
Malam Yang dingin dengan hembusan angin yang cukup tenang, Aroma bunga yang menyengat dari pohon pohon berbunga Putih sedikit mengganggu . Meski tidak terlalu jelas, Tampak siluet revan tengah menyandar kan tubuhnya pada sebuah cabang pohon. Arin berada di cabang pohon satu tingkat di atas Revan, ia selalu memantau kondisi Revan karena luka nya bisa saja terinfeksi,Sejauh ini dia masih baik baik saja tanpa ada gejala demam atau kejang .
"Butuh air?"Arin menawarkan sebotol air yang sudah dia teguk setengahnya ke pada orang di bawah, Revan menyambut tawaran Arin tanpa banyak bertanya.
"Apa itu Sakit, Arin masih saja berusaha mendekat.
"Tidak,Sama sekali tidak" ucap Revan singkat.
"Kenapa? Kau rindu rumah?" Arin turun dari cabang atas dan duduk bersebelahan dengan Revan, Revan tidak menanggapi dan masih menyandar kan tubuhnya.
" Aku yakin ini akan segera berakhir,kami bisa hidup damai dan kamu bisa kembali ke kehidupan mu sebelumnya" Arin berbicara lembut berusaha menghibur revan, Tatapannya tajam menerawang isi kepala orang di hadapannya ini.
"Aku bukan nya ingin pulang,Hanya saja.."Revan mengehentikan bicara nya sekejap, ia menatap mata arin yang jarak nya tak lebih dari dua jengkal, Dada nya berdegub kencang ,ia tak sanggup berkata-kata menghadapi orang di depan nya saat ini telah mengambil tempat tersendiri di dalam hatinya, Andai Bulan mau menampakan wujudnya, pastilah malam ini ia akan melihat bidadari dalam Sapuan cahaya rembulan.
"Hanya Apa?" Arin menanyakan ucapan Revan yang terpenggal
"Apa, Tidak tau ,aku tidak ingat" Revan salah tingkah menghadapi sikap Arin yang masih saja berusaha memaksanya bicara ,ia sedikit memalingkan tubuhnya menjauhi Arin . arin mengernyitkan alis tidak memahami ,ia menghela nafas panjang dan mulai kembali ke tempatnya semula .
"Di tempat asal ku, Gadis seperti mu lebih suka memegang kuas riasan dari pada pedang "Revan berbicara dengan posisi yang masih sama .
"Seharusnya masa depan tidak seperti ini, Seharusnya manusia mencapai peradaban yang sangat maju," ucap revan melanjutkan kata-katanya .
"Andai bisa memilih, Tentu aku akan memilih kehidupan seperti yang kau ceritakan"Arin mendengus kesal dengan takdirnya saat ini.
"berulang kali ku cerna masih belum mendapat jawaban nya, Bagaimana Monster Monster itu bisa berkembang biak di bumi,dari mana asalnya?" Revan melontarkan pertanyaan yang menggangu pikiran nya.
"Entahlah , Kami pun tidak tau "Arin menjawab sembari menatap Ribuan bintang di langit malam.
Saat mereka tengah asyik mengobrol, terdengar lengkingan keras dari arah utara , Seperti Suara Binatang Yang Sekarat. Dio yang sedari tadi memejamkan kan mata tidak peduli dengan ocehan mereka segera bangkit dan mencari sumber suara tersebut . Dari satu dahan ke dahan yang lain, dio telah mencapai pohon yang lebih tinggi , Ia menerawang jauh ke dalam kegelapan.
"Ada apa?" Arin yang sedari tadi duduk segera berdiri dan menghampiri dio yang sedang berusaha menggapai Dahan pohon tempat Arin berdiri.
"Mereka Datang,"Dio Tampak panik sembari mengatur nafas nya . Arin turun dan menghampiri Revan, ia membantu Revan berdiri dan membantunya naik ke dahan yang lebih tinggi lagi.
"Apakah ini aman?" Dio bertanya kepada kakak nya ,"Tidak ada jaminan kita akan aman, mahkluk mahkluk keparat itu memiliki penciuman yang sangat tajam " ucap Arin kesal
"Seharusnya aroma dari pohon itu dapat mengaburkan sedikit penciuman mereka, Luka Revan masih baru, mereka dapat dengan mudah menemukan kita." Ucap arin berat ,
terdapat kekhawatiran dari suara nya. yang Arin maksud adalah pohon besar yang memiliki bunga berwarna putih dan beraroma menyengat seperti bunga kenanga.
Dio masih saja memantau dan tidak mengalihkan pandangannya nya sedikit pun, sedang kan Revan Hanya duduk membisu dalam pengawasan Arin. sebenarnya luka Revan tidak terlalu besar,namun karena luka terbuka tersebut para monster dapat mendeteksi mereka melalui darah Revan yang tertinggal.monster monster ini sangat sensitif dengan aroma darah.
Memang benar kesialan selalu datang tanpa diminta, Belum hilang kekhawatiran mereka , seekor Monster datang dan telah berada tepat di hadapan Dio . Dio tidak berani bergerak bahkan nafas nya pun tampak berat. Sayang nya bukan Dio yang menarik perhatian Monster tersebut,namun orang lain yang kini tengah mengatupkan gigi gigi nya menahan ngeri.
Dio yang mengetahui mereka sedang dalam bahaya malah bertindak ceroboh dengan memancing monster tersebut ke arah nya , ia membuat gerakan spontan dan berpindah ke cabang pohon yang lain . sontak saja makhluk tersebut mengurung kan niat nya dan segera menjadi kan Dio mangsa, Dio berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain nya hingga dia benar benar lenyap dari pandangan Arin.
Arin berniat mengejar adik nya tersebut,namun sial di bawah pohon sudah menunggu beberapa monster, ia tak dapat berbuat banyak, salah bertindak nyawa mereka melayang.ia tetap pada posisinya dan tidak membuat gerakan atau pun suara, kini ia pasrah berharap adik nya tersebut baik baik saja dan kembali pada ke esokan hari nya .
Revan merasa bersalah karena tidak mampu melakukan apa apa saat ini,iya berinisiatif pergi mencari dio sendiri,namun Arin menahan tidak mengizinkan. Arin menggeleng kan kepala nya dan meminta Revan duduk kembali ,ia hanya menurut dan kembali ke posisinya .
"Besok kita cari"Ucap Arin lirih dengan nada penyesalan,wajah nya tertunduk lesu memikirkan nasib adiknya . Meski ia tidak tau bagaimana, namun ia sangat yakin dio mampu bertahan,dia cerdas dan berbakat,dia tidak mungkin mati begitu saja.
Sementara itu , dio yang masih berusaha menghindar dari kejaran makhluk tersebut sudah mulai kehabisan tenaga, gerakan nya sudah tidak selincah tadi . ia harus segera mendapatkan tempat bersembunyi agar bisa hidup, ia melihat Sebuah bangunan yang masih kokoh , tidak banyak berfikir ia segera turun dari pohon dan berlari menuju bangunan tersebut. Lari Dio cukup cepat,ia dapat dengan mudah mencapai gedung tersebut .
mahluk itu masih mengejar di belakang nya, ia segera masuk ke dalam bangunan melalui jendela yang sudah pecah . Dio segera mencari tempat yang aman di dalam bangunan tersebut , Ia berlari dan memasuki ruangan yang terlihat seperti sebuah kamar. namun dia bukan ingin bersembunyi di dalam kamar,tetapi hendak pergi ke jendela di bagian atas dan bersembunyi di balik nya .
Mahluk tersebut sudah sampai di depan muka kamar, ia masih berusaha mendobrak pintu yang sebelumnya Dio tahan dengan lemari . Dio yang sudah berada di luar kamar perlahan lahan menyusuri jendela hendak naik ke atap rumah. dio mendaki ke atap rumah dan bertahan disana Sembari menanti matahari terbit ,Hanya itu satu satunya yang dapat menyelamatkan nya kini.