Different World: Dandelion

Different World: Dandelion
kenangan



Pagi menjelang di jantung hutan , Semalaman tidak satupun dari mereka yang Tertidur, Mereka terjaga dan saling menjaga satu sama lain . Keberadaan Dio masih belum diketahui, Arin terlihat murung dalam balutan Hangatnya perapian, Sedangkan Revan masih berada di atas pohon menyaksikan perlahan-lahan matahari Menampakan wujud nya.


"Kemarilah" Pinta Arin, ia berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tas milik nya.


krak


Pijakan nya mengenai bagian yang telah rapuh, Hampir saja, Beruntung refleks tubuh'nya cukup cepat, jika tidak mungkin sekarang Sudah menjadi makanan cacing tanah.


Arin yang menyaksikan nya dari bawah pohon di buat keheranan, "Selain Bodoh ternyata juga Ceroboh" Ucap arin singkat . Revan melompat saat posisi sudah tak terlalu tinggi lagi


Dirinya hanya diam tak ingin membuat masalah , Arin melepaskan kemeja Revan perlahan, cukup dengan ke hati-hati an nya jeritan tertahan dari wajah masam revan menandakan luka nya masih belum sembuh benar.


"Arin" Panggil Revan singkat, Sedang kan yang ia maksud masih sibuk membalut kan perban . "Pernahkah kamu melihat laut?" Tanya Revan tanpa menunggu jawaban sebelumnya.


Arin menggeleng kan kepala tanpa berbicara sepatah kata pun, Dia masih mengunci mulutnya rapat rapat . selesai sudah, Revan mengenakan kembali kemeja nya yang sudah robek di beberapa bagian.


Duduk termenung sembari menambahkan kayu bakar,Arin masih terlihat muram."Di pantai pemandangan nya Sangat indah,Yang paling menarik saat menyaksikan matahari terbenam"Jelas Revan yang tengah menatap perapian.


"Di sini, Matahari terbenam adalah kutukan, "jelas arin mengimbangi ucapan Revan. "Di malam hari , Monster-monster itu Keluar dari Sudut sudut tergelap bumi . jika ingin bertahan harus segera beradaptasi, Matahari salah satu kelemahan mereka."Lanjut Arin menjelaskan.


"Jika monster Monster itu datang, bagaimana cara orang orang di kamp bertahan?"Tanya revan kepada Arin yang masih melamun, Arin terhenyak segera menjawab pertanyaan Revan. "Kami tinggal di bawah tanah, Membuat peradaban baru di sana , Ada pasukan keamanan yang kami sebut Shield ,Tugas mereka melindungi para penyintas dan mencari sumber daya untuk mendukung kehidupan kami di kamp"Arin menjelaskan dengan mengebu gebu,ia terlihat sangat bangga menceritakan nya.


"Jadi kau anggota Shield itu?"Tanya revan setelah mendengar penjelasan singkat arin,


"Iya, aku dan Dio sudah berlatih sejak masih kecil,Beda nya aku lebih lemah di banding kan dia, Aku berlatih lebih keras di bandingkan anggota lain karena aku ingin bertahan menjadi pasukan Elite"Arin menjelaskan tanpa mengalihkan pandangannya dari perapian, sesekali ia melemparkan potongan ranting ranting kecil agar api tetap menyala.


"Keren, Aku ingin bergabung dalam Pasukan Elite, Bisakah?" Revan bertanya kepada Arin, Pertanyaan tersebut mampu mengalihkan perhatian nya,Arin terkekeh mendengar ucapan Revan tersebut"Kamu..? , Terlihat Tidak meyakinkan" ucap arin yang masih menatap Revan lekat lekat.


"Ayolah Arin, jangan meragukan aku ,Di Tempat asal ku Semua gadis terpesona ,bahkan banyak yang tergila-gila dengan ku" Revan berbicara dengan tatapan yang sedikit menggoda,",Wajah tampan tidak berlaku disini"Sindir Arin segera, ia merapikan barang-barang nya dan memasukkan nya kembali ke dalam tas,Ia mengeluarkan sebuah kotak makakan beku untuk mereka santap.


"Habis kan makan mu, Selepas ini kita menuju ke Air terjun, Semoga Dio juga pergi kesana " Arin memerintahkan Revan untuk segera menghabiskan makanan nya, Arin memasukkan Makanan sesuap demi sesuap menggunakan Sendok yang ia buat dari Daun .Revan menghentikan kan Ucapan nya dan segera menghabiskan makanan tersebut, Meskipun hanya makanan beku,Revan terlihat sangat menikmati nya tanpa memikirkan kejadian kejadian yang menimpa mereka semalam.


Setelah lambung mereka terisi, Mereka segera berangkat menuju ke Arah timur tempat air terjun yang di bicarakan Arin berada."Apa kau yakin Dio akan kesana juga?"Tanya Revan sembari mengimbangi langkah Arin,"Seharusnya, Dulu saat aku masih dalam pelatihan kami mendapatkan tugas untuk mencari Kelinci di hutan sekitar untuk peternakan,Namun saat itu aku tertinggal rombongan" Ucap Arin yang langkah nya semakin di percepat.


"Lalu bagaimana?"Tanya Revan penasaran dengan cerita Arin tersebut," Pada saat itu Aku menemukan air terjun tersebut, Disana banyak ikan. Daripada tersesat dan tidak mendapatkan makanan,aku memilih untuk tetap disana sampai ada yang datang mencari. Semenjak itu Dio selalu menekankan jika sampai kejadian seperti itu terulang, kita akan menjadi kan tempat itu sebagai titik temu" Jelas Arin tanpa mengurangi sedikit pun langkah nya


Srakk..


krakk.. kkkk


Arin menghentikan langkahnya, ia meneliti sedikit pendengaran nya, terdengar suara tak jauh dari tempat mereka,Sangat samar sampai tak bisa membedakan Suara apa kah itu.


Arin mengendap - endap perlahan berusaha tidak membuat ke bisingan, ia menggenggam pedang nya berjaga jaga situasi tidak mereka inginkan, Langkah penuh kehati-hatian nya terhenti seketika. Dihadapan nya terdapat seekor monster berada di balik pohon,Arin keheranan karena matahari sudah terbit namun Monster ini masih berada di tempat terbuka.


Arin menyiapkan pedang nya,ia semakin mendekati monster tersebut.revan sigap berusaha menahan Arin agar tidak memperdulikan Monster tersebut, Namun Arin tidak mengindahkan larangan revan,ia tetap mendekati monster yang berada di balik pohon tersebut.


Hanya tinggal sedikit lagi, Arin sudah mengangkat pedang Hendak menyerang monster tersebut, Saat tepat di hadapannya, Arin mengurung kan niat nya dan memasukkan kembali pedangnya kedalam sarungnya.


Revan yang penasaran segera mengikuti Arin, Saat itu lah Revan melihat dengan jelas bentuk rupa Monster tersebut. Monster itu memiliki kulit Berwarna Hitam ke coklat an,tubuh nya di penuhi lendir berwarna hitam berbau menyengat, Bentuk tubuh Monster tersebut terlihat seperti Kelelawar namun tidak memiliki sayap besar, ia memiliki sayap kecil dengan ujung seperti pisau bergerigi tanpa bulu dan selaput yang entah fungsinya apa. kuku kuku nya sangat tajam hingga sedikit goresan nya saja mampu mengoyakkan daging mangsa nya. namun yang aneh, monster ini memiliki 6 kaki seperti kalajengking.


"Apa ini?" Revan bertanya kepada Arin yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya, "Hasil rekayasa genetik kelelawar dengan manusia dengan di tambah kan gen Reptil ,Ini lah Monster yang meneror kita semalam" jelas Arin tanpa mengalihkan pandangannya


"Bukannya semalam saat ku tanya kau mengatakan tidak tau apa apa tentang monster ini"Sindir Revan karena merasa janggal dengan ucapan arin, Arin tak menjawab pertanyaan Revan dan segera menebas kan pedangnya memenggal kepala Monster yang tengah sekarat tersebut.


Arin pergi meninggalkan Revan yang masih diselimuti banyak pertanyaan, Revan tak punya pilihan lain selain mengikutinya."Hei.. Jawab aku "Revan menarik tangan Arin meminta penjelasan,Arin menghentikan langkahnya mendengus kesal."Aku tidak tau apa apa, berhentilah bertanya" ucap arin kesal dan segera menepis tangan Revan .ia melangkah kembali dengan langkah yang lebih cepat


Revan hanya mematung dengan apa yang barusan ia lihat, sepertinya Arin menyembunyikan banyak misteri dan rahasia. ia tidak punya kuasa untuk memaksa arin berbicara,dia hanyalah orang baru yang sejauh ini hanya menyulitkan arin. Revan tidak bertanya lagi dan segera menyusul arin yang sudah cukup jauh.