tebasan ,Pedang itu menggores wajah Monster itu, namun ternyata tindakan kan ku tersebut malah memicu kemarahan nya.
monster yang tadi kulukai berhasil masuk melalui jendela, aku segera mundur mencari posisi yang lebih luas bila terpaksa beradu nanti. monster dengan 3 pasang kaki itu menghempas ku hingga terpental menabrak dinding kayu, tentang 2 pasang kaki sisanya bukanlah sebenarnya kaki, melainkan tentakel yang berkumpul membentuk siluet kaki. Belum Sempat aku melawan monster itu sudah ada di atas tubuh ku hendak menghujam kan tentakel tentakel panjang nya, Sebisa mungkin aku berguling menghindari serangan nya yang membabi buta .
BRAKKKKK!!
Monster itu mengejar ke arah ku yang masih dalam posisi telentang, segera aku mengubah posisi dan mengambil pedang yang tadi terlepas saat tubuh ku menghantam dinding. srattt.. ku tebas sekali lagi pedang itu ke punggung nya yang masih dalam posisi membelakangi ku.
tidak menyangka gerakan ku bisa segesit ini, padahal sebelumnya tidak pernah belajar beladiri sama sekali . Benar yang orang orang bijak katakan, Semakin terpojok dirimu, Semakin besar keinginan mu untuk bertahan, dan sekarang terbukti,kukerah kan seluruh kemampuan yang kupunya .Setidaknya jika ini menjadi akhir hidup ku,aku tidak akan mati dalam penyesalan .
Sunyi.. benar benar sunyi, tidak ada pergerakan apapun . Apakah monster ini sudah mati? pertanyaan pertanyaan itu muncul saat mata mu masih terpejam. perlahan mata ini melirik, tidak ada apapun, Monster itu sudah tergeletak di lantai tak bergerak. sedikit ku mundur kan tubuh ku kebelakang hendak menyandar, luka di tangan ku mulai terasa perih, ku periksa sedikit , perban yang membalut nya sudah menghilang entah tertinggal dimana, gumpalan gumpalan kecil daging tampak terlepas dari tempat nya.
aku menghela nafas panjang dalam kesunyian , Tempat ini benar benar senyap tidak seperti tadi . Kemanakah perginya Monster Monster yang mengamuk di luar, hilang dalam sekejab.
Meskipun sakit menjalar masih belum menghilang, tetap ku paksakan untuk melangkah melihat keluar. dari balik jendela yang sudah Rusak , ku julur kan sedikit kepala ku ke jendela, aneh nya monster Monster itu sudah tergeletak di tanah tak bernyawa .
"Siapa yang melakukan nya?"Tanya ku dalam hati , Belum terjawab kebingungan ku terlihat siluet hitam bergerak dari dalam hutan semakin mendekat. Tidak menunggu apakah itu,aku segera mundur ke sudut ruangan mencari tempat yang aman.
ceklekk!!
Henggel pintu terputar,perlahan pintu itu terbuka sedikit demi sedikit. Dalam kejauhan tidak jelas siapa yang yang berdiri tegap, Sosok itu melangkah kan kaki nya mendekati ku . Saat posisi kami hanya berjarak 7 meter, baru terlihat jelas siapakah sosok tersebut. Seorang gadis berambut ekor kuda berdiri jenjang dihadapan ku, ia tersenyum hangat dalam biasan cahaya rembulan yang menerobos reruntuhan atap .
"Arin" ucap ku lirih . "Masih ada barang ku yang tertinggal" ia berbicara sembari menunjuk pedang yang masih ada dalam genggaman ku, Senyuman nya terasa indah hingga perih di lengan ku tidak terasa lagi. "Ahh.. ini , aku kembalikan" Kuberikan pedang yang tadi kupinjam , ia menyambut pedang dan membersihkan noda darah monster dengan tangan nya.
dag.. dig.. dug.. Detak jantungku tak beraturan, Arin membantu ku melangkah keluar rumah yang hampir roboh. Dio yang berada di luar rumah segera membantu ku berjalan.
"Terima kasih tuhan , telah memberikan kesempatan sekali lagi untuk bertemu dengan malaikat ini " Ucap syukur ku dalam hati . tak henti hentinya aku tersenyum karena terlalu bahagia.
"Zein Mana?"Tanya ku pada mereka yang masih dalam keadaan memampah ku.
"Sudah pulang, Teman temannya membawanya" Jawab Arin dengan pandangan yang masih fokus kedepan. Aku cukup lega anak itu sekarang sudah aman.
"Apa tidak bahaya kita berjalan di malam hari?" Tanya ku lagi
"Tenang lah Rey, Monster Monster itu sedang mengejar helikopter milik teman teman Zein , Untuk sementara area ini aman " jawab arin atas pertanyaan yang kutanya kan .
Begitulah, Mereka membawa ku menuju ke kamp area 600 , sepanjang perjalanan Sangat aman tak ada satupun monster yang muncul . hingga pagi datang, Cahaya matahari bersinar sangat terik , Tibalah kami di kamp 600 . Kamp ini memiliki pintu baja setinggi 8 meter dengan pagar keliling dengan tinggi yang sama.