Different World: Dandelion

Different World: Dandelion
Malam Yang Panjang



-pov Revan


Daun daun pohon akasia berguguran di kala senja, angin Utara menari berhembus lembut menemani burung burung pulang kesarang nya. pekat nya hutan tertutupi pohon pohon yang menjulang , Semua kembali mengingkuti aturan tuhan,semua kembali kepada tempatnya bermula.


Tanpa adanya persiapan , kami tetap berusaha bertahan. Takut sudah pasti , pergi pun kami mati , Resiko nya terlalu besar , satu atau dua nyawa belum lah cukup untuk menghentikan teror dari mahkluk mahkluk yang tercipta dari keserakahan manusia.


Arin meringkuk disudut ruangan , samar samar hanya terlihat sorot matanya dalam pekat nya malam, tak ada cahaya yang menyinari, bukan karena tidak ada namun karena tidak bisa. setidaknya saat ini hatinya cukup tenang , Seseorang yang begitu ia sayangi sangat nyata berada dalam jangkauan nya.


begitu memahami bagaimana rasanya takut kehilangan, rasa takut akan hidup sendirian di dunia yang kejam,Rasa takut akan kesepian yang menjalar di setiap inci tubuh ku . Perasaan ini,Sakit,Perih yang sampai kapan pun tak akan pernah berobati . Rasa sakit lah yang akan mengubah pandangan mu terhadap dunia , Berdebat dengan pilihan , Menerima takdir atau mengubahnya .Semua berada dalam genggaman , bagaimana kita akan menentukan alur perjalanan nya kelak .


Bayang bayang kematian dari mama masih terekam jelas dalam ingatan , kenangan itu terputar Otomatis dalam bunga tidur ku, menghiasi mimpi dengan rasa sesal yang mendalam. kenangan itu pula yang membuat ku kini berada di negeri antah berantah , terhisap dalam ruang dan waktu , dan mempertemukan ku dengan sesosok malaikat tak bersayap .


Dalam kesunyian ini tak satupun dari kami yang berbicara, Kelima indera kami pertajam, Waspada , berhati hati ,dan tetap siaga kalau kalau musuh kami datang meng invasi .


Srekk . .


Srekk. .


srekk. .


Terdengar suara gesekan samar samar, Dio terhenyak mendengar suara meskipun sangat lirih,ia menghampiri Arin yang sudah setengah tertidur. Tak banyak yang kulakukan,masih di tempat yang sama ,masih dengan posisi yang sama ,aku berusaha setenang mungkin agar tidak membuat keributan.


Arin berdiri,ia ingin memeriksa asal suara tersebut,namun dio melarangnya , mereka berbicara menggunakan bahasa isyarat yang hanya mereka berdua yang memahami.


Bukan hanya ariin,aku pun tidak tahan akan rasa penasaran ku , ku kumpul kan niat yang sedari tadi masih ragu,berdiri menghampiri lubang diantara sekat jendela. lubang itu tak cukup lebar untuk melihat secara keseluruhan, namun sedikit membantu karena diluar sedang terang bulan


Hening tak ada apa pun, Bahkan suara hewan malam yang sedari tadi bernyanyi ikut lenyap , Atmosfer bumi mulai berubah menjadi lebih dingin dan senyap . Ada yang tidak beres, bagaimana mungkin semua menghilang dalam sekejab.


Srakkkk. . .!!!


Srakkkk


Srak


Suara itu kini terdengar jelas ,Semakin dekat serasa berada dekat dalam urat nadi ku, namun sayang nya bukan hanya satu , ada dua mungkin tiga bahkan bisa saja lebih . gesekan itu terdengar dari setiap sudut,dan satu lagi berasal dari atap genteng.


"Sial"Dio segera membangun kan Zein agar ia dapat waspada, begitupun dengan arin yang sudah siaga dengan pedang nya yang berkilauan, ia menengadah ke atas waspada karena atap lah yang kini paling rentan untuk di bobol.


BRAKKKKK. .!!!


BUGHH


Benar saja atap itu tak lagi mampu menahan monster yang tengah haus darah, kami kesulitan karena penglihatan yang terbatas . tidak jelas berapa jumlah mereka yang pasti ada satu yang kini posisinya tepat di depan ku, monster itu berusaha menyerang, sedikit gerakannya dapat aku baca . sekali serang ,aku masih selamat monster itu menyerang lagi ,aku yang tidak memegang senjata sama sekali hanya berusaha menghindar tanpa bisa melawan.


Sratt


Percikan cairan yang sangat bau tercipta di tubuh ku ,Satu kali tebasan nya mampu melumpuhkan lawan, Namun ini belum berakhir . monster monster diluar yang mendengar keributan di dalam menjadi semakin gila, mereka mulai menghancurkan dinding dinding kayu pembatas alam kami .


"TAMAT" hanya Itu lah kata yang terlintas dalam pikiran ku saat ini, Sebentar lagi kami akan menjadi makan malam pembuka para monster itu.


SRAKKKK ....!!!!!


BRAKKKKK ..!!!!


BRAKK ....!!!


BRAK ..!!!


BRAK BRAKKk Brakk ..!!!


Suara benturan dan cakaran terdengar dengan jelas, monster monster itu menabrak kan tubuh nya Kedinding dinding kayu yang sudah mulai retak , hanya tinggal sedikit lagi, satu atau dua benturan lagi mereka sudah bisa masuk menembus pertahanan.


Kami Perlahan mundur berkumpul kesudut ruangan tempat Zein berada , Sembarang ku ambil balok yang tergeletak di lantai bekas reruntuhan atap. kami membuat formasi secara spontan , Arin berdiri sigap mengambil posisi di sebelah kiri ku Sedangkan dio dia mengambil posisi di sebelah kanan .


Prang!!


Satu ekor monster berhasil memecahkan jendela kaca, ia masih berusaha membuka penghalang yang kami buat siang tadi . Dio mengambil busur dan membidikkan nya pada Monster yang berada di jendela. Satu buah anak panah melesat cepat menebus kepala monster tersebut ,dio berlari menghampiri jendela dan menebas kan pedang nya pada monster yang tengah sekarat.


Satu monster lagi tumbang, namun ini belum berakhir,masih ada lusinan monster lagi yang masih menunggu beradu Mekanik dengan kami . Cairan kental itu menetes dari pedang milik dio ,ia membersihkan kan nya dengan kain di atas lantai .


"Pinjam kan aku pedang mu " Aku meminta arin memberikan kan pedang nya , Ia sedikit ragu namun karena situasi yang mendesak,ia menyerahkan nya tanpa bertanya sedikit pun.


Setelah mendapat kan pedang, segera kususul dio yang masih menjaga jendela dari monster yang mengamuk . Satu ayunan pedang ku menebas kaki salah satu monster .


Arggh!!


Sial benar benar sial, salah satu tangan monster itu mencengkeram lengan ku yang masih terluka , Sangat ngilu , Ku angkat pedang di tangan kanan dan menebas kan nya pada tangn monster .


Darah segar mengalir membasahi lengan baju yang terkoyak, Dio yang menyadari kondisi tidak menguntungkan untuk kami segera membawa ku kembali ke sudut ruangan, Luka yang hampir mengering itu basah kembali dengan darah.


"Rey" tampak kekhawatiran dari suara gadis tersebut, aku meyakinkan nya baik baik saja. saat ini hanya tangan kanan yang dapat ku gunakan, sedangkan dio tidak banyak membuang waktu segera melepaskan sisa anak panah nya menghujam monster Monster diluar yang tengah mengantri.


Sudah berakhir, tidak ada jalan untuk pergi , kita terkepung dan tidak bisa melarikan diri. Aku tetap berusaha sampai akhir, Satu tebasan dua tebasan monster monster itu terus berdatangan.


"Bawa Zein pergi,aku akan menahan mereka" aku berteriak cukup keras, ini ada momen yang menegang kan, Menjadi pahlawan di hadapan gadis yang aku cintai. aku sangat yakin setelah ini dia akan merasa sangat berterima kasih dan akan tergila gila padaku.