
Pertama kalinya Revan terbangun tanpa adanya pelayanan dari pengurus rumah, maklum sebagai anak konglomerat ia terbiasa di manjakan. mereka tidak disini, siapa pun tidak. Baik itu ibu, Ayah, bahkan seluruh orang yang dia kenal tidak pula ada disini . dia sendiri, berdiri diantara hamparan Ilalang yang tengah mekar .
Aroma bunga Camelia menyeruak dari segala penjuru, di tengah tengah padang rumput yang luas. dengan pakaian yang sama yang ia kenakan semalam Revan mulai menelusuri padang rumput asing, apakah ini berada di area hutan sekitar villa, ataukah bukan. dia tidak mengerti mengapa bisa sampai kesini, dalam ingatannya ia sedang lelap tertidur di dalam kamar di lantai satu villa ibunya.
Srek.. Srek.. srek ..
atmosfer bumi mendadak sunyi, revan menghentikan langkahnya dan sedikit membungkuk. jantung nya berdebar debar, ia terus saja waspada , ada pergerakan di sekitar semak semak Ilalang. masih dalam keadaan setengah menunduk, ia melangkah kan kaki nya selangkah demi selangkah, "krek" tapi sayang dia tak memperhatikan langkah nya , sebuah ranting rapuh di bawah sepatunya memecahkan suasana.
"Sial" umpat nya lirih.
tidak tepat waktu bila ia ingin meluapkan kekesalannya sekarang, pergerakan kecil di dalam semak semak itu menjadi pergerakan yang besar. Revan yang panik tidak punya pilihan lain selain melarikan diri, ia berlarian tak tentu arah.ia mengerahkan seluruh kemampuan nya menghindar dari sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak tau apa.
"apa lagi ini ya tuhan" ia mengoceh tak jelas dalam pelarian nya.
masih belum mendapat jawaban mengapa ia berada di tempat yang tidak dikenali nya , kini dia harus dihadapkan oleh genangan sungai yang tenang di depan yang menjadi akhir pelarian nya.
"Tamat aku" Revan tak segera ngambil keputusan, ia menoleh kebelakang. kawanan serigala yang berjumlah 7 ekor sudah siap menerkamnya , ia mundur selangkah ,sesuatu yang meleset Sangat cepat menancap di tanah membuat nya terkejut dan terjatuh kedalam sungai .
Kawanan serigala itu segera kabur tak kalah terkejutnya dengan Revan, mereka pergi tanpa mendapatkan mangsa nya. Revan masih berusaha keluar dari Sungai, Seorang gadis dengan rambut terikat mengulur kan tangan nya memberikan bantuan. setelah Revan naik,gadis itu mengambil anak panah yang masih tertancap di tanah.
"Kau dari kamp mana?" gadis itu bertanya sembari memainkan pedang nya .
"kamp Apa? Aku dari Jakarta" Jawab Revan cepat. perempuan itu tertawa lepas mendengar jawaban revan ,ia memasukkan pedang ke sarung nya .
"Aku Riana, panggil saja Arin. ini adik ku Dio" gadis itu memperkenalkan dirinya nya sembari mengulur kan tangan.
"Revan" ia menyambut jabatan tangan gadis bernama Arin tersebut.
"Tadi kau bilang dari Jakarta, aku tidak pernah dengar ada penyintas di sana" tanya arin penasaran.
"iya aku tinggal disana" revan masih saja membuntuti arin .
"Selain pengecut ternyata kamu pandai mendongeng" Arin tertawa meledek .
"Apa kau bilang,aku tidak pengecut" Sela revan tidak terima dengan olokan gadis itu.Mereka beristirahat di bawah pohon Yang cukup besar.
"Apa sebutan untuk orang yang tidak mampu menghadapi serigala?" Arin masih saja mengacau revan.
"Hei, siapa yang sanggup menghadapi serigala sendirian, kau bisa mati bila mereka mencabik-cabik daging mu" jelas revan sedikit kesal karena selalu di pojokan.
"Apa yang di takut kan,itu hanya mahkluk berbulu yang menggemaskan, Aku punya satu dirumah. Benarkan Dio?" Arin menjelaskan ke pada Revan lagi .
"ha?, Maksud mu kau memelihara serigala?" Tanya Revan terkejut dengan penjelasan Arin. gadis itu menatap Revan lekat lekat, ada yang aneh kulit wajah nya pucat. Arin mendekati wajah Revan.
"Sedang apa kau?" revan sedikit mencondongkan tubuhnya ke belakang.
"Sepertinya kau membawa banyak teman" ucap arin masih dengan posisi yang sama di depan wajah Revan.
"Apa" Revan terlihat panik dengan reaksi dadakan Arin,dada nya berdegub kencang khawatir ariin bersikap gegabah di hadapan adik nya. saat Revan tak dapat mengatur nafas nya lagi, Arin segera mengarah kan tangan nya ke leher revan.Ia mengambil sesuatu dari sana, sebuah hewan tak bertulang sebesar kumbang tanah , setelah nya darah segar mengalir mengubah kerah Kemeja nya menjadi merah.
"Dapat" Arin segera mundur dan melemparkan Lintah tersebut ke dalam api yang di buat Dio. Revan segera berdiri mengetahui ada binatang yang menempel pada lehernya ,tubuh nya bergidik ngeri melihat lintah yang tumbuh gembul dengan darah nya . " Buka kemeja mu" ucap arin segera sembari bersiap melucuti Revan .
"Dasar lemah, dengan lintah pun takut" ledek arin sembari membakar satu persatu lintah yang masih menempel .
"Bukan takut, hanya jijik" ucap Revan yang masih berdiri menghadap pohon.
" bodoh, Kenapa masuk ke rawa rawa. Lintah senang hidup di air yang tenang." Jelas arin menyingkirkan lintah yang hanya tersisa 3 ekor.
"Dio tugas mu, mahkluk lemah ini tidak akan sanggup melihat selangkangannya." Arin beranjak pergi setelah memerintahkan adiknya, Revan merasa tersinggung dengan ucapan Arin .
"Hei jaga bicaramu, kau akan terkejut melihat isinya" Revan meneriaki arin yang mulai menjauh.
"Iya aku akan terkejut melihat lintah itu sama besarnya dengan revan Junior" Arin pun berbicara dengan suara yang sedikit keras,ia melambaikan tangan mengejek.
"Sungguh sekecil itu?" Dio ikut meledek Revan yang mulai menanggalkan celana nya.
"Untuk apa kamu bertanya, Menyebalkan" Gerutunya lirih . Dio mulai menyingkirkan satu persatu lintah yang tersisa, Sedangkan Revan hanya memejamkan mata tidak berani melihat .
"Buat apa kalian membawa senjata?" tanya revan sembari mengeringkan pakaian nya di dekat perapian.
"Maksud mu Busur dan pedang?, tentu saja untuk berjaga jaga.
"Kalian pemburu?, aku punya banyak koleksi panah di rumah" Revan duduk menopang kan lengannya diatas lulut yang sedikit menekuk.
"bisa dibilang begitu, Kami tidak punya orang tua lagi . kami berburu untuk bertahan hidup." Revan tampak mendengar kan cerita Dio dengan seksama.
"Kau punya handphone?, handphone ku tertinggal di Villa" Tanya Revan kepada dio.
"Handphone? Kami tidak menggunakan itu lagi , kami menghubungi satu sama lain dengan ini" Dio menunjukkan Smart watch berwarna hitam di tangan kiri nya".
Revan terkejut melihat Sebuah jam tangan yang mengeluarkan hologram tiba tiba,"wow.. ,Canggih sekali" . Revan meminjam Smart watch tersebut.
Revan masih sibuk dengan jam milik Dio " kalian terkejut saat aku mengatakan tinggal di Jakarta, memang nya Jakarta kenapa?" Revan bertanya pada dio yang sedang menambahkan kayu kering ke perapian.
"Tempat itu sudah tak berbentuk lagi, Sudah di kuasai monster" Jelas dio yang masih sibuk dengan ranting ranting ditangannya.
"Monster?, kau bercanda? Kemaren Jakarta masih baik baik saja" jelas revan tak percaya dengan ucapan Dio. Dio tak kalah heran nya dengan pernyataan revan.
"Bg Rey, Sehat kan?"Dio menyentuh kening revan dan membolak-balikan telapak tangan nya berganti di pipinya, meninggalkan noda hitam akibat sisa arang di wajah revan.
Revan menepis Tangan Dio dari wajahnya, ia tampak kesal dengan tingkah Dio."kau ini, aku sungguh sungguh. Jakarta masih baik baik saja" revan menjelaskan lagi.
" Semua kota sudah mati bertahun-tahun, hanya tersisa reruntuhan nya saja". revan masih tidak percaya
Arin yang mengamati mereka sedari tadi segera bergabung,ia sepertinya sedang menyimpulkan sesuatu.
" Tahun berapa ini?" Tanya Arin kepada Revan yang sedang berdebat dengan Dio.
"2030, Kenapa?" jawab nya singkat, Arin saling pandang dengan Dio, mereka sama sama terkejutnya dengan jawaban Revan, orang yang bersama mereka saat ini telah melakukan perjalanan waktu.
~**~